Stroke saat ini menempati posisi kedua sebagai penyebab utama kecacatan di tingkat global, dengan angka kematian yang menyentuh 6,5 juta jiwa setiap tahunnya. Beban penyakit yang masif ini tidak hanya berimplikasi pada aspek medis, tetapi juga menciptakan krisis psikososial bagi pasien dan keluarga. Salah satu tantangan terbesar yang sering luput dari perhatian dalam manajemen klinis adalah ketidakpastian perawatan. Kondisi ini diperburuk oleh minimnya literasi kesehatan, kurangnya dukungan emosional, komunikasi yang tersumbat antara tenaga medis dan keluarga, serta ketidaksiapan sistem pendukung di rumah pasca-rawat inap.
Menanggapi fenomena tersebut, Margareta Hesti Rahayu, Ns., M.Kep., seorang peneliti dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), merumuskan solusi berbasis riset melalui pengembangan intervensi Advance Care Planning (ACP) atau perencanaan perawatan lanjutan. Dalam ujian terbuka promosi doktor yang diselenggarakan di kampus FK-KMK UGM pada Selasa (9/6), Margareta memaparkan bagaimana model ini mampu mentransformasi pengalaman perawatan stroke dari yang sebelumnya penuh kecemasan menjadi proses yang terencana dan terukur.
Memahami Esensi Advance Care Planning dalam Konteks Stroke
Secara konseptual, Advance Care Planning (ACP) bukan sekadar formulir administratif, melainkan sebuah proses komunikasi berkelanjutan yang memfasilitasi pasien untuk menyatakan nilai-nilai, preferensi, dan tujuan perawatan mereka di masa depan, terutama ketika mereka kehilangan kapasitas untuk mengambil keputusan.
Dalam konteks stroke, di mana penurunan fungsi kognitif atau komunikasi sering terjadi secara mendadak, ACP menjadi instrumen krusial. Margareta menjelaskan bahwa intervensi ini secara signifikan menurunkan level stres, kecemasan, dan depresi, baik pada pasien maupun keluarga. Lebih jauh, ACP berfungsi sebagai jembatan yang memperkuat keterlibatan pasien dalam pengambilan keputusan medis mereka sendiri, meminimalisir potensi konflik di antara anggota keluarga terkait pilihan perawatan, serta meningkatkan kualitas hidup pasien di fase akhir kehidupan.
Metodologi Penelitian: Pendekatan Komprehensif untuk Masalah Kompleks
Penelitian yang dilakukan oleh Margareta menggunakan desain exploratory sequential mixed methods, sebuah pendekatan yang mengintegrasikan data kualitatif dan kuantitatif untuk mendapatkan gambaran utuh dari permasalahan yang diteliti. Studi ini dijalankan dalam dua tahapan strategis.
Tahap pertama melibatkan eksplorasi kualitatif melalui wawancara mendalam dan Focus Group Discussion (FGD) untuk memetakan kebutuhan riil pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan. Tahap ini krusial untuk memastikan bahwa intervensi yang dikembangkan nantinya bersifat kontekstual dan relevan dengan realitas di lapangan. Sementara itu, tahap kedua berfokus pada implementasi program intervensi ACP di tiga fasilitas kesehatan utama, yakni RSUP dr. Sardjito, RS PON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono, dan Rumah Sakit Panti Rapih selama kurun waktu 2024-2025.
Total partisipan yang terlibat mencapai 33 orang, yang mencakup spektrum luas mulai dari penyintas stroke hingga tenaga medis multidisiplin. Melalui metode konsensus Delphi, penelitian ini berhasil memvalidasi 48 butir pernyataan yang terbagi ke dalam 19 domain dan tiga kategori utama. Validitas data ini memberikan dasar ilmiah yang kuat bagi modul yang dihasilkan.
Output Inovatif: Modul ACP untuk Tenaga Medis dan Keluarga
Salah satu capaian konkret dari disertasi ini adalah lahirnya dua modul komprehensif yang dirancang untuk dua audiens berbeda namun saling berkaitan. Modul untuk tenaga kesehatan dirancang sebagai pedoman operasional yang mencakup filosofi ACP, teknik komunikasi terapeutik, serta panduan praktis implementasi pada pasien stroke.

Di sisi lain, modul bagi keluarga dan pasien lebih bersifat edukatif dan praktis. Topik-topik yang diangkat mencakup pemahaman mendalam tentang penyakit stroke, strategi perawatan mandiri di rumah, panduan diet khusus, program latihan fisik, hingga manajemen penggunaan obat-obatan. Margareta menegaskan bahwa isi modul tersebut merupakan kristalisasi dari masukan, saran, dan pengalaman nyata yang didapatkan selama proses FGD, sehingga ia meyakini modul ini sangat aplikatif.
Dampak Klinis dan Psikologis: Hasil Empiris
Hasil penelitian tahap kedua memberikan data yang cukup meyakinkan. Intervensi ACP terbukti mampu menurunkan tingkat ketidakpastian yang dirasakan pasien terhadap perjalanan penyakitnya. Bagi keluarga, program ini terbukti meningkatkan efikasi diri dalam proses pengambilan keputusan medis yang sulit, meningkatkan pengetahuan tentang perawatan pasca-stroke, serta secara psikologis memberikan rasa kesiapan yang lebih baik saat harus merawat pasien di rumah.
Keterlibatan tenaga kesehatan dari berbagai disiplin ilmu dalam proses ini juga menjadi kunci. Diskusi interaktif yang terstruktur memungkinkan terciptanya lingkungan perawatan yang lebih humanis. Pasien tidak lagi dipandang sebagai objek medis, melainkan sebagai subjek yang memiliki hak untuk menentukan arah perawatan mereka sendiri, bahkan dalam kondisi paling rentan sekalipun.
Implikasi Kebijakan dan Praktik Klinis Masa Depan
Keberhasilan intervensi ini membawa implikasi luas bagi standar pelayanan rumah sakit di Indonesia. Selama ini, banyak fasilitas kesehatan yang belum mengintegrasikan perencanaan perawatan lanjutan ke dalam standar operasional prosedur (SOP) rutin, karena dianggap sebagai proses yang memakan waktu. Namun, temuan Margareta membuktikan bahwa investasi waktu di awal perawatan justru dapat mencegah komplikasi psikologis dan konflik yang lebih besar di kemudian hari.
Dalam perspektif kebijakan kesehatan, model ACP ini berpotensi diadopsi oleh Kementerian Kesehatan untuk memperkuat layanan stroke nasional. Dengan adanya standarisasi modul, tenaga kesehatan di berbagai daerah dapat memiliki panduan seragam dalam mengedukasi keluarga pasien. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam menekan beban biaya kesehatan akibat komplikasi stroke yang sering kali terjadi karena perawatan di rumah yang tidak tepat.
Selain itu, keberhasilan riset ini juga menyoroti pentingnya pendekatan multidisiplin. Dokter spesialis saraf, perawat, fisioterapis, dan ahli gizi perlu berkolaborasi secara lebih intim untuk menyusun rencana perawatan yang berpusat pada kebutuhan pasien (patient-centered care). Kesiapan keluarga, yang sering kali menjadi "tenaga medis garis depan" di rumah, harus dipandang sebagai komponen vital dalam sistem rujukan kesehatan.
Catatan Penutup: Apresiasi Akademik
Ujian terbuka promosi doktor ini menjadi puncak dari dedikasi Margareta Hesti Rahayu dalam memperjuangkan kualitas hidup pasien stroke. Pencapaian gelar doktor dengan predikat cumlaude merupakan pengakuan atas kontribusi keilmuan yang signifikan bagi dunia keperawatan dan kesehatan masyarakat di Indonesia.
Tim promotor yang diketuai oleh Prof. Dr. dr. Sri Sutarni, Sp.S(K)., bersama ko-promotor Dr. Heny Suseani Pangastuti, S.Kp., M.Kes., memberikan apresiasi tinggi terhadap orisinalitas dan urgensi penelitian ini. Di masa depan, diharapkan temuan ini tidak hanya berhenti di tataran akademik, tetapi dapat diimplementasikan secara luas di berbagai rumah sakit di seluruh Indonesia, sehingga ketidakpastian dan kecemasan bagi jutaan pasien stroke serta keluarganya dapat diminimalisir secara sistematis.
Penelitian ini menjadi pengingat bahwa dalam dunia medis yang semakin didominasi oleh teknologi canggih, aspek komunikasi manusiawi dan perencanaan perawatan yang matang tetap menjadi pilar utama dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan bermartabat bagi setiap individu.









