Dunia pendidikan kedokteran Indonesia kehilangan salah satu sosok paling berpengaruh dalam bidang patologi anatomi. Prof. Dr. dr. Soeripto, Sp.PA(K), seorang Guru Besar di Departemen Patologi Anatomi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), telah berpulang ke rahmatullah pada Jumat (29/6) pukul 09.29 WIB. Beliau mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito, Yogyakarta, dalam usia 86 tahun. Berita duka ini tidak hanya meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga besar UGM, tetapi juga bagi komunitas medis onkologi di Indonesia yang merasa kehilangan seorang pionir yang mendedikasikan seluruh kariernya untuk kemajuan ilmu pengetahuan.
Rekam Jejak Akademik dan Pengabdian Panjang
Lahir di Nganjuk pada 16 Maret 1940, Prof. Soeripto merupakan sosok akademisi yang mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk Universitas Gadjah Mada. Perjalanan pendidikan tinggi beliau merupakan bukti kesetiaan dan komitmen terhadap almamaternya. Seluruh jenjang akademik, mulai dari pendidikan kedokteran dasar, pendidikan profesi dokter, hingga gelar magister dan doktoral, diselesaikan di UGM. Spesialisasi beliau dalam bidang Patologi Anatomi pun ditempuh di institusi yang sama, yang kemudian menjadikannya sebagai salah satu pakar paling otoritatif di bidangnya di Indonesia.
Karier profesional beliau dimulai pada tahun 1969, ketika ia resmi diangkat sebagai pegawai negeri sipil dan tenaga pengajar di lingkungan FK-KMK UGM. Selama lebih dari lima dekade, Prof. Soeripto menapaki jenjang karier akademik yang panjang, konsisten, dan penuh dedikasi. Puncaknya, beliau dikukuhkan sebagai Guru Besar UGM, sebuah gelar yang diraih melalui kerja keras dan kontribusi ilmiah yang diakui secara luas.
Dedikasi beliau terhadap institusi mendapatkan pengakuan formal dari pemerintah dan universitas. Sepanjang masa pengabdiannya, beliau telah menerima berbagai penghargaan bergengsi, termasuk penghargaan kesetiaan mengabdi selama 10 dan 25 tahun di UGM. Puncaknya, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan Satyalancana Karya Satya ke-30 sebagai bentuk apresiasi atas loyalitas dan jasa beliau dalam memajukan dunia pendidikan dan kesehatan tanah air.
Pionir Onkologi dan Kontribusi Ilmiah
Salah satu warisan terbesar Prof. Soeripto adalah perannya dalam pengembangan ilmu onkologi. Di tengah keterbatasan fasilitas dan literatur medis di masa lalu, beliau mampu meletakkan fondasi kuat bagi diagnosis dan epidemiologi kanker di Indonesia, khususnya di wilayah Yogyakarta. Dalam disertasi doktoralnya yang berhasil diselesaikan pada tahun 1988, beliau memberikan landasan ilmiah mengenai pola penyakit kanker yang sangat krusial bagi kebijakan kesehatan masyarakat di Indonesia.

Pidato pengukuhan guru besarnya yang berjudul "Diagnosis dan Epidemiologi Kanker di Yogyakarta" menjadi referensi penting bagi para praktisi medis. Melalui penelitian tersebut, beliau tidak hanya mendiagnosis penyakit, tetapi juga memetakan ancaman kesehatan masyarakat, yang hingga saat ini menjadi rujukan utama bagi pengembangan program penanggulangan kanker secara nasional. Keahliannya diakui tidak hanya di tingkat lokal dan nasional, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan dalam jejaring onkologi internasional.
Sosok Multidimensi: Dokter, Akademisi, dan Seniman
Di balik ketegasan dan kepakarannya sebagai dokter spesialis patologi anatomi, Prof. Soeripto dikenal oleh kolega dan mahasiswanya sebagai sosok yang humanis dengan kedalaman spiritualitas. Prof. Dr. dr. Hardyanto Soebono, Sp.D.V.E, Subsp.D.T., yang mewakili keluarga dalam upacara penghormatan terakhir, mengungkapkan sisi lain dari almarhum yang jarang diketahui publik.
Prof. Soeripto adalah seorang pecinta seni dan budaya Jawa yang sangat kental. Beliau tidak hanya sekadar penikmat, tetapi juga praktisi dalam dunia pedalangan. Keterlibatannya dalam pendidikan pedalangan di Habirandha, Keraton Yogyakarta, menunjukkan kecintaan yang tulus terhadap pelestarian tradisi. Bagi beliau, keseimbangan antara rasionalitas ilmu kedokteran dan estetika seni budaya adalah kunci dari kehidupan yang bermakna.
Selain itu, ketertarikan beliau terhadap spiritualitas timur dan praktik meditasi memberikan perspektif unik dalam cara beliau memandang kehidupan. Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K), Ph.D., dalam pidato duka citanya, mengenang sebuah pesan filosofis yang kerap disampaikan Prof. Soeripto: "Carilah kebenaran, layani kebenaran, jadilah kebenaran. Kebenaran akan mengungkapkan dirinya sendiri ketika hati dipenuhi dengan kasih." Pesan ini menjadi cerminan dari integritas dan ketulusan beliau dalam menjalankan profesinya sebagai pengabdi ilmu.
Upacara Penghormatan Terakhir dan Pemakaman
Sebagai bentuk penghormatan terakhir dari institusi, jenazah Prof. Soeripto disemayamkan di Balairung Gedung Pusat UGM pada Jumat (29/5). Prosesi ini merupakan tradisi tertinggi UGM untuk melepas putra-putri terbaiknya yang telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa. Keluarga besar UGM, rekan sejawat, serta para mantan mahasiswa hadir untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang dianggap sebagai guru, mentor, sekaligus teladan tersebut.
Dalam prosesi tersebut, pihak keluarga secara resmi menyerahkan jenazah kepada pihak universitas. Setelah rangkaian upacara di Balairung selesai, jenazah kemudian diberangkatkan ke pemakaman keluarga UGM di Sawitsari, Yogyakarta, untuk dimakamkan. Lokasi ini merupakan tempat peristirahatan terakhir bagi para tokoh dan dosen UGM yang telah berpulang, yang mencerminkan penghormatan berkelanjutan dari institusi terhadap jasa-jasa mereka.

Implikasi dan Warisan bagi Dunia Kedokteran
Kepergian Prof. Soeripto meninggalkan lubang besar dalam peta keilmuan patologi anatomi di Indonesia. Namun, warisan yang ditinggalkannya berupa kader-kader dokter yang ia didik selama puluhan tahun akan terus melanjutkan estafet perjuangannya. Analisis terhadap kontribusi beliau menunjukkan bahwa keberhasilan pengembangan onkologi di Indonesia tidak terlepas dari peran perintis seperti beliau yang menekankan pentingnya akurasi diagnosis dan pemahaman epidemiologi yang berbasis data lokal.
Implikasi dari kepergian beliau juga dirasakan dalam konteks manajemen rumah sakit pendidikan. Sebagai sosok yang lama berkiprah di RSUP Dr. Sardjito, ketelitian dan standar pelayanan yang beliau terapkan menjadi standar operasional yang kini diwarisi oleh generasi penerus. Beliau telah menanamkan budaya kerja yang disiplin namun tetap menjunjung tinggi etika dan kasih sayang kepada pasien.
Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, dalam sambutannya menekankan bahwa dedikasi Prof. Soeripto adalah ladang ibadah yang akan terus mengalirkan pahala melalui ilmu pengetahuan yang ia wariskan. Baginya, Prof. Soeripto bukan hanya seorang pengajar, melainkan "guru terbaik" yang memberikan pelajaran tentang bagaimana menjadi manusia seutuhnya melalui perpaduan antara ketajaman intelektual dan keluhuran budi pekerti.
Penutup
Wafatnya Prof. Dr. dr. Soeripto merupakan kehilangan besar bagi sivitas akademika UGM dan dunia kedokteran Indonesia. Sepanjang hayatnya, beliau telah membuktikan bahwa seorang ilmuwan sejati adalah ia yang mampu memadukan kecanggihan sains dengan kearifan lokal serta spiritualitas. Kepergiannya menjadi pengingat bagi seluruh praktisi medis di Indonesia akan pentingnya pengabdian yang berlandaskan pada kebenaran dan kasih sayang. Meskipun sosoknya telah tiada, pemikiran, karya ilmiah, serta nilai-nilai kehidupan yang beliau ajarkan akan terus hidup dan menjadi lentera bagi pengembangan ilmu kedokteran di masa depan. Selamat jalan, Prof. Soeripto, dedikasi Anda akan senantiasa dikenang dalam setiap jejak kemajuan ilmu pengetahuan yang Anda rintis.









