Dua atlet judo kebanggaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berhasil mengukir prestasi gemilang di kancah internasional dengan membawa pulang tiga medali perunggu dalam ajang Southeast Asia Judo Championships 2026. Kejuaraan bergengsi tingkat Asia Tenggara ini berlangsung di Bac Ninh, Vietnam, selama enam hari berturut-turut, mulai dari tanggal 19 hingga 24 Mei 2026. Keberhasilan Ridho Barokalloh dan Hagia Sofia Radityo dalam ajang tersebut menjadi bukti nyata pembinaan atlet bela diri di Yogyakarta yang terus menunjukkan grafik peningkatan performa yang konsisten.
Keikutsertaan atlet Indonesia dalam ajang ini merupakan bagian dari kalender kompetisi internasional Federasi Judo Asia Tenggara yang bertujuan untuk memetakan kekuatan atlet judo di kawasan regional sebelum menghadapi ajang yang lebih besar, seperti SEA Games maupun kualifikasi menuju Olimpiade. Bagi kontingen Indonesia, khususnya DIY, pencapaian ini merupakan modal berharga dalam mengukur kesiapan teknis dan mental para pejudo muda di tengah ketatnya persaingan atlet-atlet dari negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, dan Filipina.
Kronologi dan Performa Atlet di Bac Ninh
Kejuaraan yang diselenggarakan di fasilitas olahraga modern di Bac Ninh tersebut mempertemukan ratusan pejudo terbaik dari berbagai negara di kawasan ASEAN. Ridho Barokalloh, yang turun di kategori senior -73 kg putra, menunjukkan ketangguhan mental yang luar biasa. Meskipun harus bertanding dalam kondisi fisik yang belum pulih seratus persen akibat cedera dislokasi bahu yang dialaminya dua pekan sebelum keberangkatan, Ridho mampu memberikan perlawanan sengit kepada lawan-lawannya.
Ketua Umum Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) DIY, Toga Pramandita, menjelaskan bahwa performa Ridho di Vietnam sebenarnya bisa lebih optimal seandainya ia dalam kondisi fisik yang prima. Namun, komitmen dan determinasi tinggi yang ditunjukkan oleh Ridho di atas matras membuat dirinya tetap mampu mengamankan posisi ketiga dan membawa pulang medali perunggu. Ini bukan kali pertama bagi Ridho, karena sebelumnya ia pernah menorehkan prestasi serupa di kejuaraan yang sama, yang menegaskan konsistensinya di level regional.
Di sisi lain, Hagia Sofia Radityo mencuri perhatian melalui debut internasionalnya yang mengesankan. Turun di kategori -48 kg putri, Hagia berhasil meraih dua medali perunggu, masing-masing dari nomor junior dan senior. Pencapaian ganda ini merupakan tonggak sejarah dalam karier atlet muda tersebut, sekaligus membuktikan bahwa program regenerasi atlet judo di DIY berjalan dengan sangat efektif. Keberhasilan Hagia mengawinkan medali di kategori junior dan senior sekaligus menunjukkan fleksibilitas teknik serta daya tahan fisik yang mumpuni untuk menghadapi lawan dengan level pengalaman yang lebih tinggi.
Analisis Strategis Pembinaan Atlet Judo DIY
Prestasi yang diraih di Vietnam ini tidak terlepas dari sistem pembinaan yang terstruktur di bawah naungan PJSI DIY. Strategi pembinaan yang diterapkan selama ini difokuskan pada peningkatan kualitas teknis melalui intensifikasi latihan serta pengiriman atlet ke berbagai ajang kompetisi untuk menambah jam terbang.
Data pendukung menunjukkan bahwa atlet seperti Ridho Barokalloh telah dimasukkan ke dalam program Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) DIY. Program ini dirancang khusus untuk memastikan atlet mendapatkan dukungan nutrisi, pendampingan medis, dan porsi latihan yang terukur sebagai persiapan menuju agenda-agenda olahraga nasional, terutama Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.
Keterlibatan KONI DIY dalam memantau perkembangan atlet judo mencerminkan keseriusan daerah dalam mendulang medali emas di masa depan. Wesley Heince Parera Tauntu, Ketua Bidang Pembinaan Prestasi KONI DIY, memberikan apresiasi tinggi terhadap capaian ini. Menurutnya, keberhasilan Ridho dan Hagia di Vietnam merupakan indikator bahwa judo DIY memiliki potensi besar untuk menjadi tulang punggung kontingen daerah di masa depan.

Pihak KONI DIY kini tengah mengevaluasi hasil kejuaraan di Vietnam untuk menentukan langkah selanjutnya. Salah satu poin penting dalam evaluasi tersebut adalah memperluas kuota atlet judo yang masuk ke dalam program Puslatda. Hal ini didasari pada kebutuhan akan regenerasi dan persaingan internal yang sehat agar setiap atlet tetap terpacu untuk meningkatkan standar kemampuannya.
Implikasi Terhadap Persiapan PON 2028
Tujuan utama dari keikutsertaan atlet-atlet DIY dalam kejuaraan internasional di Vietnam adalah sebagai batu loncatan menuju kesuksesan di PON 2028. Ajang multi-cabang olahraga nasional tersebut menjadi target utama di mana setiap provinsi berlomba-lomba untuk menempati posisi puncak klasemen medali. Judo sendiri merupakan cabang olahraga yang memiliki potensi medali cukup besar bagi DIY, mengingat tradisi kekuatan bela diri di wilayah tersebut.
Dengan adanya pencapaian internasional ini, ekspektasi terhadap para pejudo DIY di PON 2028 tentu akan meningkat. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah menjaga konsistensi performa atlet dan meminimalisir risiko cedera yang kerap menjadi hambatan serius, sebagaimana yang dialami oleh Ridho. Oleh karena itu, kolaborasi antara tim medis, pelatih, dan pengurus cabang olahraga menjadi kunci krusial dalam menjaga masa puncak (peak performance) atlet hingga tahun 2028.
Selain itu, keberhasilan ini diharapkan mampu memicu motivasi bagi para pejudo muda lainnya di DIY. Sosok atlet seperti Hagia Sofia yang mampu menembus level senior di kejuaraan internasional diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi di bawahnya untuk terus berlatih dengan disiplin tinggi.
Pandangan Pakar dan Harapan Kedepan
Dalam pandangan pemerhati olahraga, kesuksesan atlet judo DIY di kancah internasional memberikan pesan kuat bahwa pembinaan olahraga di daerah tidak boleh hanya berfokus pada kuantitas, tetapi harus mengedepankan kualitas kompetisi. Keikutsertaan dalam kejuaraan regional seperti Southeast Asia Judo Championships memberikan pengalaman tak ternilai yang tidak bisa didapatkan hanya melalui sesi latihan rutin di dalam negeri. Perbedaan gaya bertarung dan strategi yang ditunjukkan oleh pejudo dari negara lain menjadi sarana belajar yang efektif bagi atlet Indonesia.
Toga Pramandita menekankan bahwa PJSI DIY ke depannya akan terus menjajaki peluang bagi atlet-atlet potensial lainnya untuk berkompetisi di luar negeri. Meskipun anggaran menjadi kendala klasik dalam pembinaan olahraga, sinergi dengan pemerintah daerah dan sektor swasta diharapkan dapat terus ditingkatkan demi kelangsungan karier atlet di level internasional.
Sebagai penutup, keberhasilan Ridho dan Hagia di Vietnam menjadi secercah harapan bagi dunia olahraga DIY. Dengan sisa waktu yang ada sebelum perhelatan PON 2028, terdapat cukup ruang bagi tim pelatih untuk menyempurnakan teknik, memperbaiki kelemahan, dan memperkuat mentalitas bertanding. Jika dukungan berkelanjutan terus diberikan, tidak menutup kemungkinan bagi atlet-atlet judo dari Yogyakarta untuk tidak hanya berjaya di tingkat nasional, tetapi juga menjadi duta olahraga yang disegani di kawasan Asia Tenggara maupun Asia secara lebih luas.
Prestasi ini sekali lagi menegaskan bahwa dengan manajemen yang tepat, dukungan yang terukur, dan semangat pantang menyerah, atlet daerah memiliki kapabilitas yang setara dengan atlet internasional. Publik kini menanti langkah selanjutnya dari PJSI dan KONI DIY dalam mengawal perjalanan para atlet ini hingga mencapai puncak karier mereka di masa depan.









