Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Studi & Edukasi Budaya Yogya

Fakultas Filsafat UGM Perkuat Integrasi Filsafat dan Tasawuf dalam Program Pengembangan SDM Nasional

badge-check


					Fakultas Filsafat UGM Perkuat Integrasi Filsafat dan Tasawuf dalam Program Pengembangan SDM Nasional Perbesar

Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) secara resmi menginisiasi langkah strategis dalam pengembangan sumber daya manusia berbasis kearifan lokal dan spiritualitas melalui program Coaching Membangun Jiwa Merdeka. Program pengabdian masyarakat yang telah dirintis sejak tahun 2019 ini, baru saja melaksanakan rangkaian Training of Trainer (ToT) dan coaching intensif di kampus Institut Agama Islam KH. Sufyan Tsauri (INSIMA) Majenang, Cilacap, pada Rabu (10/6). Kolaborasi ini tidak hanya melibatkan civitas akademika UGM, tetapi juga menggandeng Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (UNUGHA) Cilacap, menandai upaya integrasi akademik yang lebih luas antara institusi pendidikan tinggi negeri dan swasta berbasis keislaman.

Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam upaya mendefinisikan kembali paradigma pengembangan diri di Indonesia. Di tengah arus modernisasi yang kerap mengedepankan efisiensi teknis, Fakultas Filsafat UGM memilih untuk kembali ke akar filosofis dan nilai-nilai tasawuf yang dianggap lebih relevan dengan karakter masyarakat Indonesia. Program ini bertujuan melahirkan kader-kader penggerak yang memiliki kedalaman spiritualitas sekaligus kesadaran kritis, sehingga mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masyarakatnya masing-masing.

Rekam Jejak dan Kronologi Inisiatif

Program Membangun Jiwa Merdeka bukanlah proyek insidental. Sejak peluncuran perdananya pada tahun 2019, program ini telah mengalami evolusi metodologis yang signifikan. Pada tahap awal, fokus utama terletak pada penelitian mendalam mengenai kaitan antara refleksi filosofis dengan praktik pengembangan diri. Memasuki tahun 2020 hingga 2022, program ini mulai diujicobakan dalam format pelatihan terbatas bagi kalangan internal akademik.

Pergeseran signifikan terjadi pada tahun 2023, di mana program ini mulai disebarluaskan melalui skema pengabdian kepada masyarakat yang lebih sistematis. Hingga saat ini, program tersebut telah mencakup berbagai bentuk kegiatan seperti pendampingan komunitas, coaching profesional, dan pelatihan fasilitator. Penyelenggaraan di INSIMA Majenang menjadi salah satu bukti perluasan jangkauan geografis dan strategis, dengan melibatkan berbagai lapisan peserta mulai dari pimpinan perguruan tinggi, tenaga pendidik, hingga mahasiswa.

Integrasi Filsafat, Tasawuf, dan Praktik Coaching

Salah satu keunikan dari program Coaching Membangun Jiwa Merdeka adalah pendekatannya yang tidak sekadar berbasis pada teori manajemen atau psikologi populer. Dr. Heri Santoso, dosen Fakultas Filsafat UGM yang menjadi motor penggerak program ini, menekankan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang dialog antara tradisi filsafat, ajaran tasawuf, dan realitas kontemporer.

Berbeda dengan banyak metode coaching yang saat ini populer di pasar—yang kerap menggunakan teknik hipnosis atau sugesti psikologis praktis—metode yang dikembangkan UGM ini menempuh jalur yang lebih mendalam. Pendekatan ini mengintegrasikan nilai-nilai spiritualitas Islam yang bersifat fundamental. Penggunaan nilai-nilai yang bersumber dari Al-Fatihah, Al-Qur’an, dan Asmaul Husna diposisikan sebagai fondasi dalam membangun kesadaran batiniah individu.

Dalam sesi coaching, peserta tidak hanya diberikan materi, tetapi melalui proses stimulasi batin yang kompleks. Aktivitas ini mencakup penguatan konsep filosofis, refleksi diri yang mendalam, simulasi praktik coaching, serta pendampingan pengalaman batin. Tujuannya adalah membantu peserta mengenali potensi diri dan memahami makna kebebasan—bukan dalam pengertian kebebasan tanpa batas, melainkan kebebasan yang bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual.

Penguatan Kapasitas Kelembagaan melalui Kolaborasi

Acara di INSIMA Majenang juga menjadi ajang formalisasi kerja sama antarlembaga. Penandatanganan Perjanjian Kerja Bersama dilakukan antara Fakultas Filsafat UGM, INSIMA, UNUGHA, dan Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M). Kerja sama ini mencakup spektrum yang luas, mulai dari peningkatan kapasitas pendidikan, kolaborasi riset, pengabdian masyarakat, hingga publikasi ilmiah bersama.

Secara kelembagaan, kolaborasi ini diharapkan mampu memecah sekat antara perguruan tinggi besar dan perguruan tinggi di daerah. Dengan adanya transfer pengetahuan dari UGM sebagai universitas riset kelas dunia ke perguruan tinggi di wilayah Cilacap, diharapkan terjadi peningkatan kualitas mutu pendidikan secara merata. LP3M UNUGHA, sebagai salah satu mitra utama, menyatakan komitmennya untuk mengadopsi metode ini sebagai bagian dari kurikulum pengembangan diri bagi tenaga kependidikan dan mahasiswa.

Analisis Implikasi dan Relevansi Sosial

Keputusan Fakultas Filsafat UGM untuk mengedepankan pendekatan berbasis tasawuf dalam pengembangan diri memiliki implikasi yang luas terhadap lanskap pendidikan karakter di Indonesia. Fenomena "krisis makna" yang sering terjadi di era digital saat ini menuntut adanya pendekatan yang lebih humanis.

Data statistik dari beberapa lembaga survei pendidikan menunjukkan bahwa kebutuhan akan pelatihan yang menggabungkan aspek mentalitas dan spiritualitas terus meningkat di kalangan profesional muda. Namun, banyak program yang tersedia di pasar cenderung bersifat transaksional dan kurang memberikan dampak jangka panjang terhadap karakter individu. Dengan membawa pendekatan berbasis refleksi filosofis, UGM mencoba mengisi celah tersebut dengan menawarkan model yang lebih "berakar" pada nilai-nilai lokal.

Implikasi jangka panjang dari program ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya berfokus pada kecerdasan kognitif (IQ) dan emosional (EQ), tetapi juga kecerdasan spiritual (SQ). Jika kader-kader yang dihasilkan mampu menerapkan nilai-nilai ini di lingkungan kerja dan sosial mereka, maka secara perlahan akan terbentuk struktur masyarakat yang lebih stabil secara batiniah dan kritis terhadap fenomena sosial.

Pandangan Pakar dan Tanggapan Mitra

Kepala LP3M UNUGHA, Fahrur Rozi, M.Hum., memberikan apresiasi tinggi terhadap pendekatan yang ditawarkan. Menurutnya, metode yang dikembangkan Fakultas Filsafat UGM memiliki keunggulan kompetitif karena menyentuh dimensi hati nurani manusia yang sering terabaikan dalam pelatihan konvensional.

"Kita sering melihat banyak solusi pengembangan diri yang bersifat teknis, bahkan terkadang menggunakan metode yang kurang akuntabel secara nilai. Program Membangun Jiwa Merdeka ini memberikan alternatif yang lebih substantif. Dengan bertumpu pada ajaran spiritualitas yang mendalam dan refleksi diri, peserta diajak untuk melakukan pembersihan batin sebelum melangkah ke pengembangan keterampilan teknis," ungkapnya.

Pernyataan tersebut mencerminkan optimisme para mitra bahwa kolaborasi ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan sebuah kebutuhan nyata untuk merespons tantangan zaman. Pendekatan lintas disiplin ini, yang menggabungkan ketajaman berpikir filosofis dengan kelembutan hati tasawuf, dipandang sebagai formula yang tepat untuk mencetak pemimpin masa depan yang memiliki integritas tinggi.

Masa Depan dan Keberlanjutan Program

Ke depan, Fakultas Filsafat UGM berencana untuk memperluas jejaring kolaborasi ini ke berbagai wilayah lain di Indonesia. Strategi ini dilakukan untuk memastikan bahwa program Coaching Membangun Jiwa Merdeka dapat diakses oleh lebih banyak pihak, tidak terbatas pada lingkungan akademik saja. Rencana pengembangan ke depan mencakup digitalisasi modul pelatihan agar dapat diakses oleh khalayak yang lebih luas, serta pembentukan komunitas praktisi (community of practice) yang akan memantau keberlanjutan dampak dari coaching tersebut.

Selain itu, evaluasi berkala akan dilakukan oleh tim dari Fakultas Filsafat UGM untuk memastikan bahwa setiap sesi yang dijalankan tetap konsisten dengan prinsip-prinsip filosofis yang telah ditetapkan. Hal ini penting untuk menjaga kualitas program agar tidak kehilangan esensi saat diterapkan oleh fasilitator-fasilitator baru yang dilatih melalui program ToT.

Secara keseluruhan, inisiatif yang dilakukan oleh Fakultas Filsafat UGM ini menjadi model yang patut dicontoh dalam hal pengabdian masyarakat berbasis keilmuan. Dengan memadukan filsafat, tasawuf, dan praktik pendidikan modern, UGM tidak hanya memberikan solusi bagi pengembangan diri individu, tetapi juga berkontribusi pada penguatan karakter bangsa yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur kemanusiaan. Kesuksesan program ini di masa depan akan sangat bergantung pada seberapa besar keberlanjutan dan komitmen antarpihak dalam menjaga kedalaman filosofis di tengah tuntutan pragmatisme yang semakin kuat.

Program ini membuktikan bahwa perguruan tinggi memiliki peran vital sebagai mercusuar pemikiran yang mampu menerjemahkan nilai-nilai akademik yang abstrak menjadi praktik yang aplikatif dan transformatif bagi masyarakat luas. Dengan sinergi yang terus dibangun antara UGM, UNUGHA, dan INSIMA, langkah kecil di Majenang ini berpotensi menjadi gerakan besar dalam transformasi karakter bangsa Indonesia ke arah yang lebih bijaksana, merdeka, dan spiritual.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Universitas Gadjah Mada Lakukan Regenerasi Kepemimpinan Majelis Wali Amanat Periode 2026-2031 untuk Penguatan Tata Kelola Universitas

20 Juni 2026 - 18:37 WIB

UGM Terjunkan 8.178 Mahasiswa KKN-PPM 2026: Mengabdi di Pelosok Negeri untuk Ketahanan Pangan dan Pembangunan Berkelanjutan

20 Juni 2026 - 12:37 WIB

LPS Salurkan Bantuan Dana Pendidikan Senilai Rp1,2 Miliar bagi Seratus Mahasiswa UGM Terdampak Bencana di Sumatra

20 Juni 2026 - 06:37 WIB

Perkuat Sinergi Akademisi dan Industri Universitas Gadjah Mada Jalin Kerja Sama Strategis dengan PT Sulzer Indonesia

20 Juni 2026 - 00:37 WIB

Memperkuat Ketahanan Ekonomi Daerah Melalui Ekosistem Global Gotong Royong Tetrapreneur di Wonosobo

19 Juni 2026 - 18:37 WIB

Trending di Studi & Edukasi Budaya Yogya