Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Ekonomi

Gibran Rakabuming Raka Bagi-bagi Sepeda kepada Santri dalam Peringatan Haul ke-55 KH. Abd. Wahab Chasbullah di Jombang

badge-check


					Gibran Rakabuming Raka Bagi-bagi Sepeda kepada Santri dalam Peringatan Haul ke-55 KH. Abd. Wahab Chasbullah di Jombang Perbesar

Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, menghadiri peringatan Haul ke-55 KH. Abd. Wahab Chasbullah yang diselenggarakan di Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada Minggu (10/5/2026). Kehadiran orang nomor dua di Indonesia tersebut dalam forum keagamaan ini menjadi momen penting untuk menegaskan peran krusial santri dalam menjaga stabilitas nasional dan menjawab tantangan zaman melalui nilai-nilai pendidikan karakter yang diajarkan di pesantren.

Dalam rangkaian acara pengajian umum tersebut, Wakil Presiden Gibran melakukan interaksi langsung dengan para santri. Di tengah suasana khidmat, ia membagikan dua unit sepeda kepada dua santri terpilih sebagai bentuk apresiasi atas pemahaman mereka terhadap nilai-nilai kesantrian. Interaksi ini bukan sekadar seremoni pembagian hadiah, melainkan upaya Wapres untuk menguji kedalaman pemikiran generasi muda mengenai identitas mereka di tengah arus disrupsi teknologi dan perubahan sosial.

Uji Wawasan dan Refleksi Kebangsaan Santri

Proses penunjukan penerima sepeda dilakukan secara spontan oleh Gibran. Ia meminta panitia untuk memilih satu santri laki-laki dan satu santri perempuan untuk naik ke atas panggung. Sebelum hadiah diberikan, Wapres melontarkan pertanyaan yang menggugah nalar kritis: "Apa yang membuat kamu bangga menjadi santri?"

Ahmad Alfir Ismail, santri asal Magelang, Jawa Tengah, memberikan jawaban yang impresif. Ia menguraikan kebanggaannya melalui tiga pilar utama: berakhlak, berilmu, dan berkiprah. Ahmad menekankan bahwa pesantren bukan sekadar tempat menimba ilmu agama, melainkan laboratorium karakter yang menanamkan sopan santun dan tata krama. Ia secara spesifik menyebut sosok KH. Abd. Wahab Chasbullah sebagai figur sentral yang mencontohkan keseimbangan antara kedalaman spiritual dan kiprah nyata di masyarakat, baik sebagai pendiri Nahdlatul Ulama maupun pejuang kemerdekaan.

Respon Gibran terhadap jawaban tersebut cukup apresiatif. Ia menyebut cara berpikir Ahmad layaknya peserta debat calon presiden, yang menandakan bahwa santri masa kini memiliki kemampuan retorika dan penguasaan isu yang matang. Senada dengan itu, Indy Febrianti Valentina, santri asal Jombang, menyoroti aspek implementasi ilmu. Menurutnya, menjadi santri bukan hanya tentang menetap di lingkungan pesantren, melainkan kemampuan membawa adab dan manfaat ilmu bagi masyarakat luas setelah lulus.

Mengulas Sosok KH. Abd. Wahab Chasbullah

Peringatan Haul ke-55 ini memberikan ruang bagi publik untuk kembali menilik rekam jejak KH. Abd. Wahab Chasbullah. Lahir di Jombang pada 31 Maret 1888, beliau merupakan salah satu ulama paling berpengaruh dalam sejarah modern Indonesia. Sebagai pendiri Nahdlatul Ulama, kontribusi pemikirannya tidak hanya terbatas pada ranah keagamaan, tetapi juga politik kebangsaan.

Beliau wafat pada 29 Desember 1971 dan meninggalkan warisan intelektual serta organisasi yang hingga kini menjadi pilar moderasi Islam di Indonesia. Pada tahun 2014, dedikasi beliau diakui secara resmi oleh negara melalui penganugerahan gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Kehadiran tokoh-tokoh besar seperti Wapres Gibran, Kapolri, dan Gubernur Jawa Timur dalam haul ini menunjukkan betapa signifikannya peran "Wahabiyah" (pemikiran-pemikiran KH. Wahab Chasbullah) dalam narasi pembangunan bangsa.

Tantangan Global dan Masa Depan Pondok Pesantren

Dalam sambutannya, Wakil Presiden Gibran menekankan urgensi adaptasi bagi generasi santri. Ia menyoroti beberapa ancaman global yang menjadi tantangan nyata bagi bangsa, yakni konflik geopolitik, perang dagang, perang tarif, serta disrupsi teknologi yang masif. Menurut Gibran, santri tidak boleh lagi membatasi diri pada ruang lingkup tradisional.

Gibran bagi-bagi sepeda ke santri di haul KH. Abd. Wahab Chasbullah

"Indonesia membutuhkan anak-anak muda yang berakhlak mulia, cinta tanah air, berani berinovasi, dan mampu beradaptasi dengan dinamika perkembangan zaman," ujar Wapres. Ia menegaskan bahwa masa depan pondok pesantren akan sangat cerah apabila generasi penerusnya mampu mengkombinasikan warisan tradisi dengan kecakapan modern. Harapan ini ia tujukan kepada seluruh santri, tidak terbatas pada santri Tambakberas saja, agar senantiasa meneladani semangat keberanian berpikir maju yang dimiliki oleh KH. Abd. Wahab Chasbullah.

Analisis: Implikasi Strategis bagi Pesantren di Indonesia

Secara sosiopolitik, keterlibatan pemerintah dalam acara haul di lingkungan pesantren memiliki implikasi yang dalam. Pertama, adanya pengakuan negara terhadap kontribusi pendidikan pesantren sebagai garda depan pencetak pemimpin masa depan. Narasi "santri sebagai calon pemimpin" yang dilontarkan Gibran merupakan bentuk validasi formal bahwa institusi pesantren diakui oleh negara sebagai lembaga yang mampu menghasilkan sumber daya manusia kompetitif.

Kedua, upaya sinkronisasi antara kurikulum pesantren dengan tantangan ekonomi global. Pemerintah tampak mencoba menggeser persepsi masyarakat bahwa santri harus siap menghadapi disrupsi teknologi. Dengan memberikan perhatian pada aspek inovasi dan adaptasi, pemerintah berharap lulusan pesantren tidak hanya mahir dalam literasi keagamaan, tetapi juga memiliki ketahanan dalam menghadapi dinamika pasar tenaga kerja global yang dipenuhi oleh teknologi kecerdasan buatan dan perubahan iklim.

Ketiga, penguatan legitimasi nasional. Kehadiran jajaran pejabat tinggi negara, termasuk Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, menunjukkan sinergi antara ulama dan umara (pemimpin pemerintah) tetap terjaga. Stabilitas hubungan ini merupakan kunci utama dalam menjaga persatuan nasional di tengah polarisasi yang mungkin terjadi akibat ketegangan geopolitik global.

Kronologi dan Latar Belakang Acara

Peringatan haul ini merupakan agenda tahunan yang selalu dinanti oleh warga Nahdliyin. Berikut adalah beberapa poin kunci dari acara tersebut:

  1. Pukul 09.00 WIB: Para tokoh nasional dan ulama dari berbagai daerah mulai berdatangan ke kompleks Yayasan PP Bahrul Ulum.
  2. Pukul 10.30 WIB: Prosesi pengajian umum dimulai dengan pembacaan doa dan tahlil yang dipimpin oleh para masyayikh.
  3. Pukul 12.00 WIB: Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyampaikan pidato kunci mengenai tantangan kebangsaan dan keteladanan KH. Abd. Wahab Chasbullah.
  4. Pukul 13.00 WIB: Sesi interaksi antara Wapres dengan santri, di mana pembagian sepeda dilakukan.
  5. Pukul 14.35 WIB: Publikasi berita mengenai kegiatan tersebut secara resmi dirilis oleh media nasional.

Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting yang merepresentasikan kolaborasi lintas sektor, termasuk Ketua Majelis Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum K.H. M. Hasib Wahab Chasbullah, serta ulama kharismatik lainnya seperti K.H. Ahmad Muwafiq dari Sleman dan K.H. Mushoddiq Fikri Farouq dari Jember. Kehadiran mereka menegaskan bahwa warisan pemikiran KH. Abd. Wahab Chasbullah masih menjadi rujukan utama bagi banyak pesantren besar di Indonesia.

Kesimpulan dan Harapan Masa Depan

Peringatan Haul ke-55 KH. Abd. Wahab Chasbullah bukan sekadar ajang mengenang masa lalu. Melalui kehadiran Wakil Presiden Gibran dan interaksinya dengan para santri, acara ini bertransformasi menjadi sebuah forum dialog strategis tentang bagaimana menjaga relevansi pesantren di masa depan.

Santri, yang selama ini sering dipandang sebelah mata oleh kelompok sekuler, perlahan menunjukkan bahwa mereka memiliki modal sosial yang kuat: akhlak, ilmu, dan jiwa kepemimpinan. Dengan dukungan pemerintah dan komitmen para pengasuh pondok pesantren, optimisme bahwa Indonesia akan mampu melahirkan generasi pemimpin yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman—tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa yang religius—menjadi semakin nyata.

Pesan yang dibawa oleh Gibran tentang pentingnya berinovasi di tengah konflik geopolitik global adalah panggilan bagi pesantren untuk terus berevolusi. Apabila pesantren mampu mengintegrasikan nilai-nilai luhur KH. Abd. Wahab Chasbullah dengan literasi teknologi yang mumpuni, maka masa depan bangsa Indonesia akan berada di tangan generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga kokoh secara moral. Hal inilah yang menjadi inti dari pesan "santri masa depan" yang ditekankan dalam forum di Tambakberas, Jombang tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Harga emas Antam turun Rp15.000 jadi Rp2,759 juta/gram pada Kamis pagi 4 Juni 2026

4 Juni 2026 - 06:45 WIB

Presiden Prabowo Subianto Perintahkan Audit Investigasi dan Pengawasan Ketat Terhadap Badan Gizi Nasional Terkait Indikasi Penyelewengan Dana

4 Juni 2026 - 06:19 WIB

MES DIY Ajak Generasi Muda Menjadi Garda Terdepan Transformasi Ekonomi Syariah Berbasis Digital

4 Juni 2026 - 00:45 WIB

Menteri LH bidik pengembangan green jobs di Indonesia untuk akselerasi ekonomi hijau nasional

4 Juni 2026 - 00:19 WIB

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Tetap Fokus Efisienkan Anggaran Makan Bergizi Gratis Usai Penangkapan Eks Kepala BGN

3 Juni 2026 - 18:45 WIB

Trending di Ekonomi