Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Mendikdasmen RI) Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan tradisional dalam ruang lingkup masyarakat modern guna membentuk karakter generasi muda. Pernyataan tersebut disampaikan dalam agenda peresmian Masjid Al-Huda Muhammadiyah yang berlokasi di Burneh, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, pada Jumat, 1 Mei 2026. Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti secara spesifik mengangkat relevansi filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, khususnya konsep Among, sebagai kerangka strategis dalam mengoptimalkan peran masjid bukan sekadar sebagai tempat ritual, melainkan sebagai pusat peradaban dan pendidikan komunitas.
Konsep Among yang mencakup tiga pilar utama, yakni momong (mengasuh dengan kasih sayang), among (membimbing sesuai potensi), dan ngemong (memelihara dengan penuh tanggung jawab), dipandang sebagai metode pedagogis yang sangat kontekstual jika diterapkan dalam ekosistem keagamaan di tingkat lokal. Menurut Mendikdasmen, integrasi konsep ini di lingkungan masjid akan memberikan warna baru pada pola pembinaan umat, di mana masjid berperan lebih aktif dalam membentuk kepribadian individu yang berintegritas dan berwawasan kebangsaan.
Filosofi Among dalam Konteks Pendidikan Masa Kini
Pendidikan berbasis Among merupakan warisan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menitikberatkan pada kemerdekaan peserta didik. Dalam pandangan Abdul Mu’ti, pendekatan ini menuntut para pengelola masjid atau pendidik untuk tidak lagi menggunakan metode otoriter atau satu arah, melainkan lebih kepada pendekatan dialogis yang menghargai keberagaman bakat dan karakter setiap individu.
Momong diartikan sebagai upaya memberikan perhatian penuh pada perkembangan jiwa anak sejak dini. Dalam lingkup masjid, ini berarti menyediakan fasilitas dan lingkungan yang ramah anak sehingga generasi muda merasa betah dan memiliki keterikatan emosional dengan tempat ibadah. Among merujuk pada bimbingan yang terarah, di mana masjid berfungsi sebagai fasilitator ilmu pengetahuan, baik ilmu agama maupun keterampilan hidup (life skills). Terakhir, ngemong adalah bentuk pengawasan yang berkelanjutan tanpa membatasi ruang gerak kreatif generasi muda, sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri namun tetap memiliki komitmen spiritual yang kuat.
Masjid sebagai Pusat Peradaban: Tantangan dan Realita
Dalam paparannya, Mendikdasmen menyoroti adanya paradoks yang terjadi di banyak daerah di Indonesia. Meski pembangunan fisik masjid berlangsung sangat masif dan menghasilkan bangunan-bangunan yang megah secara arsitektural, pemanfaatan fungsi sosial-edukatifnya sering kali belum optimal. Banyak masjid yang hanya ramai pada waktu salat lima waktu, namun sepi dari kegiatan pemberdayaan masyarakat di luar jam ibadah ritual.
Abdul Mu’ti menekankan bahwa masjid harus bersifat "makmur dan memakmurkan." Makmur berarti masjid tersebut hidup dengan berbagai kegiatan, sementara memakmurkan berarti kehadiran masjid memberikan dampak ekonomi, pendidikan, dan sosial yang nyata bagi warga di sekitarnya. Sejarah Islam mencatat bahwa pada masa keemasannya, masjid merupakan jantung kehidupan masyarakat—tempat di mana kebijakan dirumuskan, ilmu pengetahuan dikembangkan, dan kesejahteraan sosial dikelola. Mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat pendidikan merupakan salah satu agenda besar pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di tingkat akar rumput.
Sinergi Multi-Pihak dalam Pemberdayaan Lokal
Peresmian Masjid Al-Huda Muhammadiyah di Burneh bukan sekadar seremonial gedung baru, melainkan sebuah simbol komitmen lintas sektor. Kehadiran tokoh-tokoh kunci dalam acara tersebut, mulai dari Bupati Bangkalan Lukman Hakim, Wakil Bupati Moh Fauzan Ja’far, hingga pimpinan akademisi seperti Rektor Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Prof. Safi, menunjukkan adanya sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat (Muhammadiyah), dan institusi pendidikan tinggi.
Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Bangkalan, Rik Suhadi, dalam keterangannya menjelaskan bahwa kegiatan yang bertajuk "Menghidupkan Fungsi Masjid di Tengah Masyarakat Modern" ini merupakan bagian dari visi besar untuk menjadikan masjid sebagai motor penggerak peradaban. Sinergi ini dianggap krusial karena tantangan masyarakat modern saat ini meliputi krisis moral, degradasi karakter, dan kesenjangan akses pendidikan. Dengan melibatkan pihak universitas, masjid diharapkan dapat menjadi laboratorium sosial yang menerapkan riset-riset berbasis komunitas untuk memecahkan masalah lokal, seperti angka putus sekolah atau rendahnya literasi digital di kalangan pemuda desa.

Data dan Analisis: Mengapa Peran Masjid Krusial?
Data dari berbagai studi sosiologi agama di Indonesia menunjukkan bahwa masjid adalah lembaga pendidikan non-formal yang paling tersebar secara geografis. Dengan jumlah masjid yang mencapai ratusan ribu di seluruh penjuru nusantara, potensi ini sebenarnya melebihi jangkauan lembaga pendidikan formal manapun. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah keterbatasan sumber daya manusia (pengelola masjid/takmir) yang memiliki kompetensi pedagogis yang mumpuni.
Analisis dari perspektif kebijakan pendidikan menunjukkan bahwa jika 20 persen saja dari total masjid di Indonesia mampu mengadopsi kurikulum pendidikan karakter berbasis konsep Among, maka akan terjadi akselerasi yang signifikan dalam pembangunan karakter nasional. Pendekatan ini dapat memitigasi dampak negatif digitalisasi yang seringkali menyebabkan isolasi sosial pada remaja. Masjid yang menyediakan ruang untuk diskusi, pelatihan keterampilan, dan pendampingan karakter akan menjadi penyeimbang yang vital bagi ketergantungan masyarakat pada media sosial.
Implikasi Kebijakan: Menuju Transformasi Pendidikan Dasar
Langkah yang diambil Abdul Mu’ti dengan mempromosikan konsep Among di luar ruang kelas formal merupakan langkah strategis untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang holistik. Pemerintah menyadari bahwa pendidikan dasar tidak hanya terbatas pada kurikulum di sekolah, tetapi juga lingkungan keluarga dan lingkungan sosial (masjid).
Implikasi dari wacana ini adalah kemungkinan adanya kolaborasi yang lebih formal antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dengan lembaga-lembaga keagamaan untuk mengintegrasikan modul pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Ini sejalan dengan agenda nasional untuk memperkuat profil pelajar Pancasila. Dengan membawa semangat Ki Hajar Dewantara ke masjid, pemerintah secara tidak langsung melakukan de-birokratisasi pendidikan, di mana masyarakat diberi peran lebih besar dalam mendidik generasinya sendiri.
Kronologi dan Latar Belakang Peristiwa
Peresmian Masjid Al-Huda Muhammadiyah ini merupakan puncak dari rangkaian upaya PDM Bangkalan dalam memperkuat infrastruktur dakwah di wilayah Madura. Berikut adalah garis waktu konteks pendirian dan pengembangannya:
- Tahap Perencanaan (2024): Inisiasi pembangunan oleh Muhammadiyah dengan dukungan pemerintah daerah setempat untuk menciptakan ruang ibadah yang multifungsi.
- Tahap Konstruksi (2025): Pembangunan fisik dengan konsep arsitektur yang mengakomodasi ruang kelas, perpustakaan, dan area pertemuan komunitas.
- Peresmian (1 Mei 2026): Peresmian resmi oleh Mendikdasmen RI yang menandai dimulainya fase operasional penuh, di mana masjid akan mulai menjalankan program pendidikan berbasis Among.
Kehadiran Mendikdasmen dalam peresmian ini memberikan legitimasi kuat terhadap model masjid multifungsi yang sedang dikembangkan di Burneh. Hal ini menjadi preseden bagi daerah lain di Jawa Timur dan wilayah Indonesia lainnya untuk melakukan replikasi serupa.
Kesimpulan dan Prospek Masa Depan
Pesan Abdul Mu’ti mengenai relevansi pemikiran Ki Hajar Dewantara di abad ke-21 menegaskan bahwa meskipun zaman berubah, nilai-nilai kemanusiaan dan pendidikan yang berbasis pada kasih sayang serta bimbingan tetaplah relevan. Masjid Al-Huda di Burneh, Bangkalan, kini berdiri sebagai model percontohan (pilot project) bagi gerakan revitalisasi masjid sebagai pusat peradaban.
Keberhasilan inisiatif ini ke depan akan sangat bergantung pada konsistensi para pengurus masjid dalam menerapkan metode momong, among, dan ngemong. Jika model ini berhasil diterapkan secara konsisten, maka masjid-masjid di Indonesia tidak lagi hanya menjadi bangunan yang sunyi di luar jam salat, tetapi akan bertransformasi menjadi pusat inkubasi karakter dan pusat pengembangan potensi manusia yang adaptif terhadap tantangan zaman. Ini adalah sebuah langkah kecil dari Bangkalan yang diharapkan dapat memberikan resonansi besar bagi dunia pendidikan nasional Indonesia di masa depan.









