Tim peneliti dari Pusat Studi Sumberdaya dan Teknologi Kelautan (PSSTK) Universitas Gadjah Mada (UGM) secara resmi memperkenalkan inovasi terbarunya di sektor kosmetik, yaitu produk lulur mandi (body scrub) berbahan dasar garam laut lokal. Produk yang diberi nama Lumare, yang memiliki filosofi "Cahaya dari Laut", merupakan langkah strategis dalam upaya hilirisasi komoditas garam rakyat, khususnya yang diproduksi di sepanjang pesisir pantai selatan Yogyakarta. Inovasi ini tidak hanya bertujuan menciptakan produk perawatan kulit yang fungsional, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi yang signifikan bagi para petani garam tradisional yang selama ini masih menghadapi tantangan dalam pemasaran dan diversifikasi produk.
Prof. Ir. Leni Sophia Heliani, S.T., M.Sc., D.Sc., IPU., selaku Ketua tim Peneliti, menjelaskan bahwa pengembangan Lumare merupakan jawaban nyata terhadap arahan pemerintah melalui Perpres No. 17 Tahun 2025 yang mendorong hilirisasi komoditas garam nasional. Selama ini, garam rakyat sering kali hanya dianggap sebagai komoditas konsumsi dasar dengan harga jual yang fluktuatif. Melalui transformasi menjadi bahan baku kosmetik premium, garam pantai selatan yang dikenal bersih dan alami kini memiliki daya saing yang jauh lebih tinggi di pasar nasional.
Mekanisme Eksfoliasi Alami dalam Lumare
Sebagai produk perawatan kulit, Lumare mengandalkan sifat fisik garam laut yang efektif sebagai agen eksfoliasi alami. Secara dermatologis, proses eksfoliasi sangat krusial dalam menjaga kesehatan kulit, yaitu dengan mengangkat sel-sel kulit mati yang menumpuk di permukaan epidermis. Penumpukan sel kulit mati sering kali menyebabkan kulit tampak kusam, kasar, dan menjadi tempat bersarangnya kotoran serta bakteri.
Garam laut mengandung mineral yang bermanfaat bagi kulit, seperti magnesium, kalsium, dan kalium. Ketika diaplikasikan sebagai lulur, butiran garam membantu melancarkan sirkulasi darah di bawah permukaan kulit sekaligus memberikan efek detoksifikasi alami melalui proses osmosis. Tim peneliti UGM telah merumuskan dua varian utama untuk peluncuran awal: varian Kopi yang diformulasikan untuk memberikan energi (rejuvenating) dan kesegaran, serta varian Matcha yang menonjolkan sifat antioksidan untuk ketenangan jiwa (calming) dan detoksifikasi kulit secara menyeluruh. Keamanan produk ini juga telah dipastikan melalui serangkaian uji iritasi kulit (dermatologically tested), memastikan bahwa meskipun berbahan dasar garam, produk ini tetap aman bagi berbagai tipe kulit.

Kronologi dan Tahapan Pengembangan Produk
Pengembangan Lumare tidak dilakukan dalam waktu singkat. Proses ini melibatkan serangkaian tahapan riset yang sistematis, mulai dari pemilihan lokasi bahan baku hingga validasi pasar. Berikut adalah kronologi pengembangan yang dilakukan tim PSSTK UGM:
- Identifikasi Potensi Bahan Baku: Peneliti melakukan observasi terhadap kualitas garam dari petani pantai selatan. Ditemukan bahwa metode kristalisasi yang bersih dan alami di wilayah tersebut menghasilkan garam dengan tingkat kemurnian yang memenuhi standar kosmetik.
- Formulasi Laboratorium: Tahap ini melibatkan penggabungan garam laut dengan bahan alami tambahan seperti kopi dan matcha, serta bahan pembawa (carrier) yang menjaga stabilitas produk.
- Uji Keamanan: Dilakukan serangkaian uji laboratorium, termasuk uji iritasi untuk memastikan produk aman digunakan oleh konsumen tanpa menimbulkan efek samping negatif.
- Validasi Pemangku Kepentingan: Pada 11 Juli 2026, tim menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) di Fakultas Teknik UGM yang melibatkan akademisi, praktisi industri, dan perwakilan pemerintah untuk memvalidasi potensi pasar dan strategi komersialisasi.
- Peluncuran dan Sosialisasi: Tahap akhir melibatkan sosialisasi hasil riset kepada publik dan rencana hilirisasi untuk skala produksi yang lebih luas.
Sinergi Multi-Pihak untuk Hilirisasi Nasional
Keberhasilan proyek riset ini tidak terlepas dari kolaborasi lintas sektor. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta, R. Hery Sulistio Hermawan, S.Pi., M.T., memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif ini. Menurutnya, sinergi antara perguruan tinggi sebagai pusat inovasi, pemerintah sebagai fasilitator kebijakan, serta pelaku usaha sebagai eksekutor pasar adalah kunci utama dari keberhasilan hilirisasi.
Pemerintah Daerah DIY melihat bahwa hilirisasi garam bukan sekadar isu ekonomi, melainkan juga isu kesejahteraan sosial bagi masyarakat pesisir. Dengan menciptakan produk bernilai tambah, para petani garam tidak perlu lagi bergantung pada harga pasar garam konsumsi yang sering kali tidak stabil. Hal ini menciptakan ekosistem ekonomi baru di wilayah pesisir, di mana nilai tambah produk tetap berada di tangan produsen lokal.
Dalam FGD yang dipandu oleh Dr. Arif Akhyat, M.A., dari Departemen Sejarah FIB UGM, para peserta diskusi menekankan bahwa tantangan terbesar bagi Lumare bukan hanya pada kualitas produk, melainkan pada pembangunan brand awareness. Konsumen saat ini memiliki preferensi tinggi terhadap produk yang berkelanjutan (sustainable) dan ramah lingkungan. Oleh karena itu, Lumare harus mampu mengomunikasikan nilai "lokalitas" dan "kealamian" sebagai keunggulan kompetitifnya.
Implikasi dan Proyeksi Pasar Kosmetik Alami
Tren global dan nasional saat ini menunjukkan pergeseran konsumsi masyarakat menuju produk-produk yang minim bahan kimia sintetis. Pasar natural skincare diproyeksikan akan terus tumbuh secara signifikan dalam dekade mendatang. Data dari berbagai survei pasar menunjukkan bahwa konsumen Gen Z dan milenial di Indonesia semakin teliti dalam memilih produk perawatan tubuh, dengan kecenderungan memilih produk yang transparan dalam penggunaan bahan baku.

Kehadiran Lumare menjadi penanda bahwa Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan sumber daya alam yang belum dimanfaatkan secara optimal. Jika skema hilirisasi ini berhasil diimplementasikan secara masif, maka dampak ekonominya akan bersifat berjenjang:
- Pertama, peningkatan kesejahteraan petani garam melalui penyerapan produk dengan harga yang lebih baik.
- Kedua, terciptanya industri pengolahan bahan baku lokal di daerah, yang berpotensi membuka lapangan pekerjaan baru.
- Ketiga, peningkatan daya saing produk lokal di pasar domestik, mengurangi ketergantungan pada bahan baku kosmetik impor.
Namun, tim peneliti UGM menyadari bahwa untuk mencapai skala industri, diperlukan investasi pada teknologi pengemasan dan strategi pemasaran digital yang lebih masif. Masukan dari FGD, yang mencakup aspek desain kemasan, aroma, hingga segmentasi target pasar, akan menjadi landasan bagi perbaikan produk sebelum nantinya diproduksi secara massal untuk pasar luas.
Masa Depan Garam Rakyat: Dari Pantai ke Retail
Pemanfaatan garam pantai selatan sebagai bahan dasar kosmetik adalah bukti bahwa riset akademis di perguruan tinggi mampu bertransformasi menjadi solusi praktis yang relevan dengan kebutuhan industri. Dengan posisi pasar yang unik—menggabungkan kebaikan alam dengan kearifan lokal Jogja—Lumare memiliki peluang untuk mengisi ceruk pasar produk perawatan kulit premium.
Langkah ke depan, tim peneliti berencana untuk memperluas jangkauan varian produk dan memperkuat jalur distribusi. Keberlanjutan inisiatif ini sangat bergantung pada konsistensi pasokan bahan baku dari petani garam lokal yang terjaga kualitasnya. Oleh karena itu, edukasi berkelanjutan bagi petani mengenai standar kualitas garam kosmetik menjadi agenda penting yang akan terus dikawal oleh PSSTK UGM.
Secara keseluruhan, proyek Lumare adalah cerminan dari peran perguruan tinggi dalam mendukung kemandirian ekonomi nasional. Dengan menjembatani kesenjangan antara laboratorium riset dan kebutuhan pasar, inovasi ini diharapkan dapat menjadi model bagi pengembangan produk berbasis sumber daya lokal lainnya di masa depan. Melalui "Cahaya dari Laut", UGM tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga membangun harapan baru bagi keberlangsungan ekonomi masyarakat pesisir di Yogyakarta dan Indonesia secara luas.









