JAKARTA – Fenomena konsumsi konten hiburan digital di Indonesia menunjukkan pergeseran signifikan menuju tayangan yang bersifat kolektif dan ramah keluarga. Dalam sebuah acara temu media yang diselenggarakan di Jakarta pada Sabtu, 11 Juli 2026, Director of Global Affairs Southeast Asia Netflix, Ruben Hattari, mengungkapkan data internal perusahaan yang menunjukkan bahwa konten kategori keluarga secara konsisten mendominasi preferensi penonton, baik di tingkat global maupun domestik. Tren ini memberikan gambaran strategis mengenai bagaimana platform Over-The-Top (OTT) beradaptasi dengan budaya lokal sembari tetap mempertahankan standar keamanan digital yang ketat sesuai dengan regulasi pemerintah yang berlaku.
Ruben Hattari memaparkan bahwa selama empat tahun terakhir, film keluarga hampir tidak pernah absen dari daftar Global Top 10 Netflix setiap minggunya. Daftar tersebut merupakan indikator performa mingguan yang melacak jumlah jam tayang dari judul-judul paling populer di seluruh dunia. Kehadiran film keluarga yang konsisten di jajaran elit ini menandakan bahwa permintaan terhadap konten yang dapat dinikmati oleh berbagai lintas generasi tetap menjadi pilar utama dalam industri streaming global.
Analisis Tren Global Top 10 dan Relevansi Konten Keluarga
Pencapaian film keluarga dalam daftar Global Top 10 bukan sekadar angka statistik, melainkan refleksi dari perubahan perilaku konsumen pascapandemi. Menurut Ruben, tren ini memberikan sinyal kuat bagi platform untuk terus memperluas kemitraan dengan kreator film lokal. "Di Netflix itu ada yang kami sebut Global Top 10, selama empat tahun terakhir, pasti ada film keluarga yang muncul setiap minggunya di Global Top 10 itu," ujar Ruben di hadapan awak media.
Data ini menunjukkan bahwa genre keluarga memiliki daya tahan (longevity) yang lebih lama dibandingkan genre lainnya. Berbeda dengan film aksi atau thriller yang mungkin melonjak tajam saat rilis namun menurun drastis setelah beberapa minggu, film keluarga cenderung ditonton berulang kali (rewatchability) dan memiliki daya tarik yang stabil bagi pelanggan baru. Hal ini menciptakan peluang besar bagi sineas Indonesia untuk memproduksi cerita-cerita yang mengangkat nilai-nilai universal namun berakar pada kearifan lokal, guna mengisi kekosongan pasar tersebut.
Karakteristik Unik Penonton Indonesia: Budaya Menonton Bersama
Salah satu poin paling menarik yang disampaikan dalam pertemuan tersebut adalah tingginya minat masyarakat Indonesia terhadap karya anak bangsa. Berdasarkan data internal Netflix, sekitar 90 persen pelanggan di Indonesia tercatat pernah menonton film atau serial lokal. Angka partisipasi yang hampir menyeluruh ini menegaskan bahwa konten lokal bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan menu utama bagi pengguna layanan streaming di tanah air.
Lebih lanjut, Ruben menyoroti aspek sosiologis dari perilaku menonton di Indonesia. Berbeda dengan pasar Barat yang cenderung lebih individualistik dalam mengonsumsi konten melalui perangkat pribadi, masyarakat Indonesia masih memegang teguh tradisi kebersamaan. "Ini mungkin yang unik dari budaya Indonesia, mungkin ini adalah irisan dari budaya gotong royong, kita sering menontonnya bersama," kata Ruben. Fenomena "co-viewing" atau menonton bersama ini biasanya terjadi di ruang keluarga, di mana satu akun dinikmati oleh orang tua dan anak secara bersamaan.
Kecenderungan ini membuat pemilihan konten menjadi lebih selektif. Keluarga Indonesia cenderung mencari tayangan yang aman bagi anak-anak namun tetap menghibur bagi orang dewasa. Faktor inilah yang mendorong Netflix untuk terus memperkuat katalog "Kids and Family" mereka dengan konten-konten yang relevan secara budaya namun tetap memenuhi standar kualitas internasional.
Pertumbuhan Konten Anak dan Data Performa 2025
Menilik ke belakang pada performa tahun 2025, Ruben mengungkapkan bahwa konten anak-anak memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap total jam tayang platform. Tercatat, sekitar 22 persen dari seluruh total tontonan di Netflix sepanjang tahun 2025 berasal dari kategori anak-anak. Angka satu per lima dari total konsumsi global ini menunjukkan betapa krusialnya segmen audiens muda bagi keberlanjutan bisnis layanan streaming.
Konten kategori "Kids and Family" di Netflix saat ini mencakup spektrum yang luas, mulai dari animasi edukatif, serial petualangan, hingga film fitur yang mengangkat tema-tema emosional. Pertumbuhan ini juga didorong oleh investasi besar-besaran Netflix dalam teknologi animasi dan akuisisi hak siar properti intelektual (IP) yang sudah dikenal luas oleh anak-anak. Namun, pertumbuhan kuantitas konten ini juga diikuti dengan tanggung jawab besar dalam hal kurasi dan pengawasan.
Implementasi PP Tunas: Menuju Ruang Digital yang Aman
Di tengah pesatnya pertumbuhan konsumsi konten digital oleh anak-anak, isu keamanan menjadi perhatian utama pemerintah Indonesia. Ruben Hattari dalam kesempatan tersebut memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah pemerintah yang telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, atau yang lebih dikenal sebagai PP Tunas.

PP Tunas merupakan tonggak sejarah dalam regulasi digital di Indonesia. Peraturan ini mewajibkan penyelenggara sistem elektronik (PSE) untuk menyediakan fitur perlindungan anak yang mumpuni, melakukan klasifikasi usia yang jelas pada setiap konten, serta memastikan data pribadi anak terlindungi dengan ketat.
Ruben menegaskan bahwa kepatuhan terhadap PP Tunas bukan sekadar kewajiban hukum, melainkan tanggung jawab moral bagi platform. "Ini sesuatu yang saya rasa bukan tugas sepihak dari pemerintah, tapi tugasnya layanan seperti kami, Netflix, tugasnya kreator, karena kita sering bekerja sama dengan kreator, dan tentu keluarga," tegasnya. Sinergi antara regulator, penyedia platform, dan orang tua dianggap sebagai kunci utama dalam menciptakan ekosistem digital yang sehat.
Fitur Kontrol Orang Tua dan Personalisasi Keamanan
Sebagai bentuk nyata dari dukungan terhadap ruang digital yang aman, Netflix telah mengintegrasikan berbagai fitur kontrol orang tua (Parental Controls) yang canggih dalam antarmuka penggunanya. Fitur-fitur ini dirancang untuk memberikan kendali penuh kepada orang tua atas apa yang dapat diakses oleh anak-anak mereka di dalam platform.
Beberapa fitur utama yang ditekankan meliputi:
- PIN Profil: Orang tua dapat mengunci profil dewasa dengan PIN empat digit untuk mencegah anak-anak mengakses konten yang tidak sesuai dengan usia mereka.
- Filter Klasifikasi Usia: Sistem secara otomatis akan menyaring judul film dan serial berdasarkan rating umur yang telah ditetapkan oleh orang tua untuk profil anak.
- Penghapusan Judul Spesifik: Orang tua memiliki kemampuan untuk memblokir judul film atau serial tertentu agar tidak muncul sama sekali dalam daftar tontonan anak.
- Pemantauan Riwayat Tontonan: Fitur ini memungkinkan orang tua untuk melihat apa saja yang telah ditonton oleh anak-anak mereka secara berkala.
Personalisasi ini dianggap sangat penting karena setiap keluarga memiliki standar dan nilai yang berbeda-beda dalam memberikan izin tontonan bagi anak. Dengan adanya fitur-fitur ini, Netflix berupaya memastikan bahwa pengalaman menonton keluarga tetap menyenangkan tanpa harus mengorbankan faktor keamanan.
Implikasi bagi Industri Kreatif Lokal
Pernyataan Ruben Hattari mengenai peluang kerja sama dengan kreator lokal membawa angin segar bagi industri film Indonesia. Dengan data yang menunjukkan bahwa 90 persen pelanggan menyukai konten lokal dan genre keluarga selalu masuk dalam Top 10 global, sineas Indonesia kini memiliki jalur yang lebih jelas untuk menembus pasar internasional.
Selama beberapa tahun terakhir, film-film Indonesia yang mengusung tema keluarga atau drama komedi telah membuktikan mampu bersaing di panggung global melalui platform streaming. Ke depannya, fokus pada produksi konten keluarga yang berkualitas tinggi diharapkan dapat meningkatkan nilai ekspor budaya Indonesia melalui media digital.
Selain itu, adanya PP Tunas juga menuntut kreator film untuk lebih cermat dalam menentukan target audiens dan melakukan klasifikasi konten sejak tahap produksi. Hal ini mendorong profesionalisme yang lebih tinggi dalam industri kreatif, di mana kesesuaian konten dengan umur penonton menjadi standar operasional yang tidak bisa ditawar.
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Meskipun tren menunjukkan pertumbuhan positif, tantangan dalam mengelola platform hiburan digital di Indonesia tetap ada. Literasi digital orang tua menjadi salah satu faktor penentu efektivitas fitur keamanan yang telah disediakan. Tanpa pemahaman yang cukup dari sisi pengguna, fitur kontrol orang tua yang secanggih apa pun tidak akan berfungsi maksimal.
Oleh karena itu, Netflix menyatakan komitmennya untuk terus melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai cara penggunaan fitur keamanan digital secara optimal. Langkah ini sejalan dengan semangat PP Tunas yang menekankan pada kolaborasi lintas sektor.
Secara keseluruhan, paparan Ruben Hattari memberikan gambaran optimis mengenai masa depan konten keluarga di Indonesia. Dengan perpaduan antara data global yang kuat, pemahaman mendalam terhadap budaya lokal, serta kepatuhan yang ketat terhadap regulasi perlindungan anak, industri streaming diharapkan dapat terus tumbuh sebagai sarana hiburan yang edukatif dan aman bagi seluruh anggota keluarga.
Pertemuan media ini diakhiri dengan penegasan bahwa Netflix akan terus berinvestasi dalam ekosistem kreatif Indonesia, tidak hanya dalam bentuk produksi konten, tetapi juga dalam penguatan infrastruktur keamanan digital yang sejalan dengan visi pemerintah untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 melalui generasi muda yang cerdas digital.









