Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Headline

PT TWC Latih 1.000 Siswa SMA Wujudkan Masyarakat Tangguh Bencana Sebagai Momentum Peringatan Dua Dekade Gempa Yogyakarta

badge-check


					PT TWC Latih 1.000 Siswa SMA Wujudkan Masyarakat Tangguh Bencana Sebagai Momentum Peringatan Dua Dekade Gempa Yogyakarta Perbesar

PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (TWC) atau yang kini dikenal sebagai InJourney Destination Management (IDM), secara resmi telah merampungkan rangkaian program pelatihan mitigasi bencana yang menyasar 1.000 siswa tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) di Daerah Istimewa Yogyakarta. Inisiatif strategis ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam membangun ketangguhan masyarakat di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan bencana seismik yang tinggi. Pelatihan yang berlangsung sejak Januari hingga Mei 2026 ini berpuncak pada kegiatan Apel Kesiapsiagaan dan Gelar Peralatan di Lapangan Garuda, Candi Prambanan, Sleman, pada Sabtu (23/5/2026), bertepatan dengan peringatan dua dekade tragedi gempa bumi Yogyakarta 2006.

Fokus Strategis pada Generasi Muda dan Kawasan Rawan Bencana

Program yang bertajuk InJourney Community Care ini menargetkan sekolah-sekolah yang berada di zona rawan bencana di empat kabupaten/kota, yakni Kabupaten Sleman, Bantul, Gunungkidul, dan Kota Yogyakarta. Pemilihan siswa SMA sebagai garda depan edukasi mitigasi bukan tanpa alasan. Remaja usia sekolah dianggap sebagai kelompok usia yang paling adaptif dalam menyerap pengetahuan teknis penyelamatan diri dan memiliki peran krusial sebagai agen perubahan (agent of change) di lingkungan keluarga serta komunitas mereka.

Direktur Operasi IDM, Indung Purwita Jati, menyatakan bahwa materi yang diberikan dalam pelatihan ini dirancang secara komprehensif, mulai dari pemahaman risiko geologis, teknik penyelamatan diri saat terjadi guncangan, prosedur evakuasi yang efektif, hingga simulasi penanganan darurat (first aid). Menurutnya, destinasi wisata berskala dunia seperti Candi Prambanan memiliki tanggung jawab sosial untuk menjadi pusat edukasi publik. Dengan menjadikan kawasan candi sebagai ruang mitigasi, IDM berupaya mengintegrasikan fungsi pariwisata dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keberlanjutan sosial.

Kilas Balik: Dua Dekade Pasca Gempa 27 Mei 2006

Peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta menjadi momentum refleksi mendalam bagi masyarakat DIY. Pada 27 Mei 2006, tepat pukul 05.53 WIB, gempa berkekuatan 5,9 Skala Richter (menurut data BMKG saat itu, meski beberapa studi menyebut 6,3 Mw) mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian selatan. Peristiwa ini menelan korban jiwa lebih dari 6.000 orang dan merusak ratusan ribu rumah serta infrastruktur publik.

PT TWC melatih seribu siswa SMA wujudkan masyarakat tangguh bencana

Dua dekade setelah bencana tersebut, lanskap mitigasi di Indonesia telah mengalami transformasi signifikan. Jika pada tahun 2006 kesiapan masyarakat masih bersifat sporadis dan mengandalkan solidaritas spontan, saat ini fokus telah bergeser ke arah kesiapsiagaan yang terencana, terstruktur, dan berbasis data. Pelatihan yang diselenggarakan PT TWC/IDM di bawah payung Kemenko PMK ini menjadi salah satu bukti konkret bahwa mitigasi kini telah menjadi bagian dari budaya sadar bencana yang terinstitusionalisasi.

Pendekatan Pentahelix dalam Pengurangan Risiko Bencana

Peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta kali ini mengedepankan pendekatan kolaboratif yang melibatkan elemen pentahelix: pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat. Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan, menekankan bahwa tanggung jawab penanggulangan bencana tidak bisa dibebankan kepada pemerintah semata.

"Kegiatan ini bukan sekadar seremoni untuk mengenang masa lalu, melainkan upaya memperkuat memori kolektif. Kita perlu memastikan bahwa generasi yang lahir setelah tahun 2006 pun memiliki kesadaran yang sama akan risiko bencana yang mengintai di tanah yang mereka pijak," ujar Lilik saat meninjau gelar peralatan Basarnas di Candi Prambanan.

Rangkaian kegiatan yang mencakup kunjungan ke Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), diskusi panel, dan pameran kesiapan alat penanggulangan bencana menjadi instrumen untuk memetakan kapasitas nasional dalam menghadapi ancaman seismik. Selain aspek teknis, terdapat pula inisiatif ‘Pasar Penyintas’ yang memberikan ruang bagi UMKM yang merupakan korban gempa 2006 untuk mempromosikan produk mereka. Ini adalah langkah afirmatif dalam mendukung pemulihan ekonomi jangka panjang sekaligus merayakan ketangguhan para penyintas.

Implikasi Kebijakan dan Budaya Kesiapsiagaan

Secara sosiologis, keterlibatan sektor swasta seperti IDM dalam program SPAB memiliki implikasi positif terhadap percepatan literasi kebencanaan. Dunia usaha memiliki akses sumber daya dan manajemen logistik yang dapat diintegrasikan dengan upaya penanggulangan bencana pemerintah. Ketika korporasi mulai mengadopsi mitigasi bencana sebagai bagian dari tanggung jawab sosial (CSR) yang berkelanjutan, jangkauan edukasi akan menjadi jauh lebih luas dibandingkan jika hanya mengandalkan program pemerintah pusat atau daerah.

PT TWC melatih seribu siswa SMA wujudkan masyarakat tangguh bencana

Analisis dari para ahli kebencanaan menunjukkan bahwa keberhasilan pengurangan risiko bencana di wilayah seperti DIY sangat bergantung pada ‘budaya kesiapsiagaan’ (culture of preparedness). Dalam konteks ini, pelatihan 1.000 siswa SMA tersebut diharapkan mampu menghasilkan efek domino. Setiap siswa yang terlatih diharapkan mampu menularkan pengetahuannya kepada rekan sebaya dan keluarga, sehingga tercipta ekosistem komunitas yang tangguh.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Meskipun progres telah dicapai, tantangan dalam mitigasi bencana di Indonesia tetaplah besar. Mengingat letak geografis Indonesia yang berada di cincin api (Ring of Fire), ancaman gempa bumi adalah keniscayaan. Fokus ke depan, sebagaimana ditekankan dalam diskusi panel pada peringatan tersebut, harus diarahkan pada penguatan infrastruktur tahan gempa, penegakan regulasi tata ruang yang ketat, serta pemutakhiran sistem peringatan dini yang menjangkau hingga ke tingkat desa.

Penyelenggaraan pelatihan ini diharapkan menjadi model percontohan (pilot project) bagi BUMN dan sektor swasta lainnya dalam berkontribusi pada program nasional ketangguhan bencana. Kolaborasi yang terjalin antara PT TWC, Kemenko PMK, dan pihak terkait di DIY mencerminkan semangat gotong royong yang menjadi fondasi utama dalam menghadapi ancaman bencana.

Pada akhirnya, momentum peringatan dua dekade gempa Yogyakarta bukan sekadar tentang angka dan waktu, melainkan tentang komitmen untuk tidak pernah lelah belajar dari sejarah. Dengan memperkuat kapasitas individu melalui pendidikan dan simulasi, diharapkan masyarakat Indonesia, khususnya di DIY, dapat beralih dari masyarakat yang rentan menjadi masyarakat yang tangguh, proaktif, dan mampu meminimalisir risiko dampak bencana secara mandiri maupun kolektif.

Daftar Agenda Peringatan 20 Tahun Gempa Yogyakarta:

  1. Apel Kesiapsiagaan dan Gelar Peralatan: Demonstrasi kapasitas alat berat dan personel penanggulangan bencana dari berbagai instansi.
  2. Program SPAB (Satuan Pendidikan Aman Bencana): Pelatihan intensif bagi 1.000 siswa SMA untuk teknis evakuasi dan mitigasi risiko.
  3. Pasar Penyintas: Pameran UMKM produk korban gempa 2006 sebagai sarana pemulihan ekonomi.
  4. Diskusi Panel Lintas Sektor: Forum untuk merumuskan rekomendasi kebijakan pengurangan risiko bencana yang komprehensif bagi wilayah DIY dan sekitarnya.
  5. Kunjungan Edukasi Mitigasi: Memanfaatkan kawasan destinasi wisata sebagai laboratorium hidup bagi pembelajaran kebencanaan.

Langkah yang diambil oleh PT TWC/IDM ini menegaskan bahwa kesiapan menghadapi bencana adalah investasi masa depan. Dengan membangun fondasi pengetahuan yang kuat pada generasi muda, Indonesia sedang menapaki jalan menuju ketangguhan nasional yang lebih berkelanjutan. Melalui kolaborasi pentahelix yang sinergis, harapan untuk meminimalisir dampak kerugian akibat bencana di masa depan menjadi visi yang realistis untuk dicapai bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pemda DIY Pertahankan Rekor Opini WTP ke-16 Kali Berturut-turut dari BPK RI

10 Juni 2026 - 00:03 WIB

Bea Cukai Yogyakarta Pastikan Kelancaran Proses Kepabeanan Debarkasi Jamaah Haji di Bandara Internasional Yogyakarta

9 Juni 2026 - 12:03 WIB

UMY dorong UMKM naik kelas melalui pendampingan manajemen modern berbasis syariah demi keberlanjutan ekonomi lokal

9 Juni 2026 - 00:03 WIB

Kemenko PMK dan InJourney Destinations Management Perkuat Budaya Tangguh Bencana di Kawasan Cagar Budaya Indonesia

8 Juni 2026 - 06:03 WIB

DPKP DIY Mendorong Penggunaan Besek Bambu untuk Pembungkus Daging Kurban demi Lingkungan yang Lebih Sehat dan Berkelanjutan

8 Juni 2026 - 00:03 WIB

Trending di Headline