Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Pendidikan

Triharyo Soesilo: Dedikasi Teknokrat Indonesia dalam Menjaga Kedaulatan Industri dan Menjawab Tantangan Perubahan Iklim

badge-check


					Triharyo Soesilo: Dedikasi Teknokrat Indonesia dalam Menjaga Kedaulatan Industri dan Menjawab Tantangan Perubahan Iklim Perbesar

Institut Teknologi Bandung (ITB) secara resmi menganugerahkan penghargaan Ganesa Widya Jasa Adiutama kepada Triharyo Soesilo, sosok teknokrat yang dikenal luas dengan panggilan Hengki. Penghargaan bergengsi ini merupakan bentuk pengakuan atas kontribusi luar biasa Hengki dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan humaniora yang secara nyata telah membawa dampak positif bagi kemajuan industri nasional Indonesia. Penganugerahan ini bukan sekadar seremoni akademik, melainkan apresiasi terhadap rekam jejak panjang seorang putra bangsa yang mendedikasikan kariernya untuk memandirikan sektor industri strategis tanah air.

Latar Belakang Akademik dan Inovasi Awal

Perjalanan profesional Hengki berakar kuat pada fondasi pendidikan teknik yang solid. Setelah menyelesaikan studi sarjananya di ITB, ia melanjutkan pendidikan pascasarjana di University of Arizona, Amerika Serikat. Dalam tesis S-2 miliknya yang berjudul Computer Software for Plant Design on Micro Computer, Hengki telah menunjukkan visi untuk menghadirkan efisiensi melalui teknologi informasi.

Pada era 1980-an, ketika industri perancangan pabrik masih sangat bergantung pada penggunaan komputer mainframe yang berbiaya operasional sangat tinggi, Hengki membawa terobosan baru. Saat bergabung dengan PT Rekayasa Industri (Rekind), ia mengimplementasikan ilmu yang didapatnya untuk memigrasikan desain pabrik ke platform komputer mikro. Inovasi ini secara drastis menekan biaya desain sekaligus meningkatkan fleksibilitas kerja para insinyur Indonesia. Langkah ini menjadi tonggak sejarah yang membuktikan bahwa ketergantungan pada teknologi asing dapat dipangkas melalui penguasaan perangkat lunak oleh tenaga ahli lokal.

Transformasi Kontraktor Nasional dan Kemandirian Industri

Karier Hengki beririsan langsung dengan upaya Indonesia untuk meraih kedaulatan di sektor industri strategis. Bersama dengan kolega sesama insinyur Indonesia, Hengki berperan sentral dalam pembangunan berbagai pabrik pupuk berskala besar di Indonesia, Malaysia, hingga Brunei Darussalam. Pada dekade 1980-an dan 1990-an, proyek-proyek industri besar di Asia Tenggara umumnya dikuasai oleh kontraktor internasional dari Jepang, Eropa, atau Amerika Serikat.

Keberhasilan Hengki dan timnya dalam menyelesaikan proyek-proyek tersebut menjadi bukti empiris bahwa insinyur Indonesia memiliki kompetensi yang setara. Hal ini menjadi katalisator bagi tumbuhnya kepercayaan diri kontraktor nasional. Memasuki era 2000-an, kepercayaan ini membuahkan hasil nyata berupa penugasan kepada perusahaan nasional untuk mengerjakan proyek-proyek kompleks seperti pembangunan kilang minyak. Proyek Kilang Langit Biru di Balongan yang sering disebut sebagai Kilang Merah Putih, serta Recycle Offgas to Propylene Project (ROPP), adalah manifestasi dari keberhasilan transisi tersebut. Tidak hanya di sektor kilang, jejak Hengki juga terpatri dalam pembangunan infrastruktur strategis nasional lainnya, termasuk jaringan pipa gas bawah laut yang menghubungkan Sumatera dan Jawa, serta pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) yang selama ini menjadi domain perusahaan multinasional.

Tantangan Manajerial di Tengah Krisis Operasional

Puncak karier Hengki di sektor publik ditandai dengan penunjukannya sebagai Komisaris Utama PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) pada Juni 2020. Penunjukan ini dilakukan oleh Menteri BUMN dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan mandat utama untuk mengakselerasi penyelesaian proyek-proyek strategis nasional, khususnya Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balongan dan Balikpapan.

Namun, Hengki menghadapi realitas lapangan yang sangat menantang. Baru saja menjabat, ia mendapati bahwa kilang-kilang di bawah pengelolaan Pertamina mengalami serangkaian insiden kebakaran yang terjadi dengan frekuensi yang mengkhawatirkan, yakni hampir setiap tiga bulan. Situasi ini bukan hanya mengancam keamanan energi nasional, tetapi juga membahayakan keselamatan pekerja dan aset negara.

Hengki menerapkan pendekatan manajemen yang sistematis dan berbasis pada data untuk memitigasi akar permasalahan. Ia menekankan pentingnya kesabaran dan ketepatan dalam membedah setiap insiden. Upaya tersebut dilakukan secara paralel dengan percepatan proyek strategis kilang. Keberhasilan dalam menstabilkan operasional kilang di tengah tekanan krisis insiden menjadi salah satu pelajaran penting yang ia tuangkan dalam bukunya, Ilmu Menerobos Sumbatan. Buku ini kini menjadi referensi bagi para praktisi industri mengenai strategi pemecahan masalah kompleks di sektor manufaktur dan energi.

Peralihan Fokus ke Isu Krisis Iklim dan Karbon

Setelah menuntaskan dedikasi operasionalnya di industri minyak dan gas, Hengki kini mengalihkan fokusnya pada isu yang lebih eksistensial, yaitu perubahan iklim. Setelah mengikuti program studi mengenai pasar karbon di Yale University, Hengki mengaku merasa terpanggil untuk berkontribusi lebih dalam pada mitigasi emisi gas rumah kaca.

Berdasarkan kajian ilmiah global, dunia kini berada dalam periode kritis. Prediksi yang menyebutkan bahwa umat manusia hanya memiliki waktu sekitar 21 tahun untuk mengendalikan pemanasan global menjadi alarm bagi Hengki. Ia menyoroti bahwa dampak perubahan iklim bukan sekadar kenaikan suhu, melainkan ancaman nyata berupa cuaca ekstrem, kekeringan berkepanjangan, hingga potensi krisis pangan yang dapat mengganggu stabilitas nasional.

Inovasi Hijau sebagai Solusi Masa Depan

Sebagai respons terhadap tantangan perubahan iklim, Hengki kini aktif mengembangkan berbagai solusi berbasis teknologi rendah karbon. Beberapa inisiatif yang ia dorong meliputi:

  1. Teknologi Carbon Capture and Storage (CCS): Implementasi teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon untuk mendukung produksi amonia biru (blue ammonia) yang lebih ramah lingkungan.
  2. Pengolahan Biomassa: Mengonversi limbah biomassa menjadi biochar sebagai penyubur tanah dan gas untuk kebutuhan pembangkit listrik.
  3. Pertanian Berkelanjutan: Penerapan metode Alternate Wetting and Drying pada lahan persawahan guna menekan emisi metana.
  4. Pemanfaatan Gas TPA: Mengoptimalkan gas metana dari tempat pembuangan akhir sampah menjadi energi yang dapat dimanfaatkan.
  5. Efisiensi Energi: Implementasi audit dan efisiensi energi pada bangunan gedung untuk menekan konsumsi listrik.

Analisis Implikasi bagi Industri Indonesia

Langkah yang diambil Hengki merefleksikan pergeseran paradigma insinyur Indonesia. Dari yang semula fokus pada pembangunan infrastruktur fisik untuk mengejar pertumbuhan ekonomi, kini bergeser pada pembangunan yang berkelanjutan dengan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance).

Secara ekonomi, keterlibatan aktif dalam proyek karbon tidak hanya akan membantu Indonesia memenuhi komitmen Nationally Determined Contributions (NDC) dalam Perjanjian Paris, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru di pasar karbon internasional. Namun, tantangan utama yang dihadapi tetap pada aspek regulasi dan skala ekonomi dari teknologi-teknologi tersebut. Pengalaman Hengki dalam mengelola proyek berskala besar di masa lalu diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara inovasi di laboratorium dengan implementasi skala industri yang nyata.

Penganugerahan Ganesa Widya Jasa Adiutama kepada Triharyo Soesilo merupakan pengakuan atas dedikasi yang tidak pernah berhenti. Dari teknokrat yang membangun pabrik di era 80-an hingga menjadi pegiat transisi energi di era 2020-an, Hengki terus menunjukkan bahwa peran insinyur Indonesia sangat krusial dalam menjaga kedaulatan bangsa sekaligus menjawab tantangan global. Kisah perjalanannya menjadi bukti bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh modal, melainkan oleh ketajaman intelektual dan keberanian para teknokratnya untuk melakukan terobosan di saat-saat paling sulit. Dengan fokus baru pada keberlanjutan, Hengki terus membuktikan bahwa pengabdian seorang insinyur tidak memiliki batas waktu selama ia masih memiliki visi untuk masa depan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pakar nilai tim khusus berantas judi online sebagai kunci jembatan koordinasi lintas sektoral

5 Juli 2026 - 00:13 WIB

MPR soroti akurasi anggaran pendidikan di tengah polemik data 60 ribu calon mahasiswa yang batal daftar ulang

4 Juli 2026 - 18:13 WIB

Haedar Nashir Tegaskan Pendidikan Harus Bebas dari Praktik Kekuasaan dan Komersialisasi demi Masa Depan Bangsa

4 Juli 2026 - 12:13 WIB

Menkomdigi Meutya Hafid Tegaskan PP Tunas Sebagai Instrumen Pendukung Bukan Pengganti Peran Orang Tua dan Guru dalam Ekosistem Digital

4 Juli 2026 - 06:13 WIB

Mendikdasmen tambah 800.000 papan interaktif digital di sekolah untuk akselerasi transformasi pendidikan nasional

4 Juli 2026 - 00:13 WIB

Trending di Pendidikan