Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mencatatkan sejarah penting dalam peta ekonomi kreatif nasional dengan terpilih sebagai tuan rumah penyelenggaraan Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2018. Agenda besar yang berlangsung pada 15 hingga 20 Oktober 2018 ini menjadi titik temu bagi para pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, praktisi industri, hingga akademisi untuk merumuskan masa depan kota kreatif di Indonesia. Penyelenggaraan ini menandai transformasi signifikan dari format konferensi konvensional menjadi festival yang lebih inklusif dan kolaboratif.
Evolusi dan Transformasi Indonesia Creative Cities Network
Indonesia Creative Cities Network (ICCN) merupakan jejaring lintas komunitas dan pemerintah daerah yang berfokus pada pengembangan ekosistem kreatif di berbagai kota di Indonesia. Sejak didirikan, ICCN telah menjadi penggerak utama dalam upaya memetakan potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi berbasis kreativitas.
Perhelatan di Sleman merupakan gelaran ketiga yang diadakan oleh ICCN sejak pertama kali diinisiasi pada tahun 2015. Perubahan nomenklatur dari Indonesia Creative Cities Conference (ICCC) menjadi Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) pada tahun 2018 bukanlah sekadar pergantian nama. Langkah strategis ini diambil untuk memecah sekat birokrasi dan hierarki yang seringkali menghambat sinergi antar-pemangku kepentingan. Dengan format festival, diharapkan terjadi interaksi yang lebih cair, dinamis, dan partisipatif di antara para peserta.
Sebelum mencapai Sleman sebagai tuan rumah edisi 2018, ICCN telah menempuh perjalanan panjang melalui dua edisi sebelumnya:
- 2015 (Solo): Sebagai tonggak awal berdirinya jaringan kota kreatif Indonesia yang mempertemukan berbagai penggerak komunitas.
- 2016 (Makassar): Konsolidasi jaringan yang semakin kuat dalam merumuskan strategi pengembangan kota kreatif di wilayah Indonesia Timur.
- 2018 (Sleman): Fokus pada implementasi kolaborasi lintas sektor dan penguatan budaya lokal sebagai basis ekonomi.
Filosofi Holopis Kutha Baris sebagai Napas Pergerakan
Tema besar yang diusung dalam ICCF 2018 adalah "Holopis Kutha Baris". Tema ini diambil dari idiom klasik "Holopis Kuntul Baris", sebuah ungkapan yang sering diserukan oleh Presiden pertama RI, Soekarno, untuk membakar semangat gotong royong bangsa. Secara etimologis dan filosofis, istilah ini mengandung pesan bahwa beban seberat apapun akan menjadi ringan apabila dikerjakan dengan semangat kebersamaan dan sinergi.
Dalam konteks pengembangan kota, "Holopis Kutha Baris" diartikan sebagai ajakan bagi setiap kota di Indonesia untuk tidak bergerak sendiri-sendiri (silo mentality). Sebaliknya, kota-kota harus saling berjejaring, berbagi praktik terbaik (best practices), dan saling mendukung dalam menghadapi tantangan globalisasi ekonomi. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Sudarningsih, menekankan bahwa melalui tema ini, ICCN berupaya menciptakan lompatan besar dalam pembangunan ekonomi kreatif nasional yang berakar pada nilai-nilai budaya lokal.
Agenda Strategis dan Sinergi Lintas Sektor
Rangkaian acara ICCF 2018 dirancang untuk menyentuh berbagai aspek industri kreatif, mulai dari tataran kebijakan hingga implementasi praktis di lapangan. Kerja sama strategis antara ICCN, Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), dan Pemerintah Kabupaten Sleman mencakup beberapa agenda utama:
- Indonesia Creative Cities Conference: Forum diskusi tingkat tinggi di Hotel Sahid Jaya yang menghadirkan tokoh-tokoh kunci. Beberapa nama besar yang terlibat antara lain Triawan Munaf (Kepala BEKRAF kala itu), Ridwan Kamil (saat menjabat Gubernur Jawa Barat yang dikenal sebagai pionir kota kreatif), Joshoua Simanjuntak, Wishnutama, serta konsultan kreatif internasional, Tom Flemming.
- Sleman Living Culture Night: Sebuah jamuan makan malam yang mengintegrasikan kuliner lokal Sleman dengan suasana budaya di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman. Ini merupakan upaya promosi budaya lokal sebagai bagian tak terpisahkan dari ekosistem ekonomi kreatif.
- Pameran Kota Kreatif: Ajang unjuk gigi bagi kota-kota anggota ICCN untuk memamerkan produk, inovasi, dan keunikan ekosistem kreatif daerah mereka masing-masing kepada publik.
- Workshop Tematik: Diselenggarakan di berbagai desa wisata di Sleman, kegiatan ini memberikan ruang bagi praktisi kreatif untuk berbagi keterampilan teknis secara langsung dengan komunitas lokal.
Peran BEKRAF dan Arah Kebijakan Ekonomi Kreatif
Pada masa itu, peran BEKRAF sebagai lembaga setingkat kementerian sangat krusial dalam memberikan dukungan bagi pertumbuhan ekonomi kreatif. Melalui ICCF 2018, pemerintah pusat memberikan ruang bagi pemerintah daerah untuk menonjolkan potensi unggulannya. Data BEKRAF menunjukkan bahwa kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB nasional terus meningkat dari tahun ke tahun, dengan subsektor kuliner, kriya, dan fesyen mendominasi perolehan nilai tambah.
Kehadiran sosok seperti Ridwan Kamil dan Wishnutama dalam konferensi ini memberikan perspektif praktis mengenai bagaimana kepemimpinan kreatif dapat mengubah wajah kota. Ridwan Kamil, misalnya, menekankan pentingnya ruang publik sebagai katalisator kreativitas, sementara Wishnutama berbagi wawasan tentang bagaimana konten kreatif dapat menjadi daya saing global di era digital.
Analisis Dampak bagi Kabupaten Sleman dan Indonesia
Pemilihan Sleman sebagai tuan rumah memberikan implikasi strategis bagi perkembangan wilayah tersebut. Sebagai kabupaten yang memiliki basis pendidikan tinggi yang kuat (banyaknya universitas di Sleman) dan kekayaan budaya yang terjaga, Sleman memiliki modalitas yang sangat baik untuk menjadi pusat ekonomi kreatif berbasis pengetahuan.
Dampak jangka panjang dari ICCF 2018 mencakup:
- Penguatan Jejaring: Terbentuknya kanal komunikasi yang lebih intens antara komunitas kreatif di Sleman dengan jejaring nasional.
- Peningkatan Standar Pariwisata: Integrasi antara desa wisata dan industri kreatif memberikan nilai tambah pada kunjungan wisatawan, yang tidak hanya datang untuk melihat pemandangan, tetapi juga untuk berinteraksi dengan komunitas kreatif.
- Pemberdayaan SDM Lokal: Workshop tematik yang digelar di desa-desa wisata secara langsung meningkatkan kapasitas pelaku UMKM lokal untuk mengemas produk mereka agar lebih berdaya saing.
- Branding Daerah: Suksesnya acara ini memperkuat posisi Sleman sebagai destinasi yang ramah bagi inovasi dan kreativitas, yang secara tidak langsung meningkatkan daya tarik investasi di sektor non-industri berat.
Tantangan dan Peluang Masa Depan
Meskipun ICCF 2018 berhasil memicu semangat kolaborasi, tantangan di masa depan tetap membayangi. Perkembangan teknologi digital yang sangat cepat menuntut pelaku ekonomi kreatif untuk terus beradaptasi. Sinergi yang ditekankan dalam "Holopis Kutha Baris" harus diwujudkan dalam bentuk platform digital yang menghubungkan kota-kota kreatif, sehingga akses pasar bagi produk kreatif daerah tidak lagi terbatas pada jangkauan lokal atau regional saja.
Lebih jauh lagi, keberlanjutan (sustainability) menjadi kata kunci bagi kota-kota kreatif. Konferensi ini menjadi pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi kreatif harus sejalan dengan pelestarian lingkungan dan budaya. Sleman, dengan segala potensinya, telah membuktikan bahwa keterlibatan pemerintah daerah yang aktif adalah kunci utama dalam menggerakkan ekosistem kreatif.
Kesimpulan
Indonesia Creative Cities Festival 2018 di Sleman bukan sekadar rangkaian acara seremonial. Perhelatan ini merupakan manifestasi dari keinginan besar bangsa Indonesia untuk mendiversifikasi ekonomi melalui kreativitas lokal. Dengan mengedepankan semangat gotong royong melalui tema "Holopis Kutha Baris", ICCN telah berhasil meletakkan dasar bagi kolaborasi lintas wilayah yang lebih solid.
Bagi Pemerintah Kabupaten Sleman, menjadi tuan rumah ICCF 2018 adalah langkah strategis untuk memperkuat ekosistem kreatif daerah yang berbasis pada budaya dan pemberdayaan masyarakat. Sementara bagi Indonesia secara luas, festival ini menjadi katalis bagi kota-kota lain untuk mulai memetakan potensi mereka dan berkolaborasi dalam satu barisan besar demi mewujudkan Indonesia yang lebih kreatif, inovatif, dan berdaya saing di tingkat global. Keberhasilan acara ini menjadi bukti bahwa ketika pemerintah, komunitas, dan praktisi industri bersinergi, hambatan sebesar apa pun dapat diatasi, sejalan dengan semangat yang diwariskan oleh para pendiri bangsa.









