Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) melaksanakan rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat yang komprehensif dalam momentum perayaan Idul Adha 1447 H. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (29/5) ini tidak sekadar berfokus pada penyembelihan hewan kurban, melainkan mengintegrasikan bakti sosial kesehatan, edukasi preventif, serta kampanye keberlanjutan lingkungan di tiga kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul. Sebanyak 17 anak dari Dusun Wukirsari, Imogiri, Bantul, menjadi peserta utama dalam program khitanan massal yang digelar sebagai bagian dari agenda tahunan tersebut.
Kronologi dan Cakupan Wilayah Pelaksanaan
Program pengabdian masyarakat ini dirancang sebagai manifestasi dari nilai-nilai kemanusiaan dan tanggung jawab sosial civitas akademika FK-KMK UGM. Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara serentak di tiga titik lokasi strategis untuk memastikan distribusi bantuan yang lebih merata.
Di Kabupaten Bantul, FK-KMK UGM berkolaborasi dengan Lembaga Kesejahteraan Sosial Sahabat Pemerhati Difabel (LKS SAPADIFA) di Sanggar Among Budoyo, Kampung Pramuka, Wukirsari. Selain khitanan massal bagi 17 anak, tim medis FK-KMK UGM menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan komprehensif, meliputi skrining reproduksi, pemeriksaan urologi, serta pengecekan kesehatan gigi dan mulut.

Bergeser ke arah barat, di Mushola Al-Mu’minun, Patihombo, Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, fokus kegiatan difokuskan pada edukasi kesehatan mental dan pemenuhan gizi anak-anak di Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) setempat. Sementara itu, di Kabupaten Gunungkidul, tepatnya di PS Lentera Keluarga, Getas, Playen, tim FK-KMK UGM melakukan pemeriksaan kesehatan bagi para lansia, mencakup pemantauan kadar gula darah, kolesterol, dan asam urat. Total hewan kurban yang disalurkan oleh tim pengabdian masyarakat tahun ini mencapai tiga ekor sapi dan dua ekor kambing yang didistribusikan secara proporsional di ketiga wilayah tersebut.
Data Pendukung dan Partisipasi Civitas Akademika
Koordinator tim Pengabdian Masyarakat FK-KMK UGM, Dr. Supriyati, S.Sos., M.Kes., menegaskan bahwa partisipasi dalam kegiatan ini melibatkan berbagai lapisan di lingkungan fakultas. Shohibul kurban atau pihak yang berkurban tidak terbatas pada jajaran dosen dan tenaga kependidikan saja, melainkan mencakup mahasiswa, residen (dokter spesialis dalam masa pendidikan), hingga alumni. Hal ini menunjukkan kolaborasi lintas generasi dalam menumbuhkan budaya berbagi.
Data menunjukkan bahwa kebutuhan akan akses kesehatan primer di daerah-daerah tersebut masih cukup tinggi. Melalui integrasi antara penyembelihan hewan kurban dan layanan medis, FK-KMK UGM mencoba menjembatani kesenjangan aksesibilitas tersebut. Pendekatan ini dinilai efektif karena menyasar langsung komunitas yang membutuhkan, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan mobilitas atau akses menuju fasilitas kesehatan formal.
Inovasi Ramah Lingkungan dalam Distribusi Kurban
Salah satu poin penting dalam kegiatan Idul Adha tahun ini adalah komitmen FK-KMK UGM dalam mengusung konsep ramah lingkungan. Tim panitia secara aktif mendorong warga untuk meninggalkan penggunaan plastik sekali pakai dalam pembungkusan daging kurban. Sebagai gantinya, digunakan daun jati dan besek bambu yang lebih ramah lingkungan serta aman bagi kesehatan pangan.

Penggunaan daun jati merupakan langkah edukatif bagi masyarakat mengenai pentingnya meminimalisir limbah plastik yang sulit terurai. Selain itu, daun jati dikenal memiliki sifat alami yang dapat membantu menjaga kualitas daging karena kandungan tanin dan sifat antibakterinya. Inisiatif ini selaras dengan misi UGM sebagai Green Campus atau kampus sehat yang berusaha memberikan dampak positif bagi ekosistem di sekitarnya. Penggunaan material organik ini juga mendukung ekonomi lokal dengan memberdayakan pengrajin besek di daerah setempat.
Tanggapan Resmi dan Visi Inklusivitas
Ketua panitia kegiatan, Dr. Ibrahim Rahmat, S.Kp., S.Pd., M.Kes., menyampaikan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah meningkatkan inklusivitas dan kebahagiaan sosial. Baginya, kurban adalah sarana untuk membangun kedekatan emosional dengan masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti penyandang difabel.
"Mudah-mudahan adanya kurban ini dapat membahagiakan hati dan psikologis para penyandang difabel yang turut menghadiri kegiatan ini," ungkap Dr. Ibrahim. Pernyataan ini mencerminkan filosofi FK-KMK UGM bahwa pengabdian masyarakat bukan hanya tentang memberikan bantuan materiil, melainkan juga tentang memberikan perhatian psikologis dan menciptakan ruang interaksi yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Analisis Dampak dan Implikasi Sosial
Kegiatan yang dilakukan oleh FK-KMK UGM ini memiliki implikasi yang cukup luas. Pertama, dari aspek kesehatan masyarakat, kegiatan ini membantu deteksi dini penyakit degeneratif melalui pemeriksaan kesehatan bagi lansia. Deteksi dini merupakan kunci dalam menekan angka morbiditas penyakit tidak menular yang saat ini menjadi tantangan besar di Indonesia.

Kedua, dari sisi pendidikan, pelibatan mahasiswa dan residen dalam kegiatan pengabdian ini memberikan pengalaman lapangan yang berharga. Mahasiswa tidak hanya belajar secara teoritis di ruang kelas atau rumah sakit, tetapi juga berinteraksi langsung dengan realitas sosial di masyarakat pedesaan. Hal ini akan membentuk karakter tenaga medis yang lebih empatik dan responsif terhadap kondisi sosial-ekonomi pasien.
Ketiga, dari aspek sosial-ekonomi, penyaluran hewan kurban secara langsung kepada masyarakat yang membutuhkan membantu ketahanan pangan protein hewani bagi warga di wilayah-wilayah tersebut. Dengan distribusi yang terorganisir, bantuan dapat dipastikan tepat sasaran kepada mereka yang benar-benar memerlukan.
Keempat, keberlanjutan lingkungan. Dengan mengedukasi warga tentang bahaya plastik dan memberikan alternatif pembungkus ramah lingkungan, FK-KMK UGM sedang membangun kesadaran kolektif tentang gaya hidup yang berkelanjutan. Meskipun terlihat sederhana, perubahan kebiasaan kecil seperti penggunaan daun jati dapat berdampak besar jika dilakukan secara masif dan terus-menerus.
Kesimpulan dan Harapan ke Depan
Rangkaian kegiatan bakti sosial FK-KMK UGM ini menjadi model bagaimana institusi pendidikan tinggi dapat berperan aktif dalam mengatasi permasalahan di masyarakat. Dengan menggabungkan aspek religiusitas (Idul Adha), kesehatan (khitanan dan pemeriksaan), serta kelestarian lingkungan (penggunaan daun jati), FK-KMK UGM membuktikan bahwa pengabdian masyarakat dapat dilakukan secara integratif dan berdampak luas.

Diharapkan, model pengabdian seperti ini dapat terus dikembangkan dan diadopsi oleh berbagai unit lain di lingkungan universitas maupun instansi lainnya. Ke depan, kolaborasi dengan mitra daerah seperti LKS SAPADIFA perlu diperkuat guna menciptakan program-program yang lebih berkelanjutan. FK-KMK UGM berkomitmen untuk terus menjadikan pengabdian masyarakat sebagai pilar utama dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, memastikan bahwa setiap ilmu yang dihasilkan di kampus memberikan kemanfaatan nyata bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Agenda tahunan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan refleksi dari tanggung jawab moral para intelektual medis terhadap kesehatan publik. Dengan semangat kolaborasi antara dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan masyarakat luas, nilai-nilai kepedulian sosial yang dipupuk melalui Idul Adha ini diharapkan dapat terus hidup dan berkembang, melampaui batas-batas perayaan hari besar keagamaan semata.









