Jakarta (ANTARA) – Lawatan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia pada Juli 2026 menjadi tonggak baru dalam hubungan bilateral antara Jakarta dan New Delhi. Fokus utama dari kunjungan tersebut bukan hanya pada kerja sama ekonomi dan pertahanan, melainkan juga pada penguatan ikatan budaya yang berakar kuat dalam sejarah panjang kedua bangsa. Salah satu agenda krusial yang mencuri perhatian adalah kolaborasi konservasi Candi Prambanan, sebuah monumen megah yang dianggap sebagai manifestasi fisik dari kedekatan peradaban Indonesia dan India selama lebih dari seribu tahun.
Dalam pertemuan bilateral di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (7/7/2026), PM Modi menegaskan bahwa Candi Prambanan bukan sekadar destinasi wisata atau situs purbakala. Baginya, candi Hindu abad ke-9 ini adalah simbol hidup dari keterkaitan budaya yang telah menyatukan masyarakat Indonesia dan India melintasi zaman. Komitmen ini diwujudkan melalui rencana restorasi besar-besaran yang akan melibatkan para ahli dari Archaeological Survey of India (ASI) bekerja sama dengan otoritas terkait di Indonesia.
Dimensi Budaya dalam Diplomasi Modern
Upaya restorasi Candi Prambanan menjadi simbol penting bagaimana diplomasi budaya dapat memperkuat hubungan antarnegara. Proyek ini tidak hanya sekadar perbaikan fisik struktur candi yang telah berusia lebih dari satu milenium, tetapi juga sebuah upaya transfer teknologi dan pengetahuan dalam bidang arkeologi. ASI, yang memiliki reputasi global dalam konservasi monumen bersejarah, diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam menjaga integritas struktur candi agar tetap kokoh menghadapi tantangan alam dan usia.
Presiden RI Prabowo Subianto menyambut baik inisiatif ini. Dalam pandangan pemerintah Indonesia, kerja sama ini mencerminkan semangat "Global South" di mana negara-negara dengan warisan sejarah besar bersinergi untuk melestarikan identitas peradaban mereka. Kolaborasi ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran publik mengenai akar sejarah yang serupa, yang secara tidak langsung memperkuat "soft power" kedua negara di kancah internasional.
Menelusuri Jejak Sejarah: Tahun Tagore-Dewantara
Selain restorasi fisik, diplomasi budaya Indonesia-India pada tahun 2026 juga ditandai dengan peringatan historis yang sangat bermakna. Pemerintah kedua negara sepakat untuk mencanangkan "Tahun Tagore-Dewantara" sepanjang periode 2026-2027. Inisiatif ini merujuk pada peristiwa bersejarah tahun 1927, ketika dua tokoh besar, Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan Indonesia, bertemu dengan filsuf sekaligus sastrawan peraih Nobel asal India, Rabindranath Tagore, di Yogyakarta.
Pertemuan tersebut bukan sekadar perjumpaan dua tokoh intelektual, melainkan sebuah pertukaran gagasan tentang pendidikan berbasis nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan. Tagore, yang memiliki keterikatan batin dengan Indonesia, membawa semangat kebangkitan Asia yang selaras dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan menetapkan Tahun Tagore-Dewantara, Jakarta dan New Delhi ingin menghidupkan kembali semangat kolaborasi intelektual tersebut di kalangan generasi muda kedua negara, melalui program pertukaran pelajar, seminar budaya, dan kolaborasi riset.
16 Dokumen Kerja Sama: Melampaui Sektor Budaya
Kunjungan PM Modi ke Indonesia tidak hanya terbatas pada agenda budaya. Pertemuan tingkat tinggi di Istana Merdeka tersebut menghasilkan penandatanganan 16 dokumen kerja sama dan nota kesepahaman (MoU) yang mencakup berbagai sektor strategis. Langkah ini menunjukkan bahwa hubungan Indonesia-India kini telah berkembang menjadi kemitraan strategis yang komprehensif.
Beberapa sektor yang menjadi fokus utama dalam kesepakatan tersebut meliputi:

- Eksplorasi Ruang Angkasa: Kerja sama antara badan antariksa kedua negara untuk pemanfaatan teknologi satelit bagi kesejahteraan masyarakat.
- Pertahanan: Penguatan kapasitas industri pertahanan dan latihan militer bersama guna menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik.
- Kesehatan: Kolaborasi dalam riset farmasi dan penyediaan bahan baku obat, mengingat kedua negara merupakan pemain besar dalam industri kesehatan di kawasan.
- Pertanian: Pertukaran teknologi pertanian modern untuk menjamin ketahanan pangan di tengah perubahan iklim global.
- Telekomunikasi: Kerja sama dalam digitalisasi infrastruktur untuk mendukung ekonomi digital.
Kesepakatan-kesepakatan ini menunjukkan bahwa Indonesia dan India, sebagai dua negara demokrasi terbesar di dunia, memiliki kepentingan strategis yang saling bersinggungan. Investasi dari perusahaan-perusahaan India di sektor infrastruktur dan digital di Indonesia diproyeksikan akan meningkat signifikan pasca-pertemuan ini.
Analisis: Mengapa Prambanan Begitu Strategis?
Pemilihan Candi Prambanan sebagai pusat diplomasi budaya memiliki alasan historis yang kuat. Sebagai situs Warisan Dunia UNESCO, Prambanan adalah bukti nyata pengaruh kebudayaan India dalam arsitektur dan filosofi Hindu di Jawa pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Dengan melibatkan India secara langsung dalam restorasi, Indonesia menegaskan posisi Prambanan sebagai situs yang universal, namun tetap menjaga kedaulatan serta kekayaan nasional Indonesia.
Secara geopolitik, langkah ini juga memperkuat posisi Indonesia dalam narasi "Look East" atau "Act East" yang selama ini diusung India. Bagi India, keterlibatan aktif dalam pelestarian situs budaya di Indonesia adalah cara untuk memperdalam pengaruh diplomasi publiknya di kawasan Asia Tenggara. Sebaliknya, bagi Indonesia, ini adalah cara cerdas untuk menarik dukungan teknis internasional dalam merawat warisan sejarah yang sangat luas.
Kronologi Singkat Hubungan Indonesia-India (2025-2026)
- September 2025: Diskusi awal mengenai peningkatan kemitraan strategis Indonesia-India dalam KTT G20.
- Januari 2026: Tim ahli arkeologi dari ASI melakukan survei pendahuluan ke situs Prambanan.
- Mei 2026: Penyelarasan draf 16 nota kesepahaman antara kementerian terkait kedua negara.
- 7 Juli 2026: Pertemuan bilateral di Istana Merdeka, penandatanganan 16 dokumen kerja sama, dan pengumuman Tahun Tagore-Dewantara.
- 8 Juli 2026: Kunjungan PM Modi ke Yogyakarta untuk meresmikan dimulainya proyek konservasi di Candi Prambanan.
Implikasi Masa Depan: Menuju Era Emas
Pernyataan PM Modi mengenai "era emas" yang ada di hadapan Indonesia dan India bukan sekadar retorika diplomatik. Dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan populasi usia produktif yang besar, kedua negara memiliki potensi untuk menjadi penggerak utama ekonomi global di masa depan. Kolaborasi yang didasarkan pada rasa saling percaya (mutual trust) menjadi fondasi utama.
Dampak jangka panjang dari kerja sama ini diprediksi akan menyentuh sisi ekonomi kreatif dan pariwisata. Restorasi Candi Prambanan yang melibatkan standar internasional dipastikan akan meningkatkan daya tarik situs tersebut bagi wisatawan mancanegara, khususnya dari India yang saat ini mulai banyak melirik Indonesia sebagai destinasi wisata budaya. Selain itu, kolaborasi dalam sektor pendidikan akan melahirkan generasi pemimpin masa depan yang lebih memahami sejarah dan nilai-nilai kedua bangsa, yang pada akhirnya akan memperlancar hubungan bisnis dan diplomatik di masa mendatang.
Harapan untuk Keberlanjutan
Keberhasilan diplomasi ini kini bergantung pada eksekusi di lapangan. Sinergi antara kementerian terkait di Indonesia dan tim ahli dari India akan dipantau ketat oleh publik dan para pengamat sejarah. Proyek restorasi Candi Prambanan akan menjadi ujian sejauh mana kedua negara dapat bekerja sama dalam hal teknis yang sensitif dan membutuhkan ketelitian tinggi.
Jika proyek ini berhasil, tidak menutup kemungkinan model kerja sama serupa akan diterapkan pada situs-situs bersejarah lainnya di Indonesia yang memiliki keterkaitan dengan peradaban India. Hal ini akan mempertegas posisi Indonesia sebagai pusat studi peradaban dunia di kawasan Asia Tenggara.
Secara keseluruhan, kunjungan PM Modi ke Indonesia pada Juli 2026 menjadi bukti bahwa diplomasi yang menyentuh aspek sejarah dan budaya memiliki daya tahan yang lebih kuat dibandingkan diplomasi yang hanya berbasis pada kepentingan pragmatis jangka pendek. Dengan menghargai akar budaya yang sama, Indonesia dan India sedang membangun jembatan masa depan yang kokoh, di mana kesejahteraan bersama menjadi tujuan akhir dari hubungan bilateral yang semakin matang dan dewasa.
Langkah konkret yang telah diambil oleh kedua negara melalui 16 dokumen kerja sama dan inisiatif konservasi Prambanan menandai dimulainya babak baru dalam sejarah diplomasi modern. Babak di mana sejarah masa lalu dijadikan landasan untuk membangun masa depan yang lebih sejahtera, aman, dan saling terhubung di tengah dinamika dunia yang terus berubah.









