Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, secara masif menggerakkan aparat gabungan yang terdiri dari Aparatur Sipil Negara (ASN), personel TNI, dan anggota Polri untuk melakukan aksi bersih-bersih lingkungan di kawasan Pasar Jombokan, Kapanewon Pengasih, pada Jumat (12/6/2026). Kegiatan yang dibingkai dalam tajuk "Gerakan Kulon Progo Asri" ini menyasar titik-titik krusial di area pasar, mulai dari lapak pedagang, area parkir, hingga pembersihan saluran drainase yang selama ini rentan tersumbat sampah.
Aksi yang berlangsung sejak pagi hari tersebut tidak hanya melibatkan aparat pemerintah, tetapi juga merangkul partisipasi aktif dari warga sekitar dan komunitas pedagang pasar. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya Pemkab Kulon Progo untuk merevitalisasi fungsi pasar tradisional sebagai ruang publik yang higienis, sehat, dan nyaman bagi masyarakat.
Konteks Latar Belakang dan Urgensi Kebersihan Pasar
Pasar tradisional, khususnya Pasar Jombokan, memegang peranan vital dalam struktur ekonomi lokal di Kapanewon Pengasih. Sebagai pusat interaksi ekonomi, pasar ini menjadi titik temu harian bagi ribuan warga, baik dari kalangan pedagang maupun pembeli. Namun, tingginya intensitas aktivitas di pasar sering kali membawa dampak sampingan berupa akumulasi limbah, terutama sampah organik dari sisa komoditas dagangan yang jika tidak dikelola dengan baik dapat menurunkan standar kesehatan lingkungan.
Kondisi sanitasi di pasar rakyat menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah di seluruh Indonesia, tidak terkecuali di Kulon Progo. Lingkungan yang kotor tidak hanya menurunkan estetika kawasan, tetapi juga berpotensi menjadi sarang vektor penyakit seperti lalat, tikus, dan nyamuk yang membahayakan kesehatan publik. Selain itu, drainase yang tersumbat akibat endapan sampah menjadi masalah klasik yang memicu genangan air saat musim hujan, yang pada akhirnya mengganggu kenyamanan transaksi jual-beli.
Gerakan Kulon Progo Asri yang dicanangkan oleh pemerintah setempat bukan sekadar aksi temporer. Langkah ini merupakan manifestasi dari kesadaran bahwa ekonomi kerakyatan harus didukung oleh infrastruktur yang representatif. Pasar yang bersih terbukti secara empiris meningkatkan minat masyarakat untuk berbelanja, yang secara langsung berkontribusi pada stabilitas ekonomi mikro di tingkat kapanewon.
Kronologi dan Pelaksanaan Aksi
Kegiatan pembersihan dimulai tepat pukul 07.30 WIB. Personel gabungan yang hadir dibagi ke dalam beberapa sektor kerja. Tim pertama fokus pada pembersihan area depan dan akses masuk pasar untuk memastikan arus lalu lintas pengunjung tidak terhambat. Tim kedua menyisir lorong-lorong antar kios untuk mengangkut sisa-sisa material yang tidak terpakai, sementara tim ketiga difokuskan pada normalisasi drainase di sekeliling area pasar.
Keterlibatan TNI dan Polri dalam aksi ini memberikan dimensi kedisiplinan dan efisiensi dalam pelaksanaan. Dengan koordinasi yang terstruktur, tumpukan sampah yang selama ini menumpuk di titik-titik tersembunyi berhasil diangkut ke armada kebersihan yang telah disediakan. Warga sekitar yang melihat antusiasme aparat pemerintah pun turut turun tangan, mencerminkan semangat gotong royong yang masih kental di wilayah pedesaan Kulon Progo.
Pernyataan Resmi dan Visi Pemerintah Daerah
Asisten Administrasi Umum Kulon Progo, Eko Wisnu Wardhana, yang meninjau langsung jalannya aksi, menegaskan bahwa pemilihan Pasar Jombokan sebagai lokus utama didasarkan pada skala prioritas pelayanan publik. Menurut Eko, pemerintah daerah ingin memberikan stimulus kepada para pelaku ekonomi bahwa kebersihan adalah tanggung jawab bersama.
"Kegiatan ini bertujuan memberikan stimulus dan contoh langsung kepada masyarakat, khususnya pedagang dan pengunjung pasar, untuk senantiasa menjaga kebersihan demi kesehatan bersama," ujar Eko di sela-sela pemantauan. Ia menambahkan bahwa transformasi perilaku masyarakat tidak bisa terjadi hanya dengan imbauan, melainkan memerlukan aksi nyata yang dilakukan secara berulang.
Lebih jauh, Eko menjelaskan bahwa target jangka panjang dari gerakan ini adalah menjadikan budaya bersih sebagai identitas warga Kulon Progo. "Kami berharap lingkungan pasar yang bersih dan nyaman akan mendukung optimalisasi pelayanan publik bagi masyarakat yang beraktivitas di area tersebut. Pasar rakyat bersih, masyarakat banyak yang belanja, maka ekonomi akan bergerak," tambahnya.

Perspektif Masyarakat: Respon dan Harapan
Di sisi lain, masyarakat sebagai pihak pengguna jasa pasar memberikan respons positif. Tukiyo, salah seorang warga yang sering beraktivitas di Pasar Jombokan, mengungkapkan bahwa kehadiran pemerintah dalam kerja bakti tersebut memberikan energi baru bagi para pedagang. Menurutnya, pembersihan drainase adalah hal yang paling dinanti karena selama ini area tersebut sering menimbulkan aroma tidak sedap saat cuaca panas.
"Kami berterima kasih dengan adanya kegiatan ini. Semoga kebersihan pasar dapat terus terjaga ke depannya," kata Tukiyo. Baginya, kenyamanan pasar adalah modal utama agar pasar tradisional tetap bisa bersaing dengan pasar modern atau toko ritel modern yang menawarkan fasilitas kebersihan yang lebih terjaga.
Implikasi Ekonomi dan Kesehatan Lingkungan
Ditinjau dari kacamata ekonomi pembangunan, lingkungan fisik pasar yang terawat memiliki korelasi langsung dengan durasi kunjungan konsumen (dwell time). Semakin nyaman suasana pasar, semakin lama konsumen bertahan di lokasi, yang pada gilirannya meningkatkan peluang terjadinya transaksi.
Dari sisi kesehatan lingkungan, aksi ini juga merupakan bagian dari mitigasi risiko penyakit berbasis lingkungan. Pemkab Kulon Progo menyadari bahwa membiarkan pasar dalam kondisi kumuh adalah sebuah kerugian jangka panjang bagi anggaran kesehatan daerah. Dengan melakukan pembersihan rutin, beban pemerintah dalam penanganan penyakit menular atau infeksi yang bersumber dari sanitasi buruk dapat ditekan secara signifikan.
Keberlanjutan dan Strategi Pemkab Kulon Progo
Untuk memastikan bahwa Gerakan Kulon Progo Asri tidak hanya menjadi agenda seremonial, pemerintah telah menyusun strategi keberlanjutan. Pertama, Pemkab Kulon Progo telah menetapkan agenda kerja bakti rutin di fasilitas umum setiap hari Jumat. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga momentum kebersihan yang telah dicapai.
Kedua, untuk internal birokrasi, Pemkab menetapkan setiap hari Selasa sebagai hari pembersihan internal di tiap-tiap perangkat daerah. Dengan membiasakan ASN untuk menjaga kebersihan kantor mereka sendiri, diharapkan budaya ini akan menular ke lingkungan tempat tinggal masing-masing ASN, yang kemudian menjadi penggerak di masyarakat.
Pemerintah Kabupaten juga berencana untuk meningkatkan infrastruktur pendukung, seperti penambahan titik pembuangan sampah sementara (TPS) yang lebih terorganisir dan penyediaan alat pengolah sampah mandiri di pasar. Hal ini merupakan langkah preventif agar tumpukan sampah tidak lagi menjadi masalah yang harus ditangani melalui kerja bakti massal secara terus-menerus.
Analisis Strategis
Langkah Pemkab Kulon Progo dalam menggerakkan aparat gabungan ini adalah strategi "pemicu" yang efektif. Dalam teori manajemen perubahan, pemimpin harus turun tangan (leading by example) untuk menunjukkan komitmen serius. Keterlibatan TNI dan Polri juga memperkuat legitimasi kebijakan tersebut, menunjukkan bahwa kebersihan adalah isu keamanan dan kesejahteraan nasional yang bersifat mendasar.
Namun, keberhasilan jangka panjang dari program ini akan sangat bergantung pada partisipasi pedagang pasar itu sendiri. Pemerintah daerah perlu melakukan pendekatan persuasif yang berkesinambungan melalui edukasi mengenai manajemen limbah mandiri di tiap kios. Tanpa adanya sistem pembuangan sampah yang teratur dan kesadaran pedagang untuk memilah sampah sejak dari sumbernya, aksi bersih-bersih hanya akan menjadi solusi jangka pendek.
Secara keseluruhan, inisiatif Pemkab Kulon Progo di Pasar Jombokan adalah langkah progresif yang patut diapresiasi. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat yang terpancar dalam aksi ini menjadi modal sosial yang kuat untuk membangun daerah yang tidak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi juga memiliki kualitas lingkungan yang prima. Dengan komitmen yang konsisten, Pasar Jombokan diharapkan dapat menjadi prototipe pasar tradisional yang bersih, nyaman, dan berdaya saing tinggi di masa depan.









