Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Wisata

Kesenjangan Sinergi Pemkab Kulon Progo dalam Mengakselerasi Potensi Pariwisata Berbasis Masyarakat di Kawasan Menoreh

badge-check


					Kesenjangan Sinergi Pemkab Kulon Progo dalam Mengakselerasi Potensi Pariwisata Berbasis Masyarakat di Kawasan Menoreh Perbesar

Perkembangan sektor pariwisata di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, tengah berada pada persimpangan jalan yang krusial. Di satu sisi, kawasan perbukitan Menoreh yang mencakup Kecamatan Kokap, Girimulyo, hingga Samigaluh, menunjukkan pertumbuhan pesat dengan munculnya puluhan destinasi wisata berbasis komunitas. Namun di sisi lain, Ketua DPRD Kabupaten Kulon Progo, Akhid Nuryati, menyoroti adanya stagnasi peran pemerintah daerah dalam mendukung pertumbuhan tersebut. Ketidakhadiran Dinas Pariwisata dalam aspek pembangunan infrastruktur dan penguatan kelembagaan dinilai kontradiktif dengan visi besar pemerintah daerah dalam menjadikan wilayah ini sebagai penyangga Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur.

Ketidakselarasan antara inisiatif masyarakat di lapangan dengan dukungan kebijakan pemerintah menjadi catatan serius bagi legislatif. Destinasi seperti Pule Payung, Gunung Gajah, hingga sentra agrowisata kopi, teh, dan bunga krisan, murni tumbuh dari kreativitas warga lokal. Tanpa intervensi pemerintah dalam hal pembenahan aksesibilitas, sistem retribusi yang akuntabel, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), dikhawatirkan potensi besar ini akan kehilangan daya saingnya di masa depan.

Dinamika Pertumbuhan Wisata Menoreh

Dalam satu tahun terakhir, perbukitan Menoreh telah bertransformasi menjadi magnet wisata baru di Yogyakarta. Geografi yang menantang namun menawarkan pemandangan alam memukau menjadi daya tarik utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Fenomena ini sebenarnya mencerminkan keberhasilan semangat pariwisata berbasis masyarakat (community-based tourism) yang selama ini digaungkan oleh Pemerintah Kabupaten Kulon Progo di bawah kepemimpinan Bupati Hasto Wardoyo.

Namun, keberhasilan ini tidak dibarengi dengan kesiapan infrastruktur pendukung yang memadai. Kritik tajam yang dilontarkan pihak legislatif merujuk pada minimnya sentuhan dinas teknis dalam memitigasi risiko di lapangan. Misalnya, pengelolaan sistem retribusi yang masih bersifat konvensional memicu potensi kebocoran pendapatan daerah sekaligus inefisiensi dalam manajemen kunjungan. Sistem yang ada saat ini dianggap belum mampu memberikan data akurat mengenai profil pengunjung, yang sebenarnya sangat vital bagi perencanaan kebijakan pariwisata ke depan.

Respons Pemerintah: Strategi Bedah Menoreh

Menanggapi kritik tersebut, Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Pemerintah Kabupaten tengah menjalankan program strategis berskala besar yang diberi nama "Bedah Menoreh". Program ini dirancang sebagai upaya komprehensif untuk mengintegrasikan infrastruktur, pariwisata, sektor perkebunan, hingga pelestarian budaya lokal dalam satu koridor pembangunan yang berkelanjutan.

Strategi utama dari program Bedah Menoreh adalah pembangunan akses jalan raya yang menghubungkan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Temon menuju kawasan Borobudur di Jawa Tengah. Rute yang direncanakan melintasi Temon – Kokap – Girimulyo – Samigaluh – Kalibawang hingga perbatasan Borobudur ini diproyeksikan menjadi tulang punggung mobilitas wisatawan. Dengan adanya aksesibilitas yang mumpuni, Kulon Progo tidak lagi hanya menjadi tempat transit penumpang bandara, melainkan menjadi destinasi tujuan utama (end destination) yang memberikan pengalaman wisata mendalam.

Dalam koordinasi lintas sektoral, pemerintah daerah sedang mengupayakan akselerasi penyelesaian proyek ini melalui sinergi dengan Pemerintah Daerah DIY serta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Fokus utama tidak hanya pada pengaspalan jalan, tetapi juga penataan kawasan di sepanjang jalur tersebut agar memiliki estetika yang mendukung citra pariwisata.

Tantangan SDM dan Kelembagaan

Salah satu poin kritik yang paling substantif dari DPRD adalah mengenai kesiapan SDM. Industri pariwisata modern menuntut standar pelayanan yang profesional. Jika infrastruktur fisik telah tersedia namun pelaku wisata lokal tidak dibekali dengan kemampuan manajemen destinasi yang baik, maka kunjungan wisatawan cenderung bersifat sekali jalan (one-time visit).

Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, melalui dinas terkait, mulai menyasar kawasan spesifik sebagai model percontohan. Salah satunya adalah kawasan Kebun Teh Nglinggo-Tritis di Samigaluh yang kini diproyeksikan sebagai penyangga utama KSPN Borobudur. Di wilayah Kecamatan Girimulyo, terdapat setidaknya 15 titik objek wisata potensial yang meliputi gua, air terjun (curug), hingga wisata religi. Pemerintah berencana melakukan intervensi berupa pelatihan tata kelola destinasi, pendampingan kelompok sadar wisata (pokdarwis), dan standardisasi pelayanan agar objek-objek tersebut mampu menarik minat wisatawan mancanegara.

Implikasi dan Proyeksi Masa Depan

Kesenjangan antara ekspektasi legislatif dan realisasi eksekutif saat ini menuntut adanya evaluasi berkala. Secara makro, keberhasilan pariwisata Kulon Progo sangat bergantung pada tiga pilar: aksesibilitas, amenitas, dan atraksi. Hingga saat ini, atraksi telah tercipta secara organik dari masyarakat, namun aksesibilitas dan amenitas masih tertinggal.

Jika program Bedah Menoreh dapat diselesaikan tepat waktu, implikasinya akan sangat signifikan terhadap perekonomian daerah. Pariwisata akan menjadi penggerak (multiplier effect) bagi sektor lain, seperti UMKM, pertanian, dan transportasi. Namun, tantangan terbesarnya adalah menjaga agar pembangunan infrastruktur tidak merusak ekosistem alam yang menjadi komoditas utama pariwisata di kawasan tersebut.

Kritik dari DPRD mengenai promosi yang sudah berjalan baik namun belum didukung sarana yang memadai harus menjadi refleksi. Promosi yang agresif tanpa kesiapan fasilitas di lapangan dapat menjadi pedang bermata dua; alih-alih menarik pengunjung kembali, ketidaksiapan justru akan menciptakan kekecewaan yang tersebar melalui ulasan negatif di media sosial.

Kesimpulan: Menuju Sinergi yang Berkelanjutan

Ke depan, diperlukan sinkronisasi kebijakan antara Pemkab Kulon Progo dan masyarakat pengelola wisata. Pemerintah harus bertindak sebagai fasilitator yang menyediakan regulasi yang ramah investasi sekaligus melindungi kepentingan warga lokal. Sementara itu, pelaku wisata diharapkan dapat meningkatkan profesionalisme agar kawasan Menoreh tidak hanya dikenal sebagai destinasi musiman.

Sinergi antara visi pembangunan infrastruktur "Bedah Menoreh" dengan penguatan kelembagaan di tingkat tapak akan menjadi penentu keberhasilan Kulon Progo dalam menangkap peluang dari kehadiran bandara internasional. Jika langkah-langkah korektif ini segera diambil, kawasan Menoreh memiliki potensi besar untuk menjadi model pengembangan pariwisata berbasis komunitas yang berkelanjutan di Indonesia.

Pemerintah Kabupaten saat ini berada dalam tekanan waktu. Mengingat KSPN Borobudur adalah proyek prioritas nasional, Kulon Progo harus bergerak cepat untuk memastikan bahwa manfaat ekonomi dari limpahan wisatawan tersebut dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di perbukitan Menoreh. Evaluasi sistem retribusi yang transparan dan digitalisasi manajemen wisata menjadi langkah awal yang mendesak untuk segera dilakukan guna menepis keraguan publik mengenai efektivitas tata kelola pariwisata daerah.

Pada akhirnya, keberhasilan sektor pariwisata Kulon Progo akan diukur dari seberapa besar dampak kesejahteraan yang dirasakan oleh warga masyarakat yang selama ini telah berjuang secara mandiri membangun potensi daerahnya. Sinergi yang kokoh antara legislatif, eksekutif, dan masyarakat adalah syarat mutlak agar mimpi besar "Bedah Menoreh" tidak sekadar menjadi wacana pembangunan, melainkan realitas yang menggerakkan roda ekonomi daerah secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Strategi Bottom-Up Dorong Sektor Pariwisata Bantul Lampaui Sektor Pertanian sebagai Penggerak Ekonomi Utama

4 Juni 2026 - 12:39 WIB

Bank Indonesia DIY Mendorong Optimalisasi Sektor Pariwisata dan UMKM sebagai Motor Utama Pertumbuhan Ekonomi Daerah

2 Juni 2026 - 06:39 WIB

Potensi Kabupaten Gunung Kidul sebagai Destinasi Wisata Unggulan Dunia dan Proyeksi Bali Baru di Yogyakarta

2 Juni 2026 - 00:39 WIB

Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul Perketat Pengawasan Kebersihan Kawasan Wisata Pantai untuk Menjaga Kelestarian Lingkungan

1 Juni 2026 - 18:39 WIB

Menjadikan Desa Gerbosari Kulon Progo Sebagai Sentra Agrowisata Krisan Unggulan di Yogyakarta

1 Juni 2026 - 12:39 WIB

Trending di Wisata