Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta secara resmi menggelar upacara pelepasan masa purnatugas bagi salah satu maestro tari dan pendidik seni terkemuka, Prof Dr I Wayan Dana, pada Selasa, 5 Mei 2026. Bertempat di Concert Hall ISI Yogyakarta, acara ini menjadi manifestasi penghormatan civitas akademika atas dedikasi panjang sang profesor dalam menumbuhkembangkan pendidikan seni, seni tari, dan diskursus kebudayaan di Indonesia selama lebih dari empat dekade.
Acara yang mengusung tajuk "Menyulam Gerak, Menarikan Zaman" ini tidak sekadar menjadi seremoni perpisahan administratif. Ia bertransformasi menjadi sebuah simposium budaya yang mempertemukan sejarah, praktik seni, dan visi masa depan pendidikan seni di tanah air. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, ISI Yogyakarta meluncurkan dua karya monumental: buku berjudul "Menyulam Gerak, Menarikan Zaman: Persembahan 70 Tahun Prof Dr I Wayan Dana" serta Katalog Anotasi I Wayan Dana yang mendokumentasikan jejak karier serta pemikiran artistiknya.
Rekam Jejak dan Kronologi Pengabdian
Karier Prof I Wayan Dana merupakan cerminan dari dinamika pendidikan seni di Indonesia. Perjalanan beliau dimulai sejak tahun 1979, tepat setelah menyelesaikan studinya di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Yogyakarta. Saat itu, ASTI merupakan institusi pendidikan tinggi seni yang menjadi fondasi bagi pembentukan ISI Yogyakarta yang kita kenal saat ini.
Sebagai alumnus yang kemudian mendedikasikan hidupnya sebagai pengajar, Prof Wayan Dana telah melewati berbagai fase transformasi institusi. Dari masa ketika pendidikan seni tari masih berfokus pada pelestarian tradisi murni, hingga era kontemporer di mana seni tari harus berdialog dengan disiplin ilmu lain dan teknologi. Selama 47 tahun pengabdiannya, beliau telah menjadi saksi hidup sekaligus aktor intelektual yang membentuk kurikulum serta pola pengajaran tari di tingkat universitas.
Garis waktu pengabdian beliau mencakup berbagai peran strategis, mulai dari dosen pengampu mata kuliah teori tari, praktisi tari yang aktif melakukan kolaborasi internasional, hingga menjadi guru besar yang membimbing lahirnya para seniman dan akademisi muda. Kontribusinya bukan hanya terbatas pada teknis gerak, tetapi juga pada pengembangan metodologi penelitian seni yang kini menjadi standar di ISI Yogyakarta.
Refleksi Rektorat dan Makna Purnatugas
Rektor ISI Yogyakarta, Irwandi, dalam sambutannya menegaskan bahwa sosok Prof Wayan Dana adalah aset intelektual yang tak ternilai. Menurutnya, keberadaan seorang maestro yang mampu menjembatani disiplin seni tradisional dengan pemikiran akademis modern adalah kunci keunggulan ISI Yogyakarta di kancah nasional maupun internasional.
"ISI Yogyakarta sungguh berbangga memiliki sosok seperti Prof Dana. Beliau bukan sekadar pengajar, beliau adalah narator sejarah yang menjaga relevansi seni tari dalam arus zaman yang terus berubah," ujar Irwandi.
Lebih lanjut, Rektor menepis anggapan bahwa purnatugas adalah titik henti. Dalam konteks pendidikan tinggi, purnatugas seorang guru besar dianggap sebagai babak baru di mana sang ilmuwan memiliki ruang lebih luas untuk menulis, berkarya, dan menjadi mentor bagi masyarakat luas tanpa terikat beban administratif birokrasi kampus. Inilah yang disebut oleh Irwandi sebagai transisi produktivitas, di mana spirit akademik harus terus menebar pengaruh bagi publik.
Usulan Strategis untuk Regenerasi Akademik
Salah satu poin krusial yang disampaikan oleh Prof I Wayan Dana dalam pidato pelepasan purnatugasnya adalah mengenai keberlangsungan regenerasi guru besar. Beliau memberikan kritik konstruktif yang tajam mengenai pentingnya pendampingan atau mentorship yang lebih sistematis.
Prof Wayan Dana mengusulkan agar ISI Yogyakarta menerapkan skema di mana setiap guru besar aktif diwajibkan untuk mendampingi dua hingga tiga calon guru besar secara intensif. Menurut beliau, proses menjadi guru besar bukan hanya soal pemenuhan syarat administratif atau angka kredit, melainkan soal penularan nilai-nilai intelektual, etika akademis, dan ketajaman riset.

"Regenerasi adalah nafas institusi. Saya berharap kebijakan pendampingan ini dapat mempercepat munculnya guru besar baru yang memiliki kualitas dan integritas yang sejalan dengan ruh kesenian yang kita jaga di ISI Yogyakarta," tutur beliau di hadapan para undangan.
Apresiasi dari Rekan Sejawat dan Komunitas Seni
Suasana haru menyelimuti acara saat penayangan video testimoni dari para tokoh seni tanah air. Salah satu yang paling mencolok adalah pesan dari maestro tari Didik Nini Thowok. Sebagai rekan yang menempuh pendidikan bersama di ASTI Yogyakarta, Didik memberikan kesaksian mengenai keteguhan hati Prof Wayan Dana dalam berkarya.
"Beliau adalah teman seperjuangan yang tidak pernah lelah mencari inovasi. Harapan saya, meski sudah purnatugas, beliau tetaplah sang penari yang akan terus memberikan warna bagi dunia kesenian kita," ungkap Didik melalui pesan daring.
Acara pelepasan ini juga dimeriahkan dengan serangkaian pertunjukan tari yang merepresentasikan perjalanan artistik Prof Wayan Dana, di antaranya Tari Sekar Pudyastuti, Tari Topeng Penglembar Keras, dan Tari Janger Abhinaya. Puncak acara adalah penampilan tari oleh Prof Wayan Dana sendiri, yang menunjukkan bahwa meski telah memasuki usia 70 tahun, dedikasi tubuhnya terhadap seni tari tetap terjaga dengan disiplin yang tinggi.
Dampak dan Implikasi Luas bagi Pendidikan Seni
Peristiwa purnatugas Prof I Wayan Dana ini membawa implikasi penting bagi arah kebijakan ISI Yogyakarta ke depan. Pertama, peluncuran buku yang melibatkan 44 penulis dari berbagai latar belakang menunjukkan bahwa pemikiran Prof Wayan Dana telah menyentuh spektrum yang luas, mulai dari praktisi tari, kritikus seni, hingga sosiolog budaya. Hal ini menandakan bahwa pendidikan seni di ISI Yogyakarta telah berhasil melakukan interdisipliner.
Kedua, usulan mengenai pola pendampingan guru besar menjadi tantangan bagi manajemen kampus untuk menciptakan sistem pendukung (support system) yang lebih baik bagi para dosen muda. Mengingat saat ini banyak institusi pendidikan seni di Indonesia menghadapi tantangan dalam hal regenerasi tenaga pengajar yang memiliki kualifikasi akademik tinggi sekaligus kompetensi praktik yang mumpuni.
Ketiga, keberadaan Katalog Anotasi I Wayan Dana menjadi referensi penting bagi para peneliti seni di masa depan. Dalam dunia pendidikan seni, seringkali karya-karya besar hilang ditelan waktu karena kurangnya dokumentasi yang sistematis. Dengan adanya katalog ini, ISI Yogyakarta telah menetapkan standar baru dalam hal pengarsipan jejak karier dosen, yang diharapkan dapat diikuti oleh departemen-departemen lainnya.
Kesimpulan
Purnatugas Prof Dr I Wayan Dana bukan sekadar seremoni perpisahan, melainkan sebuah pernyataan tentang keberlanjutan tradisi intelektual di ISI Yogyakarta. Dengan dedikasi selama hampir setengah abad, beliau telah meletakkan batu pertama bagi banyak inovasi dalam dunia tari Indonesia. Kepergian beliau dari struktur administratif kampus justru dipandang sebagai langkah awal bagi beliau untuk menjadi tokoh publik yang lebih bebas dalam memberikan kontribusi pemikiran bagi pengembangan seni dan budaya nasional.
Di masa depan, tantangan ISI Yogyakarta adalah menjaga semangat "Menyulam Gerak, Menarikan Zaman" yang diwariskan oleh Prof Wayan Dana. Institusi ini dituntut untuk tidak hanya mencetak seniman yang cakap secara teknis, tetapi juga pemikir yang mampu merespons kompleksitas zaman melalui bahasa gerak. Melalui suksesi yang direncanakan dengan baik, sebagaimana yang diusulkan oleh Prof Wayan Dana, diharapkan ISI Yogyakarta akan terus menjadi kiblat pendidikan seni yang mampu melahirkan maestro-maestro baru bagi bangsa Indonesia.
Acara ditutup dengan prosesi penyerahan simbolis buku persembahan, yang menjadi pengingat bagi seluruh hadirin bahwa warisan seorang guru tidak pernah pudar; ia terus berdenyut dalam setiap gerak tari yang diajarkan dan setiap ide yang dituliskan dalam karya-karya ilmiah bagi generasi penerus.









