Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Peristiwa

Densus 88 Antiteror Tangkap Delapan Terduga Teroris Jaringan JAD Terafiliasi ISIS di Sulawesi Tengah

badge-check


					Densus 88 Antiteror Tangkap Delapan Terduga Teroris Jaringan JAD Terafiliasi ISIS di Sulawesi Tengah Perbesar

Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri kembali melancarkan operasi penegakan hukum terhadap kelompok radikal di wilayah Sulawesi Tengah. Dalam operasi yang berlangsung secara simultan pada Rabu, 6 Mei 2026, aparat berhasil mengamankan delapan orang terduga pelaku tindak pidana terorisme. Penangkapan ini menyasar dua titik wilayah, yakni Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Poso, yang selama ini memang menjadi salah satu fokus pengawasan ketat aparat keamanan terkait pergerakan kelompok radikal.

Operasi yang dilakukan dini hari tersebut merupakan tindak lanjut dari serangkaian penyelidikan panjang yang dilakukan oleh tim intelijen Polri terhadap jaringan Jamaah Anshoru Daulah (JAD). Berdasarkan pernyataan resmi, kelompok ini diduga kuat memiliki afiliasi dengan jaringan terorisme global, ISIS, dan berupaya melakukan konsolidasi serta penyebaran paham ekstremis di wilayah Indonesia Timur.

Kronologi Operasi Senyap Densus 88

Operasi penegakan hukum dimulai pada Rabu dini hari, tepatnya pukul 01.30 WITA hingga 03.30 WITA. Tim Densus 88 bergerak secara senyap di dua kabupaten berbeda. Di Desa Tomoli Utara, Kecamatan Toribulu, Kabupaten Parigi Moutong, petugas mengamankan empat orang terduga teroris. Penangkapan berlangsung kondusif tanpa ada perlawanan fisik yang berarti dari para terduga.

Secara bersamaan, tim lainnya juga melakukan penggerebekan di wilayah Kabupaten Poso. Empat orang lainnya diamankan dari berbagai titik di Poso, sehingga total terduga yang kini berada dalam pengawasan intensif Densus 88 berjumlah delapan orang. Identitas para terduga yang diamankan di Poso adalah R (32), AT (29), RP (32), dan ZA (37). Sementara itu, empat orang yang ditangkap di Parigi Moutong diidentifikasi sebagai A (43), A (46), S (47), dan DP (39).

Pasca penangkapan, tim penyidik segera melakukan penggeledahan di kediaman para terduga. Di Desa Tomoli Utara, petugas menemukan sejumlah barang bukti yang mengarah pada aktivitas ilegal, antara lain enam bilah parang, beberapa unit telepon genggam, serta kartu ATM. Barang-barang tersebut kini telah disita sebagai bukti permulaan untuk pendalaman penyidikan lebih lanjut di Markas Komando atau kantor kepolisian setempat.

Profil dan Modus Operandi Kelompok

Salah satu aspek yang menarik perhatian publik adalah profil para terduga yang selama ini tampak membaur dengan masyarakat. Jufri Haruji, Kepala Dusun I Desa Tomoli Utara, mengungkapkan bahwa salah satu dari terduga yang diamankan di wilayahnya dikenal sebagai penjual buah. Aktivitas kesehariannya tampak normal dan tidak menunjukkan gelagat yang mencurigakan, sehingga warga sekitar tidak pernah menduga bahwa yang bersangkutan terlibat dalam jaringan terorisme.

Kondisi ini menegaskan tren "lone wolf" atau sel tidur yang memang menjadi pola kelompok radikal saat ini. Mereka tidak lagi menonjolkan diri dengan atribut-atribut yang mencolok, melainkan memilih hidup sebagai warga biasa untuk menyamarkan pergerakan mereka.

Juru Bicara Densus 88 AT Polri, KBP Mayndra Eka Wardhana, menjelaskan bahwa kedelapan terduga tersebut memiliki peran aktif dalam penyebaran propaganda terorisme melalui media sosial. Modus operandi yang dijalankan meliputi pengunggahan konten-konten berupa gambar, tulisan, hingga video yang bermuatan paham radikalisme. Mereka diduga memanfaatkan platform digital untuk mendoktrin pengikut baru dan membagikan narasi yang mendukung ideologi ISIS. Selain propaganda, penyidik saat ini tengah mendalami keterlibatan mereka dalam kegiatan lain yang lebih terstruktur, termasuk dugaan pendanaan atau persiapan aksi fisik.

Konteks Ancaman Terorisme di Sulawesi Tengah

Provinsi Sulawesi Tengah, khususnya Kabupaten Poso, memiliki sejarah panjang terkait aktivitas kelompok radikal. Selama satu dekade terakhir, wilayah ini menjadi salah satu episentrum pergerakan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) dan sisa-sisa jaringan JAD. Meskipun otoritas keamanan telah melakukan berbagai operasi besar, seperti Operasi Madago Raya, ancaman radikalisme tetap ada dalam bentuk yang berevolusi.

Penangkapan pada Mei 2026 ini membuktikan bahwa meskipun kelompok radikal besar telah banyak melemah, upaya rekrutmen dan penyebaran ideologi melalui ruang siber tetap menjadi ancaman nyata. Penggunaan media sosial sebagai alat utama untuk meradikalisasi individu menjadi tantangan baru bagi aparat penegak hukum. Berbeda dengan dekade sebelumnya di mana terorisme seringkali melibatkan pelatihan militer di hutan, saat ini radikalisasi sering dimulai dari konsumsi konten di ruang digital yang kemudian berkembang menjadi aksi nyata.

Densus 88 menangkap delapan terduga teroris

Implikasi Keamanan dan Langkah Preventif

Penangkapan delapan terduga teroris ini membawa implikasi signifikan terhadap stabilitas keamanan di Sulawesi Tengah. Pertama, keberhasilan operasi ini menunjukkan bahwa deteksi dini yang dilakukan oleh Densus 88 masih sangat efektif dalam memutus mata rantai penyebaran paham radikal sebelum berkembang menjadi aksi teror fisik.

Kedua, keterlibatan warga sipil dalam jaringan ini menunjukkan perlunya peningkatan kewaspadaan masyarakat. Pemerintah daerah dan tokoh masyarakat diimbau untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku di lingkungan sekitar. Sosialisasi mengenai bahaya paham ekstremis yang dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama aparat kepolisian harus terus diperkuat, terutama untuk memproteksi generasi muda dari paparan konten radikal di internet.

Secara nasional, langkah Densus 88 ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah Indonesia untuk terus menjaga keamanan nasional dari ancaman terorisme. Dalam beberapa tahun terakhir, Polri secara konsisten melakukan penindakan preventif-striktif terhadap jaringan-jaringan yang berafiliasi dengan ISIS dan Al-Qaeda. Strategi ini terbukti mampu menekan angka serangan teror fisik secara signifikan di Indonesia.

Analisis Penyidikan Lanjutan

Saat ini, kedelapan tersangka sedang menjalani proses pemeriksaan intensif. Fokus penyidikan akan diarahkan pada beberapa poin utama:

  1. Pemetaan Jaringan: Menelusuri siapa saja yang menjadi penghubung antara kelompok ini dengan jaringan di atasnya, baik di tingkat nasional maupun internasional.
  2. Jejak Digital: Menganalisis data dari telepon genggam yang disita untuk melacak akun-akun media sosial yang digunakan sebagai sarana propaganda.
  3. Aliran Dana: Memeriksa kartu ATM dan bukti keuangan lainnya untuk menentukan apakah terdapat aliran dana ilegal yang digunakan untuk mendukung kegiatan operasional mereka.

KBP Mayndra Eka Wardhana menegaskan bahwa Polri tidak akan berhenti pada penangkapan ini. Pengembangan kasus akan terus dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh elemen jaringan ini dapat diidentifikasi dan dilumpuhkan.

Tanggapan Pihak Terkait dan Harapan Masyarakat

Reaksi masyarakat di lokasi penangkapan cenderung terkejut namun kooperatif. Banyak warga yang tidak menyangka bahwa lingkungan mereka menjadi tempat persembunyian jaringan teroris. Hal ini menunjukkan bahwa diperlukan sinergi yang lebih erat antara aparat keamanan dengan perangkat desa atau kelurahan dalam mendata pendatang baru atau memantau aktivitas warga yang kurang dikenal.

Para pengamat keamanan menilai bahwa penangkapan ini merupakan langkah positif dalam memitigasi risiko keamanan. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa penangkapan pelaku hanyalah satu bagian dari penyelesaian masalah. Upaya deradikalisasi dan kontra-narasi di media sosial harus menjadi prioritas jangka panjang agar bibit-bibit radikalisme tidak terus tumbuh di tengah masyarakat.

Secara keseluruhan, operasi yang dilakukan oleh Densus 88 di Parigi Moutong dan Poso pada awal Mei 2026 ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa bahwa ancaman terorisme belum sepenuhnya hilang. Kewaspadaan kolektif, didukung dengan teknologi intelijen yang mumpuni, tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kedaulatan dan keamanan Indonesia dari paham-paham yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan.

Hingga berita ini diturunkan, situasi di lokasi penangkapan dilaporkan aman dan kondusif. Masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa, sementara aparat kepolisian terus melakukan patroli untuk memastikan tidak ada gangguan keamanan lanjutan. Pihak kepolisian menjanjikan transparansi dalam proses penyidikan dan akan segera memberikan informasi lebih lanjut jika terdapat temuan baru yang signifikan dalam kasus ini.

Peristiwa ini sekaligus mengukuhkan kembali bahwa peran aktif masyarakat dalam melaporkan hal-hal mencurigakan kepada pihak berwajib adalah instrumen krusial dalam pertahanan nasional. Sinergi antara "intelijen manusia" (masyarakat) dan "intelijen teknologi" (Densus 88) terbukti efektif dalam meminimalisir potensi ancaman yang dapat merugikan stabilitas negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kantor Pertanahan Kabupaten Bantul Raih Predikat Satuan Kerja Unit Kearsipan Terbaik Daerah Sebagai Standar Baru Tata Kelola Administrasi Pertanahan

6 Mei 2026 - 12:51 WIB

Sidang Isbat Penetapan Awal Zulhijah 1447 Hijriah Digelar 17 Mei 2026 untuk Menentukan Hari Raya Idul Adha

6 Mei 2026 - 06:51 WIB

Tipikor Surabaya vonis penjara tiga kades di Kediri atas praktik korupsi jual beli jabatan perangkat desa

6 Mei 2026 - 00:51 WIB

Ade Armando Membantah Tuduhan Fitnah Terhadap Jusuf Kalla Pasca Laporan Aliansi Ormas Islam ke Bareskrim Polri

5 Mei 2026 - 18:51 WIB

Perkuat Pertahanan Hayati Nasional Badan Karantina Indonesia dan Kementerian Kehutanan Jalin Sinergi Strategis

5 Mei 2026 - 12:51 WIB

Trending di Peristiwa