Jakarta (ANTARA) – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir secara resmi menegaskan perlunya pergeseran paradigma dalam memandang sektor olahraga di Indonesia. Dalam keterangan pers yang dirilis di Jakarta pada Kamis (2/7/2026), Menpora menyatakan bahwa olahraga tidak boleh lagi diposisikan sebagai pos pengeluaran atau beban anggaran negara semata, melainkan harus dioptimalkan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru melalui pengembangan industri wisata olahraga atau sport tourism.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi besar pemerintah dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar delapan persen. Dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam yang melimpah dan tren global yang berkembang, Kemenpora berupaya mensinkronisasi pemikiran dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjadikan olahraga sebagai salah satu pilar pendapatan negara yang signifikan.
Mengubah Beban Menjadi Aset Ekonomi
Selama berdekade-dekade, anggaran olahraga sering kali dipandang oleh banyak kalangan sebagai biaya operasional untuk pembinaan atlet atau penyelenggaraan ajang semata. Namun, Erick Thohir menyoroti bahwa secara global, industri olahraga telah bertransformasi menjadi sektor komersial yang masif. Data menunjukkan bahwa wisata olahraga secara global menyumbang pendapatan hingga Rp9.800 triliun per tahun, dengan rata-rata tingkat pertumbuhan tahunan mencapai delapan persen.
Paradigma baru yang diusung Kemenpora mencakup integrasi antara aktivitas fisik, pariwisata, dan industri pendukungnya. Sebagai contoh, ajang lari maraton yang belakangan ini menjamur di berbagai kota di Indonesia merupakan bukti konkret perputaran uang yang signifikan. Berdasarkan data Kemenpora, terdapat 104 ajang lari yang diselenggarakan di berbagai daerah dengan akumulasi total peserta mencapai 10,4 juta pelari.
Erick menjelaskan bahwa dampak ekonomi dari kegiatan tersebut sangat luas. Dari 10,4 juta pelari, terjadi transaksi langsung pada sektor ritel, khususnya pembelian perlengkapan lari seperti sepatu, pakaian, dan aksesori. Selain itu, penyelenggaraan ajang olahraga di akhir pekan secara konsisten meningkatkan okupansi hotel, permintaan terhadap jasa kuliner, serta sektor transportasi lokal di kota-kota penyelenggara yang sebelumnya mungkin tidak menjadi destinasi wisata utama.
Analisis Dampak Ekonomi Sport Tourism di Daerah
Fenomena wisata olahraga ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan strategi yang terukur untuk pemerataan ekonomi. Kota-kota yang menjadi tuan rumah acara berskala nasional dan internasional mengalami lonjakan aktivitas ekonomi secara instan.
Sebagai ilustrasi, ajang lari di Bandung yang berhasil menarik 20.000 peserta, serta kegiatan serupa di Mandalika, Nusa Tenggara Barat, dengan 10.000 peserta, membuktikan bahwa event olahraga memiliki daya tarik lintas wilayah. Para peserta yang datang dari luar kota memerlukan akomodasi, konsumsi, dan hiburan, yang secara langsung menyuntikkan likuiditas ke dalam ekonomi lokal.
Pihak Kemenpora saat ini tengah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memetakan potensi cabang olahraga lain yang dapat dikembangkan serupa dengan maraton. Selancar air (surfing), misalnya, dipandang memiliki potensi besar mengingat posisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang di dunia yang memiliki ombak berstandar internasional. Dengan memoles destinasi selancar di berbagai daerah, Indonesia tidak hanya mempromosikan citra nasional, tetapi juga menarik devisa melalui kunjungan wisatawan mancanegara yang berfokus pada olahraga.
Tantangan dan Strategi Integrasi Industri
Meskipun potensi ekonomi dari sport tourism sangat besar, tantangan untuk mencapai target pertumbuhan delapan persen memerlukan kolaborasi lintas sektoral yang kuat. Kemenpora menyadari bahwa olahraga tidak bisa berdiri sendiri sebagai entitas tertutup. Sinergi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), pemerintah daerah, sektor swasta, dan asosiasi industri menjadi kunci utama.

Garis waktu transformasi ini dimulai dengan pemetaan ulang aset-aset olahraga nasional. Sejak awal 2026, Kemenpora telah menginisiasi dialog dengan pemangku kepentingan untuk menstandarisasi regulasi penyelenggaraan ajang olahraga. Tujuannya adalah menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi promotor acara olahraga nasional maupun internasional agar lebih tertarik mengadakan kegiatan di Indonesia.
Selain regulasi, pembangunan infrastruktur pendukung juga menjadi poin krusial. Investasi pada fasilitas olahraga yang multifungsi—yang dapat digunakan untuk kompetisi atlet profesional sekaligus destinasi rekreasi masyarakat—menjadi fokus ke depan. Dengan infrastruktur yang memadai, durasi tinggal wisatawan olahraga di suatu daerah dapat diperpanjang, yang pada gilirannya akan meningkatkan rata-rata pengeluaran wisatawan (average spending per visitor).
Reaksi dan Pandangan Para Pakar Ekonomi
Para pengamat ekonomi menyambut baik langkah yang diambil Menpora Erick Thohir. Banyak ekonom berpendapat bahwa diversifikasi ekonomi melalui sektor olahraga adalah langkah yang cerdas di tengah tantangan ekonomi global. Penggunaan olahraga sebagai "soft power" untuk diplomasi dan citra nasional sekaligus "hard power" untuk ekonomi adalah formula yang telah terbukti sukses di negara-negara maju seperti Australia, Singapura, dan beberapa negara Eropa.
Seorang analis kebijakan publik menekankan bahwa keberhasilan paradigma ini bergantung pada konsistensi implementasi. "Mengubah persepsi bahwa olahraga adalah beban menjadi aset adalah langkah awal yang sangat berani. Tantangannya adalah memastikan bahwa infrastruktur yang dibangun tidak berakhir menjadi ‘proyek gajah putih’. Oleh karena itu, keterlibatan sektor swasta dalam pengelolaan venue dan manajemen acara menjadi krusial agar keberlanjutan ekonomi dapat terjaga," ujarnya.
Implikasi Terhadap Citra Nasional
Selain dampak ekonomi langsung, Erick Thohir menegaskan bahwa olahraga merupakan instrumen branding negara yang paling efektif. Penyelenggaraan ajang internasional di Indonesia memberikan eksposur global yang luas, yang tidak hanya meningkatkan kedatangan turis, tetapi juga meningkatkan kepercayaan investor internasional terhadap stabilitas dan kemampuan manajemen Indonesia dalam mengelola event berskala besar.
Dalam jangka panjang, Kemenpora memproyeksikan bahwa sport tourism akan menjadi salah satu penyumbang terbesar dalam PDB sektor pariwisata. Dengan pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan mencapai delapan persen, sektor olahraga diharapkan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar melalui penciptaan lapangan kerja baru, peningkatan UMKM di sekitar lokasi kegiatan, dan peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).
Langkah Menuju Masa Depan: Rencana Aksi 2026-2030
Untuk merealisasikan visi ini, Kemenpora telah menyiapkan rencana aksi strategis hingga tahun 2030. Fokus utamanya meliputi:
- Digitalisasi Data: Membangun database nasional terkait penyelenggaraan ajang olahraga untuk memantau perputaran uang dan dampak ekonomi secara real-time.
- Insentif Fiskal: Mendorong pemberian kemudahan bagi penyelenggara acara olahraga internasional yang memberikan dampak ekonomi signifikan bagi daerah.
- Peningkatan Kualitas SDM: Melatih tenaga profesional dalam manajemen sport tourism yang mampu mengelola event berskala dunia dengan standar internasional.
- Pemasaran Destinasi: Mengintegrasikan destinasi wisata unggulan Indonesia dengan agenda olahraga tahunan (Sport Calendar of Events).
Kesimpulan
Pernyataan Menpora Erick Thohir pada Rabu (1/7/2026) lalu menandai era baru bagi dunia olahraga Indonesia. Dengan memandang olahraga sebagai potensi pendapatan, pemerintah tidak hanya berupaya menciptakan atlet berprestasi, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan.
Transformasi ini menuntut komitmen dari seluruh elemen bangsa, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga masyarakat luas. Jika berhasil diintegrasikan dengan baik, sport tourism bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan akan menjadi salah satu tulang punggung ekonomi Indonesia yang mampu membawa negara ini bersaing di kancah internasional, baik dalam prestasi olahraga maupun kekuatan ekonomi nasional.
Dengan momentum yang ada saat ini, Indonesia berada pada posisi strategis untuk memanfaatkan gelombang global wisata olahraga guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih inklusif dan merata di seluruh pelosok Tanah Air. Keberhasilan inisiatif ini akan diukur tidak hanya dari perolehan medali di arena olahraga, tetapi juga dari meningkatnya kesejahteraan masyarakat melalui perputaran ekonomi yang dihasilkan oleh setiap ajang yang diselenggarakan.









