Operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) yang dilakukan oleh tim gabungan di kawasan Gunung Dukono, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, akhirnya mencapai titik akhir pada Minggu, 10 Mei 2026. Dua pendaki berkebangsaan Singapura, yang sebelumnya dilaporkan hilang setelah gunung berapi tersebut mengalami erupsi, ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. Penemuan ini mengakhiri upaya pencarian intensif yang dilakukan selama tiga hari di tengah kondisi medan vulkanik yang ekstrem dan cuaca yang tidak menentu.
Kepala Kantor SAR Ternate, Iwan Ramdani, mengonfirmasi bahwa kedua korban ditemukan pada pukul 13.00 WIT di koordinat 1°42’9.90"N / 127°52’48.50"E. Lokasi penemuan berada di area lereng yang cukup sulit dijangkau, yakni sekitar 13 meter ke arah utara dari titik koordinat sinyal darurat (SOS) yang pertama kali ditangkap oleh Basarnas Command Center (BCC). Kondisi jenazah saat ditemukan sangat memprihatinkan karena tertimpa material batu besar akibat lontaran vulkanik saat erupsi terjadi, dengan posisi kedua korban yang diketahui bernama Heng dan Sha tersebut saling berpelukan.
Kronologi Kejadian dan Operasi Pencarian
Insiden tragis ini bermula pada 8 Mei 2026, ketika Basarnas Command Center menerima sinyal darurat dari perangkat Garmin milik pendaki di koordinat 1°42’13.7"N 127°52’50.2"E. Sinyal tersebut menjadi petunjuk awal bagi tim penyelamat mengenai adanya pendaki yang terjebak di kawasan Gunung Dukono. Laporan tersebut kemudian diperkuat oleh konfirmasi dari Kepala Desa Mamuya, yang menyatakan bahwa terdapat sejumlah pendaki yang terdampak langsung oleh erupsi.
Selain dua WNA tersebut, terdapat satu pendaki lainnya, seorang Warga Negara Indonesia (WNI) bernama Angel, yang juga terdampak erupsi. Berbeda dengan dua korban meninggal, Angel berhasil dievakuasi meski mengalami luka-luka. Proses evakuasi jenazah kedua WNA tersebut memakan waktu yang cukup panjang. Tim SAR gabungan yang terdiri dari personel TNI, Polri, BPBD Halmahera Utara, serta unsur relawan harus menghadapi tantangan cuaca hujan deras dan ancaman aktivitas vulkanik yang masih berlangsung di puncak gunung.
Setelah berhasil dievakuasi dari lereng gunung, kantong jenazah tiba di posko induk Desa Mamuya pada pukul 17.43 WIT. Selanjutnya, jenazah segera dilarikan ke RSUD Tobelo untuk menjalani proses autopsi dan identifikasi lebih lanjut guna keperluan administratif kedutaan dan proses pemulangan jenazah ke negara asal.
Profil dan Karakteristik Erupsi Gunung Dukono
Gunung Dukono merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia yang terletak di bagian utara Pulau Halmahera. Secara karakteristik, Dukono dikenal dengan erupsi tipe strombolian yang bersifat terus-menerus. Gunung ini sering kali melontarkan abu vulkanik, gas, dan material batuan pijar. Berbeda dengan gunung api lain yang memiliki periode istirahat panjang, Dukono hampir setiap hari menunjukkan aktivitas vulkanik.
Kondisi ini membuat pendakian di kawasan Gunung Dukono sebenarnya memiliki tingkat risiko yang sangat tinggi. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) secara berkala mengeluarkan imbauan agar masyarakat dan pendaki tidak mendekati kawah aktif dalam radius yang telah ditentukan. Namun, daya tarik kawah yang eksotis dan fenomena letusan yang sering terjadi kerap menjadi magnet bagi pendaki domestik maupun mancanegara, yang terkadang mengabaikan batasan zona bahaya.
Data menunjukkan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, aktivitas seismik di Dukono menunjukkan peningkatan yang fluktuatif. Material batuan yang dilontarkan saat erupsi sering kali memiliki ukuran yang cukup besar dengan kecepatan lontaran yang sulit diprediksi, menjadikannya ancaman nyata bagi siapa pun yang berada di zona larangan.

Respon Pemerintah dan Pihak Terkait
Keberhasilan evakuasi ini tidak lepas dari sinergi antar-lembaga yang terlibat. Iwan Ramdani memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh unsur gabungan, termasuk Pangdam XV/Pattimura, Danrem 152/Babullah, Polres Halmahera Utara, dan BPBD setempat. Koordinasi yang ketat di lapangan menjadi kunci utama mengapa tim SAR dapat menembus medan yang sangat berbahaya tersebut.
Dari sisi diplomatik, Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara dipastikan akan berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Singapura di Jakarta terkait penanganan jenazah. Proses autopsi di RSUD Tobelo dilakukan sebagai bagian dari prosedur tetap penanganan korban meninggal dunia dalam insiden bencana alam atau kecelakaan yang melibatkan warga negara asing.
Sementara itu, pihak kepolisian setempat berencana untuk melakukan investigasi lebih lanjut mengenai kronologi pendakian tersebut, termasuk mengecek apakah para pendaki tersebut menggunakan jasa pemandu lokal resmi atau melakukan pendakian secara mandiri. Hal ini penting untuk memastikan apakah terdapat prosedur pendakian yang dilanggar, terutama terkait perizinan masuk ke kawasan rawan bencana.
Dampak dan Implikasi bagi Pariwisata Pendakian
Insiden yang merenggut nyawa dua warga negara Singapura ini diprediksi akan berdampak signifikan terhadap manajemen pendakian di Gunung Dukono. Pemerintah daerah dan instansi terkait kemungkinan akan melakukan peninjauan kembali mengenai regulasi akses pendakian. Langkah-langkah preventif yang lebih ketat, seperti penutupan sementara jalur pendakian saat status aktivitas vulkanik meningkat atau kewajiban penggunaan pemandu lokal berlisensi, menjadi opsi yang krusial untuk dibahas.
Secara implikasi luas, peristiwa ini menjadi pengingat bagi para pendaki, khususnya WNA yang mungkin tidak memiliki pemahaman mendalam mengenai karakteristik gunung api di Indonesia, untuk selalu mengikuti rekomendasi dari otoritas setempat. Sering kali, sinyal darurat seperti yang dipancarkan melalui perangkat Garmin baru diaktifkan ketika situasi sudah mencapai tahap kritis, sementara pencegahan dini melalui pengamatan aktivitas gunung harus menjadi prioritas utama.
Selain itu, peristiwa ini menyoroti pentingnya integrasi sistem peringatan dini (early warning system) antara otoritas vulkanologi dengan manajemen pengelolaan kawasan wisata. Jika informasi mengenai peningkatan aktivitas vulkanik dapat tersampaikan dengan lebih cepat dan masif kepada pihak-pihak yang berada di lapangan, risiko jatuhnya korban jiwa dapat ditekan.
Evaluasi Operasi Penyelamatan
Operasi SAR kali ini juga menjadi catatan penting bagi tim evakuasi di Maluku Utara mengenai kebutuhan peralatan mitigasi yang lebih canggih di daerah terpencil. Tantangan medan yang berbukit dengan vegetasi rapat, ditambah dengan ancaman gas beracun dan material erupsi, memerlukan keahlian khusus. Tim SAR gabungan telah membuktikan bahwa meskipun menghadapi risiko nyawa, dedikasi dalam memberikan pertolongan tetap menjadi prioritas utama.
Ke depan, koordinasi dengan komunitas pendaki internasional perlu ditingkatkan melalui penyebaran informasi yang lebih akurat mengenai status gunung api di Indonesia. Banyak pendaki mancanegara mungkin menganggap status "aktif" sebagai sesuatu yang biasa, tanpa memahami risiko letusan eksplosif yang bisa terjadi sewaktu-waktu tanpa peringatan yang panjang.
Tragedi di Gunung Dukono ini meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat Halmahera Utara. Pemerintah setempat diharapkan dapat memberikan dukungan penuh dalam proses pemulangan jenazah dan terus mengevaluasi standar keselamatan operasional di seluruh kawasan wisata alam di Maluku Utara agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan. Fokus utama saat ini tetap pada penyelesaian proses administratif korban dan pemulihan situasi di sekitar kawasan pendakian.









