Pencemaran mikroplastik telah menyusup ke berbagai lini rantai makanan, mulai dari air minum hingga bahan baku pakan komersial bagi ayam broiler. Ancaman mikroskopis ini kini menjadi perhatian serius di dunia peternakan karena potensi dampak negatifnya terhadap kesehatan hewan dan manusia. Sebagai respons atas krisis tersebut, tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) mengembangkan inovasi feed additive atau imbuhan pakan berbasis nanopartikel dari daun kirinyuh (Chromolaena odorata). Produk ini menawarkan mekanisme ganda, yaitu sebagai adsorben alami untuk mengikat mikroplastik di saluran pencernaan serta sebagai penyedia antioksidan untuk melindungi kesehatan ternak.
Ancaman Senyap Mikroplastik dalam Industri Peternakan
Mikroplastik, yakni partikel plastik dengan ukuran kurang dari 5 milimeter, telah menjadi polutan global yang sulit dihindari. Dalam industri peternakan ayam broiler, partikel ini dapat masuk melalui dua jalur utama: air minum yang terkontaminasi dan bahan baku pakan yang telah terpapar limbah plastik selama proses produksi atau penyimpanan. Ketika tertelan oleh ternak, mikroplastik tidak sekadar melewati saluran pencernaan. Partikel-partikel tersebut diketahui dapat memicu stres oksidatif, menyebabkan inflamasi pada dinding saluran pencernaan, serta mengganggu efisiensi penyerapan nutrisi.
Dampak jangka panjang dari paparan ini adalah penurunan performa pertumbuhan ayam broiler. Ternak yang mengalami gangguan penyerapan nutrisi akan memiliki laju pertumbuhan yang lebih lambat dan tingkat konversi pakan (Feed Conversion Ratio/FCR) yang memburuk. Lebih jauh lagi, terdapat kekhawatiran mengenai transfer trofik, di mana residu mikroplastik yang tertahan di jaringan tubuh ternak dapat berpindah ke manusia saat produk daging atau telur ayam tersebut dikonsumsi. Fenomena ini menempatkan mikroplastik bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan ancaman nyata bagi ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat.
Pengembangan Inovasi: Kolaborasi Lintas Disiplin
Penelitian yang dipimpin oleh Fauzan Akbar Nugroho dari Program Studi S1 Ilmu dan Industri Peternakan angkatan 2024 ini melibatkan kolaborasi multidisiplin. Tim ini terdiri dari mahasiswa lintas fakultas, yakni Dhiaz Larasati (Fakultas Peternakan), Dimas Jati (Sekolah Vokasi), Muhammad Fazli (Fakultas Biologi), serta Nabilla Saver (Fakultas Farmasi). Di bawah bimbingan Dr. Moh. Sofiāul Anam, S.Pt., M.Sc., tim ini berupaya memadukan ilmu peternakan, biologi, dan farmasi untuk menciptakan solusi yang aplikatif dan berbasis sumber daya lokal.

Pemilihan daun kirinyuh (Chromolaena odorata) bukan tanpa alasan. Tanaman ini dikenal sebagai gulma yang melimpah di Indonesia namun memiliki kandungan senyawa fitokimia yang kaya. Dalam riset ini, daun kirinyuh diproses menjadi nanopartikel. Penggunaan teknologi nano bertujuan untuk meningkatkan luas permukaan material, sehingga kapasitas adsorpsi terhadap partikel mikroplastik di dalam usus menjadi jauh lebih optimal dibandingkan material dalam bentuk mikro atau makro.
Mekanisme Kerja: Adsorpsi dan Proteksi Antioksidan
Secara teknis, inovasi ini bekerja melalui dua mekanisme utama. Pertama, sebagai agen adsorben. Partikel nano dari daun kirinyuh memiliki afinitas tinggi terhadap permukaan mikroplastik. Ketika masuk ke dalam saluran pencernaan ternak, material ini akan mengikat partikel-partikel mikroplastik yang tersebar dalam pakan atau air. Setelah terikat, mikroplastik menjadi lebih mudah untuk diekskresikan bersama feses, sehingga meminimalisir kemungkinan partikel tersebut menembus barier usus dan masuk ke peredaran darah ternak.
Kedua, sebagai agen pelindung melalui senyawa bioaktif. Daun kirinyuh mengandung flavonoid dan senyawa fenolik dalam konsentrasi yang signifikan. Senyawa-senyawa ini berfungsi sebagai antioksidan alami yang mampu menetralisir radikal bebas yang dihasilkan akibat stres oksidatif yang dipicu oleh mikroplastik. Dengan menekan stres oksidatif, jaringan usus ternak dapat terlindungi dari kerusakan inflamasi, sehingga penyerapan nutrisi tetap terjaga meskipun ternak terpapar lingkungan yang tercemar mikroplastik.
Analisis Implikasi: Menuju Peternakan Berkelanjutan
Pengembangan feed additive berbasis bahan alami ini memiliki implikasi yang luas bagi industri peternakan nasional. Pertama, dari sisi efisiensi ekonomi, penggunaan bahan lokal seperti kirinyuh dapat menekan ketergantungan peternak pada feed additive sintetik yang harganya relatif lebih mahal. Kedua, dari sisi keamanan pangan, inovasi ini memberikan perlindungan biosecurity tambahan terhadap risiko kontaminasi mikroplastik yang sulit dideteksi secara kasat mata.
Ditinjau dari perspektif kesehatan masyarakat, langkah ini selaras dengan konsep One Health, yang mengakui bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling terhubung. Dengan memastikan ternak bebas dari akumulasi mikroplastik, risiko kesehatan pada manusia selaku konsumen akhir dapat ditekan secara signifikan.

Dalam konteks pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), penelitian ini menyentuh setidaknya tiga poin penting: SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui peningkatan produktivitas peternakan yang berkelanjutan, SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui jaminan keamanan pangan, serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pemanfaatan sumber daya hayati lokal sebagai solusi masalah polusi global.
Tantangan dan Proyeksi Masa Depan
Meskipun hasil riset awal menunjukkan potensi yang menjanjikan, tantangan ke depan terletak pada standarisasi produksi dan pengujian skala luas di peternakan rakyat. Proses nanoteknologi memerlukan kontrol kualitas yang ketat untuk memastikan efektivitas dan keamanan produk bagi ternak dalam jangka panjang. Selain itu, diperlukan kajian toksisitas yang komprehensif untuk memastikan bahwa penggunaan ekstrak daun kirinyuh dalam dosis tinggi tidak memberikan efek samping terhadap kualitas produk ternak seperti rasa atau aroma daging.
Fauzan dan timnya optimistis bahwa riset kolaboratif ini dapat menjadi model bagi penelitian-penelitian di masa depan. Kunci keberhasilan riset ini adalah integrasi antara pemahaman fisiologi ternak oleh mahasiswa peternakan, mekanisme molekuler oleh mahasiswa biologi dan farmasi, serta aplikasi teknologi terapan oleh mahasiswa sekolah vokasi. Sinergi ini terbukti mampu menjawab tantangan kompleks yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan satu bidang ilmu saja.
Kesimpulan
Inovasi mahasiswa UGM dalam memanfaatkan nanopartikel daun kirinyuh sebagai adsorben mikroplastik pada pakan ayam broiler merupakan langkah progresif dalam menjawab tantangan pencemaran lingkungan yang berdampak pada sektor peternakan. Dengan memanfaatkan potensi kekayaan hayati lokal dan teknologi nano, tim PKM-RE ini telah menunjukkan bahwa solusi atas permasalahan global sering kali dapat ditemukan di lingkungan sekitar kita sendiri.
Ke depan, pengembangan produk ini diharapkan tidak hanya berhenti di skala laboratorium, tetapi dapat berlanjut hingga ke tahap uji lapang dan komersialisasi. Dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk akademisi, pemerintah, dan pelaku industri peternakan, sangat diperlukan untuk memastikan bahwa inovasi ini dapat diimplementasikan secara luas. Keberhasilan riset ini menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya riset kolaboratif yang fokus pada keberlanjutan lingkungan demi masa depan pangan yang lebih aman dan sehat. Dengan terus mendorong riset-riset berbasis sains yang aplikatif, Indonesia diharapkan dapat lebih mandiri dalam menghadapi ancaman polusi mikroplastik yang kini telah menjadi ancaman nyata bagi rantai makanan dunia.









