Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Headline

Kemenko PMK dan InJourney Destination Management Perkuat Budaya Tangguh Bencana di Kawasan Cagar Budaya Melalui Sinergi Strategis

badge-check


					Kemenko PMK dan InJourney Destination Management Perkuat Budaya Tangguh Bencana di Kawasan Cagar Budaya Melalui Sinergi Strategis Perbesar

Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) bersama PT Taman Wisata Candi (TWC) yang kini berada di bawah naungan InJourney Destination Management (IDM), secara resmi memperkuat kolaborasi strategis untuk membangun ekosistem tangguh bencana di kawasan cagar budaya. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam upaya mitigasi risiko di destinasi wisata yang memiliki nilai sejarah tinggi, terutama dengan berkaca pada pengalaman traumatis gempa bumi besar yang melanda Yogyakarta dua dekade silam. Kesepakatan ini dikukuhkan di sela-sela Apel Kesiapsiagaan dan Gelar Peralatan yang berlangsung di Lapangan Garuda, Kompleks Candi Prambanan, pada Sabtu (23/5/2026), tepat menjelang peringatan 20 tahun bencana gempa bumi Yogyakarta yang jatuh pada 27 Mei mendatang.

Refleksi Dua Dekade Gempa Yogyakarta dan Urgensi Mitigasi

Gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Richter yang mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya pada 27 Mei 2006 telah menyisakan catatan kelam dalam sejarah kebencanaan nasional. Peristiwa tersebut menyebabkan lebih dari 6.000 korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang masif, termasuk pada situs-situs warisan dunia seperti Candi Prambanan. Kejadian tersebut menjadi pengingat keras bagi para pemangku kebijakan bahwa kawasan cagar budaya dan destinasi pariwisata super prioritas sangat rentan terhadap ancaman geologi.

Kawasan Candi Prambanan dan sekitarnya terletak di wilayah dengan aktivitas tektonik yang cukup tinggi. Oleh karena itu, penguatan budaya tangguh bencana bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk menjaga keberlangsungan cagar budaya sekaligus menjamin keamanan wisatawan serta masyarakat di sekitar kawasan penyangga. Inisiatif Kemenko PMK melalui program "Kita Tangguh" merupakan bentuk adaptasi dari pola mitigasi konvensional menuju pola mitigasi berbasis komunitas dan budaya yang lebih inklusif.

Peran Strategis Tim Gurila (Gunung Rimba Laut)

Salah satu poin krusial dalam sinergi ini adalah optimalisasi peran Tim Gurila, unit tanggap darurat bentukan InJourney Destination Management (IDM). Tim ini tidak sekadar dibentuk untuk melakukan evakuasi fisik, melainkan dirancang sebagai unit multidisiplin yang memiliki spesialisasi dalam pemulihan pascabencana.

Nama "Gurila" yang merupakan akronim dari Gunung, Rimba, dan Laut, mencerminkan jangkauan operasional yang luas dan fleksibilitas tim dalam merespons berbagai tipe bencana alam di Indonesia. Berbeda dengan tim tanggap darurat pada umumnya yang hanya berfokus pada penyaluran logistik, Tim Gurila menekankan pentingnya dukungan psikososial. Pendekatan ini sangat krusial, mengingat trauma pascabencana sering kali menjadi dampak jangka panjang yang terabaikan pada masyarakat terdampak.

Dalam rekam jejak operasionalnya, Tim Gurila telah membuktikan kapasitasnya, salah satunya melalui keterlibatan aktif dalam operasi kemanusiaan di Aceh Tamiang. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa BUMN pariwisata tidak hanya berperan sebagai pengelola aset komersial, tetapi juga sebagai agen pembangunan sosial yang responsif terhadap kondisi darurat nasional.

Sinergi Kemenko PMK dan Sektor BUMN dalam Mitigasi

Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK, Andre Notohamijoyo, menekankan bahwa kolaborasi ini merupakan manifestasi dari praktik baik (best practice) yang diharapkan dapat direplikasi oleh sektor lain. Program Kita Tangguh yang digagas Kemenko PMK bertujuan untuk mengintegrasikan seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga badan usaha milik negara.

Kemenko PMK-TWC memperkuat budaya tangguh bencana

Integrasi ini bertujuan untuk menciptakan standarisasi prosedur kesiapsiagaan di destinasi wisata. Dengan melibatkan BUMN seperti IDM, upaya mitigasi menjadi lebih terukur karena dukungan sumber daya, baik dari sisi personel yang terlatih maupun ketersediaan peralatan yang memadai. Gelar peralatan yang dilaksanakan di Lapangan Garuda Candi Prambanan menjadi bukti kesiapan logistik dan teknis dalam menghadapi skenario bencana terburuk.

Direktur Operasional PT TWC/IDM, Inung Purwita Jati, menegaskan bahwa komitmen perusahaan terhadap kesiapsiagaan bencana telah menjadi bagian integral dari budaya kerja mereka. Menurutnya, kesiapan menghadapi bencana adalah investasi jangka panjang untuk menjaga kepercayaan publik dan keamanan pengunjung. Ia menambahkan bahwa tim yang telah dibentuk secara khusus ini siap diterjunkan kapan saja dan di mana saja, dengan mengedepankan kolaborasi lintas sektoral sebagai kunci utama keberhasilan pemulihan pascabencana.

Analisis Implikasi: Membangun Resiliensi Berbasis Budaya

Penyelenggaraan apel kesiapsiagaan di lokasi bersejarah memberikan pesan simbolis yang kuat. Bahwa menjaga warisan budaya harus dibarengi dengan perlindungan terhadap elemen manusianya. Implikasi dari kerja sama ini dapat dilihat dari beberapa aspek utama:

  1. Standarisasi Kesiapsiagaan: Adanya protokol yang jelas antara pemerintah dan pengelola destinasi wisata akan mempercepat waktu respons (response time) jika terjadi gempa bumi atau ancaman bencana lainnya.
  2. Penguatan Modal Sosial: Melibatkan komunitas lokal dalam simulasi bencana dan pelatihan mitigasi akan membangun ketahanan masyarakat (community resilience) yang lebih tangguh, sehingga mereka tidak hanya menjadi objek bantuan, melainkan subjek penyelamat pertama di lapangan.
  3. Peningkatan Citra Destinasi: Destinasi wisata yang memiliki sistem manajemen risiko bencana yang terintegrasi akan memiliki nilai lebih di mata wisatawan domestik maupun internasional. Rasa aman adalah faktor penentu dalam keberlanjutan industri pariwisata pascapandemi.
  4. Pemanfaatan Teknologi: Ke depan, sinergi ini diharapkan mampu mengintegrasikan teknologi pemantauan bencana (early warning system) yang terhubung langsung dengan pusat komando Kemenko PMK, sehingga data mengenai situasi di kawasan candi dapat dipantau secara real-time.

Kronologi dan Langkah Selanjutnya

Pasca-kegiatan di Prambanan, langkah selanjutnya adalah melakukan evaluasi berkala terhadap prosedur operasional standar (SOP) penanggulangan bencana di seluruh aset yang dikelola oleh InJourney. Selain itu, Kemenko PMK berencana untuk memperluas cakupan program Kita Tangguh ke destinasi wisata lain yang memiliki risiko bencana tinggi, seperti wilayah pesisir yang rawan tsunami maupun kawasan pegunungan yang rawan erupsi vulkanik.

Peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta pada 27 Mei 2026 akan menjadi momentum puncak untuk mengevaluasi sejauh mana kesiapan daerah dalam menerapkan hasil dari apel kesiapsiagaan tersebut. Masyarakat diimbau untuk terus meningkatkan literasi bencana dan tidak mengabaikan jalur evakuasi yang telah disiapkan di area-area publik.

Kesimpulan

Upaya Kemenko PMK bersama InJourney Destination Management dalam memperkuat budaya tangguh bencana merupakan langkah konkret dalam mewujudkan Indonesia yang lebih tahan terhadap ancaman bencana alam. Melalui kolaborasi yang sistematis, dukungan psikososial, dan pemanfaatan sumber daya BUMN secara efektif, kawasan cagar budaya tidak hanya terjaga nilai sejarahnya, tetapi juga menjadi tempat yang aman bagi masyarakat dan wisatawan.

Sinergi antara pemerintah dan sektor korporasi ini menjadi contoh nyata bagaimana mitigasi bencana dapat dijalankan dengan pendekatan yang humanis dan terukur. Dengan terus mengedepankan semangat gotong royong dan kesiapsiagaan, diharapkan dampak dari potensi bencana di masa depan dapat diminimalisir secara signifikan, serta memastikan bahwa nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap aksi tanggap bencana di seluruh penjuru tanah air.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

UGM Kerahkan Mahasiswa Awasi Pemotongan Hewan Kurban di Luar RPH Guna Menjamin Standar ASUH dan Kesejahteraan Hewan

13 Juni 2026 - 12:03 WIB

Pakar UMY Mendesak Audit Menyeluruh Sistem Kelistrikan Sumatera Pasca Pemadaman Total Mei 2026

13 Juni 2026 - 06:03 WIB

KAI Daop 6 Yogyakarta layani 33.406 penumpang selama libur Idul Adha

13 Juni 2026 - 00:03 WIB

Indonesia Walk for Peace 2026: Perjalanan Spiritual Lintas Negara Menuju Candi Borobudur demi Semangat Persatuan

12 Juni 2026 - 18:03 WIB

Kepala Bakom RI Muhammad Qodari Mendorong Transformasi Strategis dan Penguatan Peran Perum LKBN ANTARA di Era Disrupsi Digital

12 Juni 2026 - 12:03 WIB

Trending di Headline