Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Headline

Berebut Apem di Saparan Ki Ageng Wonolelo: Merawat Tradisi dan Spiritualisme di Lereng Merapi

badge-check


					Berebut Apem di Saparan Ki Ageng Wonolelo: Merawat Tradisi dan Spiritualisme di Lereng Merapi Perbesar

Ribuan masyarakat memadati kawasan Wonolelo, Ngemplak, Sleman, DI Yogyakarta pada Jumat (24/7/2026), untuk merayakan puncak tradisi Saparan Ki Ageng Wonolelo ke-59. Perayaan ini ditandai dengan aksi berebut gunungan apem yang dilakukan secara antusias oleh warga. Tradisi yang telah mengakar selama puluhan tahun ini bukan sekadar ajang seremonial, melainkan representasi mendalam dari rasa syukur atas rezeki yang melimpah serta penghormatan terhadap sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa, khususnya di wilayah Mataram yang dilakukan oleh tokoh legendaris, Ki Ageng Wonolelo.

Suasana di sekitar area pemakaman dan situs bersejarah Ki Ageng Wonolelo berubah menjadi lautan manusia sejak pagi hari. Para warga dari berbagai daerah, tidak hanya dari Sleman, tetapi juga dari luar wilayah Yogyakarta, datang dengan harapan mendapatkan berkah melalui kue apem yang telah didoakan. Pembagian apem ini menjadi klimaks dari rangkaian kegiatan Saparan yang telah berlangsung selama beberapa hari sebelumnya, yang mencakup kirab budaya, pertunjukan seni tradisional, dan doa bersama.

Latar Belakang Sejarah Ki Ageng Wonolelo

Ki Ageng Wonolelo adalah tokoh sentral dalam sejarah keagamaan di wilayah Sleman. Dalam narasi sejarah lokal yang dituturkan turun-temurun, Ki Ageng Wonolelo dikenal sebagai seorang ulama yang memiliki pengaruh besar pada masa Kerajaan Mataram. Beliau merupakan sosok yang berjasa dalam menyebarkan ajaran Islam dengan pendekatan kultural yang santun, sehingga dapat diterima dengan baik oleh masyarakat setempat yang kala itu masih memegang teguh tradisi leluhur.

Keberadaan makam Ki Ageng Wonolelo di Desa Wonolelo, Ngemplak, menjadi pusat ziarah yang tak pernah sepi. Tradisi Saparan sendiri diambil dari bulan "Safar" dalam kalender Hijriah. Dalam tradisi masyarakat Jawa, bulan Safar dianggap sebagai bulan yang penuh makna spiritual. Perayaan ini merupakan bentuk nguri-uri atau melestarikan budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang sebagai cara untuk mengingat kembali jasa-jasa Ki Ageng Wonolelo dalam membangun pondasi spiritual dan sosial masyarakat Ngemplak.

Kronologi dan Rangkaian Perayaan ke-59

Penyelenggaraan Saparan tahun 2026 ini merupakan edisi ke-59 sejak tradisi ini dikelola secara lebih terorganisir oleh masyarakat setempat. Rangkaian acara dimulai jauh sebelum hari puncak. Persiapan dilakukan oleh panitia pelaksana yang terdiri dari tokoh masyarakat, perangkat desa, dan relawan lokal. Proses pembuatan apem, misalnya, melibatkan gotong royong warga desa selama beberapa hari. Ribuan kue apem diproduksi secara massal untuk kemudian disusun menjadi gunungan yang megah.

Pada Jumat (24/7/2026), prosesi diawali dengan iring-iringan gunungan apem yang diarak dari balai desa menuju area situs makam. Kirab ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari barisan prajurit bregada, kelompok kesenian tradisional, hingga tokoh agama yang melantunkan doa-doa keselamatan. Setelah doa bersama dipanjatkan di area makam, puncak acara yakni "rayahan" atau rebutan apem dilakukan. Bagi masyarakat, apem yang berhasil didapatkan dianggap sebagai simbol keberkahan, kemakmuran, dan keselamatan untuk menjalani sisa tahun ke depan.

Makna Simbolis di Balik Kue Apem

Penggunaan apem dalam tradisi ini bukanlah tanpa alasan filosofis. Secara etimologis, kata "apem" diyakini berasal dari bahasa Arab afwun atau affan, yang berarti permohonan maaf atau ampunan. Dengan membagikan dan memakan apem, masyarakat diajak untuk saling memaafkan kesalahan, membersihkan diri dari dosa, dan membuka lembaran baru dengan hati yang suci.

Dalam konteks sosial, apem melambangkan kerendahan hati dan kemauan untuk berbagi. Gunungan apem yang diperebutkan menggambarkan bahwa rezeki dari Tuhan harus disalurkan dan dibagikan kepada sesama. Semangat kebersamaan yang muncul saat prosesi rebutan menjadi pengikat sosial yang kuat bagi warga desa, meminimalisir konflik, dan mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Dampak Sosial dan Ekonomi bagi Masyarakat Lokal

Penyelenggaraan Saparan Ki Ageng Wonolelo ke-59 ini memiliki dampak yang luas, tidak hanya dari sisi spiritual, tetapi juga ekonomi. Ribuan pengunjung yang datang menciptakan peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Sepanjang jalur menuju area perayaan, pedagang kaki lima menjajakan berbagai makanan khas, kerajinan tangan, dan mainan anak-anak.

Berebut apem di Saparan Ki Ageng Wonolelo

Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kebudayaan setempat telah memasukkan tradisi ini ke dalam kalender event wisata tahunan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan citra pariwisata berbasis budaya di Kabupaten Sleman. Berdasarkan data kunjungan pada tahun-tahun sebelumnya, Saparan Ki Ageng Wonolelo mampu menarik ribuan wisatawan domestik, yang secara langsung berkontribusi pada perputaran ekonomi di tingkat desa.

Tanggapan Tokoh Masyarakat dan Pemerintah

Dalam sebuah kesempatan, perwakilan panitia pelaksana menyampaikan bahwa konsistensi penyelenggaraan tradisi ini merupakan bentuk tanggung jawab moral generasi saat ini terhadap sejarah. "Kami berkomitmen untuk menjaga tradisi ini agar tidak hilang ditelan zaman. Tantangannya memang berat, terutama bagaimana melibatkan generasi muda agar mereka memiliki rasa memiliki terhadap warisan leluhur ini," ujar salah seorang sesepuh desa.

Pihak pemerintah daerah juga memberikan dukungan penuh. Tradisi ini dianggap sebagai aset penting dalam menjaga harmoni sosial di masyarakat Sleman yang multikultural. Dukungan ini diwujudkan dalam bentuk bantuan logistik, fasilitasi keamanan, serta promosi acara melalui saluran media resmi pemerintah. Kehadiran pihak keamanan dari kepolisian dan TNI juga dipastikan untuk menjamin kelancaran arus lalu lintas dan ketertiban di tengah massa yang membludak.

Analisis Implikasi: Tantangan di Era Modern

Meskipun perayaan Saparan Ki Ageng Wonolelo terus menarik minat banyak orang, terdapat tantangan nyata yang harus dihadapi di masa depan. Pertama adalah isu regenerasi. Di tengah gempuran budaya digital dan globalisasi, tantangan terbesar bagi penyelenggara adalah memastikan bahwa makna filosofis dari tradisi ini tetap dipahami oleh generasi muda, bukan sekadar melihatnya sebagai ajang hiburan atau sekadar berebut makanan.

Kedua, adalah aspek pengelolaan lingkungan. Dengan ribuan massa yang hadir, sampah menjadi permasalahan yang perlu mendapat perhatian serius. Panitia telah mulai menerapkan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik, namun edukasi kepada pengunjung tetap menjadi kunci agar situs bersejarah ini tetap terjaga keasriannya.

Ketiga, keberlanjutan tradisi ini bergantung pada dukungan kebijakan pemerintah daerah dalam memetakan tradisi ini sebagai cagar budaya tak benda yang harus dilindungi secara hukum. Jika dikelola dengan manajemen yang lebih modern dan profesional, Saparan Ki Ageng Wonolelo berpotensi menjadi destinasi wisata budaya unggulan yang mampu menyejahterakan warga tanpa harus kehilangan nilai sakralnya.

Kesimpulan

Saparan Ki Ageng Wonolelo ke-59 pada tahun 2026 ini kembali menegaskan betapa kuatnya pengaruh tradisi dalam membentuk identitas sebuah komunitas. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, masyarakat Wonolelo tetap memegang teguh nilai-nilai toleransi, syukur, dan kebersamaan yang diwariskan oleh Ki Ageng Wonolelo.

Aksi berebut apem bukan sekadar kerumunan massa yang mencari berkah, melainkan manifestasi dari kerinduan masyarakat akan persatuan dan kedamaian. Selama nilai-nilai luhur tersebut masih dijaga, tradisi Saparan akan tetap relevan dan menjadi pilar penting bagi kehidupan sosial masyarakat Sleman. Keberhasilan acara tahun ini menjadi catatan positif bagi upaya pelestarian warisan budaya nusantara, sekaligus menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya menghormati sejarah sebagai pijakan melangkah menuju masa depan yang lebih baik.

Perayaan ini pun ditutup dengan suasana yang tertib meskipun sempat terjadi kepadatan. Pihak panitia menyatakan apresiasinya terhadap warga yang datang dengan niat baik untuk mengikuti prosesi. Diharapkan pada perayaan tahun depan, tradisi ini dapat dikembangkan dengan jangkauan yang lebih luas, namun tetap mempertahankan inti dari nilai spiritual yang diusungnya sejak puluhan tahun silam. Keberlangsungan tradisi ini adalah bukti nyata bahwa sejarah tidak pernah benar-benar mati, melainkan terus hidup dalam tindakan dan napas masyarakat yang merawatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Membenahi Tata Kelola Tanah Kas Desa: Menjaga Martabat Kagungan Dalem dari Jerat Korupsi di Yogyakarta

26 Juli 2026 - 14:09 WIB

Mendikdasmen Abdul Mu’ti Tekankan Budaya Kerja Kolegial sebagai Fondasi Strategis Penguatan Pelayanan UPT Pendidikan

26 Juli 2026 - 06:03 WIB

Pemda DIY Siapkan Bantuan Gerobak Kopi Keliling untuk Dorong Promosi dan Nilai Jual Kopi Lokal

26 Juli 2026 - 00:03 WIB

Mitigasi Berbasis Konservasi Air di Tingkat Rumah Tangga Menjadi Kunci Strategis Hadapi Ancaman Kekeringan 2026

25 Juli 2026 - 18:03 WIB

Ubah Sampah Jadi BBM Masyarakat Berdaya di Bukit Imogiri Bantul Menjadi Solusi Ekonomi Sirkular

25 Juli 2026 - 12:03 WIB

Trending di Headline