Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, menekankan urgensi perombakan paradigma pembangunan nasional dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global yang semakin kompleks. Dalam orasi ilmiah di Dies Natalis ke-23 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten, pada Rabu (10/6/2026), Jusuf Kalla menegaskan bahwa kedaulatan sebuah bangsa di masa depan tidak lagi diukur semata-mata dari kekuatan militer konvensional, melainkan dari penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi (iptek), serta kemandirian ekonomi melalui wirausaha muda.
Pergeseran Paradigma Perang Modern dan Keamanan Nasional
Dalam pandangan Jusuf Kalla, dunia saat ini tengah berada dalam fase transisi yang rentan akibat konflik geopolitik yang meluas. Ia menyoroti perubahan fundamental dalam karakter peperangan modern yang kini tidak lagi bertumpu pada jumlah personel militer atau luas wilayah, melainkan pada keunggulan teknologi. Penggunaan drone, sistem roket presisi, serta kecerdasan buatan (AI) telah menjadi penentu utama dalam dinamika pertahanan negara.
JK mengambil contoh ketangguhan Iran dalam menghadapi tekanan sanksi internasional yang panjang sebagai bukti nyata bahwa penguasaan teknologi domestik adalah kunci utama pertahanan. Selain itu, ia merujuk pada keberhasilan Amerika Serikat dalam membangun ekosistem riset melalui sinergi antara universitas dan sektor industri, sebagaimana tercermin dalam fenomena Silicon Valley. Model sinergi tersebut, menurutnya, adalah cetak biru yang harus diadopsi oleh perguruan tinggi di Indonesia untuk memperkuat daya saing nasional.
Tantangan Indonesia: Dari Krisis Pangan hingga Produktivitas
Indonesia menghadapi tantangan struktural yang menuntut solusi berbasis inovasi. Jusuf Kalla memetakan tiga ancaman utama yang membayangi stabilitas nasional: perubahan iklim yang mengancam ketahanan pangan, transisi energi global yang membutuhkan efisiensi tinggi, serta rendahnya produktivitas nasional dibandingkan dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.
Untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap) dan mencapai status sebagai negara berpendapatan tinggi, Indonesia memerlukan lompatan produktivitas yang masif. JK berargumen bahwa pertumbuhan ekonomi tidak bisa lagi hanya mengandalkan ekspor komoditas mentah. Sebaliknya, ekonomi harus digerakkan oleh sektor yang bernilai tambah tinggi melalui penelitian dan pengembangan (R&D) yang terintegrasi dengan kebutuhan pasar.
Peran Strategis Perguruan Tinggi sebagai Motor Inovasi
Perguruan tinggi memegang peran sentral dalam transformasi ini. JK menekankan bahwa negara-negara maju di dunia selalu memiliki ekosistem universitas yang unggul, di mana riset tidak hanya menjadi dokumen akademik, tetapi menjadi solusi praktis bagi industri dan masyarakat.
Dalam konteks Dies Natalis ke-23 FISIP Untirta, JK memberikan pesan khusus kepada civitas academica untuk tidak lagi memandang pendidikan sebagai formalitas untuk mencari gelar. Ia mendesak universitas untuk menjadi inkubator bagi ide-ide baru yang mampu merespons kebutuhan zaman, terutama dalam menghadapi disrupsi teknologi. Pendidikan tinggi di Indonesia perlu melakukan reformasi kurikulum yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi global, sehingga lulusan yang dihasilkan memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan.
Mengubah Pola Pikir: Dari Pencari Kerja ke Pencipta Lapangan Kerja
Salah satu poin krusial dalam pidato Jusuf Kalla adalah ajakan untuk mengubah pola pikir mahasiswa. Ia menyoroti ketergantungan generasi muda pada sektor formal sebagai pencari kerja yang sering kali tidak sebanding dengan ketersediaan lapangan kerja. Menurut JK, kewirausahaan adalah solusi mutlak untuk menyerap bonus demografi Indonesia.
"Jangan hanya berpikir mencari pekerjaan, tetapi bagaimana memperkerjakan orang lain," tegas JK. Semangat kewirausahaan harus ditanamkan sejak dini dalam lingkungan kampus. Dengan menciptakan lebih banyak wirausaha muda, Indonesia akan memiliki ketahanan ekonomi yang lebih kuat karena tidak bergantung pada satu sektor saja, serta mampu menciptakan lapangan kerja yang inovatif.

Analisis Implikasi dan Konteks Ekonomi Global 2026
Data ekonomi menunjukkan bahwa pada pertengahan 2026, dunia sedang berjuang melawan inflasi yang dipicu oleh ketidakpastian rantai pasok energi dan pangan. Berdasarkan laporan lembaga internasional, negara-negara yang memiliki basis riset kuat terbukti lebih tangguh menghadapi guncangan harga komoditas global.
Implikasi dari seruan Jusuf Kalla sangat jelas: Indonesia harus segera melakukan investasi besar-besaran pada sumber daya manusia (SDM) yang berbasis teknologi. Jika dikaitkan dengan target Indonesia Emas 2045, maka kurun waktu 2026 hingga 2030 adalah masa krusial untuk melakukan akselerasi riset dan pengembangan industri kreatif. Tanpa adanya sinkronisasi antara kebutuhan industri dan kurikulum universitas, Indonesia berisiko mengalami kesenjangan kompetensi yang akan menghambat pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Pandangan Pakar: Pentingnya Kolaborasi Triple Helix
Menanggapi orasi Jusuf Kalla, sejumlah pengamat kebijakan publik sepakat bahwa model kolaborasi Triple Helix—sinergi antara akademisi, pemerintah, dan industri—adalah kunci yang selama ini masih lemah di Indonesia.
Selama ini, riset di universitas sering kali terisolasi dari kebutuhan dunia usaha. Industri, di sisi lain, masih enggan mengalokasikan anggaran yang cukup untuk riset domestik karena lebih memilih membeli lisensi teknologi dari luar negeri. Pernyataan JK di Untirta menjadi pengingat bagi para pemangku kepentingan bahwa kemandirian teknologi hanya bisa dicapai jika ada kemauan politik (political will) untuk membiayai riset dan keberanian sektor industri untuk berkolaborasi dengan kampus.
Kronologi Singkat dan Konteks Acara
Dies Natalis ke-23 FISIP Untirta sendiri menjadi momentum strategis bagi institusi pendidikan tinggi di wilayah Banten untuk mengevaluasi peran mereka dalam pembangunan regional. Banten, sebagai salah satu kawasan industri utama di Indonesia, memiliki potensi besar untuk menjadi laboratorium pengembangan teknologi dan kewirausahaan.
Kehadiran Jusuf Kalla dalam acara tersebut memberikan bobot diplomatik dan strategis pada perayaan Dies Natalis kali ini. Dengan rekam jejaknya sebagai tokoh nasional yang berpengalaman dalam pemerintahan dan dunia usaha, pesan-pesan yang disampaikan JK diharapkan mampu memicu diskusi lebih lanjut di kalangan akademisi mengenai bagaimana mengonversi ilmu sosial dan politik menjadi kebijakan yang berorientasi pada inovasi dan kemandirian bangsa.
Langkah Strategis ke Depan: Rekomendasi untuk Generasi Muda
Menutup orasinya, Jusuf Kalla memberikan pesan optimisme. Meski tantangan global begitu berat, ia meyakini bahwa dengan mengedepankan ilmu pengetahuan, teknologi, produktivitas, dan semangat kewirausahaan, Indonesia mampu menavigasi ketidakpastian tersebut.
Untuk mencapai visi tersebut, setidaknya terdapat tiga langkah strategis yang perlu diambil oleh para pemangku kepentingan pendidikan tinggi:
- Peningkatan Anggaran Riset: Mendorong alokasi anggaran yang lebih besar bagi penelitian terapan yang dapat dikomersialkan oleh industri.
- Integrasi Kewirausahaan: Memasukkan modul kewirausahaan praktis yang melibatkan mentor dari kalangan praktisi bisnis ke dalam kurikulum wajib di seluruh fakultas.
- Penguatan Literasi Digital dan Sains: Memastikan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, termasuk ilmu sosial, memiliki literasi teknologi yang memadai untuk memahami disrupsi yang terjadi di lapangan.
Jusuf Kalla menutup orasi ilmiahnya dengan ajakan kepada para mahasiswa untuk berani mengambil risiko. Baginya, masa depan bangsa ada di tangan anak muda yang mampu mempraktikkan ilmunya dalam hal-hal nyata, bukan sekadar teoritis di ruang kelas. "Itulah harapan kita semua untuk membangun bangsa yang lebih maju," pungkasnya.
Pernyataan ini tidak hanya menjadi refleksi bagi civitas academica Untirta, tetapi juga menjadi tantangan bagi seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk bertransformasi menjadi pusat inovasi yang benar-benar memberikan dampak nyata bagi kemajuan dan kedaulatan bangsa di tengah persaingan global yang semakin sengit. Dengan fondasi iptek yang kuat dan jiwa kewirausahaan yang tangguh, optimisme terhadap masa depan Indonesia diharapkan tetap terjaga meski dalam situasi ekonomi dunia yang penuh dengan ketidakpastian.









