Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Headline

Mbah Iran, sapi seberat satu ton milik peternak asal Bantul terpilih menjadi hewan kurban Presiden Prabowo Subianto

badge-check


					Mbah Iran, sapi seberat satu ton milik peternak asal Bantul terpilih menjadi hewan kurban Presiden Prabowo Subianto Perbesar

Sebuah kebanggaan tersendiri menyelimuti kediaman Sarjono (51), seorang peternak sapi asal Jati Wonokromo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sapi kesayangannya yang diberi nama Mbah Iran, jenis Peranakan Ongole (PO), telah resmi terpilih menjadi hewan kurban Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk perayaan Idul Adha tahun 2026. Pemilihan sapi ini tidak hanya menjadi capaian pribadi bagi Sarjono, tetapi juga mencerminkan standar tinggi pemeliharaan ternak di tingkat peternak lokal di wilayah Bantul.

Mbah Iran, sapi berbobot satu ton tersebut, kini menjadi pusat perhatian setelah melalui serangkaian proses seleksi ketat yang dilakukan oleh otoritas terkait. Bagi Sarjono, terpilihnya Mbah Iran merupakan buah dari dedikasi dan perawatan intensif yang telah ia lakukan selama dua tahun terakhir. Sapi berusia lima tahun ini dibeli oleh Sarjono saat masih berusia tiga tahun, dan sejak saat itu, ia memberikan perhatian khusus, baik dari segi nutrisi, kebersihan, maupun kesehatan hewan tersebut.

Kronologi Seleksi dan Verifikasi Kesehatan

Proses terpilihnya Mbah Iran menjadi hewan kurban kepresidenan tidak terjadi secara instan. Awal mula perjalanan ini dimulai ketika seorang dokter hewan mengajukan data ternak milik Sarjono kepada Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bantul. Setelah dilakukan peninjauan awal, profil Mbah Iran kemudian diteruskan ke otoritas di Jakarta untuk dilakukan verifikasi lebih mendalam.

Pada bulan Mei 2026, Sarjono menerima kabar gembira melalui sambungan telepon dari perwakilan utusan Jakarta yang mengonfirmasi bahwa sapi miliknya telah masuk dalam daftar hewan kurban Presiden Prabowo. Pasca-konfirmasi tersebut, mekanisme pengawasan kesehatan ditingkatkan secara signifikan. Tim dari Dinas Pertanian wilayah Pleret, Bantul, melakukan survei lapangan secara berkala untuk memastikan kondisi fisik sapi tetap prima. Dalam proses pemantauan ini, Mbah Iran rutin diberikan suplemen vitamin dan obat cacing guna menjaga daya tahan tubuhnya agar tetap optimal menjelang hari penyembelihan.

Perawatan intensif yang diterapkan oleh Sarjono pasca-terpilihnya sapi tersebut mencakup manajemen pakan yang terukur dan kebersihan kandang yang dijaga ketat. Sarjono secara rutin memandikan sapi tersebut untuk memastikan kesehatan kulit dan kenyamanan hewan selama masa tunggu. Sapi dengan harga jual mencapai Rp90 juta ini kini menjadi simbol keberhasilan peternak lokal dalam menyediakan ternak yang memenuhi kualifikasi kesehatan nasional.

Filosofi di Balik Nama Mbah Iran

Nama "Mbah Iran" yang terdengar unik bagi seekor sapi memiliki latar belakang historis yang sederhana. Sarjono menjelaskan bahwa nama tersebut merupakan warisan dari pemilik sebelumnya. Sebelum jatuh ke tangan Sarjono, sapi tersebut dipelihara oleh seorang peternak asal Kebumen, Jawa Tengah, yang akrab disapa Mbah Iran.

Sebagai bentuk penghormatan dan pengingat akan asal-usul ternak tersebut, Sarjono memutuskan untuk mempertahankan nama tersebut. Nama yang unik ini pun kini melekat dan menjadi identitas bagi sapi seberat satu ton tersebut. Fenomena pemberian nama pada ternak klangenan (hewan kesayangan) merupakan hal yang lazim di kalangan peternak di Jawa, yang menunjukkan kedekatan emosional antara pemilik dan hewan ternaknya.

Jejak Pengalaman dan Tantangan Masa Lalu

Bagi Sarjono, dunia peternakan bukanlah bidang baru. Ia telah menggeluti profesi ini sejak kecil dan kini memiliki sekitar delapan ekor sapi di kandang miliknya di kawasan Jati Wonokromo. Pengalaman Sarjono dalam memelihara sapi tidak selalu berjalan mulus tanpa kendala.

Sebelum keberhasilannya tahun ini, Sarjono pernah mencoba mengusulkan sapi miliknya untuk menjadi hewan kurban pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Namun, pada saat itu, sapi miliknya belum berhasil lolos kualifikasi karena terdapat beberapa persyaratan teknis yang belum terpenuhi. Kegagalan di masa lalu tersebut menjadi pelajaran berharga bagi Sarjono dalam meningkatkan tata kelola peternakan dan kesehatan hewan, yang akhirnya membuahkan hasil manis pada tahun 2026 ini.

Mbah Iran, sapi asal Bantul terpilih jadi hewan kurban Presiden

Standar Kualitas Hewan Kurban Presiden

Pemilihan hewan kurban oleh Presiden Republik Indonesia selalu melibatkan proses kurasi yang sangat ketat. Berdasarkan standar operasional yang berlaku, hewan kurban kepresidenan harus memenuhi kriteria kesehatan yang sangat spesifik, di antaranya:

  1. Bebas Penyakit Menular: Hewan harus dipastikan bebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), serta penyakit hewan menular strategis lainnya.
  2. Kesehatan Fisik: Hewan harus memiliki berat badan ideal yang disyaratkan (biasanya di atas 800 kilogram hingga satu ton), postur tubuh yang tegak, mata yang cerah, serta tidak memiliki cacat fisik.
  3. Usia yang Cukup: Hewan harus memenuhi syarat umur sesuai hukum Islam, yaitu telah mencapai usia yang cukup untuk disembelih.
  4. Kesejahteraan Hewan (Animal Welfare): Peternak wajib memberikan pakan yang berkualitas dan memastikan lingkungan hidup hewan memenuhi kaidah kesejahteraan hewan.

Keberhasilan Mbah Iran lolos seleksi menunjukkan bahwa peternak di Kabupaten Bantul telah mampu memenuhi standar tinggi tersebut, yang sekaligus menjadi promosi bagi kualitas peternakan sapi di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dampak dan Implikasi Ekonomi bagi Peternak Lokal

Terpilihnya sapi dari peternak lokal menjadi hewan kurban Presiden membawa dampak positif bagi ekosistem peternakan di Bantul. Secara ekonomi, transaksi senilai Rp90 juta merupakan bentuk apresiasi terhadap kerja keras peternak selama bertahun-tahun. Selain itu, peristiwa ini juga meningkatkan prestise para peternak lokal di mata publik.

Secara lebih luas, hal ini menjadi motivasi bagi peternak lainnya di wilayah tersebut untuk terus meningkatkan kualitas pemeliharaan. Dengan adanya pengawasan ketat dari DKPP Bantul, standar kesehatan ternak di wilayah ini diharapkan semakin meningkat. Hal ini selaras dengan upaya pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan asal hewani dan memastikan bahwa hewan yang dikurbankan oleh pejabat publik adalah hewan yang benar-benar sehat dan layak secara syariat maupun kesehatan medis.

Peran Pemerintah dalam Mendukung Peternak

Keberhasilan Sarjono tidak lepas dari peran aktif Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul dalam melakukan pendampingan. Pendampingan yang dilakukan bukan sekadar formalitas, melainkan tindakan nyata melalui pemberian vitamin, obat-obatan, dan konsultasi kesehatan hewan secara berkala. Sinergi antara peternak yang tekun dengan dukungan pemerintah yang responsif terbukti menjadi formula sukses dalam menghasilkan ternak unggulan.

Pemerintah Daerah Bantul secara rutin melakukan sosialisasi mengenai pentingnya biosekuriti di tingkat kandang. Langkah ini sangat krusial, terutama setelah Indonesia sempat menghadapi tantangan wabah penyakit pada ternak beberapa tahun silam. Dengan memastikan setiap sapi kurban memiliki sertifikat kesehatan yang valid, kepercayaan masyarakat terhadap kualitas hewan kurban di Bantul pun semakin terjaga.

Harapan Masa Depan bagi Sektor Peternakan Bantul

Kisah Mbah Iran dan Sarjono memberikan inspirasi bahwa ketekunan dalam memelihara ternak dapat membuka peluang besar. Bagi Sarjono, kesuksesan ini bukanlah akhir dari perjalanannya. Ia berencana untuk terus mengembangkan peternakan sapinya dengan tetap mengutamakan standar kualitas dan kesehatan yang telah terbukti berhasil.

Secara makro, pemerintah diharapkan terus memberikan insentif dan akses pendidikan bagi para peternak lokal agar mereka dapat meningkatkan skala usaha. Sektor peternakan memiliki potensi besar dalam menopang ekonomi pedesaan di Bantul, terutama jika peternak mampu memproduksi ternak berkualitas tinggi yang memenuhi standar pasar nasional maupun standar kepresidenan.

Dengan terpilihnya Mbah Iran sebagai hewan kurban Presiden Prabowo, nama peternak asal Jati Wonokromo ini kini tercatat dalam sejarah perjalanan Idul Adha di Indonesia. Peristiwa ini sekaligus menjadi bukti nyata bahwa dengan perawatan yang penuh kasih sayang dan pengawasan kesehatan yang disiplin, peternak lokal mampu menghasilkan ternak yang layak menjadi representasi kurban bagi pemimpin negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

UMY Dorong Transformasi UMKM Kuliner Melalui Pendampingan Berbasis Syariah untuk Akselerasi Ekonomi Lokal

25 Mei 2026 - 12:03 WIB

Presiden Prabowo Subianto Beli Sapi Kurban Seberat 1,05 Ton dari Peternak Bantul untuk Idul Adha 1447 Hijriah

25 Mei 2026 - 00:03 WIB

DIY Menyusun Katalog Desain Batik untuk Memperluas Jangkauan Pasar Fesyen Mancanegara

24 Mei 2026 - 18:03 WIB

DPKP DIY Pastikan Stok Hewan Kurban Aman dan Sehat dengan Dua Kabupaten Menjadi Tulang Punggung Pasokan

24 Mei 2026 - 12:03 WIB

Kemenko PMK dan InJourney TWC Perkuat Budaya Tangguh Bencana di Kawasan Cagar Budaya Berbasis Sinergi Relawan

24 Mei 2026 - 06:03 WIB

Trending di Headline