Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Hiburan

Aktor Film Nobody Loves Kay Dorong Generasi Z Memperkuat Implementasi Nilai-Nilai Pancasila di Era Transformasi Digital

badge-check


					Aktor Film Nobody Loves Kay Dorong Generasi Z Memperkuat Implementasi Nilai-Nilai Pancasila di Era Transformasi Digital Perbesar

Peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2026 menjadi momentum krusial bagi generasi muda untuk merefleksikan kembali dasar negara di tengah arus globalisasi yang kian kencang. Aktor muda Bima Azriel, yang dikenal melalui perannya sebagai Kay dalam film teranyar "Nobody Loves Kay", bersama rekan sejawatnya, Nurhayati, menyerukan pentingnya bagi Generasi Z (Gen Z) untuk tetap memegang teguh nilai-nilai Pancasila sebagai kompas moral dalam kehidupan sehari-hari. Pesan ini disampaikan dalam kunjungan resmi mereka ke ANTARA Heritage Center di kawasan Jakarta Pusat, sebuah lokasi bersejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan jurnalistik dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Bima Azriel menegaskan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sebuah penghormatan terhadap fondasi yang memungkinkan Indonesia berdiri tegak sebagai bangsa yang majemuk. Menurutnya, menghargai sejarah terbentuknya Pancasila adalah langkah awal bagi anak muda untuk memahami identitas nasional mereka. Dalam kunjungannya pada Selasa (26/5/2026), Bima menekankan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sangat relevan untuk menjawab tantangan zaman, terutama di era di mana batas-batas budaya semakin kabur akibat penetrasi teknologi digital.

Reaktualisasi Sila Kedua dalam Interaksi Sosial Gen Z

Sebagai representasi dari generasi muda yang aktif di industri kreatif, Bima Azriel menyoroti Sila Kedua, yakni "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab", sebagai nilai yang paling sering ia upayakan untuk diimplementasikan. Ia berpendapat bahwa di tengah riuhnya interaksi di media sosial, sikap saling menghargai, menjunjung sopan santun, dan menjaga kerukunan menjadi sangat esensial. Hal ini penting untuk mencegah polarisasi dan perundungan siber yang kerap melanda generasi seusianya.

Bima juga menyampaikan optimismenya terhadap karakter generasi muda saat ini. Meski tidak menampik adanya deviasi perilaku pada sebagian kecil individu, ia meyakini mayoritas Gen Z masih memiliki semangat nasionalisme yang kuat. Ia berargumen bahwa teknologi seharusnya menjadi alat untuk memperkuat implementasi Pancasila, bukan justru mengikisnya. Penguasaan teknologi yang dibarengi dengan karakter yang kuat berdasarkan nilai-nilai luhur bangsa akan menjadikan Gen Z sebagai motor penggerak Indonesia Emas 2045.

Perspektif Nurhayati Mengenai Pancasila sebagai Ideologi Terbuka

Senada dengan Bima, Nurhayati, yang memerankan tokoh BB dalam film yang sama, menekankan kedudukan Pancasila sebagai pedoman hidup (way of life). Mantan anggota grup idola JKT48 yang kini merambah dunia seni peran ini menyatakan bahwa Pancasila adalah instrumen utama untuk menciptakan lingkungan sosial yang aman dan nyaman. Bagi Nurhayati, keadilan sosial adalah nilai yang paling menonjol dalam aktivitasnya sehari-hari, di mana ia berusaha memperlakukan semua orang tanpa memandang latar belakang suku, agama, atau status sosial.

Nurhayati mengingatkan bahwa meskipun Gen Z sangat terpapar oleh budaya luar melalui platform digital, identitas sebagai warga negara Indonesia tidak boleh luntur. Ia memandang Pancasila sebagai ideologi yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan esensinya. "Kita boleh mengikuti tren global, namun cara kita bersikap dan berinteraksi harus tetap mencerminkan nilai-nilai keindonesiaan," ujarnya di sela-sela kunjungan ke gedung bersejarah tersebut.

Konteks Sejarah dan Signifikansi Hari Lahir Pancasila

Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni merujuk pada momen bersejarah di tahun 1945 ketika Ir. Soekarno menyampaikan pidato berjudul "Lahirnya Pancasila" dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dalam pidato tersebut, Soekarno mengusulkan lima prinsip dasar negara yang kemudian disepakati oleh para pendiri bangsa. Penetapan 1 Juni sebagai hari libur nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 bertujuan agar seluruh elemen bangsa, terutama generasi muda, senantiasa mengingat akar filosofis negara mereka.

Kunjungan Bima Azriel dan Nurhayati ke ANTARA Heritage Center memberikan dimensi tambahan pada pemahaman sejarah tersebut. Gedung yang dulunya merupakan kantor berita pertama di Indonesia ini menyimpan arsip-arsip penting mengenai bagaimana nilai-nilai Pancasila disosialisasikan kepada rakyat pada masa awal kemerdekaan. Dengan melihat langsung jejak sejarah tersebut, para aktor muda ini berharap dapat menularkan semangat patriotisme kepada penggemar mereka yang mayoritas berasal dari kalangan milenial dan Gen Z.

Tantangan Gen Z: Disrupsi Digital dan Ketahanan Ideologi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam beberapa tahun terakhir, komposisi penduduk Indonesia didominasi oleh Gen Z dan milenial. Kelompok ini memiliki karakteristik yang sangat akrab dengan teknologi informasi, namun di sisi lain, mereka juga paling rentan terpapar ideologi transnasional dan konten negatif yang bertentangan dengan nilai Pancasila. Riset dari berbagai lembaga pemikiran menunjukkan bahwa tantangan terbesar dalam internalisasi Pancasila saat ini adalah bagaimana mengemas nilai-nilai tersebut agar tetap menarik dan relevan bagi anak muda.

Pemain "Nobody Loves Kay" mengajak Gen Z memegang nilai Pancasila

Data dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menunjukkan adanya pergeseran strategi dalam membumikan Pancasila, dari cara-cara indoktrinasi konvensional menuju pendekatan yang lebih kreatif dan partisipatif. Pelibatan tokoh publik seperti Bima Azriel dan Nurhayati dipandang sebagai langkah strategis untuk menjangkau audiens muda melalui media yang mereka konsumsi, seperti film dan konten digital. Kehadiran mereka di ANTARA Heritage Center menjadi simbol kolaborasi antara dunia hiburan dan upaya pelestarian nilai kebangsaan.

Analisis Implikasi: Peran Figur Publik dalam Penguatan Karakter Bangsa

Keterlibatan aktor dalam menyuarakan pesan-pesan kebangsaan memiliki implikasi yang signifikan terhadap persepsi publik. Dalam sosiologi komunikasi, figur publik sering kali menjadi opinion leader yang mampu memengaruhi perilaku dan cara pandang pengikutnya. Ketika Bima Azriel dan Nurhayati berbicara tentang Pancasila, topik yang mungkin dianggap berat atau kaku oleh sebagian anak muda menjadi lebih ringan dan mudah diterima.

Secara faktual, film "Nobody Loves Kay" sendiri diharapkan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mengandung pesan-pesan moral yang sejalan dengan semangat kemanusiaan dan keadilan. Pengaruh positif yang dibawa oleh para pemerannya dapat memperkuat kohesi sosial di tingkat akar rumput. Jika setiap tokoh berpengaruh di media sosial melakukan hal yang sama, maka ketahanan ideologi bangsa akan semakin kokoh menghadapi guncangan budaya global.

Kronologi Kunjungan dan Dialog Kebangsaan di ANTARA Heritage Center

Kunjungan para pemeran "Nobody Loves Kay" ke ANTARA Heritage Center diawali dengan tur singkat melihat galeri foto jurnalistik bersejarah. Berikut adalah garis waktu singkat kegiatan tersebut:

  1. Pukul 10.00 WIB: Bima Azriel dan Nurhayati tiba di lokasi dan disambut oleh manajemen ANTARA Heritage Center.
  2. Pukul 10.30 WIB: Sesi eksplorasi galeri, di mana mereka mempelajari peran pers dalam mempertahankan Pancasila sebagai pemersatu bangsa di masa krisis.
  3. Pukul 11.15 WIB: Dialog interaktif dengan awak media mengenai relevansi Pancasila bagi Gen Z dan bagaimana industri film dapat berkontribusi pada pembangunan karakter bangsa.
  4. Pukul 12.00 WIB: Penutupan kegiatan dengan pesan singkat untuk generasi muda Indonesia melalui kanal media sosial resmi.

Selama kunjungan tersebut, tampak antusiasme dari kedua aktor saat melihat dokumen-dokumen otentik seputar proklamasi dan perumusan dasar negara. Hal ini menunjukkan bahwa literasi sejarah merupakan komponen penting dalam membentuk kesadaran berbangsa.

Dampak Luas: Menuju Indonesia Emas dengan Fondasi Pancasila

Upaya mengajak Gen Z memegang nilai Pancasila memiliki dampak jangka panjang terhadap stabilitas nasional. Sebagai calon pemimpin di masa depan, Gen Z perlu memiliki integritas yang bersumber dari kearifan lokal bangsa sendiri. Tanpa pegangan ideologi yang kuat, kemajuan teknologi yang dicapai Indonesia dikhawatirkan akan kehilangan arah dan justru menciptakan kesenjangan sosial yang lebih lebar.

Pernyataan Bima Azriel mengenai "kemanusiaan yang adil dan beradab" dan penekanan Nurhayati pada "keadilan sosial" mencerminkan kebutuhan akan empati di tengah dunia yang semakin kompetitif. Jika nilai-nilai ini benar-benar terinternalisasi, maka masalah-masalah seperti intoleransi, korupsi, dan ketidakadilan hukum dapat diminimalisir di masa depan.

Pancasila bukan sekadar teks yang dihafal saat upacara bendera, melainkan sebuah aksi nyata. Melalui momentum Hari Lahir Pancasila 2026, diharapkan muncul lebih banyak inisiatif dari kalangan anak muda untuk mengaplikasikan nilai-nilai luhur tersebut dalam inovasi teknologi, karya seni, maupun kegiatan sosial. Dengan demikian, Pancasila akan tetap hidup dan relevan, menjadi cahaya pemandu bagi bangsa Indonesia dalam mengarungi tantangan abad ke-21 yang penuh dengan ketidakpastian.

Kesimpulannya, peran aktif dari berbagai pihak, termasuk para pelaku industri kreatif, sangat diperlukan untuk memastikan bahwa Pancasila tetap menjadi identitas kolektif yang dibanggakan oleh generasi muda. Kunjungan Bima Azriel dan Nurhayati ke pusat sejarah jurnalistik Indonesia ini menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa ada di tangan mereka yang menghargai masa lalunya dan siap berinovasi tanpa meninggalkan jati diri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Lisa Simone dan Harbourside Jazz Big Band Hidupkan Spirit Legendaris Nina Simone di Panggung Java Jazz Festival 2026

10 Juni 2026 - 06:09 WIB

Indro Warkop Rilis Lagu Dan Aku Rindu Sebagai Penghormatan untuk Mendiang Sahabat Warkop DKI dalam Film Viralin Dong!

9 Juni 2026 - 18:09 WIB

Ahli Dermatologi Tekankan Pentingnya Penanganan Dini Kerontokan Rambut dan Integrasi Teknologi Medis Modern dalam Perawatan Estetika Berkelanjutan

9 Juni 2026 - 12:09 WIB

Palari Films Targetkan Standar Global Melalui Eksplorasi Horor Fantasi Monster Pabrik Rambut yang Siap Tayang Serentak di Indonesia

9 Juni 2026 - 06:09 WIB

Sutradara Edwin Kritik Sistem Kapitalisme Lewat Film Monster Pabrik Rambut yang Mengedepankan Efek Praktikal

9 Juni 2026 - 00:09 WIB

Trending di Hiburan