Stadio Ennio Tardini menjadi saksi bisu salah satu pertandingan paling mendebarkan dalam kalender Serie A musim 2025/26. AS Roma, yang tengah berjuang keras mengamankan tiket kompetisi Eropa, berhasil mencuri tiga poin krusial setelah menumbangkan Parma dengan skor 3-2 dalam laga yang diwarnai drama menit akhir dan keputusan krusial VAR pada Minggu (10/5/2026). Kemenangan ini tidak hanya krusial secara matematis, tetapi juga menjadi bukti resiliensi mental skuad asuhan Gian Piero Gasperini di bawah tekanan tinggi persaingan papan atas klasemen.
Kronologi Drama di Ennio Tardini
Pertandingan dimulai dengan intensitas tinggi. AS Roma, yang membutuhkan kemenangan untuk menjaga jarak dengan pesaing terdekat dalam perburuan zona Liga Champions, langsung mengambil inisiatif serangan. Donyell Malen sempat memberikan sinyal bahaya melalui gol cepat pada menit ke-9, namun perayaan kubu Giallorossi terhenti setelah wasit, berdasarkan tinjauan asisten hakim garis, menyatakan pemain asal Belanda tersebut berada dalam posisi offside.
Tidak patah arang, Roma terus menekan lini pertahanan Parma. Upaya mereka membuahkan hasil pada menit ke-22. Sebuah pergerakan cerdik dari Paulo Dybala yang melepaskan umpan terukur berhasil dimanfaatkan dengan dingin oleh Donyell Malen. Sepakan akurat Malen merobek jala gawang Parma, mengubah papan skor menjadi 1-0 untuk keunggulan tim tamu. Keunggulan tipis ini berhasil dipertahankan Roma hingga wasit meniup peluit tanda berakhirnya babak pertama.
Memasuki babak kedua, dinamika permainan berubah drastis. Parma, yang bermain tanpa beban, tampil lebih agresif. Hasilnya instan, saat babak kedua baru berjalan dua menit, Gabriel Strefezza menyamakan kedudukan melalui tembakan mendatar yang gagal diantisipasi oleh kiper Roma, Mile Svilar. Gol tersebut membangkitkan moral pemain tuan rumah dan membuat laga berjalan semakin terbuka.
Puncak drama terjadi di sepuluh menit terakhir. Pada menit ke-87, publik Stadio Ennio Tardini bersorak ketika Mandela Keita melepaskan tembakan keras yang meluncur deras ke gawang Roma, membalikkan keadaan menjadi 2-1 untuk keunggulan Parma. Dalam situasi tertinggal dan waktu yang tersisa sangat tipis, AS Roma menunjukkan kualitas mental juara mereka. Pada menit ke-94, kemelut di depan gawang Parma dimanfaatkan dengan baik oleh bek Devyne Rensch. Memanfaatkan sodoran bola dari Daniel Ghilardi, Rensch melepaskan sepakan mendatar yang memaksa skor kembali imbang 2-2.
Namun, drama belum berakhir di sana. Ketegangan memuncak saat wasit meninjau tayangan VAR pada menit ke-98 terkait insiden di dalam kotak penalti Parma antara Sascha Britschgi dan Rensch. Keputusan wasit cukup berat: penalti untuk Roma dan kartu kuning kedua untuk Britschgi yang berarti pengusiran dari lapangan. Donyell Malen, yang mengambil tanggung jawab sebagai eksekutor, sukses menjalankan tugasnya dengan sempurna pada menit ke-101. Gol tersebut memastikan kemenangan dramatis 3-2 bagi Roma.
Konteks Klasemen dan Persaingan Liga Champions
Kemenangan ini menempatkan AS Roma di posisi kelima klasemen sementara dengan perolehan 67 poin dari 36 pertandingan. Posisi ini menempatkan Giallorossi dalam posisi menekan klub-klub di atasnya, terutama dalam perebutan tiket kompetisi kasta tertinggi antarklub Eropa. Dengan menyisakan dua laga tersisa di musim 2025/26, setiap poin menjadi sangat berharga.
Gian Piero Gasperini, yang dikenal dengan gaya permainannya yang ofensif, berhasil mengubah mentalitas Roma menjadi tim yang tidak mudah menyerah. Data menunjukkan bahwa dalam lima laga terakhir, Roma berhasil mengumpulkan poin krusial melalui gol-gol yang tercipta di atas menit ke-80, sebuah indikator peningkatan kebugaran fisik dan ketahanan mental pemain.
Di sisi lain, Parma yang berada di posisi ke-13 dengan 42 poin, telah memastikan diri bertahan di Serie A musim depan. Meski kalah, penampilan mereka melawan tim sekelas Roma menunjukkan progres positif di bawah kepemimpinan staf pelatih mereka sepanjang musim ini.

Analisis Taktis: Peran Krusial Pemain Belanda
Donyell Malen muncul sebagai aktor utama dalam pertandingan ini. Perannya sebagai ujung tombak atau pendukung penyerang terbukti efektif dalam skema Gasperini. Dalam laga ini, Malen tidak hanya mencetak dua gol, tetapi juga menjadi titik fokus transisi serangan Roma. Selain Malen, peran Devyne Rensch di lini belakang yang ikut aktif membantu serangan menjadi pembeda. Gol penyeimbang yang ia cetak bukan sekadar keberuntungan, melainkan hasil dari instruksi pelatih agar pemain belakang ikut masuk ke kotak penalti dalam situasi buntu.
Keputusan VAR yang memberikan penalti di menit-menit terakhir menjadi bahan diskusi hangat di media Italia. Namun, secara objektif, pelanggaran Sascha Britschgi terhadap Rensch terlihat jelas dalam tayangan ulang, di mana kontak fisik terjadi saat Rensch berada dalam posisi menguntungkan untuk mencetak gol.
Implikasi Bagi AS Roma Menuju Akhir Musim
Kemenangan ini memiliki implikasi psikologis yang besar. Menang di menit-menit akhir (injury time) biasanya memberikan suntikan moral yang luar biasa bagi skuad. Bagi Gasperini, keberhasilan ini adalah validasi atas strateginya yang terus menekan hingga detik terakhir. Roma kini akan fokus pada dua laga penutup musim. Lawan yang akan dihadapi diprediksi akan bermain sangat defensif, mengingat reputasi Roma yang kini menjadi tim paling berbahaya di menit-menit akhir pertandingan.
Secara finansial dan prestise, keberhasilan menembus Liga Champions akan sangat vital bagi AS Roma untuk memperkuat kedalaman skuad pada bursa transfer musim panas mendatang. Manajemen klub dikabarkan telah menyiapkan rencana untuk menambah amunisi di lini tengah dan belakang untuk mendukung gaya permainan Gasperini yang menuntut intensitas tinggi.
Pernyataan Resmi dan Reaksi Klub
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi mendalam dari pihak manajemen AS Roma terkait detail taktis pertandingan. Namun, melalui kanal media sosial resmi, pihak klub memberikan apresiasi tinggi terhadap semangat juang pemain. "Kemenangan yang mencerminkan DNA Giallorossi. Tidak ada kata menyerah hingga peluit panjang berbunyi," tulis pernyataan singkat dalam laman resmi klub.
Sebaliknya, kubu Parma melalui pelatih mereka menyampaikan rasa kecewa atas keputusan wasit di menit-menit akhir, namun tetap memberikan kredit atas performa anak asuhnya yang mampu mengimbangi permainan tim papan atas selama lebih dari 90 menit.
Statistik Pertandingan
- Skor: Parma 2-3 AS Roma
- Pencetak Gol:
- AS Roma: Donyell Malen (22′, 101′ P), Devyne Rensch (94′)
- Parma: Gabriel Strefezza (47′), Mandela Keita (87′)
- Penguasaan Bola: Parma 44% – 56% AS Roma
- Kartu Merah: Sascha Britschgi (Parma – 98′)
- Stadion: Stadio Ennio Tardini
Menatap Masa Depan
Musim 2025/26 akan segera berakhir, dan AS Roma berada di jalur yang tepat untuk memenuhi target minimal klub. Persaingan untuk posisi empat besar Serie A tahun ini tergolong sangat ketat, dengan selisih poin yang sangat tipis di antara peringkat ketiga hingga keenam. Kemenangan atas Parma ini adalah batu loncatan penting. Jika Roma mampu mempertahankan performa serupa di dua laga sisa, peluang mereka untuk kembali ke panggung Liga Champions musim depan terbuka lebar.
Bagi penggemar, kemenangan dramatis ini akan terus diingat sebagai salah satu momen kunci musim ini. Sepak bola, pada akhirnya, adalah tentang ketahanan, strategi, dan keberanian untuk mengambil risiko hingga saat-saat terakhir. AS Roma telah membuktikan bahwa mereka memiliki ketiga elemen tersebut dalam laga di Ennio Tardini, sebuah kemenangan yang mungkin saja menjadi penentu nasib mereka di akhir musim nanti.
Dengan berakhirnya pekan ke-36, seluruh mata kini tertuju pada laga pekan ke-37. Konsistensi akan menjadi kunci bagi Roma, sementara bagi Parma, laga sisa akan menjadi ajang eksperimen untuk membangun fondasi yang lebih kuat bagi kompetisi musim depan. Serie A sekali lagi membuktikan mengapa mereka tetap menjadi salah satu liga paling kompetitif dan penuh drama di dunia sepak bola profesional.









