YOGYAKARTA – Gelaran seni rupa bertajuk Kawitan Exhibition secara resmi dibuka di Rumah Jala Production, Yogyakarta, pada Kamis, 7 Mei 2026, menampilkan narasi visual mendalam mengenai identitas budaya Blambangan yang dibawakan oleh empat perupa muda asal Banyuwangi yang tergabung dalam kolektif Republik Deles. Pameran ini bukan sekadar ajang unjuk karya, melainkan sebuah manifestasi pencarian jati diri dan upaya dekonstruksi sejarah melalui perspektif seni kontemporer. Di tengah dinamika seni rupa Yogyakarta yang heterogen, kehadiran perupa-perupa dari ujung timur Pulau Jawa ini memberikan warna baru yang segar sekaligus mengundang diskusi mengenai posisi tradisi dalam arus modernitas.
Pameran yang dikurasi dengan pendekatan riset budaya ini menyoroti bagaimana simbol-simbol masa lalu tetap relevan dalam menanggapi isu-isu kontemporer. Tajuk "Kawitan" yang diambil dari bahasa Jawa kuno dan juga lazim digunakan dalam dialek Using, memiliki arti "permulaan" atau "asal-usul". Melalui tema ini, para seniman berusaha menarik garis merah antara akar sejarah Kerajaan Blambangan dengan realitas sosial-budaya masyarakat Banyuwangi saat ini. Kehadiran pengunjung yang memadati area pameran sejak sore hari menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat Yogyakarta terhadap eksplorasi budaya yang dibawa oleh komunitas perupa luar daerah.
Eksplorasi Identitas Republik Deles dan Filosofi Kawitan
Republik Deles, sebagai kolektif yang menginisiasi pameran ini, merupakan kelompok kreatif yang selama ini konsisten mengangkat isu-isu kelokalan Banyuwangi. Dalam konteks pameran Kawitan, mereka mencoba membedah terminologi "Deles" yang dalam bahasa Using berarti murni, asli, atau sejati. Keempat perupa yang terlibat membawa gaya visual yang berbeda-beda, mulai dari lukisan ekspresionis, instalasi media campuran, hingga karya grafis yang mengeksplorasi motif-motif tradisional Using yang telah dideformasi.
Penggunaan kata "Kawitan" sebagai judul pameran merupakan sebuah pernyataan posisi. Para perupa ini menyadari bahwa untuk melangkah maju di kancah seni nasional maupun internasional, mereka harus memiliki pijakan yang kuat pada identitas asal mereka. Blambangan, sebagai entitas sejarah yang kaya akan mitologi, perjuangan, dan sinkretisme budaya, menjadi tambang inspirasi yang tidak habis digali. Melalui karya-karya yang dipajang, pengunjung diajak untuk menelusuri kembali jejak-jejak peradaban yang sering kali terpinggirkan dalam narasi sejarah arus utama di Jawa.
Latar Belakang Budaya Blambangan dalam Perspektif Seni Rupa
Sejarah Blambangan adalah sejarah tentang ketangguhan. Sebagai kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa yang bertahan hingga akhir abad ke-18, Blambangan memiliki karakteristik budaya yang unik—perpaduan antara pengaruh Majapahit, Bali, dan pengaruh Islam yang masuk kemudian. Unsur-unsur inilah yang diterjemahkan oleh keempat perupa ke dalam bahasa visual. Salah satu perupa, misalnya, mengeksplorasi motif Gajah Oling, motif batik tertua di Banyuwangi, bukan hanya sebagai pola kain, melainkan sebagai simbol filosofis tentang hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Konteks sejarah ini penting untuk dipahami karena karya-karya dalam Kawitan Exhibition tidak berdiri di ruang hampa. Ada upaya untuk membicarakan trauma sejarah, kejayaan masa lalu, dan bagaimana pariwisata modern di Banyuwangi saat ini memengaruhi persepsi masyarakat terhadap tradisinya sendiri. Dengan membawa narasi ini ke Yogyakarta, yang dikenal sebagai barometer seni rupa Indonesia, Republik Deles sedang melakukan diplomasi budaya sekaligus pengujian terhadap daya tawar gagasan lokal mereka di hadapan publik yang lebih luas dan kritis.
Detail Karya dan Pendekatan Estetik Empat Perupa
Keempat perupa muda yang terlibat dalam pameran ini masing-masing membawa sub-tema yang saling melengkapi. Perupa pertama fokus pada aspek mitologi dan spiritualitas Using, menghadirkan lukisan-lukisan berukuran besar yang menggambarkan figur-figur dalam ritual Seblang dan Gandrung. Namun, alih-alih menampilkan sosok-sosok tersebut secara harfiah, ia menggunakan teknik sapuan kuas yang kasar dan warna-warna gelap untuk memberikan kesan misterius dan sakral, seolah ingin menunjukkan bahwa tradisi memiliki sisi "gelap" atau sisi dalam yang sulit dijangkau oleh pandangan pariwisata yang superfisial.
Perupa kedua lebih condong pada isu ekologi dan bentang alam Banyuwangi. Melalui karya instalasi yang memanfaatkan material alam seperti kayu bekas dan tanah liat, ia mengkritisi eksploitasi alam di kawasan pesisir dan pegunungan demi kepentingan industri. Bagi perupa ini, "Kawitan" adalah tentang bumi sebagai asal-usul kehidupan yang kini tengah terancam. Karya ini menarik perhatian banyak pengunjung karena sifatnya yang interaktif dan provokatif, memaksa penonton untuk memikirkan kembali hubungan mereka dengan lingkungan.
Sementara itu, perupa ketiga dan keempat mengeksplorasi aspek sosial-politik dan keseharian. Salah satunya menggunakan media digital dan cetak saring untuk mengomentari fenomena urbanisasi di Banyuwangi, sementara yang lain menggunakan teknik kolase untuk menyusun kembali fragmen-fragmen memori masa kecilnya yang berkaitan dengan permainan tradisional dan bahasa ibu. Keberagaman teknik dan medium ini menunjukkan bahwa identitas Blambangan tidaklah monolitik, melainkan cair dan terus berkembang mengikuti zaman.
Yogyakarta Sebagai Ruang Pertemuan dan Validasi Artistik
Pemilihan Rumah Jala Production di Yogyakarta sebagai lokasi pameran memiliki nilai strategis. Yogyakarta telah lama menjadi "kawah candradimuka" bagi seniman dari seluruh penjuru Nusantara. Dengan berpameran di sini, Republik Deles mendapatkan akses ke ekosistem seni yang lengkap, mulai dari kritikus, kolektor, hingga sesama rekan seniman. Interaksi yang terjadi selama pameran berlangsung diharapkan dapat memberikan masukan konstruktif bagi perkembangan karier mereka di masa depan.

Dalam beberapa tahun terakhir, tren seni rupa Indonesia menunjukkan peningkatan minat terhadap narasi-narasi regional atau "local genius". Pameran Kawitan Exhibition mengonfirmasi tren ini, di mana seniman tidak lagi merasa perlu untuk selalu berkiblat pada estetika Barat atau estetika pusat (Jakarta/Yogyakarta), melainkan berani menggali kekayaan intelektual dari daerah asal mereka sendiri. Yogyakarta, dalam hal ini, berperan sebagai katalisator yang memperkuat suara-suara dari daerah tersebut.
Tanggapan Kuratorial dan Apresiasi Pengunjung
Nur Istibsaroh, yang bertindak sebagai editor dan pengamat dalam publikasi pameran ini, mencatat bahwa kekuatan utama Kawitan Exhibition terletak pada kejujuran para perupanya. Mereka tidak berusaha menjadi orang lain atau memaksakan gaya yang sedang tren di pasar seni. Sebaliknya, mereka membawa kegelisahan asli dari tanah kelahiran mereka. Rahid Putra Laksana, pewarta yang mendokumentasikan acara tersebut, melaporkan bahwa pameran ini berhasil menarik perhatian lintas generasi, mulai dari mahasiswa seni hingga tokoh masyarakat Banyuwangi yang berdomisili di Yogyakarta.
Beberapa pengunjung menyatakan kekagumannya pada bagaimana elemen tradisional seperti aksara Using atau bentuk bangunan tradisional dialih rupakan menjadi bentuk-bentuk abstrak yang modern. Salah satu pengunjung, seorang akademisi seni, menyebutkan bahwa pameran ini merupakan bentuk "reklamasi identitas" oleh generasi muda. Di tengah gempuran budaya pop global, upaya para perupa Banyuwangi ini untuk kembali ke "Kawitan" atau titik mula adalah langkah yang sangat berani dan patut diapresiasi.
Analisis Implikasi: Masa Depan Seni Rupa Berbasis Lokalitas
Pameran Kawitan Exhibition memberikan implikasi yang lebih luas bagi peta seni rupa kontemporer di Indonesia. Pertama, pameran ini membuktikan bahwa kolektif seni daerah memiliki potensi besar untuk menembus batas-batas geografis jika didukung oleh konsep yang kuat dan manajemen yang baik. Republik Deles telah menunjukkan bahwa kolaborasi adalah kunci dalam menghadapi tantangan industri kreatif saat ini.
Kedua, ada pesan kuat mengenai pentingnya pengarsipan dan riset budaya dalam proses penciptaan karya seni. Tanpa riset yang mendalam tentang Blambangan, karya-karya dalam pameran ini mungkin hanya akan berakhir sebagai komoditas visual yang dangkal. Dengan dasar riset, seni rupa mampu menjadi instrumen edukasi sejarah yang efektif bagi generasi muda yang mungkin mulai asing dengan akar budayanya sendiri.
Ketiga, keberhasilan pameran ini di Yogyakarta kemungkinan besar akan memicu gelombang pameran serupa dari daerah-daerah lain di Indonesia. Hal ini akan menciptakan kompetisi yang sehat dan memperkaya khazanah seni rupa nasional dengan perspektif yang lebih beragam. Identitas Indonesia yang majemuk memang seharusnya tercermin dalam keragaman narasi visual yang ditampilkan di galeri-galeri seni.
Kronologi Persiapan dan Rencana Tindak Lanjut
Persiapan Kawitan Exhibition memakan waktu kurang lebih satu tahun, dimulai dari riset lapangan di berbagai situs bersejarah di Banyuwangi, diskusi intensif antar perupa, hingga pemilihan karya yang paling representatif. Republik Deles juga melakukan penggalangan dana mandiri dan bekerja sama dengan beberapa pihak swasta yang memiliki kepedulian terhadap seni budaya untuk mewujudkan pameran ini di luar kota.
Setelah penutupan pameran di Yogyakarta, rencananya karya-karya ini akan dibawa pulang ke Banyuwangi untuk dipamerkan dalam format yang lebih besar dan melibatkan lebih banyak seniman lokal. Tujuannya adalah untuk menciptakan ekosistem seni yang berkelanjutan di Banyuwangi sendiri, sehingga para perupa muda tidak hanya bergantung pada ruang-ruang pamer di luar daerah, tetapi juga mampu menghidupkan gairah seni di tanah kelahiran mereka. Selain itu, sebuah buku katalog yang memuat esai kuratorial dan dokumentasi karya juga akan diterbitkan sebagai dokumen sejarah penting bagi pergerakan seni rupa di ujung timur Jawa.
Kesimpulan: Menjaga Api Blambangan Tetap Menyala
Pameran Kawitan Exhibition di Rumah Jala Production, Yogyakarta, telah berhasil menjadi jembatan budaya yang menghubungkan masa lalu Blambangan dengan masa depan seni rupa Indonesia. Melalui tangan empat perupa muda dari Republik Deles, tradisi tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang kuno dan statis, melainkan sebagai entitas yang hidup, dinamis, dan penuh dengan kemungkinan interpretasi.
Keberhasilan acara ini pada 7 Mei 2026 menjadi catatan penting bagi perjalanan karier para perupa yang terlibat. Mereka telah membuktikan bahwa dengan kembali ke "Kawitan", mereka justru menemukan jalan baru yang lebih luas untuk berekspresi. Publik kini menantikan langkah selanjutnya dari kolektif ini, bagaimana mereka akan terus mengolah akar budaya mereka menjadi karya-karya yang mampu berbicara di panggung dunia tanpa kehilangan jati diri sebagai putra-putri Blambangan. Pameran ini adalah sebuah pengingat bahwa di mana pun kita berada, mengenal asal-usul adalah langkah pertama untuk memahami ke mana kita akan melangkah.









