Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali menggaungkan imbauan kepada seluruh panitia hari raya Idul Adha di wilayahnya untuk beralih dari penggunaan kantong plastik konvensional ke wadah yang lebih ramah lingkungan, yakni anyaman bambu atau yang lebih dikenal dengan sebutan besek. Langkah ini diambil sebagai upaya nyata pemerintah daerah dalam menekan laju timbulan sampah plastik sekali pakai yang setiap tahunnya melonjak drastis saat perayaan kurban.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DPKP DIY, Agung Ludiro, dalam keterangannya di Yogyakarta, Senin (25/5/2026), menekankan bahwa penggunaan besek bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga kualitas daging kurban sekaligus melindungi ekosistem lingkungan. Menurut Agung, besek bambu menawarkan keunggulan higienitas yang lebih baik dibandingkan plastik, terutama karena sifat materialnya yang memiliki pori-pori alami, sehingga sirkulasi udara di dalam wadah tetap terjaga dan suhu daging lebih stabil.
Konteks Lingkungan dan Tantangan Pengelolaan Sampah Plastik
Perayaan Idul Adha di Indonesia selama puluhan tahun telah menjadi penyumbang sampah plastik yang signifikan. Berdasarkan data dari berbagai lembaga lingkungan hidup, penggunaan plastik kantong (kresek) berwarna, terutama jenis plastik daur ulang (recycled plastic), mengandung zat kimia berbahaya yang berisiko berpindah ke dalam daging jika terpapar panas atau disimpan dalam waktu lama.
Penggunaan plastik berwarna, yang sering kali merupakan hasil daur ulang limbah plastik yang tidak higienis, membawa potensi bahaya kesehatan berupa kontaminasi mikroplastik dan zat kimia pewarna yang bersifat karsinogenik. DPKP DIY memandang bahwa dengan mengganti plastik dengan besek, masyarakat tidak hanya berkontribusi pada pengurangan beban tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, tetapi juga memastikan bahwa protein hewani yang dibagikan kepada masyarakat tetap terjaga kualitas dan keamanannya.
Namun, DPKP DIY menyadari adanya tantangan ekonomi yang cukup nyata. Harga besek bambu di pasaran saat ini cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan plastik kresek yang sangat murah dan mudah ditemukan. Hal inilah yang menyebabkan banyak panitia kurban di tingkat masjid atau musala masih enggan meninggalkan plastik. Agung Ludiro mengakui bahwa faktor biaya operasional sering menjadi hambatan utama, namun ia berharap ada kesadaran kolektif dari masyarakat untuk memprioritaskan kesehatan dan lingkungan di atas penghematan biaya yang nominalnya mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan manfaat jangka panjangnya.
Protokol Kesehatan dan Keamanan Pangan Kurban
Selain isu pembungkus, DPKP DIY juga memberikan perhatian khusus pada aspek keamanan kesehatan hewan kurban. Menjelang Idul Adha 2026, DPKP DIY memastikan bahwa stok hewan ternak, baik sapi maupun kambing, dalam kondisi aman dan mencukupi. Hal ini didukung oleh sistem pengawasan lalu lintas ternak yang ketat.
Setiap hewan yang masuk ke wilayah DIY dari luar daerah wajib dilengkapi dengan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). Dokumen ini menjadi syarat mutlak untuk memastikan bahwa hewan yang masuk tidak membawa penyakit menular seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) atau penyakit hewan menular strategis (PHMS) lainnya.
Petugas kesehatan hewan di tingkat kabupaten dan kota secara rutin melakukan pemantauan di titik-titik penjualan hewan kurban. Upaya ini dilakukan untuk memastikan bahwa hewan yang diperjualbelikan benar-benar layak konsumsi. Jika ditemukan hewan yang menunjukkan gejala kurang sehat, petugas tidak akan segan memberikan rekomendasi agar hewan tersebut tidak dipasarkan. Sinergi antara pemerintah daerah, tenaga medis veteriner, dan masyarakat menjadi kunci suksesnya distribusi daging kurban yang aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH).
Analisis Dampak Penggunaan Plastik Putih sebagai Alternatif
Jika penggunaan besek belum memungkinkan secara ekonomi, DPKP DIY memberikan panduan sekunder, yakni penggunaan kantong plastik berwarna bening atau putih (food grade). Penggunaan plastik jenis ini setidaknya meminimalisir risiko perpindahan zat warna yang berbahaya bagi tubuh.

Namun, tantangan baru muncul di tahun 2026 ini, di mana harga plastik jenis food grade pun mengalami kenaikan. Hal ini menciptakan dilema bagi panitia kurban. DPKP DIY menegaskan bahwa meskipun harga plastik putih meningkat, tetap tidak disarankan untuk menggunakan plastik hitam atau plastik berwarna gelap yang umumnya merupakan hasil daur ulang limbah plastik dengan tingkat kontaminasi tinggi.
Secara teknis, plastik hitam mengandung logam berat seperti timbal dan kadmium yang dapat bermigrasi ke dalam daging jika terjadi kontak langsung. Oleh karena itu, edukasi mengenai bahaya plastik hitam harus terus disosialisasikan kepada masyarakat luas, terutama kepada panitia kurban yang bertanggung jawab dalam pendistribusian daging kepada warga kurang mampu.
Kronologi dan Garis Waktu Sosialisasi
Upaya DPKP DIY dalam mengampanyekan pembungkus ramah lingkungan bukanlah inisiatif baru. Sejak beberapa tahun terakhir, dinas terkait secara konsisten melakukan sosialisasi sebelum bulan Zulhijah tiba. Berikut adalah kronologi upaya mitigasi yang dilakukan DPKP DIY:
- Dua Bulan Menjelang Idul Adha: DPKP DIY mulai melakukan koordinasi dengan dinas terkait di tingkat kabupaten/kota untuk pemetaan stok hewan kurban dan sosialisasi tata cara penyembelihan yang higienis.
- Satu Bulan Menjelang Idul Adha: Peninjauan intensif ke pasar-pasar hewan untuk memastikan SKKH telah dipenuhi oleh para pedagang. Pada tahap ini, imbauan penggunaan besek mulai disebarkan melalui surat edaran ke masjid-masjid dan panitia kurban.
- H-14 Idul Adha: Pengerahan tenaga kesehatan hewan untuk melakukan pemeriksaan fisik langsung (antemortem) terhadap hewan ternak di lokasi penampungan.
- H-1 Idul Adha: Finalisasi prosedur pembagian daging dan edukasi mengenai cara penyimpanan daging kurban agar tidak cepat busuk, terutama bagi panitia yang menggunakan wadah tradisional seperti daun jati atau besek.
Implikasi Ekonomi dan Peluang UMKM Lokal
Dorongan penggunaan besek bambu sebenarnya membawa implikasi ekonomi positif bagi sektor UMKM di DIY. Banyak pengrajin bambu di wilayah pedesaan yang menggantungkan hidupnya pada produksi kerajinan tradisional. Dengan meningkatnya permintaan besek menjelang Idul Adha, roda ekonomi lokal di tingkat desa dapat terdorong.
Pemerintah daerah diharapkan dapat menjembatani antara panitia kurban dan pengrajin besek agar harga bisa lebih terjangkau melalui skema pembelian kolektif. Jika permintaan besar terkonsentrasi, harga satuan besek bambu bisa ditekan lebih rendah sehingga tidak memberatkan anggaran panitia kurban. Ini adalah bentuk ekonomi sirkular yang nyata: masyarakat mendapatkan daging kurban yang lebih sehat, lingkungan terjaga, dan pengrajin lokal mendapatkan penghasilan tambahan.
Langkah Strategis ke Depan
Untuk masa depan, DPKP DIY diharapkan tidak hanya berhenti pada imbauan. Diperlukan regulasi yang lebih kuat, seperti Peraturan Daerah (Perda) atau Peraturan Gubernur yang secara spesifik mengatur penggunaan wadah ramah lingkungan pada kegiatan sosial keagamaan yang melibatkan distribusi massal.
Selain itu, edukasi publik mengenai cara penanganan daging kurban pasca-penyembelihan juga perlu ditingkatkan. Misalnya, daging sebaiknya tidak langsung dimasukkan ke dalam plastik atau besek dalam keadaan panas (masih dalam proses rigor mortis). Daging harus didinginkan terlebih dahulu (diangin-anginkan) agar kualitas protein tetap terjaga dan tidak cepat basi.
Secara keseluruhan, langkah yang diambil DPKP DIY merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah untuk mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan. Kurban bukan sekadar ritual ibadah, tetapi juga cerminan dari kepedulian umat terhadap sesama dan lingkungan. Dengan beralih ke besek bambu, umat Islam di Yogyakarta dapat memberikan contoh nyata bahwa kurban yang berkah adalah kurban yang tidak membawa dampak buruk bagi kelestarian bumi.
Ke depan, koordinasi yang lebih erat antara DPKP, pengelola masjid, dan organisasi kemasyarakatan akan menjadi penentu apakah budaya menggunakan besek ini bisa menjadi norma baru di masyarakat atau sekadar imbauan tahunan yang dilupakan. Harapannya, semangat berbagi pada hari raya Idul Adha tahun ini dapat berjalan beriringan dengan semangat pelestarian lingkungan demi masa depan yang lebih hijau bagi generasi mendatang.









