Prestasi gemilang kembali diukir oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) di panggung internasional. Aqila Nasyawari Syaikha, mahasiswa Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, berhasil membawa pulang lima penghargaan sekaligus dalam ajang Global Youth Innovation Summit (GYIS) #14 yang diselenggarakan pada 2-5 Maret 2026 di Singapura dan Malaysia. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi capaian personal bagi Aqila, tetapi juga mempertegas kualitas kompetensi mahasiswa Indonesia di tengah persaingan pemuda global yang semakin ketat dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Dalam ajang yang mempertemukan delegasi pemuda dari berbagai latar belakang akademik dan negara tersebut, Aqila dinobatkan sebagai penerima Awardee Fully Funded, 1st Place Best Delegate, 1st Place Best Speaker, 1st Place SDGs Project Presentation, serta 2nd Place Most Creative Delegate. Penghargaan tersebut diraih melalui serangkaian kompetisi intensif yang berlangsung selama empat hari, di mana para peserta diuji kemampuannya dalam berpikir kritis, berkolaborasi dalam tim, serta mengomunikasikan solusi atas tantangan global yang relevan dengan tujuan SDGs.
Kronologi dan Tahapan Seleksi yang Kompetitif
Perjalanan Aqila menuju panggung internasional ini dimulai jauh sebelum acara puncak di Singapura dan Malaysia. Informasi mengenai program GYIS #14 diaksesnya pada periode September hingga Oktober 2025. Program ini menyediakan dua skema partisipasi, yakni fully funded (pendanaan penuh) dan self-funded (pendanaan mandiri). Dengan tingkat kesulitan seleksi yang jauh lebih tinggi, Aqila secara sadar memilih skema fully funded untuk menguji kapasitas dirinya.
Proses seleksi berlangsung ketat melalui beberapa tahapan berbasis bahasa Inggris. Setelah mengirimkan kurikulum vitae (CV) dan surat motivasi (motivation letter) di tengah ratusan pendaftar, Aqila harus melalui tes kebangsaan yang mencakup wawasan mendalam mengenai Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Tahapan selanjutnya adalah Focus Group Discussion (FGD) yang menguji kemampuan berargumen, diikuti dengan sesi wawancara mendalam yang menilai kapasitas komunikasi, kepemimpinan, dan potensi kontribusi nyata bagi SDGs.
Dari seluruh rangkaian tersebut, Aqila terpilih sebagai satu-satunya peserta yang berhasil meraih skema fully funded. Sementara itu, 20 peserta lainnya terbagi ke dalam kategori partial funded dan mandiri. Keberhasilan ini membuktikan bahwa dedikasi pada persiapan yang matang merupakan faktor krusial dalam menembus program prestisius internasional.
Persiapan Intensif dan Strategi Kolaborasi
Pasca-pengumuman kelulusan seleksi, periode persiapan dilakukan mulai November 2025 hingga Februari 2026. Tahap ini tidak kalah menantang karena melibatkan proses mentoring yang intens. Peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari tiga hingga empat orang untuk menyusun proyek SDGs. Setiap tim diwajibkan menghasilkan tiga output utama yang menjadi indikator penilaian dewan juri: pitch deck, video pengenalan proyek, dan manajemen media sosial (Instagram) sebagai sarana diseminasi proyek.
Tekanan yang diberikan oleh mentor dalam fase ini sangat tinggi, menuntut standar profesionalisme dalam penyampaian ide. Aqila mengungkapkan bahwa tantangan terbesar terletak pada sinkronisasi kerja tim di bawah tekanan waktu dan ekspektasi yang tinggi. Untuk menaklukkan tantangan tersebut, Aqila menerapkan metode manajemen proyek yang sistematis. Ia memecah masalah yang kompleks menjadi komponen-komponen kecil yang lebih spesifik, lalu membaginya kepada anggota tim berdasarkan job desk yang proporsional. Pendekatan manajemen ini menunjukkan kematangan Aqila dalam menerapkan ilmu akuntansi dan manajerial yang ia pelajari di bangku perkuliahan untuk menyelesaikan persoalan riil.
Konteks Global Youth Innovation Summit dan SDGs
Global Youth Innovation Summit (GYIS) #14 bukanlah sekadar kompetisi debat atau presentasi proyek semata. Forum ini didesain sebagai platform kolaborasi pemuda untuk memberikan solusi atas permasalahan global yang tertuang dalam 17 poin SDGs. Dengan diadakannya kegiatan di Singapura dan Malaysia, penyelenggara bertujuan memberikan paparan global kepada para delegasi melalui kunjungan akademik ke institusi pendidikan terkemuka, seperti National University of Singapore (NUS) dan International Islamic University Malaysia (IIUM).
Kunjungan ini memberikan pengalaman berharga bagi para peserta untuk melihat secara langsung bagaimana akademisi internasional mempraktikkan riset dan inovasi. Bagi Aqila, mempresentasikan proyeknya di hadapan juri dari IIUM merupakan pengalaman perdana berinteraksi secara akademis dengan pakar internasional. Hal ini menjadi jembatan bagi mahasiswa untuk memahami standar riset global serta memperluas jejaring profesional dengan sesama delegasi dari berbagai universitas di seluruh Indonesia.

Implikasi dan Dampak bagi Ekosistem Akademik
Keberhasilan Aqila membawa lima penghargaan internasional memberikan implikasi positif tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi institusi pendidikan asalnya, FEB UGM. Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa kurikulum dan pembinaan mahasiswa di FEB UGM mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul dalam aspek teknis akuntansi, tetapi juga memiliki soft skills yang mumpuni, seperti kepemimpinan, komunikasi lintas budaya, dan pemecahan masalah kreatif.
Secara lebih luas, keterlibatan aktif mahasiswa dalam forum internasional seperti GYIS berkontribusi pada pencapaian indikator kinerja utama perguruan tinggi, khususnya dalam hal reputasi internasional dan partisipasi mahasiswa dalam kegiatan di luar kampus. Selain itu, proyek-proyek yang lahir dari ajang ini berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi inisiatif sosial yang berdampak nyata bagi masyarakat, sejalan dengan semangat pengabdian masyarakat yang menjadi salah satu pilar pendidikan tinggi di Indonesia.
Pandangan Terhadap Proses dan Kegigihan
Dalam sebuah wawancara, Aqila menegaskan pentingnya menghargai setiap tahapan dalam proses meraih kesuksesan. Ia menolak anggapan adanya jalan pintas untuk mencapai posisi puncak. Menurutnya, kesuksesan adalah hasil dari akumulasi kerja keras, ketekunan, dan kemauan untuk terus belajar dari kesalahan.
"Setiap orang memiliki prosesnya masing-masing. Yang terpenting adalah konsistensi untuk terus berkembang dari waktu ke waktu," ujar Aqila. Pernyataan ini mencerminkan mentalitas seorang pembelajar seumur hidup (lifelong learner) yang sangat dibutuhkan oleh generasi muda di era disrupsi.
Menyongsong Masa Depan: Pentingnya Jejaring Global
Selain aspek kompetisi, ajang GYIS #14 memberikan kesempatan emas bagi para delegasi untuk membangun jejaring atau networking. Dalam dunia kerja masa depan yang semakin saling terhubung (interconnected), kemampuan untuk berkolaborasi dengan individu dari berbagai latar belakang budaya dan disiplin ilmu adalah aset yang tak ternilai.
Aqila mencatat bahwa interaksi dengan para finalis dari berbagai universitas di Indonesia merupakan salah satu nilai tambah yang signifikan. Pertukaran ide dan perspektif antar-mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia diharapkan dapat memicu kolaborasi domestik yang lebih kuat di masa depan, yang nantinya dapat diproyeksikan ke tingkat regional maupun global.
Kesimpulan
Prestasi yang diraih oleh Aqila Nasyawari Syaikha di Global Youth Innovation Summit 2026 di Singapura dan Malaysia merupakan manifestasi dari ketangguhan dan kompetensi mahasiswa Indonesia. Dengan persiapan yang terencana, manajemen waktu yang efektif, serta kemampuan kolaborasi yang kuat, Aqila mampu membuktikan diri di kancah internasional.
Capaian ini diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa lain untuk berani mengambil tantangan di luar zona nyaman dan berpartisipasi dalam forum internasional. Bagi universitas, prestasi ini menjadi catatan penting dalam upaya berkelanjutan meningkatkan kualitas dan daya saing lulusan di pasar tenaga kerja global yang menuntut keahlian multidisiplin. Dengan dukungan yang tepat dari institusi, para mahasiswa seperti Aqila akan terus menjadi duta-duta bangsa yang membawa perubahan positif bagi Indonesia dan dunia.
Keberhasilan Aqila sekaligus menegaskan bahwa inisiatif mahasiswa dalam merespons isu-isu global melalui kerangka SDGs bukan sekadar wacana, melainkan aksi nyata yang memiliki dampak terukur. Ke depan, diharapkan lebih banyak lagi mahasiswa Indonesia yang mampu menorehkan prestasi serupa, memperkaya wawasan global, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa melalui inovasi dan kepemimpinan yang berwawasan keberlanjutan.









