Yogyakarta, 30 April 2026 – Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali menegaskan posisinya sebagai episentrum pendidikan seni dan desain di Indonesia melalui penyelenggaraan kunjungan akademik lintas perguruan tinggi. Pada hari ini, Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Yogyakarta menerima delegasi dari Program Studi DKV Universitas Trisakti dalam agenda Studi Akademis dan Workshop yang bertempat di Gedung Ajiyasa Lantai 2, kampus ISI Yogyakarta, Sewon, Bantul. Pertemuan ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, melainkan upaya strategis untuk melakukan pertukaran pengetahuan (knowledge sharing) serta memperluas jejaring profesional di kalangan mahasiswa dan tenaga pendidik kedua institusi.
Kronologi dan Latar Belakang Kunjungan Akademik
Kunjungan ini merupakan bagian integral dari rangkaian kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang dilakukan oleh Program Studi DKV Universitas Trisakti di Yogyakarta. Rombongan yang terdiri dari 106 mahasiswa dan 7 dosen pendamping ini tiba di kampus ISI Yogyakarta untuk menyelami atmosfer akademik yang berbeda dari lingkungan kampus mereka di Jakarta.
Kegiatan ini secara teknis dikoordinasikan oleh Himpunan Mahasiswa DKV ISI Yogyakarta atau yang dikenal dengan sebutan STUDIS. Sejak pagi hari, agenda telah disusun untuk mengintegrasikan aspek formal, yakni pengenalan profil fakultas, dengan aspek praktis melalui lokakarya kreatif. Perjumpaan ini menjadi ruang dialog terbuka bagi mahasiswa untuk membandingkan dinamika pembelajaran di institusi seni berbasis negeri di Yogyakarta dengan institusi swasta di pusat metropolitan Jakarta, yang masing-masing memiliki karakteristik unik dalam pengembangan kurikulum berbasis desain.
Profil Akademik dan Visi Strategis
Acara dibuka dengan pemaparan mendalam mengenai profil FSRD ISI Yogyakarta oleh Dekan FSRD, Muhamad Sholahuddin, S.Sn., M.T. Dalam presentasinya, Dekan menekankan pentingnya adaptasi kurikulum seni di tengah disrupsi teknologi digital. Beliau memaparkan visi FSRD dalam menghasilkan lulusan yang tidak hanya piawai secara teknis, tetapi juga memiliki ketajaman analisis kritis terhadap fenomena sosial-budaya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Program Studi DKV Universitas Trisakti, Bambang Tri Wardoyo, S.Sn., M.Ds., dalam sambutannya menyoroti pentingnya eksposur mahasiswa terhadap lingkungan kreatif di luar kampus. Menurutnya, desain komunikasi visual bukan sekadar industri layanan jasa, melainkan disiplin ilmu yang membutuhkan kedalaman riset dan kepekaan sosial. Pertukaran pengalaman ini dianggap sebagai langkah krusial dalam memperkuat wawasan akademik dan profesional bagi mahasiswa sebelum mereka terjun ke dunia industri yang sesungguhnya.
Workshop Ujaran Keberanian: Mengolah Gagasan Menjadi Artefak
Puncak dari kegiatan studi akademis ini adalah workshop kreatif yang bertajuk “Ujaran Keberanian”. Workshop ini dirancang bukan sebagai kelas teknis desain grafis yang kaku, melainkan sebagai ruang eksperimentasi untuk mengeksplorasi gagasan personal dan keresahan mahasiswa.
Dalam workshop ini, peserta diajak untuk memanfaatkan media sederhana seperti koran dan majalah bekas. Menggunakan teknik kolase tradisional, mahasiswa dituntut untuk menyusun teks dan elemen visual secara organik untuk mengekspresikan ide-ide yang selama ini mungkin terpendam. Pendekatan ini merupakan antitesis terhadap ketergantungan penuh pada perangkat lunak digital, dengan menekankan bahwa esensi desain terletak pada kekuatan pesan dan keberanian dalam mengolah konsep.
Hasil dari proses kreatif tersebut kemudian diimplementasikan ke dalam produk fisik, yakni pin bulat dengan insert akrilik berdiameter 4,5 cm dan sampul kaset. Penggunaan media fisik ini berfungsi sebagai artefak yang merekam jejak pengalaman kreatif para peserta. Melalui proses ini, mahasiswa mendapatkan pelajaran berharga bahwa desain adalah proses membaca diri sendiri dan menerjemahkan pesan kompleks ke dalam bahasa visual yang komunikatif.
Simbol Kebersamaan: Souvenir Angin Sewon
Sebagai bentuk apresiasi atas kedatangan delegasi Universitas Trisakti, STUDIS menyiapkan souvenir khas yang diberi nama “Angin Sewon”. Souvenir ini dikemas secara unik dalam wadah kerupuk tradisional, yang mencerminkan kedekatan budaya lokal Yogyakarta. Wadah tersebut dihiasi dengan gambar stensil yang menggabungkan elemen maskot dari kedua institusi, sebagai simbol penyatuan identitas dalam kolaborasi kreatif.

Prosesi penyerahan souvenir dilakukan secara simbolis oleh Ketua STUDIS ISI Yogyakarta, Barunata, kepada Ketua BEM FSRD Universitas Trisakti, I Made Deva Widhi Ardhanai. Momen ini menandai komitmen kedua organisasi mahasiswa untuk tetap menjaga komunikasi dan membuka peluang kerja sama di masa depan.
Analisis Implikasi dan Dampak Pendidikan
Kegiatan kunjungan akademik ini memberikan implikasi luas bagi ekosistem pendidikan seni di Indonesia. Pertama, dari sisi pendidikan, kolaborasi ini menunjukkan pentingnya keterbukaan antar-perguruan tinggi dalam berbagi praktik terbaik (best practices) kurikulum. Kedua, dari sisi mahasiswa, kegiatan ini berfungsi sebagai wadah untuk melatih soft skills, terutama dalam hal komunikasi, kolaborasi lintas budaya, dan jejaring profesional.
Dalam konteks industri kreatif saat ini, kemampuan berkolaborasi adalah salah satu kompetensi yang paling dicari. Dengan terlibat dalam kegiatan bersama, mahasiswa belajar bagaimana menyelaraskan perbedaan visi dan gaya kerja dalam tim yang heterogen. Hal ini menjadi modal utama bagi mereka saat menghadapi realita di dunia kerja yang menuntut fleksibilitas dan adaptabilitas tinggi.
Selain itu, bagi ISI Yogyakarta, kegiatan ini mengukuhkan peran kampus sebagai ruang dialog kreatif yang aktif. Sebagai institusi seni terkemuka, ISI Yogyakarta tidak hanya menjadi tempat untuk menimba ilmu secara tekstual, tetapi juga menjadi simpul pertumbuhan bagi generasi kreatif yang mampu merespons perkembangan zaman melalui gagasan yang segar dan berani.
Keberlanjutan Kolaborasi Masa Depan
Pertemuan di Gedung Ajiyasa ini diharapkan bukan menjadi akhir dari interaksi, melainkan babak awal dari kemitraan strategis yang lebih luas. Terdapat potensi besar untuk mengembangkan bentuk kerja sama lain di masa depan, seperti pertukaran mahasiswa dalam kerangka Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), riset kolaboratif antar-dosen, hingga pameran bersama yang melibatkan karya-karya terbaik dari mahasiswa kedua kampus.
Integrasi antara pengalaman akademik di ISI Yogyakarta dan Universitas Trisakti diharapkan mampu melahirkan ekosistem yang lebih inklusif. Di tengah tantangan globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mengubah lanskap desain, kolaborasi seperti ini menjadi pengingat bahwa elemen kemanusiaan—seperti empati, keresahan, dan keberanian untuk menyampaikan kebenaran melalui desain—tetap menjadi inti dari disiplin ilmu desain komunikasi visual.
Kegiatan ini ditutup dengan sesi dokumentasi bersama, yang mengabadikan semangat kolaborasi di antara ratusan mahasiswa yang hadir. Dengan berakhirnya kegiatan ini, para peserta dari Universitas Trisakti membawa pulang tidak hanya artefak hasil karya workshop, tetapi juga wawasan baru mengenai bagaimana seni dan desain dapat menjadi alat untuk menghubungkan individu, institusi, dan masyarakat dalam satu kesatuan visi kreatif.
Data Pendukung dan Catatan Penyelenggaraan
Kegiatan yang berlangsung di Yogyakarta, 30 April 2026, ini secara garis besar mencakup:
- Delegasi: 106 Mahasiswa dan 7 Dosen dari Universitas Trisakti.
- Penyelenggara: Program Studi DKV FSRD ISI Yogyakarta bersama Himpunan Mahasiswa DKV (STUDIS).
- Lokasi: Gedung Ajiyasa Lt. 2, Kampus ISI Yogyakarta.
- Fokus Workshop: Teknik kolase konvensional dan aplikasi artefak personal pada media pin dan sampul kaset.
- Tujuan Strategis: Penguatan jejaring akademik, pertukaran metodologi kreatif, dan simulasi kolaborasi profesional.
Keberhasilan acara ini menjadi bukti bahwa kegiatan akademik di luar ruang kelas formal memiliki peran vital dalam membentuk karakter dan kompetensi mahasiswa. Diharapkan, model kunjungan yang partisipatif dan kreatif seperti ini dapat diadopsi oleh lebih banyak program studi di seluruh Indonesia untuk memperkaya khazanah pendidikan tinggi seni nasional.









