Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Studi & Edukasi Budaya Yogya

Universitas Gadjah Mada Berduka atas Berpulangnya Guru Besar Farmasi Prof. Dr. apt. Retno Sunarminingsih

badge-check


					Universitas Gadjah Mada Berduka atas Berpulangnya Guru Besar Farmasi Prof. Dr. apt. Retno Sunarminingsih Perbesar

Dunia akademis Indonesia, khususnya keluarga besar Universitas Gadjah Mada (UGM), tengah diselimuti duka mendalam. Salah satu sosok pilar keilmuan farmasi, Prof. Dr. apt. Retno Sunarminingsih, M.Sc., telah mengembuskan napas terakhirnya pada Senin (29/6) di Jakarta dalam usia 74 tahun. Kepergian mendiang bukan sekadar kehilangan bagi Fakultas Farmasi, namun juga menjadi momen refleksi bagi civitas akademika UGM atas dedikasi panjang yang telah beliau torehkan selama lebih dari tiga dekade pengabdian.

Setelah disemayamkan di Balairung Gedung Pusat UGM untuk memberikan kesempatan bagi kolega dan mahasiswa memberikan penghormatan terakhir, jenazah istri dari Mantan Menteri Pendidikan Nasional RI, Prof. Bambang Sudibyo, ini dikebumikan di Kompleks Pemakaman Keluarga UGM di Sawitsari, Sleman, pada Selasa (30/6). Prosesi pemakaman dilakukan dengan khidmat, mencerminkan penghormatan tertinggi institusi terhadap salah satu tokoh intelektual yang pernah menduduki posisi strategis dalam manajemen universitas.

Rekam Jejak Akademik dan Dedikasi Profesional

Lahir dengan semangat keilmuan yang tinggi, Prof. Retno Sunarminingsih menempuh perjalanan pendidikan yang membawanya menjadi rujukan di bidang kimia farmasi. Beliau menyelesaikan pendidikan sarjana Farmasi di UGM pada tahun 1976, diikuti dengan gelar profesi apoteker pada tahun 1977. Tidak berhenti di situ, semangatnya untuk memperdalam ilmu membawanya menempuh pendidikan pascasarjana di University of Kentucky, Amerika Serikat, sebelum akhirnya meraih gelar doktor dari almamaternya sendiri, Fakultas Farmasi UGM.

Puncak pengukuhan akademiknya terjadi pada tahun 2002, saat beliau resmi menyandang gelar Guru Besar. Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul "Metabolit Sekunder: Manfaat dan Perkembangannya dalam Dunia Farmasi," Prof. Retno menyoroti pentingnya eksplorasi bahan alam sebagai aset kesehatan bangsa. Pidato tersebut tidak hanya menjadi syarat administratif jabatan profesor, namun juga menjadi peta jalan penelitian yang banyak dirujuk oleh para peneliti muda di bidang kimia farmasi hingga saat ini.

Kontribusi Strategis dalam Manajerial Universitas

Di luar ruang kelas dan laboratorium, pengaruh Prof. Retno Sunarminingsih terhadap struktur manajerial UGM sangatlah signifikan. Beliau dipercaya menduduki jabatan Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat pada periode 2002-2007. Keberhasilan beliau dalam mengemban amanah tersebut kemudian diperluas saat menjabat sebagai Wakil Rektor Senior Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Kepada Masyarakat pada periode 2007-2012.

Prof. Retno Sunarminingsih Berpulang

Dua pencapaian paling monumental yang sering disebut oleh kolega sejawat adalah inisiasi Sekolah Vokasi dan pengembangan Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu (LPPT) UGM. Sebelum adanya transformasi yang dipimpin Prof. Retno, pendidikan diploma di UGM masih terfragmentasi di delapan fakultas berbeda. Melalui visi integratifnya, beliau mendorong konsolidasi unit-unit tersebut menjadi satu entitas Sekolah Vokasi yang dikelola secara profesional. Langkah ini terbukti sangat krusial dalam meningkatkan daya serap lulusan UGM di dunia industri serta menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan pasar kerja nasional.

Selain itu, keterlibatan aktif beliau dalam pembangunan infrastruktur strategis, seperti gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) serta Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, menjadi bukti nyata kemampuan manajerialnya yang melampaui sekat-sekat disiplin ilmu. Kolega beliau, Prof. Agus Sartono dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, mengenang bahwa Prof. Retno mampu mengawal proyek-proyek besar tersebut dengan tata kelola yang transparan dan efisien, menjadikannya model kepemimpinan yang ideal di lingkungan birokrasi kampus.

Filosofi Hidup sebagai Warisan Moral

Di mata rekan sejawat dan mahasiswanya, Prof. Retno dikenal bukan hanya sebagai seorang teknokrat akademis, tetapi juga sebagai pendidik yang humanis. Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, menyoroti filosofi hidup mendiang yang selalu mengibaratkan manusia sebagai "gelas kosong." Menurut Prof. Retno, hidup adalah tentang bagaimana mengisi gelas tersebut dengan hal-hal yang bermakna, mencerahkan, dan penuh hidayah.

Filosofi ini mencerminkan integritas moral yang beliau tanamkan dalam interaksi sehari-hari. Ia dikenal sebagai sosok yang humble atau rendah hati, namun tetap tegas dalam prinsip. Ketulusan dalam membimbing junior dan mahasiswa menjadi ciri khas yang melekat pada kepemimpinannya. Bagi beliau, transfer ilmu tidak berhenti pada tataran teoritis, tetapi harus dibarengi dengan pembentukan karakter yang berintegritas.

Implikasi dan Dampak bagi Masa Depan Farmasi

Kepergian Prof. Retno meninggalkan lubang besar dalam peta pengembangan ilmu farmasi di Indonesia. Namun, warisan pemikiran dan sistem yang telah beliau bangun diproyeksikan akan terus bertahan. Pengabdiannya selama lebih dari 35 tahun di Fakultas Farmasi UGM telah mencetak ribuan apoteker yang kini tersebar di berbagai sektor kesehatan di Indonesia.

Implikasi dari dedikasi beliau, terutama dalam riset metabolit sekunder, terus menjadi fondasi bagi pengembangan obat-obatan berbasis bahan alam lokal. Dalam konteks kebijakan pendidikan tinggi, keberhasilan beliau menata ulang Sekolah Vokasi menjadi standar bagi banyak universitas negeri lain di Indonesia dalam melakukan restrukturisasi pendidikan vokasi. Ini membuktikan bahwa visi Prof. Retno tidak hanya terbatas pada skala universitas, melainkan telah memberikan dampak sistemik pada ekosistem pendidikan tinggi nasional.

Prof. Retno Sunarminingsih Berpulang

Penghormatan Terakhir dan Refleksi Kolektif

Upacara penghormatan di Balairung UGM menjadi simbol betapa besar jasa yang diberikan Prof. Retno bagi institusi. Sebagai Anggota Senat Akademik dan Dewan Guru Besar Tetap pasca masa jabatannya sebagai Wakil Rektor, beliau tetap aktif memberikan sumbangsih pemikiran hingga masa purna tugas. Penghargaan atas kesetiaannya selama lebih dari tiga dekade menunjukkan loyalitas tanpa batas yang beliau berikan kepada UGM.

Prof. Ova Emilia mewakili seluruh civitas akademika menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas setiap menit waktu dan setiap tetes keringat yang telah diberikan oleh Prof. Retno. Menurutnya, seluruh amalan dan karya yang telah ditinggalkan, baik berupa publikasi ilmiah, pembangunan infrastruktur, maupun kaderisasi dosen dan mahasiswa, akan menjadi ladang ibadah yang terus mengalir.

Kepergian beliau menjadi pengingat bagi para akademisi lainnya untuk terus menjaga semangat dedikasi yang sama. Di tengah tantangan dunia pendidikan yang kian kompleks, sosok seperti Prof. Retno Sunarminingsih adalah kompas moral. Integritas, visi yang tajam, dan kerendahan hati adalah tiga nilai inti yang diharapkan dapat terus hidup di lingkungan Universitas Gadjah Mada meski sang tokoh telah berpulang.

Sebagai penutup dari bab panjang pengabdiannya, Prof. Retno tidak hanya meninggalkan catatan administratif di universitas, melainkan juga jejak kasih sayang yang mendalam bagi mereka yang pernah berinteraksi dengannya. Selamat jalan Prof. Retno Sunarminingsih. Karya dan teladan Anda akan tetap menjadi jembatan bagi generasi mendatang dalam menapaki jalan ilmu pengetahuan yang lebih luas dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Dunia farmasi Indonesia berhutang banyak atas keteguhan hati Anda dalam memperjuangkan kemandirian ilmu pengetahuan dan kualitas pendidikan tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Paradoks Maritim Indonesia: Mengapa Produksi Ikan Melimpah Namun Konsumsi Masih Rendah

30 Juni 2026 - 06:37 WIB

Waspada Ancaman Lanjutan Gunung Semeru di Tengah Berlanjutnya Aktivitas Penambangan di Jalur Lahar

30 Juni 2026 - 00:37 WIB

Membuka Jendela Masa Depan: Kisah Leni Ismawati Menembus Batas Ekonomi Menuju Kampus Biru UGM

29 Juni 2026 - 18:37 WIB

Mendobrak Stigma Sektor Peternakan, Kiprah Inspiratif Alumni Fapet UGM dalam Membangun Ekosistem Bisnis Modern di Jawa Timur

29 Juni 2026 - 12:37 WIB

Transformasi Masjid Kampus UGM sebagai Pilar Ketahanan Ekonomi dan Pendidikan Mahasiswa Melalui RZIS

29 Juni 2026 - 06:37 WIB

Trending di Studi & Edukasi Budaya Yogya