Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Berita Ekonomi Kreatif & UMKM Yogya

Sinergi Strategis MES dan Kadin DIY Dorong Akselerasi Ekonomi Halal Melalui Jogja Halal Festival 3

badge-check


					Sinergi Strategis MES dan Kadin DIY Dorong Akselerasi Ekonomi Halal Melalui Jogja Halal Festival 3 Perbesar

Perhelatan Jogja Halal Festival (JHF) kini memasuki babak baru yang lebih komprehensif. Sebagai upaya memperkuat ekosistem ekonomi syariah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DIY resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY. Pertemuan yang berlangsung di Poenokawan Resto & Gallery, Yogyakarta, pada Selasa (30/6/2026), menjadi tonggak sejarah baru dalam menyongsong penyelenggaraan JHF 3 yang diproyeksikan akan memberikan dampak signifikan bagi pertumbuhan UMKM, industri halal, hingga sektor wisata ramah muslim di wilayah tersebut.

Kolaborasi ini bukan sekadar seremonial, melainkan langkah taktis untuk menyatukan kekuatan antara organisasi yang fokus pada pengembangan ekonomi syariah dengan organisasi yang menjadi motor penggerak sektor bisnis nasional. Dalam pertemuan tersebut, hadir sejumlah tokoh penting dari kedua lembaga yang secara kolektif menyepakati komitmen untuk menjadikan JHF 3 sebagai platform internasional yang lebih berdaya saing tinggi.

Jejak Langkah dan Evolusi Jogja Halal Festival

Jogja Halal Festival bukanlah agenda yang lahir secara instan. Penyelenggaraan JHF 1 dan JHF 2 telah menjadi fondasi bagi masyarakat Yogyakarta dalam memahami pentingnya standarisasi halal dalam produk lokal. Mursida Rambe, yang memimpin kepanitiaan pada JHF 1, mengenang masa-masa awal di mana keraguan dan keterbatasan sumber daya menjadi tantangan utama. Namun, keberhasilan dua perhelatan awal tersebut telah terbukti mampu mengubah stigma tersebut menjadi optimisme.

Jika pada gelaran perdana fokus utama lebih kepada pengenalan produk dan edukasi pelaku usaha, maka JHF 3 kini ditargetkan untuk menyentuh aspek yang lebih luas, yakni skala pasar yang lebih besar dan keterlibatan jaringan MES dari seluruh wilayah di Indonesia. Transformasi ini menjadi krusial mengingat ekspektasi publik dan pelaku industri terhadap standar kualitas produk halal yang kian meningkat di pasar global.

Heroe Poerwadi, yang didapuk sebagai Ketua Panitia JHF 3, menekankan bahwa festival ini harus dipandang sebagai entitas strategis, bukan sekadar pameran produk. Dalam pandangannya, JHF merupakan wahana untuk membesarkan ekosistem Masyarakat Ekonomi Syariah secara berkelanjutan. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya pleno pengurus yang solid guna menyusun peta jalan (roadmap) program dengan tahapan yang terukur dan realistis.

Kolaborasi Kadin dan MES: Kunci Akselerasi Ekonomi Halal

Keterlibatan Kadin DIY dalam penyelenggaraan JHF 3 memberikan warna baru yang sangat dibutuhkan. Prof. Edy Suandi Hamid, Ketua Umum MES DIY sekaligus Rektor Universitas Widya Mataram, menegaskan bahwa peran Kadin sebagai representasi pelaku bisnis utama akan memberikan dukungan teknis dan jejaring pasar yang selama ini menjadi tantangan bagi UMKM.

Dalam kacamata ekonomi, kolaborasi ini menciptakan sinergi antara aspek regulasi/syariat dengan aspek komersial. Kadin DIY diharapkan mampu memberikan pendampingan terkait tata kelola bisnis, manajemen rantai pasok, dan akses permodalan, sementara MES DIY memegang kendali atas standarisasi syariah dan nilai-nilai ekonomi Islam. Sinergi ini dianggap sebagai "kunci" yang akan membuka pintu bagi produk-produk lokal Yogyakarta untuk menembus pasar yang lebih luas, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga mancanegara.

Menjawab Tantangan Global dan Kompetisi Regional

Di balik optimisme penyelenggaraan JHF 3, terdapat kesadaran kolektif mengenai ketatnya persaingan ekonomi halal di tingkat global. Prof. Edy Suandi Hamid secara terbuka menyinggung keberadaan Mega Halal Festival di Bangkok sebagai pembanding yang harus diwaspadai sekaligus dijadikan stimulus bagi Indonesia. Thailand, meskipun bukan negara dengan mayoritas penduduk muslim, telah berhasil memosisikan diri sebagai pusat industri halal yang sangat kompetitif di Asia Tenggara.

Indonesia, dengan potensi populasi muslim terbesar di dunia, seharusnya memiliki keunggulan komparatif yang lebih kuat. Namun, terdapat tantangan struktural yang perlu dibenahi, seperti efisiensi logistik dan daya dukung infrastruktur ekspor. Robby Kusumaharta dari Kadin DIY menyoroti potensi ekspor yang sebenarnya sangat besar bagi pelaku usaha di DIY. Keberadaan bandara internasional di Yogyakarta seharusnya menjadi pintu gerbang utama bagi komoditas lokal. Meski demikian, realitas persaingan dengan bandara di kota tetangga seperti Solo, Semarang, dan Bali tetap menjadi tantangan nyata yang menuntut strategi pemasaran dan logistik yang lebih canggih.

MES dan Kadin DIY Siapkan JHF#3 untuk Naik Kelas ke Pasar Global

Struktur Kepemimpinan dan Rencana Aksi

Untuk memastikan keberhasilan JHF 3, organisasi kepanitiaan telah disusun secara profesional dengan memadukan pengalaman dan kapabilitas. Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Prof. Edy Suandi Hamid dan Ketua Umum Kadin DIY, GKR Mangkubumi, menjadi payung hukum bagi kerjasama ini.

Lebih lanjut, perjanjian kerja sama teknis ditandatangani oleh Wakil Ketua Umum MES DIY, Priyonggo Susesno PhD, dan Wakil Ketua Kadin DIY Bidang Ekonomi Syariah, Heroe Poerwadi. Struktur kepanitiaan juga diperkuat dengan menunjuk Ir. Ahmad Syauqi Soeratno MM sebagai Ketua Steering Committee, yang akan didampingi oleh Budiharto Setyawan sebagai Wakil Ketua. Susunan ini mencerminkan komitmen kedua lembaga untuk menempatkan tenaga ahli di posisi yang tepat guna memastikan eksekusi program berjalan sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

Implikasi Terhadap Sektor Wisata Halal

Selain fokus pada produk UMKM, JHF 3 juga diproyeksikan akan memberikan kontribusi signifikan terhadap sektor pariwisata di DIY. Yogyakarta sebagai destinasi wisata unggulan memiliki potensi besar untuk mengembangkan wisata ramah muslim (halal tourism). Sinergi MES dan Kadin dalam JHF 3 diharapkan mampu mendorong pelaku industri perhotelan dan restoran untuk lebih sadar akan kebutuhan wisatawan muslim akan fasilitas yang mendukung ibadah dan kehalalan makanan.

Wisata halal bukan berarti Islamisasi destinasi wisata, melainkan penyediaan layanan yang memberikan kenyamanan dan rasa aman bagi wisatawan muslim. Dengan adanya standar yang jelas yang diusung dalam JHF 3, diharapkan Yogyakarta dapat meningkatkan daya tariknya bagi wisatawan mancanegara dari negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang selama ini cenderung memilih negara lain karena ketersediaan fasilitas halal yang lebih terjamin.

Analisis Masa Depan: Mampukah JHF 3 Mengubah Peta Ekonomi Lokal?

Jika melihat urgensi dan kesiapan yang ditunjukkan oleh para pemangku kepentingan, JHF 3 memiliki potensi besar untuk menjadi katalisator perubahan ekonomi di Yogyakarta. Keunggulan utamanya terletak pada kolaborasi lintas sektor yang jarang terjadi. Kadin, yang memiliki akses ke pasar industri dan ritel, bertemu dengan MES yang memiliki kredibilitas dalam isu syariah.

Namun, tantangan terbesar tetap terletak pada keberlanjutan pasca-festival. Seringkali, pameran hanya memberikan efek jangka pendek bagi UMKM. Untuk itu, program-program yang disusun oleh Steering Committee harus mencakup fase inkubasi, pendampingan pasca-pameran, serta integrasi produk UMKM ke dalam ekosistem ritel modern.

Indonesia, khususnya Yogyakarta, memiliki aset budaya dan keislaman yang kuat. Dengan tata kelola yang benar melalui festival ini, bukan tidak mungkin Yogyakarta dapat menggeser posisi negara tetangga dalam hal dominasi pasar halal di kawasan Asia Tenggara. Langkah konkret yang dimulai dari pertemuan di Poenokawan Resto & Gallery ini merupakan sinyal bahwa para pemangku kebijakan di Yogyakarta telah memiliki visi yang selaras untuk mengangkat derajat UMKM melalui ekonomi syariah.

Kesimpulan

Jogja Halal Festival 3 adalah sebuah harapan baru bagi kebangkitan ekonomi berbasis nilai-nilai Islam di Indonesia. Dengan dukungan penuh dari Kadin DIY dan MES DIY, serta komitmen dari para pengurus yang berpengalaman, festival ini diprediksi akan melampaui capaian-capaian sebelumnya. Fokus pada penguatan ekspor, peningkatan kualitas UMKM, dan pengembangan wisata halal akan menjadi pilar utama dalam memperkuat daya saing ekonomi daerah di tengah arus globalisasi.

Ke depan, keberhasilan JHF 3 tidak hanya diukur dari angka transaksi yang tercatat selama acara berlangsung, melainkan dari seberapa jauh festival ini mampu mengubah pola pikir pelaku usaha lokal untuk terus berinovasi dan memenuhi standar global yang diinginkan pasar internasional. Sinergi antara organisasi profesi dan dunia usaha ini menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi strategis dapat menjadi solusi atas tantangan ekonomi yang semakin kompleks di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Menakar Ambisi Kemandirian Industri Nasional Melalui Strategi Substitusi Impor di Era Pemerintahan Prabowo Subianto

2 Juli 2026 - 00:57 WIB

Literasi Keuangan Syariah Menjadi Kunci Transformasi Ekonomi UMKM di Padukuhan Bodeh Sleman

1 Juli 2026 - 18:57 WIB

Pengukuhan DPD AFEBSI Yogyakarta Perkuat Sinergi Strategis Fakultas Ekonomi dan Bisnis Swasta di Indonesia

1 Juli 2026 - 00:57 WIB

L’Oréal Groupe dan Shopee Resmikan House of Beauty Hyper Brand Day Pertama di Dunia Berbasis Inovasi Sains di Indonesia

30 Juni 2026 - 18:57 WIB

Transformasi Pengelolaan Sampah Organik Melalui Teknologi Smart Compost Vessel di Kampung Jurugsari oleh Mahasiswa UGM

30 Juni 2026 - 06:57 WIB

Trending di Berita Ekonomi Kreatif & UMKM Yogya