Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Hiburan

Aktor Film Nobody Loves Kay Ajak Generasi Z Perkuat Implementasi Nilai Pancasila di Era Digital

badge-check


					Aktor Film Nobody Loves Kay Ajak Generasi Z Perkuat Implementasi Nilai Pancasila di Era Digital Perbesar

JAKARTA — Aktor muda Bima Azriel bersama mantan anggota grup idola JKT48, Nurhayati, secara resmi mengajak generasi muda Indonesia, khususnya Generasi Z, untuk tetap teguh memegang nilai-nilai Pancasila sebagai kompas moral di tengah pesatnya penetrasi teknologi dan arus budaya global. Seruan ini disampaikan dalam kunjungan resmi para pemeran film "Nobody Loves Kay" tersebut ke ANTARA Heritage Center di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, pada Selasa (26/5/2026), sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Lahir Pancasila yang jatuh setiap tanggal 1 Juni.

Momentum Hari Lahir Pancasila dinilai sebagai titik krusial bagi bangsa Indonesia untuk merefleksikan kembali dasar negara yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa. Bagi Bima Azriel, yang memerankan karakter utama bernama Kay dalam film terbarunya, Pancasila bukan sekadar teks sejarah yang dihafal di bangku sekolah, melainkan fondasi eksistensial yang memungkinkan keberagaman di Indonesia tetap terjaga hingga saat ini.

"Menurut aku, ini adalah hari yang memang sangat bersejarah dan layak untuk dirayakan bersama. Kita harus menghargai sejarah panjang terbentuknya Pancasila hingga akhirnya Indonesia bisa berdiri kokoh seperti sekarang ini," ujar Bima dalam sesi diskusi di Jakarta. Ia menekankan bahwa tanpa pemahaman sejarah yang kuat, generasi muda berisiko kehilangan identitas nasionalnya di tengah gempuran tren transnasional yang masuk melalui platform digital.

Kronologi Kunjungan dan Relevansi Budaya

Kunjungan para aktor "Nobody Loves Kay" ke ANTARA Heritage Center bukan tanpa alasan. Gedung bersejarah yang menjadi saksi bisu penyebaran berita proklamasi kemerdekaan Indonesia ini dipilih untuk memberikan konteks historis yang mendalam bagi para figur publik muda tersebut. Dalam kunjungan yang berlangsung pada akhir Mei 2026 tersebut, Bima Azriel dan Nurhayati (yang kini akrab disapa Ayastrophile) berkesempatan meninjau arsip-arsip sejarah dan berdiskusi mengenai peran media serta industri kreatif dalam merawat ideologi negara.

Acara ini diadakan menjelang perayaan nasional Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026. Dalam struktur waktu yang direncanakan, pesan-pesan yang disampaikan oleh para aktor ini diharapkan mampu menjangkau audiens muda melalui berbagai kanal media sosial, mengingat profil keduanya yang sangat lekat dengan demografi Gen Z dan Milenial akhir. Industri perfilman nasional, melalui karya-karya seperti "Nobody Loves Kay", kini mulai mengintegrasikan pesan-pesan karakter dan moralitas yang sejalan dengan etika kemanusiaan, sebuah upaya halus namun masif dalam melakukan internalisasi nilai-nilai luhur bangsa.

Tantangan Generasi Z di Tengah Arus Digitalisasi

Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada awal 2026, tingkat penetrasi internet di Indonesia telah mencapai lebih dari 80 persen dari total populasi, dengan mayoritas pengguna berada di rentang usia 13 hingga 27 tahun (Gen Z). Dominasi penggunaan media sosial dan platform streaming global membawa konsekuensi berupa masuknya nilai-nilai asing yang terkadang berbenturan dengan norma lokal.

Bima Azriel menyoroti fenomena ini dengan optimisme namun tetap waspada. Ia mengakui bahwa setiap generasi memiliki tantangan tersendiri dalam menjaga integritas moral. "Memang di setiap generasi pasti ada saja individu atau kelompok yang menyimpang dari nilai-nilai Pancasila. Namun, saya yakin saat ini masih banyak anak muda yang mengimplementasikan nilai Pancasila dengan kuat dalam kehidupan mereka," tegasnya.

Menurut analisis sosiologis, tantangan utama Gen Z adalah "filter bubble" dan polarisasi digital. Pancasila, khususnya Sila Ketiga (Persatuan Indonesia), dianggap sebagai penawar bagi potensi perpecahan di dunia maya. Bima menambahkan bahwa teknologi harus digunakan sebagai alat untuk memperkuat persatuan, bukan justru menjadi pemicu fragmentasi sosial. "Buat teman-teman Gen Z, meskipun sekarang teknologi sudah berkembang jauh, kita jangan melupakan nilai-nilai Pancasila karena itu sesuatu yang sangat dasar dan harus dimiliki semua orang," imbuhnya.

Implementasi Sila Kedua dan Kelima dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam percakapan tersebut, Bima Azriel secara spesifik menekankan pentingnya Sila Kedua, yakni "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab". Dalam konteks modern, sila ini diterjemahkan ke dalam bentuk etika berkomunikasi di ruang publik digital, menghargai privasi orang lain, menjunjung tinggi sopan santun, serta menjaga kerukunan antarsesama meskipun berbeda pandangan politik atau latar belakang sosial.

Senada dengan Bima, Nurhayati atau Ayastrophile, yang memerankan tokoh BB dalam film yang sama, melihat Pancasila sebagai ideologi yang sangat praktis. Sebagai mantan anggota JKT48 yang memiliki basis penggemar besar, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk memberikan contoh tentang bagaimana menjadi warga negara yang baik. Bagi Ayastrophile, Sila Kelima, "Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia", adalah nilai yang paling sering ia upayakan dalam interaksi sosialnya.

Pemain "Nobody Loves Kay" mengajak Gen Z memegang nilai Pancasila

"Sebagai warga negara Indonesia yang baik, tentu kita harus punya pedoman, dan pedoman kita itu adalah Pancasila sebagai ideologi negara," ujar Ayastrophile. Ia menjelaskan bahwa keadilan sosial dapat dimulai dari hal kecil, seperti memperlakukan rekan kerja, kru film, hingga penggemar dengan rasa hormat dan adil tanpa memandang status sosial. Ia percaya bahwa lingkungan yang aman dan nyaman hanya bisa tercipta jika setiap individu sadar akan hak dan kewajiban orang lain.

Ayastrophile juga menyoroti bagaimana keberagaman suku dan agama di Indonesia seharusnya menjadi kekuatan, bukan kelemahan. "Meski kita berbeda-beda suku dan agama, kita tetap satu. Kita harus terus berpedoman dengan Pancasila untuk menjaga harmoni ini," tambahnya. Pesan ini relevan dengan kondisi demografi Indonesia yang sangat majemuk, di mana stabilitas nasional sangat bergantung pada toleransi antarumat beragama dan antarsuku.

Peran Industri Kreatif dan Pemerintah dalam Sosialisasi Ideologi

Pernyataan dari kedua aktor ini mendapat perhatian luas karena mencerminkan pergeseran strategi sosialisasi ideologi di Indonesia. Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dalam beberapa tahun terakhir memang gencar berkolaborasi dengan tokoh publik, pembuat konten, dan pelaku industri kreatif untuk membumikan Pancasila agar tidak terkesan kaku atau sekadar doktrin formalitas.

Data dari survei nasional mengenai ketahanan ideologi menunjukkan bahwa pendekatan melalui budaya populer—seperti film, musik, dan seni pertunjukan—memiliki tingkat penerimaan 40 persen lebih tinggi di kalangan anak muda dibandingkan dengan metode ceramah konvensional. Kehadiran Bima Azriel dan Ayastrophile sebagai "influencer ideologis" secara tidak langsung membantu pemerintah dalam memperkuat kohesi sosial tanpa harus melalui jalur birokrasi yang rumit.

Film "Nobody Loves Kay" sendiri, meskipun bergenre drama, disebut-sebut mengandung pesan-pesan tentang pencarian jati diri yang sangat relevan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini menunjukkan bahwa industri perfilman Indonesia mulai menyadari pentingnya muatan edukasi karakter di samping tujuan komersial. Keterlibatan aktor dalam menyuarakan pentingnya Pancasila memperkuat posisi film sebagai media refleksi sosial.

Dampak dan Implikasi Jangka Panjang bagi Ketahanan Nasional

Pesan yang dibawa oleh Bima Azriel dan Ayastrophile memiliki implikasi yang lebih luas terhadap ketahanan nasional. Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan ancaman radikalisme digital, penguatan nilai Pancasila di tingkat akar rumput, terutama pada generasi muda, menjadi benteng pertahanan pertama bangsa.

Pakar komunikasi publik menilai bahwa narasi yang dibangun oleh para idola muda ini mampu menciptakan "efek riam" (ripple effect). Ketika seorang figur publik membicarakan tentang kesantunan dan keadilan, pengikut mereka cenderung akan meniru perilaku tersebut. Hal ini sangat krusial dalam membentuk ekosistem digital Indonesia yang lebih sehat dan beradab.

Secara makro, konsistensi dalam mengamalkan Pancasila akan berdampak pada stabilitas ekonomi dan politik. Generasi muda yang memegang teguh nilai integritas (Sila Pertama dan Kedua) serta musyawarah (Sila Keempat) akan menjadi pemimpin masa depan yang lebih akuntabel dan inklusif. Hal ini merupakan prasyarat mutlak bagi Indonesia untuk mencapai target "Indonesia Emas 2045".

Sebagai penutup, peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2026 ini bukan sekadar seremoni rutin. Melalui suara-suara muda seperti Bima Azriel dan Ayastrophile, Pancasila diposisikan kembali sebagai ideologi yang "hidup" dan adaptif. Mereka membuktikan bahwa menjadi modern dan melek teknologi tidak berarti harus meninggalkan akar budaya dan filosofi bangsa. Sebaliknya, teknologi seharusnya menjadi pengeras suara bagi nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu, memastikan bahwa jati diri bangsa tetap utuh di tengah gelombang perubahan zaman yang tak terelakkan.

Kunjungan ke ANTARA Heritage Center ini diakhiri dengan harapan bahwa semangat yang dibawa oleh tim film "Nobody Loves Kay" dapat menginspirasi lebih banyak pelaku industri kreatif lainnya untuk turut serta dalam misi besar menjaga api Pancasila tetap menyala di hati setiap anak muda Indonesia. Dengan sinergi antara sejarah, teknologi, dan budaya populer, Pancasila dipastikan akan terus relevan melintasi berbagai generasi dan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Facebook dan Instagram kembali normal usai alami gangguan global

22 Juni 2026 - 06:09 WIB

Strava Luncurkan Rangkaian Fitur Navigasi dan Sosial Terbaru untuk Penuhi Lonjakan Tren Pendakian Gunung Global

22 Juni 2026 - 00:09 WIB

IDAI Tegaskan Pentingnya Zero Screen Time untuk Anak di Bawah Dua Tahun Demi Cegah Gangguan Tumbuh Kembang dan Penyakit Metabolik

21 Juni 2026 - 18:09 WIB

Menteri Kebudayaan Fadli Zon Perkuat Narasi Ekonomi Kerakyatan Melalui Napak Tilas ke Rumah Kelahiran Bung Hatta di Bukittinggi

21 Juni 2026 - 12:09 WIB

Pesona Pariwisata Banyuwangi Pikat Raline Shah dalam Kunjungan Perdana Bersama Keluarga ke Ujung Timur Pulau Jawa

21 Juni 2026 - 06:09 WIB

Trending di Hiburan