Kabar duka menyelimuti insan pers tanah air. Diapari Sibatangkayu Harahap, tokoh senior pers sekaligus anggota Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, dikabarkan meninggal dunia pada Sabtu, 4 Juli 2026. Kepergian sosok yang dikenal teguh dalam memegang prinsip etika jurnalistik ini meninggalkan duka mendalam bagi rekan-rekan sejawat, organisasi profesi, hingga komunitas seni yang selama ini digelutinya.
Konfirmasi mengenai wafatnya Diapari disampaikan oleh mantan Pemimpin Umum Perum LKBN ANTARA, Asro Kamal Rokan, yang juga menjabat sebagai anggota Dewan Penasihat PWI. Menurut keterangan resmi, almarhum mengembuskan napas terakhir pada pukul 10.40 WIB saat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Polri, Jakarta.
Rekam Jejak dan Pengabdian di Dunia Jurnalistik
Diapari Sibatangkayu Harahap bukanlah nama asing dalam ekosistem media di Indonesia. Selama puluhan tahun, ia mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan marwah pers nasional. Sebagai anggota Dewan Kehormatan PWI Pusat, peran almarhum sangat krusial dalam menjaga arah organisasi agar tetap berjalan di atas koridor etika yang benar.
Asro Kamal Rokan mengenang Diapari sebagai sosok yang memiliki kontras kepribadian yang unik namun mengagumkan. Di satu sisi, ia dikenal sebagai pribadi yang sangat santun dan berhati lembut dalam berinteraksi sosial. Namun, di sisi lain, ia berubah menjadi sosok yang sangat tegas dan tanpa kompromi ketika berhadapan dengan pelanggaran etika jurnalistik.
"Bagi beliau, etika jurnalistik adalah garis batas absolut. Ia tidak memberikan ruang toleransi sedikit pun bagi siapapun yang melanggar kode etik profesi. Ketegasan inilah yang membuatnya sangat dihormati di kalangan wartawan senior maupun junior," ujar Asro dalam kesaksiannya.
Pengabdian Diapari tidak hanya terbatas pada tataran administratif organisasi. Ia terlibat aktif dalam berbagai kegiatan edukasi wartawan, memberikan bimbingan kepada generasi muda mengenai pentingnya akurasi, keberimbangan, dan tanggung jawab sosial media. Kontribusinya dalam memperkuat literasi pers di tingkat daerah, khususnya di wilayah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel), menjadi salah satu warisan yang akan terus dikenang.
Sisi Seniman dan Kreativitas Almarhum
Di luar hiruk-pikuk ruang redaksi dan rapat organisasi, Diapari Sibatangkayu Harahap adalah seorang seniman yang produktif. Bakat kreatifnya tersalurkan melalui musik, sebuah medium yang digunakannya untuk melestarikan budaya dan nilai-nilai kearifan lokal.
Salah satu karya monumentalnya yang dikenal luas di lingkup organisasi olahraga nasional adalah Mars Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) yang berjudul "Jayalah Pertina". Lagu tersebut menjadi simbol semangat bagi para atlet tinju nasional dan sering dikumandangkan dalam berbagai ajang kompetisi.
Selain itu, bersama grup Trio Harahap, Diapari aktif menggubah lagu-lagu berbahasa Mandailing. Karya-karya seperti Rap Ra Ra Ro, Sidimpuan Nauli, dan Boru Ni Namora menjadi bukti nyata kecintaannya pada tanah kelahiran. Lagu-lagu tersebut kini menjadi dokumentasi berharga yang dapat dinikmati masyarakat melalui platform digital YouTube, sebagai pengingat akan dedikasi beliau dalam menjaga warisan budaya daerah.
Kronologi dan Latar Belakang Peristiwa
Kepergian Diapari Sibatangkayu Harahap terjadi di tengah kesibukannya yang masih tinggi di usia senja. Hingga beberapa bulan sebelum meninggal, almarhum masih tampak aktif menghadiri kegiatan-kegiatan penting pers nasional. Salah satu momen terakhir yang terekam dalam dokumentasi publik adalah kehadirannya pada puncak acara Hari Pers Nasional (HPN) 2024 di Econvention Hall, Ecopark, Ancol, Jakarta, pada 20 Februari 2024.
Dalam foto dokumentasi tersebut, ia terlihat berinteraksi hangat dengan jajaran pengurus PWI serta tokoh daerah, menunjukkan komitmennya untuk tetap menyambung silaturahmi antarinsan pers. Tidak ada tanda-tanda penurunan kesehatan yang signifikan saat itu, sehingga kabar wafatnya pada Sabtu lalu menjadi berita yang mengejutkan bagi banyak pihak.

Proses perawatan di RS Polri yang dijalani almarhum menunjukkan upaya medis maksimal yang telah dilakukan sebelum akhirnya beliau berpulang. Pihak keluarga, kerabat, dan rekan-rekan di PWI saat ini tengah melakukan koordinasi untuk proses pemakaman dan penghormatan terakhir.
Implikasi Terhadap Organisasi PWI
Kehilangan sosok seperti Diapari Sibatangkayu Harahap membawa implikasi besar bagi Dewan Kehormatan PWI. Sebagai lembaga yang bertugas menegakkan kehormatan profesi dan mengawasi pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik (KEJ), peran anggota Dewan Kehormatan menuntut integritas tinggi.
Pengamat media menilai bahwa sosok dengan profil seperti almarhum—yang mampu menyeimbangkan ketegasan etis dengan pendekatan kemanusiaan—semakin langka di era disrupsi informasi saat ini. Tantangan pers di masa depan yang semakin kompleks, terutama dengan maraknya disinformasi dan hoaks, membutuhkan figur-figur senior yang mampu menjadi kompas moral bagi para wartawan muda.
Dewan Kehormatan PWI kini dihadapkan pada tantangan untuk terus menjalankan mandat organisasi di tengah duka. Kekosongan kursi yang ditinggalkan oleh Diapari diharapkan dapat diisi oleh kader yang memiliki integritas serupa, yang mampu menjaga marwah profesi wartawan di tengah arus komersialisasi media yang semakin kuat.
Reaksi dari Berbagai Kalangan
Berita duka ini segera menyebar luas di grup-grup komunikasi wartawan di seluruh Indonesia. Ucapan belasungkawa mengalir dari berbagai pengurus PWI daerah, tokoh pers nasional, hingga rekan-rekan seniman di Sumatera Utara.
Bupati Tapanuli Selatan, Dolly Pasaribu, yang sempat berfoto bersama almarhum pada HPN 2024, menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam. Bagi masyarakat Tapanuli Selatan, Diapari bukan sekadar wartawan, melainkan sosok yang berhasil mengangkat nama daerah melalui karya-karya lagu yang dipopulerkannya.
"Beliau adalah putra daerah yang membanggakan. Lewat tulisannya beliau menjaga kebenaran, lewat lagunya beliau menjaga budaya," ujar salah satu perwakilan masyarakat Tabagsel yang mengenal dekat almarhum.
Meneladani Integritas di Era Digital
Di tengah membanjirnya informasi di era digital, nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Diapari Sibatangkayu Harahap justru menjadi sangat relevan. Keteguhan dalam menjaga etika jurnalistik adalah benteng utama bagi kredibilitas pers. Jika seorang wartawan kehilangan kompas etisnya, maka kepercayaan publik terhadap media akan runtuh.
Pesan yang ditinggalkan oleh almarhum melalui integritasnya adalah pengingat bagi seluruh praktisi media di Indonesia: bahwa sebuah berita tidak hanya tentang kecepatan (speed), tetapi tentang kebenaran (truth) dan pertanggungjawaban (accountability).
Diapari telah menuntaskan tugasnya sebagai penjaga etika dan pengabdi seni. Meskipun raga telah tiada, prinsip-prinsip yang ia tanamkan dalam Dewan Kehormatan PWI akan terus hidup. Baginya, menjadi wartawan bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa untuk mengabdi pada kebenaran.
Sebagai penutup, perjalanan hidup Diapari Sibatangkayu Harahap adalah cermin dari wartawan ideal Indonesia. Dari ruang redaksi hingga panggung seni, beliau membuktikan bahwa integritas dan kreativitas dapat berjalan beriringan. Semoga dedikasi beliau menjadi inspirasi bagi generasi penerus pers nasional untuk tetap teguh, santun dalam tutur, namun berani dalam membela kebenaran. Selamat jalan, Diapari Sibatangkayu Harahap. Warisan karya dan prinsipmu akan tetap terjaga di hati insan pers tanah air.
Pewarta: Rio Feisal
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
Copyright © ANTARA 2026









