Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Ekonomi

Megawati Soekarnoputri dan Dubes India Sandeep Chakravorty Perkuat Fondasi Diplomatik Berbasis Sejarah Kedekatan Soekarno-Nehru

badge-check


					Megawati Soekarnoputri dan Dubes India Sandeep Chakravorty Perkuat Fondasi Diplomatik Berbasis Sejarah Kedekatan Soekarno-Nehru Perbesar

Pertemuan diplomatik yang hangat terjadi di kediaman Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin (25/5/2026). Dalam kunjungan tersebut, Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menemui Ketua Umum PDI Perjuangan itu untuk mendiskusikan berbagai aspek historis dan strategis yang mengikat hubungan bilateral antara Indonesia dan India. Diskusi ini tidak hanya bersifat seremonial, melainkan menggali kembali akar persahabatan yang telah diletakkan oleh para pendiri bangsa, yakni Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Jawaharlal Nehru.

Pertemuan ini menjadi cerminan pentingnya "diplomasi sejarah" dalam mempererat hubungan antarnegara di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks. Dengan latar belakang sejarah yang mendalam, kedua belah pihak menekankan bahwa hubungan antara Jakarta dan New Delhi bukanlah kerja sama yang baru lahir, melainkan kemitraan yang telah teruji oleh waktu, dimulai sejak masa perjuangan kemerdekaan kedua negara melawan kolonialisme.

Menelusuri Jejak Persahabatan Soekarno dan Nehru

Hubungan antara Indonesia dan India sering disebut sebagai "saudara sekandung" dalam panggung politik internasional. Kedekatan antara Soekarno dan Jawaharlal Nehru bukan sekadar hubungan profesional antarpejabat negara, melainkan ikatan emosional dan ideologis yang kuat. Keduanya adalah arsitek utama di balik Gerakan Non-Blok (GNB) yang memosisikan negara-negara berkembang sebagai kekuatan independen di tengah Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Dalam pertemuan tersebut, Megawati Soekarnoputri menunjukkan dokumentasi sejarah berupa foto-foto langka yang memperlihatkan keakraban antara Soekarno dan Nehru di Istana Merdeka pada 8 Juni 1950. Salah satu foto yang menyita perhatian adalah momen ketika Guntur Soekarnoputra sedang bersepeda dengan membonceng Megawati, sementara Soekarno dan Nehru berbincang santai di latar belakang. Foto tersebut menjadi simbol bahwa hubungan kedua negara telah menembus ruang privat dan keluarga.

Megawati juga mengenang keterlibatannya dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Gerakan Non-Blok di Beograd, Yugoslavia, pada September 1961. Meskipun usianya baru 14 tahun saat itu, pengalaman tersebut memberikan perspektif mendalam bagi Megawati mengenai bagaimana diplomasi tingkat tinggi dijalankan dengan basis persaudaraan. Ia bahkan memperlihatkan foto dirinya yang mengenakan kebaya tradisional saat berinteraksi dengan para pemimpin dunia, termasuk PM Nehru.

Peran Strategis Tokoh Kemerdekaan India: Biju Patnaik

Selain hubungan dengan Nehru, Megawati secara khusus menyinggung sosok Bijayananda "Biju" Patnaik. Tokoh ini dikenal bukan hanya sebagai politisi, tetapi juga pilot legendaris yang memiliki peran krusial dalam mendukung kemerdekaan Indonesia. Biju Patnaik tercatat dalam sejarah pernah menerbangkan pesawat Dakota untuk menyelamatkan Perdana Menteri Indonesia saat itu, Sutan Sjahrir, dari kepungan Belanda pada tahun 1947. Atas jasa-jasanya, Biju Patnaik dianugerahi penghargaan tertinggi dari Pemerintah Indonesia. Mengingat kembali sosok Biju Patnaik adalah bentuk apresiasi terhadap kontribusi konkret India dalam menjaga kedaulatan Indonesia di masa-masa sulit pasca-Proklamasi 1945.

Diplomasi Ruang dan Kedekatan Geografis Kedutaan

Sisi menarik dari pembicaraan ini adalah pembahasan mengenai lokasi kantor kedutaan besar kedua negara. Megawati menjelaskan bahwa penempatan gedung Kedutaan Besar India di Jakarta adalah pilihan langsung dari Presiden Soekarno. Sebagai bentuk timbal balik (resiprokal), PM Nehru juga secara pribadi mencarikan lokasi untuk Kedutaan Besar Indonesia di New Delhi yang terletak sangat strategis, yakni di dekat kediaman resmi Perdana Menteri India. Hal ini menunjukkan betapa tingginya tingkat kepercayaan (trust) antara Soekarno dan Nehru, di mana akses fisik antar-pemimpin negara menjadi prioritas demi kelancaran komunikasi diplomatik.

Megawati-Dubes India bahas kedekatan kedua negarasejak era Soekarno

Dubes Sandeep Chakravorty pun mengonfirmasi bahwa ia sering melihat potret Megawati dan Soekarno di Museum Nehru di New Delhi. Hal ini membuktikan bahwa narasi sejarah kedekatan Indonesia dan India tetap dipelihara dan dihormati oleh pemerintah India hingga saat ini, berfungsi sebagai "penjaga" memori kolektif yang menjaga stabilitas hubungan bilateral.

Analisis Geopolitik dan Kualitas Demokrasi

Pertemuan tersebut tidak hanya bernostalgia, namun juga menyentuh isu-isu kontemporer yang relevan dengan perkembangan zaman. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, yang mendampingi Megawati, menegaskan bahwa diskusi juga melebar ke arah geopolitik dan peningkatan kualitas demokrasi. Dalam konteks global, baik Indonesia maupun India merupakan dua negara demokrasi terbesar di Asia dengan pengaruh yang signifikan di kawasan Indo-Pasifik.

Peningkatan kualitas demokrasi menjadi tema krusial mengingat tantangan yang dihadapi negara-negara berkembang saat ini, mulai dari ancaman polarisasi politik, disinformasi, hingga kebutuhan akan kebijakan ekonomi yang inklusif. Kerja sama dalam memperkuat lembaga-lembaga demokrasi diharapkan menjadi salah satu agenda strategis bagi kedua negara ke depannya. India, dengan kemajuannya dalam bidang teknologi informasi dan ekonomi digital, dan Indonesia, dengan posisinya sebagai pemimpin ASEAN dan kekuatan ekonomi yang sedang tumbuh, memiliki banyak ruang untuk melakukan pertukaran praktik terbaik (best practices).

Kronologi dan Poin Penting Hubungan Indonesia-India

  • 1947: Biju Patnaik membantu evakuasi pemimpin Indonesia, mempererat solidaritas kemerdekaan.
  • 1950: Kunjungan bersejarah Nehru ke Indonesia yang memperkuat fondasi kerja sama bilateral pasca-pengakuan kedaulatan.
  • 1955: Konferensi Asia-Afrika di Bandung, puncak dari kolaborasi Soekarno-Nehru dalam mendorong semangat antikolonialisme.
  • 1961: Partisipasi Megawati dalam KTT GNB di Beograd sebagai saksi sejarah diplomasi ayahnya.
  • 2011: Pertemuan awal antara Megawati dan Dubes Sandeep Chakravorty di Korea Utara.
  • 2022: Pertemuan kembali di Gala Dinner KTT G20 di Bali.
  • 2026: Penguatan kembali komitmen persahabatan melalui dialog sejarah dan geopolitik di Jakarta.

Implikasi Strategis bagi Kemitraan Masa Depan

Undangan yang disampaikan Dubes Sandeep Chakravorty kepada Megawati untuk kembali berkunjung ke India menjadi sinyal bahwa diplomasi "track two" (diplomasi jalur kedua) yang dilakukan Megawati tetap memiliki pengaruh besar. Megawati, sebagai sosok yang memiliki memori sejarah langsung tentang hubungan Indonesia-India, berperan penting sebagai jembatan kultural dan diplomatik.

Secara implikatif, kunjungan ini memberikan pesan kepada komunitas internasional bahwa Indonesia tetap memegang teguh nilai-nilai non-blok dan kemandirian dalam berpolitik luar negeri. Di tengah perebutan pengaruh antara kekuatan besar (AS dan Tiongkok), hubungan tradisional Indonesia-India memberikan alternatif bagi terciptanya keseimbangan di kawasan.

Sebagai penutup pertemuan, pertukaran cenderamata dilakukan sebagai simbol simbolis. Dubes India menyerahkan miniatur Taj Mahal, ikon arsitektur India yang melambangkan keabadian, sementara Megawati memberikan miniatur kapal Phinisi dan kemeja tenun endek. Kapal Phinisi merepresentasikan semangat penjelajahan dan ketangguhan maritim Indonesia, sementara tenun endek melambangkan kekayaan budaya nusantara yang kini telah mendunia.

Pertemuan di Menteng ini bukan sekadar pertemuan rutin diplomatik, melainkan penegasan bahwa sejarah adalah kompas bagi masa depan. Dengan berpijak pada fondasi kuat yang dibangun oleh Soekarno dan Nehru, hubungan Indonesia dan India diharapkan dapat terus berkembang menjadi kemitraan strategis yang saling menguntungkan, tidak hanya bagi kesejahteraan rakyat kedua negara, tetapi juga bagi stabilitas dan perdamaian di kawasan Asia dan dunia. Ke depannya, kolaborasi di bidang ekonomi, teknologi, dan penguatan nilai-nilai demokrasi akan menjadi pilar utama dalam melanjutkan warisan persahabatan yang telah dirintis lebih dari tujuh dekade lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Askrindo Akselerasi Literasi dan Inklusi Keuangan Nasional melalui Jogja Financial Festival 2026

25 Mei 2026 - 12:45 WIB

Harga cabai rawit melonjak ke Rp81.300 per kilogram dan telur ayam ras tembus Rp33.100 per kilogram di tengah tantangan distribusi pangan nasional

25 Mei 2026 - 06:45 WIB

Mahkamah Konstitusi Bacakan 13 Putusan dan Ketetapan Terkait Uji Materiil Berbagai Undang-Undang Strategis

25 Mei 2026 - 06:19 WIB

PLN Nyatakan Sistem Kelistrikan Sumatera Kembali Normal Pasca Gangguan Transmisi Interkoneksi

25 Mei 2026 - 00:45 WIB

Transformasi Layanan Kereta Api Daop 6 Yogyakarta Catat Peningkatan Kepuasan Pelanggan Konsisten Selama Empat Tahun Terakhir

24 Mei 2026 - 18:45 WIB

Trending di Ekonomi