Menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha, Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (FP UGM) kembali menegaskan urgensi penerapan prinsip kesejahteraan hewan (animal welfare) dalam proses penyembelihan hewan kurban. Langkah ini bukan sekadar pemenuhan aspek etis dan syariat, melainkan upaya krusial dalam menjaga kualitas daging yang dihasilkan (asuh: aman, sehat, utuh, dan halal) serta menjamin keselamatan para petugas di lapangan.
Dosen Fakultas Peternakan UGM, Cuk Tri Noviandi, menekankan bahwa penerapan prinsip lima kebebasan (five freedoms) bagi hewan ternak harus menjadi standar operasional prosedur bagi seluruh panitia kurban di Indonesia. Prinsip ini mencakup kebebasan dari rasa lapar dan haus, kebebasan dari rasa tidak nyaman, kebebasan dari rasa sakit, cedera, dan penyakit, kebebasan mengekspresikan perilaku alami, serta kebebasan dari rasa takut dan tertekan.
Pentingnya Kesejahteraan Hewan dalam Rantai Distribusi Kurban
Kesejahteraan hewan saat penyembelihan bukan hanya soal moralitas, melainkan memiliki dasar ilmiah yang kuat terhadap kualitas karkas. Secara fisiologis, ketika hewan mengalami stres hebat atau ketakutan sebelum disembelih, tubuh akan melepaskan hormon kortisol dan adrenalin secara berlebihan. Kondisi ini memicu metabolisme glikogen yang tidak normal dalam otot, yang pada gilirannya dapat menurunkan kualitas daging, mempercepat pembusukan, serta membuat tekstur daging menjadi lebih keras dan berwarna gelap atau dikenal dengan istilah DFD (Dark, Firm, and Dry).
Dalam konteks penyembelihan kurban di masyarakat, sering kali ditemukan praktik yang kurang memperhatikan kenyamanan hewan. Kerumunan massa yang berisik, penanganan yang kasar, hingga hewan yang dipaksa melihat proses penyembelihan rekannya adalah faktor-faktor yang harus dieliminasi. Cuk Tri Noviandi menekankan pentingnya manajemen area transit dan prosedur penanganan yang tenang agar hewan tetap berada dalam kondisi prima sebelum disembelih.
Panduan Teknis dan Protokol Keamanan bagi Panitia Kurban
Selain aspek kesejahteraan, FP UGM juga memberikan panduan teknis yang komprehensif bagi panitia kurban untuk meminimalisir risiko kesehatan masyarakat. Persiapan teknis yang benar mencakup beberapa tahapan krusial, di antaranya:
- Manajemen Pra-Penyembelihan: Hewan harus diistirahatkan selama beberapa jam setelah transportasi untuk memulihkan kondisi fisik. Pemberian air minum tetap diperbolehkan, namun disarankan untuk memuasakan hewan selama sekitar 12 jam sebelum penyembelihan untuk meminimalisir isi saluran pencernaan yang dapat mengontaminasi daging saat proses pengulitan.
- Lingkungan Area Sembelih: Area penyembelihan harus disterilkan dari penonton. Hanya petugas inti yang diperbolehkan berada di dekat hewan. Penggunaan tirai atau sekat di sekitar area penyembelihan sangat disarankan agar hewan tidak melihat proses penyembelihan terhadap hewan lainnya, yang dapat memicu stres.
- Kualitas Alat dan Teknik Penyembelihan: Pisau yang digunakan harus dalam kondisi sangat tajam, bersih, dan tidak boleh diasah di depan hewan. Proses penyembelihan harus dilakukan dengan satu gerakan efektif yang memutus tiga saluran utama—yakni saluran pernapasan (trakea), saluran makanan (esofagus), dan dua pembuluh darah utama (arteri karotis dan vena jugularis)—untuk memastikan hewan mati dengan cepat dan meminimalisir rasa sakit.
Higienitas dan Keamanan Pangan: Perspektif Pakar
Dosen FP UGM lainnya, Rio Olympias Sujarwanta, menyoroti aspek higienitas pasca-penyembelihan. Kontaminasi silang sering terjadi akibat praktik penanganan yang kurang higienis oleh panitia. Rio mengimbau agar panitia menghindari perilaku yang berisiko menyebarkan bakteri, seperti merokok, meludah, atau bersin di area penanganan daging.
Penggunaan alat pelindung diri (APD) seperti masker, celemek, dan sarung tangan plastik menjadi keharusan, bukan sekadar pelengkap. Sarung tangan plastik sangat krusial untuk mencegah berpindahnya mikroba dari tangan petugas ke daging. Selain itu, pemisahan antara daging dan jeroan adalah mutlak. Jeroan, terutama bagian isi perut (rumen/retikulum), mengandung banyak bakteri yang dapat mencemari daging jika tidak dikelola dengan benar.
Praktik mencuci jeroan di sungai juga menjadi sorotan utama karena potensi pencemaran lingkungan dan penyebaran agen penyakit zoonosis (penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia). Air sungai yang tercemar bakteri akan menempel pada jeroan dan jika dikonsumsi, berisiko menyebabkan gangguan kesehatan bagi masyarakat. Oleh karena itu, pencucian jeroan harus dilakukan di fasilitas sanitasi yang memiliki akses air bersih dan sistem pembuangan limbah yang memadai.

Transformasi Distribusi: Beralih ke Kemasan Ramah Lingkungan
Dampak lingkungan dari pelaksanaan kurban juga menjadi perhatian serius. Selama bertahun-tahun, penggunaan kantong plastik hitam (kresek) sebagai wadah daging kurban telah menjadi standar umum. Padahal, plastik hitam merupakan plastik daur ulang yang mengandung bahan kimia berbahaya dan berisiko mencemari daging yang bersifat asam.
FP UGM mendorong masyarakat untuk beralih ke wadah yang lebih ramah lingkungan dan aman, seperti besek bambu, daun pisang, atau wadah berbahan kertas yang aman untuk makanan (food grade). Penggunaan besek bambu tidak hanya membantu ekonomi kreatif perajin lokal, tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan dengan mengurangi limbah plastik yang sulit terurai.
Analisis Implikasi bagi Masyarakat Luas
Implementasi standar kesejahteraan hewan dan higienitas dalam kurban memiliki implikasi yang luas bagi kesehatan masyarakat. Data dari Kementerian Pertanian dan berbagai studi kesehatan menunjukkan bahwa sebagian besar kasus keracunan makanan pasca-Idul Adha berkaitan dengan praktik penanganan daging yang tidak higienis. Dengan mengadopsi standar yang direkomendasikan oleh akademisi, risiko penyebaran penyakit zoonosis seperti antraks atau infeksi bakteri seperti E. coli dan Salmonella dapat ditekan secara signifikan.
Lebih jauh lagi, edukasi yang dilakukan oleh FP UGM menunjukkan adanya pergeseran paradigma dalam memandang ibadah kurban. Kurban kini tidak lagi hanya dilihat dari aspek ritual keagamaan, tetapi juga sebagai tanggung jawab sosial dan kesehatan masyarakat. Partisipasi aktif panitia kurban dalam mengikuti protokol kesehatan dan kesejahteraan hewan mencerminkan kedewasaan dalam beribadah.
Langkah Strategis ke Depan
Keberhasilan implementasi standar kesejahteraan hewan di tingkat lokal sangat bergantung pada kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan pengurus masjid. Sosialisasi yang masif perlu dilakukan jauh hari sebelum Idul Adha tiba.
Pemerintah melalui Dinas Pertanian atau Dinas Peternakan setempat memiliki peran krusial dalam menyediakan tenaga pendamping atau dokter hewan untuk melakukan pemeriksaan antemortem (sebelum disembelih) dan postmortem (setelah disembelih). Pemeriksaan ini menjamin bahwa hewan yang dikurbankan bebas dari penyakit menular, sehingga daging yang dibagikan benar-benar layak konsumsi.
Sebagai penutup, imbauan dari Fakultas Peternakan UGM ini menjadi pengingat bahwa kebaikan dalam beribadah harus tercermin dalam setiap tahapan pelaksanaannya. Dengan memastikan kesejahteraan hewan terjaga dan standar higienitas dipenuhi, daging kurban yang disalurkan tidak hanya membawa manfaat spiritual bagi penerimanya, tetapi juga menjamin kesehatan fisik bagi seluruh lapisan masyarakat yang mengonsumsinya.
Perayaan Idul Adha di masa depan diharapkan dapat menjadi percontohan bagi praktik manajemen pemotongan hewan yang manusiawi, bersih, dan berkelanjutan. Kesadaran kolektif untuk meninggalkan kebiasaan lama yang tidak higienis adalah langkah awal menuju peradaban kurban yang lebih baik, sejalan dengan prinsip-prinsip sains peternakan modern yang selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan dan syariat.









