Kue srikaya pandan, yang di Malaysia dikenal dengan sebutan seri muka, merupakan salah satu primadona dalam dunia kuliner tradisional di Asia Tenggara. Kelezatan kue ini terletak pada perpaduan dua lapisan yang kontras: lapisan bawah berupa ketan gurih dan lapisan atas yang lembut serta aromatik berkat sari daun pandan alami. Namun, sebuah insiden unik baru-baru ini mencuat ke publik setelah seorang dokter di Malaysia membagikan pengalaman kegagalan kulinernya di media sosial, yang kini menjadi perbincangan luas.
Peristiwa ini bermula dari niat mulia Dr. Priya, seorang praktisi medis yang berpraktik di Pinnacle Clinic Melaka, yang ingin memberikan kejutan istimewa bagi ibundanya. Alih-alih membeli kue jadi, ia memutuskan untuk mencoba resep baru guna menyajikan kue seri muka buatan sendiri sebagai bagian dari perayaan ulang tahun sang ibu. Sayangnya, upaya tersebut berujung pada hasil yang tidak terduga: kue buatannya memiliki cita rasa rumput yang tajam.
Kronologi Kejadian: Kesalahan Identifikasi Bahan di Kebun
Berdasarkan unggahan Dr. Priya melalui akun Threads miliknya pada 12 Juni 2026, ia mengakui bahwa kesalahan mendasar terletak pada proses pengumpulan bahan baku. Dalam semangat untuk mendapatkan bahan yang segar, ia memutuskan untuk memetik daun pandan langsung dari area sekitar rumahnya. Tanpa melakukan verifikasi yang cukup teliti, ia mengambil sekumpulan dedaunan yang sekilas memiliki bentuk panjang dan runcing serupa dengan pandan.
Tanpa disadari, tanaman yang ia petik adalah lalang atau rumput cogon (Imperata cylindrica), yang secara visual memang memiliki kemiripan bentuk dengan tanaman pandan (Pandanus amaryllifolius) bagi mata orang awam yang kurang teliti. Dr. Priya kemudian memproses dedaunan tersebut dengan cara memblendernya untuk mendapatkan ekstrak warna hijau alami yang menjadi ciri khas utama kue seri muka.
Setelah adonan selesai dikukus dan kue tersaji dengan cantik di atas meja, sang ibu menjadi orang pertama yang mencicipinya. Namun, alih-alih aroma wangi pandan yang menggugah selera, sang ibu justru merasakan tekstur dan rasa yang sangat asing. Sang ibu kemudian melontarkan pertanyaan retoris yang memicu kesadaran Dr. Priya mengenai kesalahan fatal yang telah ia perbuat. Dengan nada humor sekaligus penyesalan, Dr. Priya mengonfirmasi bahwa ia telah salah menggunakan rumput liar sebagai bahan utama pemberi aroma dan warna pada kuenya.

Perbedaan Botanis Antara Pandan dan Rumput Lalang
Secara agronomis dan botanis, pandan dan rumput lalang memiliki karakteristik yang berbeda secara signifikan, meski dalam kondisi tertentu, khususnya saat tanaman masih muda, kemiripan bentuk daunnya sering kali mengecoh masyarakat umum.
Daun pandan (Pandanus amaryllifolius) dikenal memiliki aroma yang sangat khas dan kuat berkat senyawa 2-acetyl-1-pyrroline. Secara morfologi, daun pandan memiliki struktur yang lebih tebal, bertekstur lebih halus, dan memiliki pinggiran yang cenderung rata atau sedikit berduri halus di bagian tepi bawah. Sementara itu, rumput lalang (Imperata cylindrica) adalah jenis gulma yang sangat invasif. Daunnya jauh lebih tipis, permukaannya terasa lebih kasar jika disentuh (bahkan bisa menyebabkan luka gores karena silika yang tajam), dan tidak memiliki aroma aromatik yang lazim ditemukan pada tanaman rempah.
Penggunaan lalang dalam olahan pangan, selain tidak memberikan rasa yang diinginkan, juga tidak memiliki nilai nutrisi yang setara dengan pandan. Dalam dunia kuliner, kesalahan identifikasi bahan (misidentification) seperti ini sering terjadi pada tingkat rumah tangga. Namun, bagi seorang praktisi profesional, kejadian ini menjadi pengingat penting mengenai pentingnya ketelitian dalam mengenali bahan pangan sebelum dikonsumsi.
Reaksi Publik dan Dampak Media Sosial
Unggahan Dr. Priya dengan cepat menarik perhatian warganet. Hingga saat ini, kiriman tersebut telah mendapatkan hampir 20.000 likes dan ratusan komentar. Fenomena viral ini tidak hanya berhenti pada aspek komedi dari kejadian tersebut, tetapi juga memicu diskusi di kalangan komunitas penggemar kue tradisional mengenai pentingnya teknik pembuatan seri muka yang tepat.
Banyak netizen yang memberikan apresiasi terhadap estetika visual kue tersebut. Meskipun rasanya tidak sesuai ekspektasi, secara visual, kue seri muka buatan Dr. Priya dinilai memiliki tekstur lapisan yang cukup baik. Beberapa komentar bernada suportif datang dari para praktisi kuliner amatir yang menyatakan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar. "Paling tidak, kamu membuat ulang tahun ibumu menjadi pengalaman yang tidak terlupakan seumur hidup," tulis salah satu pengguna.
Dampak dari viralnya berita ini juga memperlihatkan bagaimana media sosial berfungsi sebagai ruang berbagi pengalaman personal yang manusiawi. Meskipun Dr. Priya adalah seorang profesional medis yang bergelut dengan perawatan estetika dan restorasi rambut, kegagalan dalam urusan dapur membuatnya tampak lebih dekat dengan masyarakat luas.

Analisis Implikasi: Keamanan Pangan dan Ketelitian di Dapur
Kejadian yang menimpa Dr. Priya membawa pelajaran berharga mengenai keamanan pangan di tingkat rumah tangga. Kesalahan memetik tanaman liar—meskipun dalam kasus ini hanya berupa rumput lalang yang tidak beracun secara sistemik namun tidak layak konsumsi—dapat menimbulkan risiko kesehatan jika tanaman yang dipetik ternyata adalah spesies yang mengandung senyawa toksik atau zat iritan.
Menurut standar keamanan pangan, identifikasi bahan baku tanaman (terutama dedaunan yang digunakan sebagai pewarna alami) harus dilakukan melalui tiga indikator utama:
- Identifikasi Visual: Mengenali ciri fisik spesifik tanaman.
- Uji Aroma: Tanaman pandan memiliki aroma yang sangat kuat dan khas, yang seharusnya tercium segera setelah daun dipetik atau digiling.
- Penyumberan Terpercaya: Menggunakan bahan yang diperoleh dari sumber yang jelas atau pasar yang dapat dipercaya untuk menghindari risiko tercampurnya bahan pangan dengan gulma liar.
Dr. Priya sendiri dalam unggahan lanjutannya menegaskan bahwa pengalaman mencicipi kue berbahan rumput tersebut merupakan pengalaman yang "tidak enak". Ini adalah konfirmasi objektif bahwa bahan pangan yang tidak tepat tidak akan menghasilkan produk kuliner yang layak konsumsi, terlepas dari seberapa menarik tampilannya.
Kesimpulan: Pembelajaran dari Dapur Melaka
Kisah Dr. Priya yang salah memetik rumput alih-alih daun pandan ini menjadi ilustrasi menarik tentang bagaimana kesalahan sederhana bisa menjadi cerita yang menghibur. Meskipun kue seri muka tersebut gagal memberikan pengalaman rasa yang autentik bagi sang ibu, kejadian ini telah menyebarkan pesan tentang pentingnya kewaspadaan dalam memproses bahan pangan dari alam liar.
Bagi para pembuat kue di rumah, insiden ini dapat dijadikan sebagai pengingat untuk selalu melakukan verifikasi bahan sebelum melakukan proses pengolahan lebih lanjut. Terkadang, keindahan visual sebuah hidangan tidak selalu menjamin keberhasilan cita rasanya, terutama jika komponen utamanya tidak berasal dari sumber yang tepat. Pada akhirnya, perayaan ulang tahun sang ibu mungkin tidak berakhir dengan pesta kue yang lezat, namun telah menciptakan kenangan unik yang akan terus dikenang oleh keluarga besar Dr. Priya, serta jutaan warganet yang menyimak kisahnya di platform digital.
Kejadian ini tidak hanya menyoroti sisi humanis seorang dokter, tetapi juga mempertegas bahwa di dunia kuliner, ketelitian adalah bahan utama yang tidak bisa digantikan oleh teknik atau resep apa pun. Ke depannya, diharapkan masyarakat lebih berhati-hati saat memetik dedaunan dari kebun sendiri untuk kebutuhan konsumsi agar kejadian serupa tidak terulang kembali, terutama jika tanaman yang dipetik memiliki potensi bahaya kesehatan yang lebih serius dibandingkan sekadar rumput lalang.









