Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui Dinas Perhubungan (Dishub) secara resmi memulai babak baru dalam penataan sistem transportasi publik berbasis kearifan lokal dengan melakukan konversi becak motor menjadi becak listrik. Langkah ini bukan sekadar penggantian moda transportasi, melainkan strategi komprehensif untuk menciptakan kawasan rendah emisi di wilayah Sumbu Filosofi Yogyakarta yang telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan dunia. Pada Rabu, 3 Juni 2026, proses penghapusan operasional becak motor (bentor) secara simbolis dilakukan, diikuti dengan distribusi unit becak listrik kepada para pengemudi sebagai bentuk dukungan nyata terhadap keberlanjutan lingkungan dan pelestarian identitas budaya.
Kepala Dishub DIY, Chrestina Erni Widyastuti, menegaskan bahwa peralihan ini merupakan adaptasi krusial terhadap perkembangan teknologi transportasi modern. Penggunaan becak listrik dinilai lebih efisien, bersih, dan mampu menjawab tantangan polusi udara di kawasan perkotaan yang padat. Dengan teknologi penggerak elektrik, para pengemudi kini memiliki beban kerja yang lebih ringan dibandingkan dengan becak kayuh konvensional, namun tetap mempertahankan estetika becak tradisional yang menjadi ikon wisata Yogyakarta.
Kronologi dan Latar Belakang Penataan Transportasi
Upaya penataan becak di Yogyakarta telah melalui proses panjang yang melibatkan diskusi lintas sektor selama bertahun-tahun. Sebelumnya, keberadaan becak motor atau bentor sering kali berada dalam area abu-abu regulasi. Meskipun sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk mobilitas jarak pendek, penggunaan mesin motor pada rangka becak dianggap tidak memenuhi standar keamanan lalu lintas dan berkontribusi terhadap emisi gas buang yang cukup signifikan di pusat kota.
Sejak awal 2020-an, Pemerintah DIY telah memetakan rencana untuk merevitalisasi moda transportasi tradisional. Program ini diawali dengan pendataan jumlah pengemudi becak yang terdaftar resmi. Pemerintah kemudian menjalin kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pihak swasta melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR), untuk mendanai pengadaan unit becak listrik yang dirancang khusus dengan standar keamanan yang lebih baik.
Proses penghapusan becak motor tidak dilakukan secara drastis tanpa solusi. Pihak pemerintah daerah menerapkan pendekatan humanis dengan memberikan kompensasi berupa unit becak listrik baru bagi pengemudi yang memenuhi kriteria. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa transisi teknologi tidak mematikan mata pencaharian para pengemudi, melainkan justru meningkatkan produktivitas dan kualitas layanan mereka kepada wisatawan.
Sumbu Filosofi dan Urgensi Pengurangan Emisi
Yogyakarta memiliki tantangan unik dalam pengelolaan transportasi. Sebagai kota dengan kawasan Sumbu Filosofi yang membentang dari Panggung Krapyak hingga Tugu Yogyakarta, kawasan ini menuntut pelestarian lingkungan yang ketat. Aktivitas kendaraan bermotor konvensional di kawasan ini menjadi ancaman bagi kelestarian bangunan bersejarah serta kenyamanan wisatawan yang berjalan kaki.
Analisis data lingkungan menunjukkan bahwa akumulasi gas buang dari kendaraan kecil, termasuk becak motor, berpengaruh pada kualitas udara di kawasan cagar budaya. Oleh karena itu, pengalihan ke becak listrik menjadi salah satu instrumen utama dalam kebijakan "Low Emission Zone" (LEZ) atau kawasan rendah emisi. Dengan menggunakan penggerak elektrik, becak listrik tidak menghasilkan emisi gas buang secara langsung di lokasi operasional. Hal ini secara signifikan menurunkan jejak karbon yang dihasilkan oleh sektor transportasi informal di Yogyakarta.
Selain faktor emisi, becak listrik juga memberikan keuntungan operasional bagi pengemudi. Jika sebelumnya mereka harus mengeluarkan biaya untuk bahan bakar minyak (BBM) dan perawatan mesin motor yang cenderung mahal, kini mereka dapat menekan biaya operasional dengan pengisian daya listrik yang lebih ekonomis.
Analisis Dampak Ekonomi dan Sosial
Dari perspektif ekonomi, transisi ke becak listrik diharapkan mampu meningkatkan daya tarik pariwisata Yogyakarta. Wisatawan kini dapat menikmati perjalanan keliling kota dengan moda transportasi yang lebih tenang, minim kebisingan, dan ramah lingkungan. Hal ini sejalan dengan tren pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) yang kini digandrungi oleh wisatawan mancanegara maupun domestik.

Namun, keberhasilan program ini juga bergantung pada penyediaan infrastruktur pendukung, seperti stasiun pengisian daya listrik (charging station) yang tersebar di titik-titik strategis. Pemerintah DIY telah menyatakan komitmennya untuk memastikan bahwa ekosistem ini terbangun dengan baik. Kerja sama antara pemerintah dan komunitas pengemudi becak menjadi kunci agar transisi ini tidak menimbulkan resistensi sosial.
Di sisi lain, terdapat tantangan terkait masa pakai baterai dan pemeliharaan komponen elektrik. Dishub DIY diharapkan dapat terus memberikan pelatihan teknis kepada para pengemudi agar mereka mampu melakukan perawatan dasar. Hal ini penting untuk menjaga agar unit becak listrik tetap beroperasi dalam jangka panjang, sehingga investasi yang dikeluarkan baik oleh pemerintah maupun pihak swasta memberikan nilai guna yang maksimal.
Tanggapan Pemangku Kepentingan dan Harapan Masyarakat
Reaksi dari komunitas pengemudi becak umumnya positif, meski diakui adanya proses adaptasi terhadap teknologi baru. Bagi sebagian pengemudi senior, penggunaan teknologi elektrik pada awalnya dianggap menantang, namun kemudahan dalam pengoperasian menjadi faktor penentu yang membuat mereka menerima transformasi ini.
Pihak akademisi transportasi juga memberikan apresiasi terhadap langkah Pemerintah DIY. Menurut para pakar, langkah ini adalah contoh nyata bagaimana sebuah kota dapat memodernisasi transportasi tanpa harus menghilangkan identitas budayanya. Becak listrik tetap mempertahankan bentuk fisik yang ikonik—roda tiga, atap kanopi, dan posisi pengemudi di belakang—sehingga nuansa tradisional tetap terjaga.
Program ini juga menjadi model bagi kota-kota lain di Indonesia yang memiliki moda transportasi tradisional serupa, seperti becak atau delman, untuk mulai melirik teknologi ramah lingkungan sebagai solusi penataan kota. Sinergi antara pelestarian budaya dan inovasi teknologi terbukti mampu menjadi solusi "win-win" bagi pemerintah, pengemudi, dan masyarakat luas.
Keberlanjutan Program di Masa Depan
Ke depan, Dishub DIY berencana untuk terus mengevaluasi efektivitas penggunaan becak listrik. Evaluasi tidak hanya mencakup aspek teknis kendaraan, tetapi juga dampak ekonomi bagi pengemudi. Harapannya, pendapatan mereka meningkat seiring dengan peningkatan kualitas layanan yang diberikan.
Pemerintah juga berencana mengintegrasikan becak listrik ke dalam sistem transportasi publik yang lebih luas. Misalnya, integrasi dengan halte bus Trans Jogja atau titik-titik transportasi umum lainnya, sehingga becak listrik dapat berfungsi sebagai moda transportasi pengumpan (feeder) yang efektif untuk menghubungkan wisatawan dari simpul transportasi ke objek wisata di pusat kota.
Dengan konsistensi kebijakan yang telah ditunjukkan, Yogyakarta optimis dapat mempertahankan posisinya sebagai kota budaya yang visioner. Transformasi becak listrik bukan sekadar proyek fisik, melainkan simbol komitmen Yogyakarta dalam membangun kota yang berkelanjutan, sehat, dan inklusif bagi warganya serta nyaman bagi wisatawan.
Penghapusan becak motor dan peluncuran becak listrik pada Juni 2026 ini akan tercatat dalam sejarah penataan kota sebagai tonggak sejarah penting. Ini membuktikan bahwa di tengah arus modernisasi yang cepat, Yogyakarta tetap mampu menjaga martabat sejarahnya dengan cara-cara yang inovatif dan relevan dengan tantangan zaman. Keberhasilan program ini kini berada di tangan para pengemudi dan pengelola kota untuk merawatnya, memastikan bahwa roda-roda listrik ini terus berputar mengantarkan Yogyakarta menuju masa depan yang lebih hijau dan lestari.
Data pendukung yang dihimpun selama proses transisi menunjukkan bahwa tingkat polusi di sepanjang kawasan Malioboro dan sekitarnya cenderung menurun setelah pembatasan kendaraan bermotor berat dan transisi moda transportasi kecil ke elektrik. Langkah ini diharapkan terus berlanjut hingga ke seluruh sudut kota, menjadikan Yogyakarta sebagai kota percontohan bagi pengembangan kota ramah lingkungan di Indonesia, sekaligus tetap menjadi destinasi wisata yang memikat dengan pesona tradisinya yang tak lekang oleh waktu.









