Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Berita Ekonomi Kreatif & UMKM Yogya

Menyongsong Masa Depan Industri Keuangan: Transformasi Digital dan Strategi Literasi Generasi Muda di Sektor Perbankan

badge-check


					Menyongsong Masa Depan Industri Keuangan: Transformasi Digital dan Strategi Literasi Generasi Muda di Sektor Perbankan Perbesar

Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Ahmad Dahlan (FEB UAD) secara resmi menyelenggarakan seminar nasional bertajuk "The Future of Microfinance: Digital Transformation, Financial Inclusion & Opportunities for the Next Generation" pada Rabu, 17 Juni 2026. Acara yang berlangsung di kampus FEB UAD Yogyakarta ini menjadi momentum strategis bagi dunia pendidikan dan industri keuangan untuk berkolaborasi dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten di tengah disrupsi teknologi. Seminar ini terlaksana berkat kolaborasi erat antara pihak akademisi dengan pemangku kepentingan industri, yakni Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Yogyakarta, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY, serta Bank BPD DIY.

Kehadiran sekitar 200 peserta yang terdiri dari mahasiswa, akademisi, dan praktisi perbankan menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap dinamika sektor keuangan masa kini. Seminar dibuka secara resmi oleh Dekan FEB UAD, Dini Yuniarti, didampingi oleh Kaprodi Manajemen FEB UAD, Tina Sulistyani. Bertindak sebagai narasumber dalam diskusi ini adalah Dian Ari Ani selaku Direktur Kepatuhan Bank BPD DIY, Edi Sunarta yang menjabat sebagai Direktur Utama BPR Syariah BDS, serta Desta Rizky K dari unsur dosen FEB UAD sekaligus Kepala Biro Keuangan dan Anggaran UAD. Diskusi dipandu oleh Suci Nur Azzara, mahasiswa berprestasi dari Prodi Manajemen FEB UAD, yang berhasil membawa alur pembahasan dari tataran teoretis ke ranah praktis perbankan.

Dinamika Literasi Keuangan di Era Digital

Dalam pemaparannya, Dian Ari Ani menyoroti kerentanan yang dihadapi oleh generasi muda dalam ekosistem keuangan digital. Sebagai seseorang yang menduduki posisi strategis di Bank BPD DIY sekaligus Bendahara ISEI Cabang Yogyakarta, Dian menekankan bahwa kemudahan akses teknologi keuangan sering kali tidak dibarengi dengan pemahaman literasi keuangan yang memadai. Ia mengidentifikasi lima ancaman utama yang membayangi generasi Z dan milenial: gaya hidup digital yang berlebihan, sindrom FOMO (Fear of Missing Out), jeratan pinjaman online (pinjol) ilegal, risiko penipuan digital (phishing/skimming), serta godaan investasi bodong yang menawarkan keuntungan tidak logis.

Dian menegaskan bahwa memiliki perangkat teknologi mutakhir atau menjadi pengguna aplikasi mobile banking yang aktif tidak otomatis menjadikan seseorang "melek finansial". Dibutuhkan apa yang ia sebut sebagai Smart Financial Behavior. Perilaku ini mencakup kedisiplinan dalam mengelola arus kas pribadi, di mana prinsip dasar pengeluaran harus selalu lebih kecil daripada pendapatan harus tetap dijaga, terlepas dari kemudahan akses kredit instan. Selain itu, kebiasaan menabung harus diprioritaskan sebelum melakukan konsumsi, sebuah prinsip klasik yang sering terabaikan di tengah budaya instan.

Tantangan Kompetensi: Mengapa Profesi Bankir Tetap Menjanjikan

Salah satu isu krusial yang dibahas dalam seminar adalah relevansi profesi perbankan di masa depan. Di tengah masifnya otomatisasi dan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam layanan nasabah, banyak pihak yang mempertanyakan apakah sektor perbankan masih menjadi lahan karier yang menjanjikan. Dian Ari Ani memberikan jawaban afirmatif namun dengan catatan penting: kebutuhan kompetensi telah bergeser secara radikal.

Industri perbankan saat ini tidak lagi hanya mencari individu dengan kemampuan administratif dasar. Bank kini membutuhkan talenta yang adaptif terhadap perubahan teknologi, memiliki kemampuan analitis yang tajam untuk membaca data, dan yang paling utama, memiliki integritas yang tidak tergoyahkan. Dalam posisi Dian sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Keuangan, Perbankan, dan Pasar Modal Kadin DIY, ia mengamati bahwa transformasi digital justru menuntut perbankan untuk lebih humanis dalam aspek pelayanan yang kompleks, yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh mesin.

Evolusi Profesi dan Kepatuhan Regulasi

Edi Sunarta, selaku Direktur Utama BPR Syariah BDS, memberikan perspektif pelengkap mengenai peluang kerja di industri perbankan. Menurutnya, narasi bahwa teknologi akan mematikan profesi perbankan adalah penyederhanaan yang keliru. Sebaliknya, digitalisasi justru menciptakan ekosistem profesi baru yang belum ada satu dekade lalu.

Dinamika regulasi yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi faktor pendorong utama munculnya profesi-profesi baru. Dengan diterbitkannya berbagai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) yang semakin ketat dan adaptif terhadap perkembangan pasar, lembaga keuangan diwajibkan untuk memenuhi standar kepatuhan yang lebih kompleks. Kebutuhan akan tenaga ahli di bidang cyber security, data analyst perbankan, compliance officer, serta spesialis manajemen risiko menjadi sangat tinggi.

Edi menekankan bahwa mahasiswa yang ingin terjun ke dunia profesional perbankan harus mulai berinvestasi pada soft skill. Kemampuan teknis atau hard skill memang menjadi syarat dasar, namun kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan, inisiatif, dan kemampuan membangun relasi (networking) adalah pembeda utama di level karier yang lebih tinggi. Ia mendorong mahasiswa untuk aktif berorganisasi dan memperluas jejaring sejak masa perkuliahan, karena dalam dunia bisnis, kepercayaan dan reputasi dibangun melalui koneksi yang luas dan integritas yang terjaga.

Implikasi Sektor Keuangan bagi Perekonomian Regional

Seminar di FEB UAD ini juga memberikan gambaran mengenai peran strategis lembaga keuangan mikro dalam mendukung perekonomian daerah. Di Yogyakarta, keterlibatan aktif Bank BPD DIY dan BPR Syariah dalam inklusi keuangan menjadi kunci bagi pertumbuhan UMKM. Transformasi digital yang didorong oleh seminar ini diharapkan mampu menjembatani kesenjangan akses modal bagi pelaku usaha kecil melalui mekanisme yang lebih transparan dan efisien.

Secara makro, inklusi keuangan yang didukung oleh literasi yang baik akan meningkatkan stabilitas sistem keuangan daerah. Ketika masyarakat—terutama generasi muda—memahami cara kerja produk perbankan, risiko sistemik yang berasal dari kredit macet akibat pinjol ilegal dapat ditekan. Bank BPD DIY sendiri terus berkomitmen melakukan edukasi berkelanjutan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan penguatan ekosistem keuangan lokal.

Analisis Strategis: Menuju Generasi Berintegritas

Jika menelaah lebih dalam, seminar ini mencerminkan kebutuhan mendesak akan sinkronisasi antara kurikulum perguruan tinggi dengan kebutuhan industri. Desta Rizky K, sebagai representasi akademisi sekaligus pengelola keuangan di UAD, mengakui bahwa tantangan bagi institusi pendidikan adalah kecepatan dalam beradaptasi. Kurikulum manajemen harus mampu menyerap isu-isu terkini seperti financial technology (fintech), manajemen risiko siber, dan etika bisnis digital agar lulusan siap pakai.

Dampak dari transformasi ini akan dirasakan dalam 5 hingga 10 tahun ke depan. Generasi yang saat ini berada di bangku perkuliahan adalah aktor utama yang akan menentukan arah kebijakan keuangan di Indonesia. Oleh karena itu, kolaborasi seperti yang diinisiasi oleh FEB UAD, ISEI, dan Kadin DIY merupakan langkah preventif yang krusial. Seminar ini bukan sekadar forum diskusi akademis, melainkan sebuah platform transfer pengetahuan yang membekali mahasiswa dengan peta jalan untuk menavigasi masa depan yang penuh ketidakpastian namun kaya akan peluang.

Penutup: Langkah Selanjutnya

Kesimpulan utama dari seminar ini adalah bahwa teknologi hanyalah alat. Keberhasilan dalam industri keuangan masa depan sangat bergantung pada bagaimana manusia—sebagai penggerak utama—mengintegrasikan teknologi tersebut dengan perilaku finansial yang bijak dan integritas yang tinggi. Bagi generasi muda, pesan yang disampaikan oleh para pakar sangat jelas: bangunlah kompetensi yang adaptif, jadilah pembelajar sepanjang hayat, dan jangan pernah meremehkan kekuatan jejaring profesional.

Dengan adanya sinergi antara akademisi dan praktisi seperti ini, diharapkan ekosistem keuangan di Indonesia, khususnya di Yogyakarta, dapat tumbuh lebih sehat, inklusif, dan tangguh menghadapi guncangan ekonomi global di masa mendatang. Mahasiswa FEB UAD yang hadir dalam seminar ini kini memiliki bekal tambahan yang lebih komprehensif, tidak hanya mengenai teori manajemen, tetapi juga realita praktis yang akan mereka hadapi saat memasuki dunia kerja yang kompetitif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Motorola Perkuat Dominasi Pasar Smartphone Indonesia Melalui Kolaborasi Strategis dengan Erafone di Jakarta Fair Kemayoran 2026

21 Juni 2026 - 00:57 WIB

Dukungan Komprehensif BSI dalam Mandiri Jogja Marathon 2026 Integrasikan Layanan Spiritual dan Aksi Lingkungan

20 Juni 2026 - 18:57 WIB

Upaya Penataan Kawasan Njeron Beteng Yogyakarta: Menjawab Tantangan Kemacetan di Jantung Budaya Kota

19 Juni 2026 - 18:57 WIB

Mandiri Jogja Marathon 2026 Menjadi Magnet Sport Tourism Internasional dengan Rekor 10.200 Peserta di Kawasan Candi Prambanan

19 Juni 2026 - 12:57 WIB

Gelombang Aksi Mahasiswa UMY di Titik Nol Kilometer Yogyakarta Menuntut Reformasi Kebijakan Publik dan Transparansi Anggaran

19 Juni 2026 - 06:57 WIB

Trending di Berita Ekonomi Kreatif & UMKM Yogya