JOGJA – Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada (UGM) dan National University of Singapore (NUS) secara resmi mengukuhkan komitmen kolaborasi lintas negara melalui program Southeast Asia Friendship Initiative (SAFI). Inisiatif strategis yang berlangsung pada 21–22 Mei 2026 di Yogyakarta ini menjadi wadah pertukaran intelektual bagi 44 mahasiswa dan dosen dari kedua institusi pendidikan terkemuka di Asia Tenggara tersebut. Fokus utama dari pertemuan ini adalah merumuskan solusi nyata terhadap tantangan ketahanan pangan global dengan mengacu pada target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin kedua: Zero Hunger atau Tanpa Kelaparan.
Kolaborasi ini bukan sekadar kunjungan akademik rutin, melainkan upaya sistematis untuk merespons dinamika kawasan Asia Tenggara yang tengah menghadapi ancaman multidimensi. Dari perubahan iklim yang memicu gagal panen hingga transformasi digital dalam rantai pasok pertanian, tantangan yang dihadapi oleh negara-negara ASEAN memerlukan pendekatan interdisipliner yang melampaui batas-batas administratif negara.
Dinamika Ketahanan Pangan di Asia Tenggara
Asia Tenggara merupakan kawasan dengan ketergantungan tinggi pada sektor pertanian sebagai penyokong ekonomi dan stabilitas sosial. Namun, berdasarkan laporan dari organisasi pangan dunia (FAO), kawasan ini menghadapi risiko yang meningkat akibat fenomena cuaca ekstrem seperti El Niño dan La Niña yang berulang. Selain itu, populasi yang terus bertambah di kawasan ASEAN menuntut produksi pangan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Dekan FTP UGM, Prof. Eni Harmayani, menyoroti bahwa krisis pangan merupakan isu yang sangat kompleks karena bersinggungan langsung dengan kesehatan masyarakat, stabilitas ekonomi, dan ketahanan korporasi. Menurutnya, ketergantungan pada model pertanian tradisional sudah tidak cukup untuk menopang kebutuhan di masa depan. Oleh karena itu, diperlukan inovasi teknologi yang didorong oleh hasil riset universitas untuk menciptakan sistem pangan yang lebih resilien terhadap perubahan iklim.
"Krisis pangan dan kerusakan lingkungan tidak bisa diselesaikan secara sepihak oleh satu negara saja. Kita membutuhkan solidaritas regional yang kuat. Peran universitas sebagai pusat riset dan inovasi harus dioptimalkan untuk memberikan solusi berbasis bukti yang dapat diterapkan di lapangan," ujar Prof. Eni dalam sesi diskusi.
Kronologi dan Struktur Program
Program Southeast Asia Friendship Initiative (SAFI) yang diinisiasi oleh NUS King Edward VII Hall telah berjalan sejak tahun 2023. Pemilihan UGM sebagai mitra strategis dalam edisi 2026 didasarkan pada reputasi UGM sebagai institusi riset terdepan di Indonesia yang memiliki keahlian mendalam di bidang teknologi pangan dan pengembangan pertanian berkelanjutan.
Selama dua hari kegiatan di Yogyakarta, para peserta mengikuti rangkaian agenda yang meliputi:
- Sesi Seminar Akademik: Pemaparan mengenai teknologi pascapanen, digitalisasi pertanian, dan kebijakan pangan regional.
- Lokakarya Kolaboratif: Mahasiswa dari NUS dan UGM dibagi ke dalam kelompok lintas budaya untuk merumuskan prototipe solusi atas masalah kelaparan di tingkat lokal.
- Pertukaran Budaya: Kegiatan yang bertujuan mempererat hubungan antargenerasi muda di kawasan ASEAN, mengingat diplomasi "people-to-people" merupakan fondasi penting bagi stabilitas regional jangka panjang.
Giuseppe Timperio, perwakilan dari pihak NUS, menyatakan bahwa program ini dirancang untuk membekali calon pemimpin masa depan dengan kesadaran akan tanggung jawab global. "Kami melihat UGM memiliki visi yang selaras dengan NUS, yakni kepedulian mendalam terhadap kesejahteraan pangan masyarakat. Program ini bukan hanya tentang transfer ilmu, tetapi tentang membangun ekosistem pemimpin yang memiliki empati terhadap isu-isu kemanusiaan," jelasnya.

Implikasi Terhadap Agenda Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)
Kepala Kantor Hubungan Internasional UGM, Tyas Ikhsan Hikmawan, menegaskan bahwa keterlibatan multisektoral lintas negara menjadi kunci utama dalam mencapai target Zero Hunger. Tyas menyoroti pentingnya integrasi antara kebijakan nasional dengan riset universitas agar dampak yang dihasilkan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat petani.
Data dari berbagai lembaga riset regional menunjukkan bahwa tantangan terbesar dalam mencapai Zero Hunger di Asia Tenggara adalah hilangnya produktivitas lahan akibat konversi lahan pertanian dan minimnya akses teknologi bagi petani kecil. Melalui kolaborasi seperti SAFI, diharapkan terjadi transfer pengetahuan teknologi (technology transfer) yang mampu meningkatkan nilai tambah produk pertanian lokal, sehingga kesejahteraan petani dapat meningkat seiring dengan stabilitas pangan nasional.
Analisis Strategis: Mengapa Kolaborasi Ini Penting?
Secara makro, inisiatif ini mencerminkan pergeseran paradigma dalam diplomasi pendidikan tinggi. Universitas tidak lagi hanya berperan sebagai menara gading, melainkan sebagai aktor aktif dalam diplomasi lunak (soft diplomacy) untuk menyelesaikan isu global.
Ada tiga implikasi utama dari kolaborasi UGM-NUS ini bagi kawasan Asia Tenggara:
- Peningkatan Kapasitas Riset: Dengan menggabungkan sumber daya riset dari NUS yang unggul dalam teknologi digital dan UGM yang memiliki kekuatan pada implementasi lapangan dan riset pertanian tropis, tercipta sinergi yang komplementer untuk menciptakan inovasi pangan.
- Harmonisasi Kebijakan Regional: Melalui dialog yang dilakukan oleh para akademisi dan mahasiswa, muncul kerangka berpikir yang lebih inklusif untuk mendorong pemerintah di kawasan ASEAN agar lebih fokus pada kebijakan pangan yang berkelanjutan.
- Penguatan Jejaring Pemimpin Masa Depan: Investasi pada sumber daya manusia melalui pertukaran ide lintas budaya akan membentuk generasi pemimpin yang memiliki perspektif regional yang kuat, sehingga di masa depan, pengambilan keputusan antarnegara ASEAN dapat dilakukan dengan lebih mudah karena adanya rasa saling percaya (mutual trust).
Tantangan ke Depan
Meski kolaborasi ini memberikan harapan besar, tantangan implementasi tetap nyata. Kesenjangan teknologi antarnegara di kawasan Asia Tenggara masih menjadi hambatan utama dalam mengadopsi solusi pertanian modern. Selain itu, ketergantungan pada rantai pasok global yang rentan terhadap konflik geopolitik menuntut negara-negara ASEAN untuk lebih mandiri secara pangan.
Prof. Eni Harmayani menekankan bahwa UGM berkomitmen untuk terus mencetak generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial terhadap tantangan global. "Kami ingin lulusan kami menjadi problem solver. Melalui program ini, mahasiswa belajar bahwa masalah pangan adalah masalah kemanusiaan yang membutuhkan kerja keras, dedikasi, dan kemampuan untuk bekerja dalam tim yang beragam," tambahnya.
Penutup: Visi Jangka Panjang
Program Southeast Asia Friendship Initiative 2026 telah menjadi bukti nyata bahwa universitas memiliki peran krusial sebagai jembatan dalam menghadapi tantangan global. Ke depannya, diharapkan model kolaborasi ini dapat direplikasi dalam skala yang lebih luas, melibatkan lebih banyak universitas di Asia Tenggara, dan mencakup isu-isu krusial lainnya seperti manajemen air, energi terbarukan, dan ketahanan ekonomi pasca-pandemi.
Dengan sinergi yang terus dipupuk, Asia Tenggara diharapkan mampu menjadi kawasan yang lebih resilien, inklusif, dan mampu mengamankan ketersediaan pangan bagi seluruh penduduknya di tengah ketidakpastian iklim dan ekonomi dunia. Langkah yang diambil oleh FTP UGM dan NUS ini merupakan kontribusi konkret yang sejalan dengan semangat ASEAN dalam menciptakan kawasan yang stabil dan sejahtera.
Pihak UGM berencana untuk terus menindaklanjuti hasil dari program ini melalui serangkaian proyek riset bersama dan pertukaran mahasiswa lanjutan. Langkah ini diharapkan mampu menjaga momentum kolaborasi agar tetap relevan dengan dinamika kebutuhan pangan regional di tahun-tahun mendatang. Sebagai pusat inovasi, FTP UGM siap untuk terus memimpin inisiatif-inisiatif strategis yang berdampak luas, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi stabilitas pangan di tingkat regional Asia Tenggara.









