Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Studi & Edukasi Budaya Yogya

Mendobrak Stigma Sektor Peternakan, Kiprah Inspiratif Alumni Fapet UGM dalam Membangun Ekosistem Bisnis Modern di Jawa Timur

badge-check


					Mendobrak Stigma Sektor Peternakan, Kiprah Inspiratif Alumni Fapet UGM dalam Membangun Ekosistem Bisnis Modern di Jawa Timur Perbesar

Di bawah usia 28 tahun, seorang alumnus Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2021 bernama Mila telah berhasil membuktikan bahwa sektor peternakan bukan lagi sekadar pekerjaan tradisional yang identik dengan keterbatasan. Melalui unit usaha yang diberi nama Kerabat Ternak 1-3 di Tuban, Jawa Timur, ia berhasil mentransformasi cara pandang masyarakat mengenai dunia peternakan. Dengan mengintegrasikan manajemen modern, ilmu genetika, dan strategi pemasaran digital, bisnis yang ia rintis bersama sang suami, Sahroni, kini menjadi entitas ekonomi yang memperkerjakan warga lokal dan memberikan kontribusi nyata bagi ekosistem peternakan di Jawa Timur.

Stigma bahwa peternakan adalah ranah maskulin yang sulit memberikan kesejahteraan finansial secara perlahan terkikis oleh keberhasilan Mila. Saat ini, Kerabat Ternak telah berkembang menjadi ekosistem yang komprehensif, mencakup lini penggemukan, pembibitan, ternak perah, hingga penyediaan sarana produksi peternakan (sapronak). Keberhasilan ini tidak hanya tercermin dari omzet bisnis yang menembus angka ratusan juta rupiah, tetapi juga dari bagaimana unit usaha ini mampu bertahan dan berkembang di tengah tantangan pasar yang dinamis.

Kronologi Perjalanan: Dari Lima Domba Menuju Kemandirian Bisnis

Perjalanan Mila dalam dunia peternakan bermula jauh sebelum ia menyandang gelar sarjana. Lahir pada 1 Januari 1999, ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menghargai kerja keras. Ketertarikan pada hewan ternak sudah muncul saat ia masih duduk di bangku kelas 2 SMA pada tahun 2014. Saat itu, ia memulai langkah pertamanya dengan memelihara lima ekor domba. Langkah kecil ini menjadi fondasi awal bagi ambisinya yang lebih besar.

Ketika ia memutuskan untuk menempuh pendidikan di Fakultas Peternakan UGM, keputusan tersebut sempat menghadapi keraguan dari pihak keluarga. Pandangan umum mengenai masa depan karier peternak yang dianggap tidak menjanjikan menjadi hambatan psikologis tersendiri. Namun, bagi Mila, pendidikan tinggi adalah alat untuk membuktikan bahwa peternakan adalah sebuah industri yang berbasis pada ilmu pengetahuan (science-based farming).

Setelah menyelesaikan studi pada tahun 2020, ia tidak membuang waktu. Ia langsung terjun ke lapangan untuk mempraktikkan ilmu manajemen pakan, kesehatan ternak, dan genetika yang ia pelajari di bangku kuliah. Dalam kurun waktu beberapa tahun, usaha yang dimulai secara sederhana tersebut berkembang pesat. Kerabat Ternak 1-3 kini menjadi pusat rujukan bagi masyarakat sekitar Tuban, Lamongan, hingga Bojonegoro, baik untuk kebutuhan ternak kurban, aqiqah, maupun konsultasi peternakan.

Integrasi Ilmu Pengetahuan dan Praktik Lapangan

Berawal dari 5 Ekor Domba, Mila Raup Omzet Ratusan Juta 

Mila menegaskan bahwa kurikulum di Fakultas Peternakan UGM menjadi tulang punggung dari efisiensi bisnisnya. Ia menekankan bahwa teori di kelas hanyalah kerangka kerja, sementara pengalaman lapangan adalah kunci keberlanjutan. Dalam operasionalnya, ia menerapkan manajemen kesehatan ternak yang ketat untuk menekan angka kematian yang pernah ia alami di masa awal perintisan.

Salah satu tantangan terbesar dalam peternakan adalah manajemen kesehatan, terutama terkait penyakit pneumonia yang sering dipicu oleh fluktuasi suhu ekstrem. Melalui observasi dan evaluasi berkelanjutan, Mila berhasil merumuskan prosedur pencegahan yang efektif. Selain itu, manajemen pakan dilakukan secara optimal dengan memanfaatkan lahan hijauan seluas 1,5 hektare, yang dikombinasikan dengan pakan tambahan seperti ampas tahu dan kangkung kering untuk memenuhi kebutuhan nutrisi makro dan mikro ternak.

Strategi Fokus pada Kualitas Genetika

Berbeda dengan model peternakan konvensional yang sering kali terjebak pada ambisi kuantitas atau jumlah populasi, Mila menerapkan strategi diversifikasi kualitas. Ia memfokuskan usahanya pada pengembangan genetika ternak yang unggul. Pendekatan ini terbukti efektif dalam mendongkrak margin keuntungan. Kambing dengan kualitas unggul di Kerabat Ternak dapat mencapai harga jual antara Rp16 juta hingga Rp23 juta per ekor, jauh di atas harga rata-rata kambing lokal yang berkisar di angka Rp3 juta hingga Rp5 juta.

Diversifikasi lini bisnis juga menjadi strategi mitigasi risiko yang cerdas. Saat permintaan hewan kurban melonjak pada momentum Iduladha—di mana omzet Kerabat Ternak dapat mencapai Rp500 juta hingga Rp700 juta dalam dua bulan—usaha tetap memiliki arus kas yang stabil di hari biasa melalui penjualan susu, bibit, dan sapronak. Bisnis sapronak sendiri berkontribusi sekitar Rp75 juta per bulan, menjadikannya penyeimbang saat permintaan ternak hidup sedang dalam siklus normal.

Analisis Dampak Sosial dan Ekonomi

Implikasi dari keberadaan Kerabat Ternak melampaui sekadar angka profit. Mila telah menciptakan model pemberdayaan masyarakat melalui pembentukan kelompok ternak. Kehadiran bisnisnya menjadi katalis bagi peternak kecil di sekitarnya, terutama dalam memecahkan masalah pemasaran produk hilir seperti susu kambing.

Erma, salah satu anggota kelompok ternak binaan, mengungkapkan bahwa kehadiran Kerabat Ternak memberikan akses pasar yang lebih luas dan edukasi teknis yang sebelumnya sulit didapatkan oleh peternak skala rumah tangga. Selain itu, sebagai bentuk komitmen dalam pendidikan vokasi, unit usaha ini juga menjadi lokasi praktik kerja lapangan (PKL) bagi siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) dari wilayah sekitar. Hal ini menunjukkan adanya transfer pengetahuan (knowledge transfer) yang berkelanjutan dari akademisi ke praktisi dan generasi muda.

Berawal dari 5 Ekor Domba, Mila Raup Omzet Ratusan Juta 

Pemanfaatan Platform Digital dalam Edukasi Peternakan

Sejak tahun 2023, Mila mulai memanfaatkan platform media sosial, khususnya TikTok, untuk melakukan edukasi peternakan secara masif. Langkah ini penting dalam konteks modernisasi pertanian. Dengan konten-konten edukatif yang menunjukkan praktik manajemen kandang yang bersih, pengelolaan nutrisi, dan tips kesehatan ternak, ia berhasil menjangkau audiens yang lebih luas. Secara sosiologis, upaya ini membantu memposisikan peternakan sebagai profesi yang "keren" dan relevan di era digital bagi generasi Z dan milenial.

Tantangan dan Masa Depan Peternakan Modern di Indonesia

Keberhasilan Mila adalah cerminan dari potensi besar sektor peternakan di Indonesia jika dikelola dengan pendekatan manajerial yang tepat. Sektor ini memiliki tantangan struktural, mulai dari ketergantungan pada pakan impor, fluktuasi harga komoditas, hingga isu keberlanjutan lingkungan. Namun, model yang diterapkan oleh Mila menunjukkan bahwa dengan sentuhan teknologi dan manajemen yang presisi, hambatan-hambatan tersebut dapat dimitigasi.

Analisis menunjukkan bahwa pergeseran dari peternakan subsisten menuju peternakan komersial yang berorientasi pada kualitas (genetika dan nutrisi) adalah masa depan ketahanan pangan Indonesia. Mila tidak hanya menjual kambing, ia menjual solusi dan sistem. Bagi generasi muda, kisah ini menjadi bukti bahwa sektor peternakan mampu menawarkan otonomi ekonomi sekaligus memberikan dampak sosial yang luas bagi lingkungan sekitar.

Kesimpulan

Perjalanan Mila dari seorang mahasiswi yang diragukan hingga menjadi pengusaha peternakan modern yang sukses adalah narasi tentang ketangguhan dan visi. Ia telah berhasil mengubah stigma menjadi prestasi. Melalui Kerabat Ternak 1-3, ia membuktikan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam menggerakkan ekonomi perdesaan. Konsistensi dalam memadukan ilmu akademis, pengalaman lapangan, dan kepedulian sosial menjadikan profilnya sebagai model ideal bagi lulusan sarjana di bidang pertanian dan peternakan untuk tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi menciptakan lapangan kerja.

Di masa depan, skala usaha yang dibangun oleh Mila diharapkan mampu menjadi inkubator bagi peternak-peternak baru di Jawa Timur. Dengan fondasi yang kuat pada kualitas dan edukasi, Kerabat Ternak tidak hanya berpotensi memperluas jangkauan pasar, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan produktivitas ternak nasional secara keseluruhan. Apa yang dimulai dari lima ekor domba di halaman rumah, kini telah tumbuh menjadi mercusuar bagi masa depan peternakan Indonesia yang lebih cerdas, efisien, dan inklusif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Transformasi Masjid Kampus UGM sebagai Pilar Ketahanan Ekonomi dan Pendidikan Mahasiswa Melalui RZIS

29 Juni 2026 - 06:37 WIB

Rektor Universitas Gadjah Mada Prof Ova Emilia Dianugerahi Gelar Doktor Honoris Causa oleh University of Dundee Skotlandia

28 Juni 2026 - 12:37 WIB

Tragedi Pelatihan Militeristik Calon Manajer Koperasi Desa Merah Putih dan Desakan Evaluasi Sistematis

28 Juni 2026 - 06:37 WIB

Menghadapi Ancaman Climate Boiling: Sinergi Inovasi Teknologi dan Pendidikan Tinggi dalam Mitigasi Krisis Iklim Global

27 Juni 2026 - 12:37 WIB

Memperkuat Diplomasi Sawit Nasional Menjawab Tantangan Regulasi Global dan Keberlanjutan Industri

27 Juni 2026 - 06:37 WIB

Trending di Studi & Edukasi Budaya Yogya