Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi, menegaskan urgensi peran strategis mahasiswa Indonesia di luar negeri, khususnya di Tunisia, dalam membentuk masa depan peradaban bangsa. Ajakan ini disampaikan dalam sebuah forum dialog intelektual yang mempertemukan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia dengan delegasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah serta akademisi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di Tunisia, Minggu (10/5/2026). Dalam pertemuan tersebut, ditekankan bahwa mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pembelajar akademis, tetapi juga sebagai agen perubahan yang harus memiliki visi besar untuk memajukan Indonesia melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan pemahaman mendalam terhadap sejarah bangsa.
Konteks Historis dan Peran Kader Bangsa
Zuhairi Misrawi menyoroti pentingnya merujuk pada sejarah gerakan besar di Indonesia, seperti Muhammadiyah, sebagai model dalam membangun peradaban. Menurutnya, kontribusi Muhammadiyah terhadap kemerdekaan dan modernisasi Indonesia merupakan bukti nyata bagaimana organisasi berbasis pendidikan dan sosial mampu mengubah wajah bangsa. Ia merujuk pada sosok Bung Karno, yang juga merupakan kader Muhammadiyah, sebagai contoh bagaimana sinergi antara ideologi nasionalis dan nilai-nilai gerakan Islam modernis dapat melahirkan narasi besar bagi kemajuan negara.
Dalam pandangan Dubes Zuhairi, mahasiswa yang menempuh pendidikan di Tunisia—negara yang dikenal dengan akar sejarah intelektual Islam yang kuat—memiliki tanggung jawab moral untuk menyerap nilai-nilai kemajuan tersebut. Dialog ini dianggap sebagai momentum penting untuk menanamkan kesadaran bahwa kemajuan bangsa tidak mungkin tercapai tanpa fondasi pendidikan yang kokoh dan keberanian untuk terlibat dalam gerakan intelektual yang inklusif.
Tantangan Intelektual Mahasiswa di Luar Negeri
Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Achmad Nurmandi, yang hadir dalam dialog tersebut, memberikan perspektif teknis mengenai tantangan yang dihadapi mahasiswa Indonesia saat ini. Menurutnya, terdapat pergeseran kebutuhan kompetensi di era disrupsi. Ia menegaskan bahwa ketergantungan mahasiswa pada satu bidang ilmu saja, terutama ilmu agama murni, perlu diseimbangkan dengan penguasaan ilmu-ilmu umum yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja global.
Achmad Nurmandi menekankan perlunya integrasi antara manajemen, teknologi digital, humaniora, dan ilmu pengetahuan sosial dalam kurikulum pengembangan diri mahasiswa. "Dunia saat ini bergerak sangat cepat. Mahasiswa Indonesia di Tunisia harus mampu menjadi jembatan antara pemahaman teks keagamaan yang mendalam dengan penerapan praktis di dunia modern," ujar Achmad. Hal ini bertujuan agar lulusan luar negeri tidak hanya menjadi ahli di ruang kelas, tetapi juga mampu berperan aktif sebagai pemimpin atau teknokrat yang kompeten dalam konteks keindonesiaan maupun kancah internasional.
Kronologi dan Agenda Dialog
Pertemuan ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja delegasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah ke Tunisia, yang bertujuan untuk mempererat jejaring pendidikan dan dakwah kultural di luar negeri. Selain Rektor UMY Achmad Nurmandi, hadir pula Wakil Rektor UMY Zuly Qadir, Sekretaris Bachtiar Dwi Kurniawan, dan perwakilan Majelis Pendidikan Tinggi Velandani Prakoso.
Agenda dialog tersebut mencakup beberapa sesi utama:
- Sesi Pemaparan Visi: Diskusi mengenai peran diaspora mahasiswa dalam visi Indonesia Emas 2045.
- Sesi Literasi Teknologi: Pembahasan mengenai adaptasi teknologi digital bagi organisasi mahasiswa di luar negeri.
- Sesi Strategi Pendidikan: Dialog mengenai kolaborasi antarlembaga pendidikan Indonesia dengan institusi pendidikan tinggi di Tunisia.
Dialog ini berlangsung dalam suasana yang dinamis, di mana para mahasiswa PPI Tunisia diberikan kesempatan untuk memaparkan aspirasi serta tantangan yang mereka hadapi selama menempuh studi di negara Afrika Utara tersebut, mulai dari kendala bahasa hingga akses terhadap riset global.
Data Pendukung: Tren Diaspora Pelajar Indonesia
Data dari Kementerian Luar Negeri menunjukkan bahwa Tunisia merupakan salah satu destinasi pendidikan yang diminati mahasiswa Indonesia, terutama bagi mereka yang mendalami studi Islam, sastra Arab, dan sejarah peradaban. Namun, tantangan yang dihadapi sering kali berkutat pada integrasi ilmu pengetahuan. Berdasarkan statistik PPI Dunia, jumlah pelajar Indonesia di Timur Tengah dan Afrika Utara terus meningkat setiap tahunnya. Namun, serapan lulusan ke sektor industri teknologi atau sektor publik sering kali masih terhambat karena ketimpangan antara kurikulum yang dipelajari di universitas lokal dengan tuntutan industri global.

Oleh karena itu, upaya yang dilakukan oleh Dubes Zuhairi Misrawi dan pihak UMY merupakan bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui internasionalisasi pendidikan. Sinergi antara KBRI dan lembaga pendidikan swasta besar seperti Muhammadiyah diharapkan dapat memberikan pendampingan yang lebih terarah bagi mahasiswa.
Analisis Implikasi: Membangun Peradaban yang Berkeadilan
Implikasi dari dialog ini cukup luas bagi kebijakan pendidikan Indonesia di luar negeri. Pertama, adanya dorongan untuk melakukan diversifikasi program studi bagi mahasiswa Indonesia. Jika selama ini fokus utama adalah ilmu agama, maka dorongan ke arah ilmu manajemen dan teknologi menjadi krusial.
Kedua, keterlibatan aktif tokoh pendidikan dalam dialog dengan diaspora mahasiswa mencerminkan upaya "penjemputan bola" untuk mempersiapkan calon pemimpin masa depan. Dengan membangun narasi tentang "peradaban yang adil, damai, dan berdaulat," pemerintah melalui KBRI Tunisia berusaha menanamkan nilai-nilai kebangsaan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi operasional.
Ketiga, peran Muhammadiyah sebagai organisasi masyarakat sipil (civil society) dalam konteks global memberikan dimensi baru bagi diplomasi publik Indonesia. Keterlibatan Muhammadiyah di Tunisia menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya mengirimkan mahasiswa, tetapi juga membawa misi untuk berbagi model pendidikan modern yang berhasil diterapkan di Tanah Air.
Tanggapan Pihak Terkait
Menanggapi ajakan Dubes, perwakilan mahasiswa menyatakan komitmennya untuk tidak hanya menjadi penerima ilmu, tetapi juga penggerak komunitas. Mereka mengakui bahwa tantangan globalisasi membutuhkan fleksibilitas pemikiran. Beberapa mahasiswa mengungkapkan bahwa pertemuan ini membuka mata mereka terhadap pentingnya kolaborasi lintas disiplin.
Dari sisi akademis, Zuly Qadir selaku Wakil Rektor UMY, menyoroti bahwa membangun peradaban dimulai dari membangun mentalitas pembelajar yang kritis. Ia berharap dialog ini tidak berhenti di tataran diskusi, tetapi berlanjut pada program pertukaran riset atau magang bagi mahasiswa Indonesia di Tunisia yang ingin mendalami ilmu-ilmu umum melalui jaringan universitas Muhammadiyah di Indonesia.
Kesimpulan: Visi Masa Depan
Pernyataan Zuhairi Misrawi yang mengajak mahasiswa untuk "membangun peradaban" bukanlah sekadar retorika politik. Ini adalah seruan untuk kembali ke akar idealisme bangsa. Dengan mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum, serta menanamkan nilai-nilai kebangsaan yang kuat, mahasiswa Indonesia di Tunisia diharapkan mampu menjadi aset bangsa yang berdaya saing.
Ke depan, kesinambungan antara program KBRI dan institusi pendidikan tinggi di Indonesia akan menjadi kunci. Indonesia memerlukan generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kecintaan terhadap tanah air yang diwujudkan dalam kontribusi nyata. Dialog di Tunisia ini menjadi langkah awal yang penting bagi integrasi intelektual mahasiswa Indonesia di luar negeri untuk menyongsong tantangan global yang semakin kompleks, menuju Indonesia yang lebih sejahtera dan berperikemanusiaan sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa.
Sebagai penutup, inisiatif ini mempertegas posisi Indonesia di mata internasional sebagai negara yang menaruh perhatian besar pada pengembangan SDM. Dengan dukungan berkelanjutan, diharapkan mahasiswa di Tunisia dapat pulang ke Tanah Air bukan sekadar membawa gelar, melainkan membawa gagasan-gagasan segar yang mampu menjawab tantangan nyata dalam pembangunan peradaban Indonesia yang mandiri dan berdaulat.









