Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta secara resmi memulai langkah drastis dalam menata sistem transportasi lokal dengan melakukan penghancuran simbolis terhadap 50 unit becak motor (betor) di Kantor Pengujian Kendaraan Bermotor Kota Yogyakarta pada Rabu, 3 Juni 2026. Langkah ini merupakan bagian dari kebijakan strategis pemerintah daerah untuk mentransformasi moda transportasi tradisional menjadi kendaraan berbasis listrik yang lebih ramah lingkungan, khususnya di kawasan wisata premium Malioboro yang merupakan bagian dari Sumbu Filosofi Yogyakarta.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa kebijakan ini bukan sekadar upaya penertiban, melainkan komitmen jangka panjang dalam menciptakan ekosistem transportasi yang minim polusi. Dengan dimusnahkannya 50 unit becak motor tersebut, para pengemudi secara bertahap dialihkan untuk menggunakan becak listrik yang disediakan melalui skema bantuan Program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) dari PT KAI.
Konteks Historis dan Urgensi Penataan Transportasi
Keberadaan becak motor di Yogyakarta telah lama menjadi perdebatan antara kebutuhan ekonomi pengemudi dan estetika serta kelestarian lingkungan kawasan wisata. Becak motor, yang umumnya merupakan modifikasi dari becak kayuh dengan penambahan mesin sepeda motor, selama bertahun-tahun dianggap menyumbang polusi udara dan kebisingan di pusat kota.
Sejak kawasan Malioboro ditetapkan sebagai bagian dari Sumbu Filosofi Yogyakarta yang diakui oleh UNESCO, standar pengelolaan lingkungan di kawasan tersebut meningkat secara signifikan. Pemerintah daerah merasa perlu melakukan pembenahan drastis agar citra Yogyakarta sebagai kota budaya yang berkelanjutan tetap terjaga. Transformasi ke becak listrik dianggap sebagai jalan tengah yang paling realistis: di satu sisi, emisi gas buang dapat ditekan hingga titik nol, sementara di sisi lain, pengemudi becak tetap dapat mencari nafkah tanpa harus mengayuh becak secara manual yang melelahkan, terutama bagi pengemudi lanjut usia.
Kronologi dan Rencana Transformasi Bertahap
Langkah penghancuran becak motor pada 3 Juni 2026 ini merupakan puncak dari serangkaian upaya persuasif yang telah dilakukan Pemkot Yogyakarta selama beberapa tahun terakhir. Berikut adalah gambaran garis waktu proses transisi tersebut:
- Tahun 2024-2025: Sosialisasi intensif kepada paguyuban pengemudi becak mengenai bahaya polusi dan rencana revitalisasi transportasi.
- Awal 2026: Pendataan menyeluruh terhadap jumlah becak motor yang beroperasi di wilayah administratif Kota Yogyakarta.
- Mei 2026: Penandatanganan nota kesepahaman antara Pemkot Yogyakarta dan pihak korporasi (CSR) untuk pengadaan unit becak listrik.
- 3 Juni 2026: Eksekusi penghancuran simbolis 50 unit becak motor pertama dan penyerahan unit becak listrik kepada kelompok pengemudi.
Pemkot Yogyakarta menargetkan total 900 unit becak konvensional (termasuk becak motor) akan dikonversi menjadi becak listrik dalam kurun waktu dua tahun ke depan. Hingga saat ini, sebanyak 260 unit becak listrik telah mengaspal di jalanan Yogyakarta, meskipun beberapa unit masih dalam tahap evaluasi teknis untuk memastikan kompatibilitasnya dengan medan jalan dan kebutuhan pengguna.
Mekanisme Kelembagaan dan Pengawasan
Salah satu kebijakan kunci yang diterapkan oleh Pemkot Yogyakarta adalah keharusan bagi pengemudi untuk bergabung dalam koperasi. Kebijakan ini diambil untuk memastikan adanya kontrol sosial dan administratif yang ketat. Dengan bernaung di bawah koperasi, pemerintah dapat memantau operasional, melakukan perawatan armada, dan yang paling penting, mencegah munculnya kembali becak motor ilegal di masa depan.
Hasto Wardoyo menekankan bahwa pemerintah telah mengunci regulasi terkait pelarangan becak motor baru. "Syarat menerima becak listrik adalah harus dalam bentuk koperasi. Koperasi ini yang akan melakukan kontrol agar tidak ada lagi penambahan becak motor. Kami sudah mengunci regulasinya," ujar Hasto.
Selain aspek operasional, Pemkot Yogyakarta juga tengah menjajaki kolaborasi strategis dengan PT PLN (Persero) untuk penyediaan stasiun pengisian daya (charging station). Ketersediaan infrastruktur pengisian listrik yang terjangkau menjadi krusial agar beban operasional pengemudi tidak meningkat dibandingkan saat mereka menggunakan bahan bakar minyak.
Tantangan Teknis dan Integrasi Teknologi
Meskipun program ini mendapatkan dukungan positif dari sisi lingkungan, tantangan teknis tetap membayangi. Beberapa becak listrik yang saat ini beroperasi masih dianggap belum sepenuhnya kompatibel dengan standar kenyamanan pengguna. Masalah seperti kapasitas baterai, torsi mesin di tanjakan, dan kemudahan perawatan menjadi fokus evaluasi dinas terkait.

Pemerintah berkomitmen untuk terus memperbaiki spesifikasi teknis becak listrik yang diproduksi agar lebih ramah bagi pengguna dan lingkungan. Inovasi pada sistem penggerak dan pemilihan material baterai yang tahan lama menjadi prioritas dalam produksi tahap selanjutnya. Keberhasilan program ini sangat bergantung pada keberlanjutan dukungan teknis dari produsen dan kemudahan akses pengisian daya bagi para pengemudi.
Analisis Dampak Sosial dan Ekonomi
Transformasi moda transportasi ini membawa implikasi luas bagi ekosistem pariwisata Yogyakarta. Secara ekonomi, penggunaan becak listrik meningkatkan nilai jual wisata Yogyakarta di mata wisatawan mancanegara yang semakin peduli terhadap isu lingkungan. Becak listrik memberikan pengalaman wisata yang lebih tenang, tidak berisik, dan memberikan kesan modern namun tetap tradisional.
Bagi pengemudi becak, transisi ini memberikan peningkatan kualitas kerja. Mengoperasikan becak listrik jauh lebih ringan daripada mengayuh becak konvensional atau menggunakan mesin motor yang rentan rusak. Namun, tantangan yang mungkin muncul adalah kemampuan pengemudi dalam beradaptasi dengan teknologi baru. Oleh karena itu, pelatihan berkala mengenai perawatan dasar kendaraan listrik menjadi bagian integral dari program ini.
Reaksi Publik dan Pemangku Kepentingan
Respon dari komunitas pengemudi becak sendiri cenderung variatif. Banyak yang menyambut baik karena adanya bantuan unit gratis melalui program CSR, namun ada pula yang masih khawatir mengenai biaya operasional jangka panjang, seperti penggantian baterai. Menanggapi hal tersebut, pihak Pemkot Yogyakarta berjanji akan terus memberikan subsidi dan pendampingan melalui koperasi agar beban pengemudi tidak membengkak.
Di sisi lain, aktivis lingkungan di Yogyakarta menyambut baik langkah ini sebagai bentuk nyata "dekarbonisasi" transportasi lokal. Mereka berharap kebijakan ini tidak berhenti di becak saja, tetapi juga merambah ke kendaraan umum lainnya yang masih menggunakan mesin konvensional dengan emisi tinggi.
Proyeksi Masa Depan: Sumbu Filosofi Tanpa Emisi
Tujuan utama dari kebijakan ini adalah menjadikan Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai kawasan rendah emisi (low emission zone). Sumbu yang membentang dari Panggung Krapyak, Keraton, hingga Malioboro dan Tugu Yogyakarta ini ditargetkan menjadi zona percontohan bagi kota-kota lain di Indonesia dalam pengelolaan transportasi wisata berbasis energi terbarukan.
Dengan target 900 unit becak listrik beroperasi penuh pada tahun 2028, Yogyakarta diharapkan dapat memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata berkelanjutan (sustainable tourism). Integrasi antara warisan budaya dan teknologi hijau menjadi kunci utama dalam mempertahankan daya tarik Yogyakarta di tengah tantangan perubahan iklim global.
Langkah Pemkot Yogyakarta ini merupakan sebuah anomali positif di tengah maraknya transportasi berbasis aplikasi yang terkadang mengabaikan aspek kelestarian kawasan. Dengan memadukan regulasi yang tegas, dukungan korporasi melalui CSR, dan keberpihakan pada koperasi pengemudi, Yogyakarta menunjukkan bahwa perubahan ke arah yang lebih baik bukanlah hal yang mustahil jika dilakukan dengan perencanaan yang matang dan konsistensi tinggi.
Pemerintah pusat melalui kementerian terkait juga dikabarkan memantau perkembangan program ini. Jika sukses, model konversi becak listrik di Yogyakarta ini berpotensi diadopsi di kota-kota wisata lainnya di Indonesia, seperti Solo, Cirebon, atau kota-kota tua lainnya yang masih mempertahankan moda transportasi becak sebagai ikon wisata.
Pada akhirnya, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari berapa banyak becak motor yang dihancurkan, melainkan seberapa jauh kualitas udara dan kenyamanan di kawasan Malioboro dapat meningkat, serta seberapa besar tingkat kesejahteraan pengemudi becak dapat terjaga di era transisi energi ini. Fokus ke depan akan tertuju pada konsistensi Pemkot Yogyakarta dalam memantau setiap unit becak listrik agar tetap memenuhi standar yang telah ditetapkan, sehingga visi Yogyakarta sebagai kota ramah lingkungan dapat terwujud sepenuhnya.









