Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM) secara resmi menerjunkan 325 mahasiswa sebagai petugas pemeriksa kesehatan hewan dan daging kurban untuk menyambut perayaan Idul Adha tahun 2026. Langkah strategis ini melibatkan sinergi lintas sektoral dengan 200 dosen serta dokter hewan praktisi, yang akan bertugas melakukan pengawasan ketat di lima kabupaten/kota di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kegiatan pemeriksaan lapangan ini dijadwalkan berlangsung selama empat hari, yakni pada Selasa hingga Jumat, 26-29 Mei 2026.
Inisiatif ini bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan respons proaktif institusi pendidikan terhadap tantangan kesehatan masyarakat veteriner yang semakin kompleks. Di tengah fase pengendalian wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Lumpy Skin Disease (LSD) yang masih menjadi perhatian nasional, FKH UGM memperketat protokol pengawasan. Kewaspadaan juga ditingkatkan terhadap potensi penyakit zoonosis dan penyakit menular lainnya, seperti Antraks, Tuberkulosis (TBC) pada hewan, serta Peste des Petits Ruminants (PPR) yang memerlukan deteksi dini secara presisi.
Formalitas Pelepasan dan Kesiapan Operasional
Prosesi pelepasan dan pembekalan petugas dilakukan pada Sabtu (10/5) di Auditorium FKH UGM. Simbolisasi penyerahan jas laboratorium dan pisau sayat kepada perwakilan mahasiswa menjadi penanda kesiapan mereka untuk terjun ke tengah masyarakat. Acara ini dipimpin langsung oleh Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat dan Alumni, Dr. Arie Sujito, bersama Wakil Dekan Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni FKH UGM, Prof. Dr. drh. Aris Haryanto, M.Si.
Kolaborasi ini melibatkan pemangku kepentingan utama, termasuk Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY serta Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang DIY. Hadir dalam acara tersebut Kepala DPKP DIY, Ir. Aris Eko Nugroho, S.P., M.Si., dan Ketua PDHI DIY, drh. Aniq Syihabuddin, yang memberikan dukungan penuh terhadap peran aktif akademisi dalam memastikan aspek kesehatan, keamanan pangan, dan kehalalan daging kurban tetap terjaga sesuai standar veteriner.
Transformasi Peristiwa Teologis Menjadi Aksi Sosial
Dalam sambutannya, Dr. Arie Sujito menekankan bahwa peran UGM dalam pengawasan hewan kurban merupakan bentuk manifestasi nyata dari filosofi pendidikan tinggi yang berpijak pada pengabdian. Ia memandang Idul Adha sebagai peristiwa teologis yang harus diterjemahkan ke dalam praktik sosial yang terukur. Menurut Arie, ritual keagamaan yang melibatkan pemotongan hewan dalam jumlah besar memerlukan pengawasan profesional agar esensi ibadah dan kemaslahatan umat tetap selaras.

"Aktivitas seperti ini menjadi komitmen UGM untuk memastikan peristiwa teologi bisa dikonstruksi sebagai peristiwa sosial. Artinya, prosesi ini harus dikelola dengan pendekatan ilmu pengetahuan yang komprehensif, bukan sekadar mengikuti tradisi tanpa dasar klinis yang jelas," ujar Arie. Ia menambahkan bahwa keterlibatan mahasiswa adalah upaya membumikan teori akademik menjadi keterampilan praktis yang krusial bagi keselamatan publik.
Tantangan Zoonosis dan Ancaman Penyakit Hewan Menular
Konteks pelaksanaan kurban tahun 2026 diwarnai dengan tantangan kesehatan hewan yang cukup dinamis. Indonesia masih berjuang menekan penyebaran PMK dan LSD yang menyerang ternak ruminansia. Penyakit-penyakit ini tidak hanya mengancam ekonomi peternak tetapi juga menimbulkan kekhawatiran masyarakat terkait keamanan daging yang dikonsumsi. Selain PMK dan LSD, kewaspadaan terhadap Antraks—yang memiliki risiko penularan fatal ke manusia—menjadi fokus utama dalam kurikulum pembekalan petugas.
Demikian pula dengan penyakit PPR yang menyerang kambing dan domba, serta Tuberkulosis yang dapat bersifat kronis pada hewan. Ketiga penyakit ini menuntut ketelitian tinggi dari petugas pemeriksa, terutama dalam melakukan pemeriksaan antemortem (sebelum pemotongan) dan postmortem (setelah pemotongan). Mahasiswa dibekali kemampuan untuk mengidentifikasi gejala klinis, mendeteksi kelainan pada organ dalam, serta memastikan bahwa proses penyembelihan memenuhi kaidah kesejahteraan hewan (animal welfare) dan sanitasi yang ketat.
Kurikulum Pembekalan: Dari Seminar hingga Praktik Lapangan
Pembekalan bagi 325 mahasiswa dilakukan secara intensif melalui dua metode utama: seminar kebijakan dan lokakarya (hands-on practice). Pada sesi seminar, peserta diberikan paparan mengenai:
- Regulasi Pemerintah: Pemahaman mendalam tentang regulasi pemotongan hewan di masa wabah, termasuk prosedur karantina dan distribusi ternak lintas wilayah.
- Manajemen Limbah: Tata cara penanganan limbah hasil pemotongan agar tidak mencemari lingkungan dan meminimalisir risiko penyebaran agen penyakit di area publik.
- Standar Higiene dan Sanitasi: Implementasi protokol kebersihan bagi panitia kurban dan petugas penyembelih guna mencegah kontaminasi silang pada daging.
Sesi hands-on practice menjadi inti dari pelatihan ini, di mana mahasiswa dilatih menggunakan alat-alat diagnostik sederhana namun efektif untuk pemeriksaan organ vital, seperti hati, paru-paru, dan limpa, yang sering menjadi indikator utama adanya infeksi penyakit pada hewan.
Implikasi Terhadap Kualitas Sumber Daya Manusia Veteriner
Wakil Dekan FKH UGM, Prof. Dr. drh. Aris Haryanto, M.Si., menyatakan bahwa kesempatan ini merupakan laboratorium hidup bagi para mahasiswa. Ia berharap ilmu yang diberikan selama pembekalan dapat diterapkan secara optimal, sehingga ketika mahasiswa berhadapan langsung dengan masyarakat, mereka memiliki kepercayaan diri dan kredibilitas sebagai calon dokter hewan profesional.

"Mahasiswa akan dihadapkan pada realitas lapangan yang seringkali tidak terduga. Pertanyaan-pertanyaan dari panitia kurban di masjid atau lapangan akan menjadi tantangan tersendiri. Ini adalah ajang bagi mereka untuk mengasah kecerdasan praktis dan kemampuan komunikasi veteriner yang efektif," ungkap Aris.
Analisis mendalam menunjukkan bahwa kegiatan ini memiliki implikasi positif bagi masyarakat luas. Pertama, adanya petugas pemeriksa dari FKH UGM memberikan jaminan keamanan pangan (food safety) bagi masyarakat yang akan mengonsumsi daging kurban. Kedua, kegiatan ini secara langsung membantu pemerintah dalam pengawasan wilayah (surveilans) terhadap persebaran penyakit hewan menular. Ketiga, inisiatif ini memperkuat jejaring antara perguruan tinggi dengan instansi pemerintah (DPKP) dan organisasi profesi (PDHI), yang sangat krusial dalam mitigasi risiko kesehatan masyarakat di masa depan.
Harapan dan Keberlanjutan Program
Ke depan, model pengabdian masyarakat seperti ini diharapkan dapat menjadi standar nasional dalam setiap perayaan hari besar keagamaan. Dengan melibatkan generasi muda yang melek teknologi dan memiliki basis pengetahuan medis yang kuat, risiko penularan penyakit zoonosis dari ternak kurban dapat ditekan seminimal mungkin.
Arie Sujito menutup arahannya dengan menekankan bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya untuk disimpan di perpustakaan atau laboratorium universitas, melainkan harus diuji di tengah masyarakat. Pengalaman berinteraksi langsung dengan warga akan mematangkan intuisi klinis mahasiswa dan membentuk karakter dokter hewan yang peka terhadap masalah sosial. Dengan dedikasi 325 mahasiswa ini, FKH UGM menegaskan posisinya sebagai garda terdepan dalam menjaga kesehatan masyarakat melalui pendekatan One Health—di mana kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Kegiatan pemeriksaan yang akan dilaksanakan pada akhir Mei ini pun diharapkan berjalan lancar, dengan dukungan penuh dari seluruh pihak terkait. Masyarakat di DIY diimbau untuk bekerja sama dengan petugas pemeriksa di lapangan dan mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan demi tercapainya perayaan Idul Adha yang aman, sehat, dan berkah bagi seluruh pihak.









