Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Ekonomi

Kementerian Ekonomi Kreatif Dorong Transformasi Kekayaan Intelektual Lokal Menjadi Ruang Pengalaman Imersif Berbasis Ekonomi

badge-check


					Kementerian Ekonomi Kreatif Dorong Transformasi Kekayaan Intelektual Lokal Menjadi Ruang Pengalaman Imersif Berbasis Ekonomi Perbesar

Jakarta – Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) secara resmi menyatakan dukungannya terhadap model bisnis baru dalam pengembangan kekayaan intelektual (Intellectual Property/IP) lokal yang berbasis pada pengalaman fisik atau experience-based IP. Langkah ini ditandai dengan kunjungan Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, ke fasilitas Wonderlab di Senayan City, Jakarta, pada Senin (8/6/2026). Inisiatif ini dipandang sebagai terobosan strategis untuk menggeser paradigma pengembangan IP yang selama ini cenderung terpaku pada konten digital atau lisensi produk fisik semata.

Pengembangan IP berbasis pengalaman diyakini mampu menciptakan ekosistem yang lebih integratif, di mana karakter kreatif tidak hanya hidup di layar kaca atau media sosial, tetapi bermanifestasi dalam ruang fisik yang dapat berinteraksi langsung dengan audiens. Wonderlab, yang dikembangkan oleh PT Wonder World Entertainment, menjadi pionir dalam model bisnis ini dengan mengintegrasikan teknologi mekatronik, projection mapping, dan desain multisensori sebagai alat edukasi sekaligus hiburan.

Evolusi Model Bisnis Ekonomi Kreatif Indonesia

Selama satu dekade terakhir, industri ekonomi kreatif di Indonesia telah mengalami transformasi signifikan. Jika pada periode 2015-2020 fokus utama terletak pada digitalisasi konten dan pertumbuhan startup teknologi, maka tren pada 2026 mulai bergeser ke arah pengalaman fisik (luring) yang terdigitalisasi.

Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa pemerintah kini menaruh perhatian besar pada IP lokal yang mampu memberikan dampak ekonomi ganda. Menurutnya, ketika sebuah karya kreatif berhasil diterjemahkan menjadi ruang fisik yang imersif, nilai ekonomi yang dihasilkan tidak hanya berasal dari tiket masuk atau penjualan ritel, tetapi juga dari terciptanya lapangan kerja baru, penggunaan material lokal dalam konstruksi wahana, hingga kolaborasi lintas sektor.

"Pengembangan IP lokal tidak harus selalu terbatas pada pelatihan talenta atau produksi konten digital. Kita melihat potensi besar pada penciptaan ruang pengalaman yang inovatif. Ini adalah model bisnis masa depan di mana kreativitas bertemu dengan infrastruktur fisik yang memberikan manfaat sosial bagi tumbuh kembang anak," ujar Riefky di sela-sela kunjungannya.

Profil Wonderlab: Inovasi di Balik Wahana Imersif

Wonderlab hadir sebagai jawaban atas kebutuhan ruang bermain yang tidak sekadar berfungsi sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sebagai sarana edukasi berbasis psikologi perkembangan. Destinasi ini menjadi yang pertama di Indonesia yang mengusung konsep edukasi fisik dan bermain imersif secara menyeluruh.

Fasilitas yang dihadirkan meliputi:

  1. Zona Petualangan Imersif: Menggunakan teknologi projection mapping yang bereaksi terhadap pergerakan fisik anak, mendorong aktivitas motorik kasar.
  2. Wonder Class: Program multidisiplin yang dirancang khusus untuk rentang usia 1–8 tahun guna menstimulasi kemampuan kognitif.
  3. Kolam Bola Interaktif: Salah satu fasilitas terbesar di Jakarta dengan kapasitas 320.000 bola yang dilengkapi dengan sistem sensorik untuk meningkatkan interaksi sosial.

Filosofi mens sana in corpore sano atau "jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat" menjadi landasan utama pembangunan fasilitas ini. Dengan mengombinasikan teknologi canggih dan aktivitas fisik, Wonderlab berusaha menyeimbangkan ketergantungan generasi muda terhadap perangkat digital dengan kebutuhan akan interaksi dunia nyata.

Kemenekraf mendukung pengembangan IP lokal berbasis pengalaman

Analisis Strategis: Dampak Ekonomi dan Psikologis

Kehadiran destinasi seperti Wonderlab memiliki implikasi luas bagi ekonomi kreatif nasional. Dari sisi ekonomi, investasi pada IP fisik yang bersifat scalable atau dapat direplikasi di berbagai kota di Indonesia memberikan potensi pertumbuhan ekonomi kreatif regional yang lebih merata. Industri ini memicu permintaan pada sektor konstruksi khusus, perangkat keras teknologi, hingga jasa kurasi konten kreatif.

Secara psikologis, CEO Genexyz, Belinda Luis, menyoroti pentingnya ruang yang mengizinkan anak untuk melakukan kesalahan dalam lingkungan yang aman. "Wonderlab dirancang sebagai ruang di mana anak-anak bisa berpikir, mencoba, gagal, dan mencoba lagi. Proses iterasi dalam bermain ini sangat krusial untuk membangun ketangguhan mental atau resilience pada anak-anak," jelas Belinda.

Data dari berbagai studi perilaku anak menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang melibatkan elemen sensorik terbukti lebih efektif dalam meningkatkan retensi memori dan kemampuan pemecahan masalah dibandingkan dengan pembelajaran pasif. Oleh karena itu, dukungan pemerintah terhadap ruang bermain imersif dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam mencetak generasi muda yang adaptif.

Tantangan dan Prospek Pengembangan ke Depan

Meskipun potensi pengembangan IP berbasis pengalaman sangat menjanjikan, tantangan utama yang dihadapi adalah keberlanjutan operasional dan pemeliharaan standar keamanan. Mengintegrasikan teknologi tinggi dengan aktivitas fisik anak membutuhkan pemeliharaan yang intensif dan standar keselamatan (safety) yang tinggi.

Kemenekraf berkomitmen untuk memberikan dukungan regulasi dan kemudahan perizinan bagi pengembang IP lokal yang ingin mengekspansi model bisnis ini. Diharapkan, keberhasilan Wonderlab sebagai IP 100 persen karya anak bangsa dapat menjadi tolok ukur bagi pelaku industri lain untuk berani berinvestasi pada properti intelektual yang tidak hanya mengandalkan royalti konten, tetapi juga pengalaman ruang.

Ke depan, pemerintah berencana untuk memfasilitasi pertemuan antara pengembang IP kreatif dengan investor properti agar konsep "ruang pengalaman" ini dapat diintegrasikan dalam pembangunan pusat perbelanjaan, kawasan wisata, hingga pengembangan kota ramah anak di berbagai daerah. Hal ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Kronologi Pengembangan IP Kreatif di Indonesia (2020-2026)

  • 2020-2022: Fokus utama industri kreatif adalah bertahan melalui akselerasi digital. Pertumbuhan konten digital (webtoon, animasi, gim) meningkat pesat akibat pembatasan mobilitas.
  • 2023-2024: Mulai muncul tren kolaborasi antara konten digital dengan pameran fisik atau pop-up store. IP karakter mulai diuji dalam skala yang lebih kecil.
  • 2025: Pemerintah mulai merumuskan insentif bagi IP lokal yang berhasil melakukan komersialisasi di luar platform digital.
  • 2026: Peresmian Wonderlab menandai era baru di mana IP lokal menjadi pusat dari destinasi hiburan berskala besar yang permanen, mengintegrasikan teknologi dan interaksi fisik secara penuh.

Kesimpulan dan Harapan

Dukungan Kementerian Ekonomi Kreatif terhadap pengembangan IP lokal berbasis pengalaman seperti yang dilakukan oleh Wonderlab adalah langkah strategis untuk memperkuat daya saing ekonomi kreatif Indonesia. Dengan mengedepankan inovasi, keamanan, dan nilai edukasi, model bisnis ini tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi bagi pelakunya, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan karakter generasi muda Indonesia.

Di tengah gempuran konten asing, kemunculan IP lokal yang kuat secara fisik dan naratif memberikan optimisme baru. Jika konsistensi ini terjaga, Indonesia memiliki peluang besar untuk tidak hanya menjadi konsumen konten global, tetapi juga eksportir model bisnis kreatif yang mampu diadaptasi oleh pasar internasional di masa mendatang. Pemerintah berharap model Wonderlab dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia, sehingga manfaat dari kreativitas anak bangsa dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat luas, baik di kota besar maupun daerah lainnya.

Ke depannya, sinergi antara pemerintah, akademisi, dan praktisi industri kreatif akan menjadi kunci. Pelatihan talenta yang tidak hanya fokus pada seni digital, tetapi juga pada manajemen fasilitas kreatif, teknologi interaktif, dan psikologi anak, akan menjadi agenda penting dalam peta jalan ekonomi kreatif Indonesia menuju tahun 2045. Melalui langkah-langkah konkret seperti ini, ekonomi kreatif diharapkan dapat menjadi tulang punggung ekonomi nasional yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pemerintah Resmi Berlakukan Diskon Tarif Transportasi Massal untuk Dorong Wisata dan Ekonomi Selama Libur Sekolah 2026

21 Juni 2026 - 06:45 WIB

Peran Strategis Indonesia dalam KTT ASEAN-Rusia: Memperkuat Stabilitas Kawasan di Tengah Dinamika Geopolitik Global

21 Juni 2026 - 06:19 WIB

Spesifikasi Tyranno X, motor listrik semi off-road dengan jarak tempuh 160 km resmi meluncur di Jakarta Fair 2026

21 Juni 2026 - 00:45 WIB

PN Sleman Sidangkan Kasus Penipuan Proyek Pengadaan Beras Lapas Senilai Rp3,2 Miliar yang Menyeret Direktur PT Rajawali 83

21 Juni 2026 - 00:19 WIB

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen Melampaui Rata-rata Negara G20 dan ASEAN di Kuartal I 2026

20 Juni 2026 - 18:45 WIB

Trending di Ekonomi