Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) secara resmi menerjunkan 20 mahasiswa pilihan untuk melakukan pengawasan intensif terhadap proses penyembelihan hewan kurban di luar Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di wilayah Kota Yogyakarta. Langkah strategis yang berlangsung selama periode Idul Adha 1447 Hijriah, tepatnya pada 26 hingga 29 Mei 2026 ini, merupakan manifestasi konkret dari kolaborasi antara dunia akademis dan pemerintah daerah dalam memastikan keamanan pangan masyarakat.
Program yang diinisiasi oleh unit Jagal Halal UGM ini bertujuan untuk meminimalisasi risiko kontaminasi pada daging kurban serta memastikan bahwa proses penyembelihan yang dilakukan di lingkungan masyarakat tetap mematuhi kaidah syariat Islam, prinsip kesejahteraan hewan (animal welfare), serta standar kesehatan pangan yang ketat.
Sinergi Akademisi dan Dinas Pertanian dalam Menjamin Keamanan Pangan
Ketua Jagal Halal UGM, Endy Triyannanto, menjelaskan bahwa pengerahan mahasiswa ini adalah tindak lanjut dari nota kesepahaman antara UGM dengan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta. Pemotongan hewan kurban di luar RPH, yang secara tradisional memang lebih banyak dilakukan di masjid-masjid maupun lingkungan warga, seringkali memiliki tantangan tersendiri dalam aspek sanitasi dan teknik penyembelihan.
"Sebanyak 20 mahasiswa yang telah terpilih ini tidak sekadar hadir di lokasi, melainkan membawa tanggung jawab teknis yang besar. Mereka bertindak sebagai pengawas lapangan untuk memastikan bahwa praktik penyembelihan memenuhi standar halal, menerapkan prinsip animal welfare agar hewan tidak stres berlebihan, serta melakukan pemeriksaan post-mortem secara tepat guna," ujar Endy dalam keterangannya di Yogyakarta, Selasa (26/5/2026).
Pemeriksaan post-mortem menjadi titik krusial dalam tugas mahasiswa ini. Melalui prosedur ini, mahasiswa akan memeriksa kondisi organ dalam dan kualitas daging pascapenyembelihan. Langkah ini sangat vital untuk mendeteksi potensi penyakit zoonosis atau kontaminasi patogen yang mungkin tidak terlihat saat hewan masih hidup (ante-mortem), namun dapat membahayakan kesehatan masyarakat jika dikonsumsi.
Konteks Pentingnya Standar ASUH pada Daging Kurban
Daging kurban yang didistribusikan kepada masyarakat luas harus memenuhi kriteria ASUH, yakni Aman, Sehat, Utuh, dan Halal. Standar ini bukan sekadar slogan, melainkan indikator kesehatan publik yang diatur dalam regulasi peternakan nasional.
- Aman: Tidak mengandung bahaya biologis, kimia, atau fisik yang dapat menyebabkan penyakit.
- Sehat: Hewan yang disembelih dalam kondisi tidak mengidap penyakit menular.
- Utuh: Tidak dicampur dengan bagian tubuh hewan lain yang tidak halal atau dilarang.
- Halal: Proses penyembelihan sesuai dengan syariat Islam, termasuk teknik memutus saluran napas dan saluran makan pada leher hewan.
Dekan Fapet UGM, Prof. Budi Guntoro, menekankan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam program ini bukan hanya soal pengawasan, melainkan bentuk pengabdian nyata kepada masyarakat. "Mahasiswa kami telah dibekali dengan kompetensi praktis yang memadai. Kami menekankan pada integritas, karena hasil dari pengawasan mereka akan berdampak langsung pada apa yang dikonsumsi oleh ribuan warga di Yogyakarta," tegas Prof. Budi.
Ia menambahkan, keterlibatan aktif ini memberikan pengalaman lapangan yang tak ternilai bagi mahasiswa. Mereka belajar bagaimana berinteraksi dengan masyarakat, mengedukasi panitia kurban mengenai tata cara penyembelihan yang higienis, serta mengasah kepemimpinan saat menghadapi kendala teknis di lapangan.
Kronologi dan Persiapan Teknis Lapangan
Persiapan pengawasan ini tidak dilakukan secara mendadak. Sejak beberapa minggu sebelum Idul Adha 1447 H, para mahasiswa telah mengikuti serangkaian pembekalan intensif mengenai teknis pemotongan halal, identifikasi kesehatan hewan, serta manajemen limbah penyembelihan.

- Prapelaksanaan (15-25 Mei 2026): Mahasiswa mendapatkan pelatihan teknis mengenai pemeriksaan ante-mortem dan post-mortem oleh para pakar dari Fapet UGM dan dokter hewan dari Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta.
- Pelaksanaan (26-29 Mei 2026): Mahasiswa disebar ke berbagai titik penyembelihan di wilayah Kota Yogyakarta. Mereka bekerja secara mobile, berkoordinasi dengan panitia kurban lokal untuk memberikan asistensi dan pengawasan.
- Evaluasi (30 Mei 2026): Setelah periode kurban berakhir, para mahasiswa diwajibkan menyusun laporan komprehensif mengenai temuan lapangan, kondisi sanitasi lokasi penyembelihan, dan kualitas kesehatan hewan yang dipotong.
Data dari laporan ini nantinya akan diserahkan kepada pemerintah kota sebagai bahan evaluasi kebijakan penanganan kurban di tahun-tahun mendatang.
Implikasi dan Dampak Jangka Panjang
Keputusan Fapet UGM untuk mengerahkan mahasiswa ini memiliki implikasi luas terhadap ekosistem pemotongan hewan kurban di Indonesia. Selama ini, pemotongan hewan di luar RPH sering kali luput dari pengawasan ketat karena keterbatasan jumlah tenaga ahli atau dokter hewan pemerintah. Kehadiran mahasiswa peternakan sebagai garda depan pengawasan secara signifikan memperluas jangkauan supervisi.
Secara teknis, dampak yang diharapkan adalah peningkatan kualitas higienitas daging kurban. Dengan adanya pengawasan, panitia kurban di masjid-masjid cenderung lebih berhati-hati dalam menjaga kebersihan alat potong, cara penanganan daging, serta manajemen pembuangan limbah sisa penyembelihan agar tidak mencemari lingkungan.
Secara edukatif, program ini menciptakan kesadaran kolektif di tengah masyarakat mengenai pentingnya standar kesehatan dalam berkurban. Ketika masyarakat melihat kehadiran mahasiswa yang kompeten di lapangan, hal tersebut secara tidak langsung menjadi edukasi publik bahwa kurban yang baik tidak hanya dilihat dari sisi ritual keagamaan, tetapi juga dari sisi kemaslahatan kesehatan umat.
Analisis: Tantangan Modernisasi Kurban
Fenomena meningkatnya partisipasi akademisi dalam pengawasan kurban merupakan respons terhadap tantangan modernisasi di sektor peternakan. Di tengah tuntutan masyarakat akan keamanan pangan yang lebih tinggi, praktik tradisional pemotongan kurban perlu terus diselaraskan dengan standar ilmiah modern.
UGM, melalui Fapet-nya, telah memosisikan diri sebagai jembatan antara kebijakan pemerintah dan realitas lapangan. Strategi ini sangat efektif karena melibatkan tenaga muda yang memiliki pemahaman teknis terkini mengenai kesejahteraan hewan. Penggunaan metode animal welfare—seperti meminimalisasi stres pada hewan sebelum disembelih—telah terbukti secara ilmiah mampu menghasilkan kualitas daging yang lebih baik, lebih empuk, dan memiliki daya simpan yang lebih lama.
Lebih jauh lagi, sinergi ini memberikan model bagi daerah lain di Indonesia. Dengan memanfaatkan potensi perguruan tinggi lokal, pemerintah daerah dapat menutupi kesenjangan jumlah pengawas lapangan, sehingga kualitas daging kurban di tingkat nasional dapat meningkat secara merata.
Penutup: Komitmen Berkelanjutan
Program pengawasan pemotongan hewan kurban ini merupakan bagian dari visi Fapet UGM untuk menjadi pusat unggulan dalam pendidikan dan penelitian peternakan yang berdampak bagi masyarakat. Komitmen untuk memberikan kontribusi jangka panjang dalam meningkatkan standardisasi industri pemotongan hewan kurban di Indonesia akan terus diperkuat melalui evaluasi berkala dan pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan lapangan.
Melalui upaya ini, Fapet UGM berharap bahwa pelaksanaan Idul Adha tidak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga menjadi sarana untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui konsumsi protein hewani yang ASUH. Sinergi antara mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat ini diharapkan menjadi tradisi positif yang akan terus dipertahankan dan ditingkatkan pada masa depan, menciptakan lingkungan kurban yang lebih profesional, higienis, dan sesuai dengan prinsip-prinsip kemanusiaan serta syariat Islam.









