Perhelatan akbar myBCA International Java Jazz Festival (JJF) 2026 kembali mencatatkan momen emosional saat grup vokal legendaris Trio Lestari naik ke atas panggung utama di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang, Banten, pada Jumat (29/5/2026) malam. Penampilan ini bukan sekadar pertunjukan musik biasa, melainkan sebuah narasi kerinduan dan penghormatan mendalam bagi mendiang Glenn Fredly, salah satu pilar pendiri grup tersebut yang wafat pada April 2020. Di hadapan ribuan penonton yang memadati area panggung Telkomsel, dua personel yang tersisa, Tompi dan Sandhy Sondoro, membuktikan bahwa meskipun formasi fisik mereka tidak lagi lengkap, semangat dan esensi musik Trio Lestari tetap abadi dan terus berevolusi mengikuti zaman.
Pertunjukan dibuka dengan energi yang meluap melalui komposisi ceria bertajuk "La La Song". Lagu ini seolah menjadi proklamasi kembalinya mereka ke kancah musik arus utama setelah masa refleksi panjang. Tompi, dengan gaya komunikatifnya yang khas, sempat melontarkan kalimat yang menyentuh hati penonton mengenai perjalanan batin mereka pasca-kepergian Glenn. Ia mengungkapkan bahwa sempat ada fase kebingungan mengenai arah masa depan grup, namun akhirnya mereka memilih untuk tetap berpijak di bumi dan melanjutkan warisan musikal yang telah mereka bangun sejak tahun 2013. Suasana semakin khidmat saat Tompi mengajak seluruh hadirin memberikan tepuk tangan penghormatan yang ditujukan bagi Glenn Fredly, menciptakan resonansi emosional yang kuat di seluruh penjuru aula NICE.
Transformasi Musikal dan Dinamika Panggung
Sejak terbentuk pada tahun 2013, Trio Lestari dikenal bukan hanya karena kualitas vokal masing-masing anggotanya, tetapi juga karena kemampuan mereka memadukan berbagai genre seperti pop, jazz, dan soul dengan bumbu humor serta kritik sosial. Di panggung Java Jazz 2026, Sandhy Sondoro dan Tompi menunjukkan kematangan vokal yang luar biasa. Sandhy, dengan karakter suara serak yang kuat dan pengaruh soul yang kental, memberikan warna yang kontras namun harmonis dengan teknik vokal Tompi yang lincah dan berakar pada tradisi jazz yang kental.
Setelah lagu pembuka, tempo pertunjukan sedikit melandai namun tetap intens saat mereka membawakan "Malam Biru (Kasihku)" dan "Nurlela". Penonton diajak bernyanyi bersama (sing-along), menciptakan suasana akrab layaknya sebuah reuni keluarga besar. Kehadiran Malaka Ayesha, putri dari Tompi, di atas panggung memberikan kejutan tersendiri bagi para penggemar. Keikutsertaan generasi muda ini seolah menyimbolkan regenerasi dan keberlanjutan dari visi artistik yang diusung oleh para personel Trio Lestari. Malaka menunjukkan bakat vokal yang menjanjikan, mengimbangi dinamika panggung yang dibangun oleh sang ayah dan Sandhy Sondoro.
Napak Tilas Perjalanan Trio Lestari: Sebuah Kronologi
Untuk memahami signifikansi penampilan ini, penting untuk menilik kembali garis waktu perkembangan Trio Lestari di industri musik Indonesia. Grup ini diinisiasi pada tahun 2013 sebagai proyek kolektif tiga penyanyi pria terbaik bangsa. Pada masa awal pembentukannya, mereka tidak hanya fokus pada rekaman studio, tetapi juga aktif dalam berbagai pertunjukan live yang menggabungkan elemen talkshow dan komedi satire.

- 2013: Pembentukan Trio Lestari oleh Glenn Fredly, Tompi, dan Sandhy Sondoro.
- 2014-2015: Peluncuran album "Wangi" yang melahirkan hits seperti "Gelora Cintaku" dan "Bakaran". Mereka menjadi fenomena baru dalam industri musik karena mampu mengemas musik berkualitas dalam format hiburan yang ringan namun berbobot.
- 2020: Wafatnya Glenn Fredly pada 8 April menjadi titik balik yang mengguncang grup ini. Aktivitas Trio Lestari sempat vakum cukup lama untuk memberikan ruang duka bagi para anggotanya.
- 2021-2025: Tompi dan Sandhy perlahan mulai tampil kembali dalam format duo di berbagai acara terbatas, sembari terus menjaga nama Trio Lestari tetap hidup dalam ingatan publik melalui berbagai tribut.
- 2026: Penampilan di Java Jazz Festival menjadi tonggak kembalinya mereka secara penuh ke panggung festival skala internasional dengan rencana ekspansi yang lebih luas.
Analisis Relevansi Java Jazz Festival 2026 di NICE PIK 2
Pemilihan Nusantara International Convention Exhibition (NICE) di PIK 2 sebagai lokasi penyelenggaraan Java Jazz Festival 2026 merupakan langkah strategis yang menunjukkan perkembangan infrastruktur hiburan di Indonesia. Sebagai fasilitas konvensi terbaru yang memiliki kapasitas lebih besar dibandingkan lokasi-lokasi sebelumnya, NICE memungkinkan penyelenggara untuk menghadirkan sistem tata suara dan pencahayaan yang lebih mutakhir.
Dalam konteks ekonomi kreatif, keberhasilan penyelenggaraan festival ini di lokasi baru mencerminkan optimisme industri pertunjukan musik pasca-era pemulihan global. Penampilan Trio Lestari di panggung utama merupakan salah satu magnet utama yang menarik ribuan wisatawan domestik dan mancanegara ke kawasan Tangerang. Berdasarkan pengamatan di lapangan, penonton tidak hanya berasal dari kalangan dewasa yang tumbuh bersama lagu-lagu mereka, tetapi juga generasi Z yang mulai mengapresiasi musik jazz-pop berkat eksplorasi genre yang dilakukan oleh artis-artis seperti Tompi di platform digital.
Eksplorasi Repertoar: Dari Karya Orisinal hingga Interpretasi Klasik
Salah satu aspek menarik dari penampilan malam itu adalah keberanian Trio Lestari untuk membawakan lagu "Human Nature" milik Michael Jackson. Keputusan ini menunjukkan apresiasi mereka terhadap musik pop global yang memiliki pengaruh besar terhadap gaya bermusik mereka. Interpretasi yang dibawakan tetap mempertahankan esensi lagu asli namun diberi sentuhan improvisasi vokal khas Sandhy dan Tompi yang menjadikannya terasa segar.
Setelah sesi cover, fokus kembali beralih ke karya-karya solo yang telah melambungkan nama mereka. Sandhy Sondoro membawakan "Tak Pernah Padam" dengan penuh penghayatan, sementara Tompi membalas dengan "Selalu Denganmu". Dua lagu ini merupakan pilar dari diskografi pop Indonesia modern dan berhasil membangkitkan nostalgia kolektif penonton. Aransemen musik di panggung Java Jazz 2026 ini dibuat lebih megah dengan dukungan band pengiring yang terdiri dari musisi-musisi jazz papan atas, memberikan dimensi baru pada lagu-lagu yang sudah akrab di telinga publik tersebut.
Implikasi Luas dan Rencana Tur Nasional
Di tengah keriuhan tepuk tangan penonton, Tompi memberikan pengumuman penting yang telah dinantikan oleh banyak pihak: rencana tur Indonesia Trio Lestari. Langkah ini dinilai sebagai keputusan strategis untuk memperkuat basis penggemar di berbagai daerah sekaligus mengobati kerinduan publik akan performa grup vokal yang memiliki karakter kuat.
Secara industri, pengumuman tur ini memberikan sinyal positif bagi ekosistem musik tanah air. Tur berskala nasional oleh artis sekelas Trio Lestari diharapkan dapat menstimulasi pertumbuhan ekonomi lokal di kota-kota yang akan dikunjungi, mulai dari sektor perhotelan, transportasi, hingga UMKM. Selain itu, rencana tur ini juga dianggap sebagai upaya untuk menjaga warisan musik Glenn Fredly agar tetap relevan dan terus diperdengarkan kepada generasi mendatang.

Para pengamat musik berpendapat bahwa Trio Lestari tanpa Glenn Fredly memang memberikan nuansa yang berbeda, namun kehadiran Tompi dan Sandhy Sondoro tetap mampu menjaga standar kualitas yang tinggi. Tantangan ke depan bagi mereka adalah bagaimana menciptakan karya-karya baru yang tetap mengusung semangat "Lestari" tanpa harus terjebak dalam bayang-bayang masa lalu.
Penutup yang Menggetarkan: Menghujam Jantungku dan Gelora Cintaku
Sebagai penutup pertunjukan yang berlangsung selama kurang lebih 75 menit tersebut, Trio Lestari memilih dua lagu yang paling ikonik: "Menghujam Jantungku" dan "Gelora Cintaku". Kedua lagu ini merupakan representasi sempurna dari identitas grup yang memadukan melodi yang mudah diingat (catchy) dengan harmoni vokal yang kompleks.
Penonton yang hadir di NICE PIK 2 memberikan sambutan berdiri (standing ovation) saat lagu terakhir selesai dikumandangkan. Kemeriahan malam itu menjadi bukti sahih bahwa musik berkualitas tinggi akan selalu mendapatkan tempat di hati masyarakat, terlepas dari perubahan formasi atau tantangan waktu yang dihadapi oleh para pelakunya. Trio Lestari di Java Jazz Festival 2026 bukan sekadar penampil, melainkan simbol ketangguhan dan dedikasi seniman terhadap seni yang mereka cintai.
Dengan berakhirnya penampilan tersebut, harapan publik kini tertuju pada detail rencana tur Indonesia yang akan segera diumumkan. Keberhasilan mereka di panggung Java Jazz tahun ini diprediksi akan menjadi katalisator bagi kesuksesan proyek-proyek masa depan mereka, sekaligus memperkokoh posisi Trio Lestari sebagai salah satu entitas musik paling berpengaruh dalam sejarah musik populer Indonesia kontemporer.









