Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi menekankan kembali pentingnya ikatan sejarah, budaya, dan peradaban yang telah terjalin selama ratusan tahun antara Indonesia dan India. Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan Perdana Menteri India, Narendra Modi, dalam acara Indian Community Reception yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, pada Selasa (7/7/2026). Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam mempertegas kembali kemitraan strategis komprehensif yang telah dirintis oleh kedua negara selama beberapa dekade terakhir.
Dalam pidato utamanya, Presiden Prabowo menyoroti bagaimana jejak kebudayaan India telah meresap jauh ke dalam fondasi peradaban Nusantara. Menurutnya, pengaruh tersebut bukan sekadar pertukaran komoditas atau perdagangan di masa lalu, melainkan proses panjang akulturasi yang membentuk karakter dan identitas masyarakat Indonesia hingga saat ini. Kedekatan yang bersifat intrinsik ini dipandang oleh Presiden sebagai modal sosial yang sangat kuat untuk mempererat kerja sama bilateral di era modern, mencakup sektor ekonomi, teknologi, pertahanan, dan geopolitik kawasan.
Akar Sejarah dan Hubungan Diplomatik yang Mendalam
Hubungan Indonesia dan India memiliki akar yang sangat dalam. Sejak zaman kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara, interaksi antara pedagang dan cendekiawan dari India telah membawa pengaruh besar dalam bidang arsitektur, bahasa, sastra, hingga sistem pemerintahan dan kepercayaan. Indonesia, sebagai negara dengan penduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia, tetap mampu menjaga dan menghargai warisan budaya tersebut sebagai bagian dari kekayaan sejarah nasional.
Secara diplomatik, hubungan modern kedua negara dimulai segera setelah masing-masing negara memperoleh kemerdekaan. Indonesia dan India merupakan dua aktor utama dalam Gerakan Non-Blok (GNB) dan Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung pada tahun 1955. Tokoh-tokoh besar seperti Soekarno dan Jawaharlal Nehru adalah arsitek utama yang meletakkan landasan kerja sama Selatan-Selatan, yang hingga kini masih relevan sebagai dasar kebijakan luar negeri kedua negara.
Salah satu bukti kedekatan personal yang krusial adalah partisipasi Presiden pertama RI, Soekarno, sebagai tamu kehormatan dalam perayaan Hari Republik India pertama pada tahun 1950. Tradisi kehormatan ini terus dipertahankan sebagai simbol persahabatan yang tak lekang oleh waktu. Dalam konteks masa kini, Presiden Prabowo Subianto mencatat pengalaman pribadinya saat diundang menjadi tamu kehormatan pada perayaan Hari Republik India pada 26 Januari 2025. Peristiwa tersebut terjadi hanya tiga bulan setelah pelantikannya sebagai Presiden RI pada Oktober 2024, yang mencerminkan prioritas tinggi India terhadap hubungan dengan Indonesia di bawah pemerintahan baru.
Transformasi Kemitraan Strategis Menuju 2030
Kunjungan PM Narendra Modi ke Jakarta pada Juli 2026 ini bukan sekadar kunjungan seremonial. Di balik kemeriahan acara komunitas, terdapat agenda-agenda substansial yang mencakup penguatan kerja sama di berbagai sektor kritis. Analis hubungan internasional menilai bahwa pertemuan ini merupakan bagian dari upaya kedua negara untuk merespons dinamika geopolitik di kawasan Indo-Pasifik yang semakin kompleks.
Indonesia dan India saat ini tengah berupaya meningkatkan volume perdagangan bilateral yang ditargetkan mampu menembus angka lebih tinggi melalui berbagai kesepakatan dagang baru. Sektor-sektor seperti ekonomi digital, pengembangan energi terbarukan, pertahanan, dan ketahanan pangan menjadi fokus utama. India, yang kini merupakan salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia, melihat Indonesia sebagai mitra strategis untuk memperkuat pengaruhnya di Asia Tenggara, sementara Indonesia memandang India sebagai pasar besar dan mitra investasi yang potensial untuk menopang target pertumbuhan ekonomi domestik.
Kronologi Hubungan Diplomatik Penting RI-India
Untuk memahami urgensi pertemuan di JICC tersebut, perlu melihat kembali lini masa hubungan bilateral yang terus berkembang:

- 1950: Presiden Soekarno hadir sebagai tamu kehormatan dalam perayaan pertama Hari Republik India, menandai awal persahabatan negara baru merdeka.
- 1955: Indonesia dan India menjadi motor penggerak Konferensi Asia-Afrika di Bandung, mempromosikan kedaulatan negara-negara berkembang.
- 2018: Peningkatan status hubungan bilateral menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif melalui kunjungan PM Modi ke Jakarta dan kunjungan balasan Presiden Joko Widodo ke New Delhi.
- 2025: Presiden Prabowo Subianto menghadiri perayaan Hari Republik India di New Delhi, mempertegas kesinambungan kebijakan luar negeri Indonesia terhadap India di era transisi pemerintahan.
- 2026: Pertemuan di Jakarta antara Presiden Prabowo dan PM Modi yang berfokus pada penguatan kerja sama ekonomi dan keamanan maritim di kawasan Samudra Hindia.
Implikasi Geopolitik dan Ekonomi
Kehadiran PM Modi di Jakarta memberikan sinyal kuat bahwa India memandang Indonesia sebagai poros stabilitas di kawasan Asia Tenggara. Sebaliknya, bagi Indonesia, mempererat hubungan dengan India adalah langkah strategis untuk diversifikasi mitra dagang dan mengurangi ketergantungan pada blok ekonomi tertentu.
Secara ekonomi, kedua negara memiliki komplementaritas yang tinggi. India membutuhkan pasokan komoditas energi dan bahan baku industri yang melimpah di Indonesia, sementara Indonesia membutuhkan transfer teknologi, terutama di sektor teknologi informasi (IT) dan farmasi, di mana India telah menjadi pemain global yang dominan.
Selain itu, kerja sama di bidang pertahanan maritim menjadi aspek krusial. Mengingat kedua negara berbagi perbatasan maritim dan kepentingan dalam menjaga keamanan di Samudra Hindia, kolaborasi dalam patroli bersama dan pertukaran intelijen menjadi sangat relevan guna memastikan jalur perdagangan internasional tetap aman dari ancaman perompakan maupun ketegangan geopolitik antarnegara besar.
Tanggapan Resmi dan Proyeksi Masa Depan
Pemerintah Indonesia, melalui pernyataan Presiden Prabowo, menyatakan komitmen penuh untuk membuka ruang bagi kolaborasi yang lebih luas. "Kami menyambut kerja sama yang lebih erat," ujar Presiden di hadapan komunitas India. Pernyataan ini disambut baik oleh berbagai kalangan, termasuk dunia usaha. Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia menilai bahwa keterlibatan aktif India dalam pembangunan infrastruktur digital di Indonesia akan memberikan nilai tambah bagi ekonomi nasional.
Dari sisi India, PM Modi dalam berbagai kesempatan juga menekankan bahwa "Act East Policy" India menempatkan Indonesia sebagai mitra sentral. Kedekatan budaya yang sering disebut sebagai "Civilizational Bond" bukan sekadar retorika, melainkan instrumen soft power yang memudahkan diplomasi tingkat tinggi antara kedua negara.
Tantangan ke Depan
Meskipun fondasi hubungan sangat kuat, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah upaya untuk menyeimbangkan neraca perdagangan yang saat ini masih perlu ditingkatkan efisiensinya. Selain itu, perbedaan kebijakan dalam beberapa isu regional terkadang menuntut kedua negara untuk melakukan diplomasi yang sangat hati-hati dan berbasis konsensus.
Namun, dengan komitmen pemimpin kedua negara yang terlihat dalam pertemuan di Jakarta, terdapat optimisme bahwa hubungan Indonesia dan India akan semakin solid. Keberlanjutan hubungan ini diharapkan tidak hanya membawa keuntungan bagi kedua negara secara bilateral, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas dan kesejahteraan kawasan Indo-Pasifik secara lebih luas.
Presiden Prabowo mengakhiri pidatonya dengan menekankan bahwa sejarah panjang yang dimiliki oleh kedua bangsa adalah modal yang tidak dimiliki oleh banyak negara lain. Dengan merawat sejarah tersebut dan menjadikannya sebagai pemandu bagi kebijakan masa depan, Indonesia dan India diprediksi akan menjadi dua raksasa ekonomi yang saling menguatkan dalam dekade-dekade mendatang. Pertemuan ini menjadi bukti bahwa di tengah dunia yang penuh dengan ketidakpastian, ikatan persahabatan yang berakar pada peradaban adalah jangkar yang paling kokoh.









