PURWOKERTO – Di tengah gempuran arus informasi yang bergerak sangat cepat di era digital, Direktur Utama Perum LKBN ANTARA, Benny Siga Butarbutar, menegaskan bahwa peran mahasiswa sebagai intelektual muda menjadi garda terdepan dalam menjaga nalar publik. Dalam kuliah umum yang digelar di Auditorium FISIP Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, pada Jumat (8/5/2026), ia menekankan bahwa kemampuan memilah informasi bukan lagi sekadar keterampilan tambahan, melainkan kompetensi dasar untuk membangun peradaban bangsa yang sehat.
Acara bertajuk "Literasi Media – Peran Kantor Berita Dalam Membangun Peradaban Bangsa di Era Digital" ini menarik ratusan mahasiswa dari berbagai jurusan. Kehadiran pemimpin redaksi sekaligus pengelola kantor berita nasional tersebut memberikan perspektif baru bagi sivitas akademika mengenai bagaimana institusi media besar beradaptasi dengan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat yang kini didominasi oleh media sosial dan algoritma kecerdasan artifisial.
Urgensi Literasi Media di Tengah Banjir Informasi
Perkembangan teknologi komunikasi selama satu dekade terakhir telah mengubah lanskap informasi secara fundamental. Data dari berbagai lembaga survei komunikasi digital menunjukkan bahwa generasi Z dan milenial adalah kelompok dengan tingkat konsumsi media sosial tertinggi. Namun, tingginya akses informasi tidak berbanding lurus dengan kemampuan verifikasi konten.
Benny Siga Butarbutar menyoroti fenomena "The Age of Velocity", sebuah masa di mana kecepatan penyebaran informasi sering kali mengalahkan proses verifikasi. Dalam konteks ini, informasi yang salah atau disinformasi dapat menyebar lebih cepat daripada kebenaran. Benny menyebut bahwa mahasiswa harus menjadi "filter" atas banjir informasi tersebut.
"Mahasiswa adalah benteng. Mereka adalah benteng awal sekaligus terakhir. Di tengah krisis informasi, individu yang kuat adalah mereka yang memiliki intelektualitas, mampu berpikir kritis, dan mampu mengambil keputusan berdasarkan data yang valid, bukan sekadar emosi sesaat," ujar Benny di hadapan peserta kuliah umum.
Ia menambahkan bahwa tanpa kapasitas untuk menyeleksi informasi, esensi kemanusiaan seseorang dapat terkikis. Dalam pandangannya, media masa kini tidak boleh hanya mengejar kecepatan (speed), tetapi harus mengedepankan akurasi, kredibilitas, dan otoritas narasi. Inilah yang menjadi pembeda antara jurnalisme profesional yang bertanggung jawab dengan konten sembarangan yang berseliweran di media sosial.
Transformasi ANTARA sebagai Aktor Ekosistem Informasi
Sebagai kantor berita negara, Perum LKBN ANTARA saat ini tengah melakukan transformasi besar-besaran. Benny menegaskan bahwa ANTARA tidak lagi memosisikan diri sebagai penyedia berita statis, melainkan sebagai aktor utama dalam ekosistem informasi nasional.
Transformasi ini mencakup integrasi teknologi untuk verifikasi faktual dan pengembangan narasi yang membangun. ANTARA dituntut untuk menjadi sumber informasi yang dipercaya publik di tengah maraknya berita bohong (hoaks). Benny menjelaskan bahwa peran kantor berita kini lebih krusial untuk memberikan "jangkar" objektivitas di tengah kebisingan opini publik yang bias.
"Kami terus bertransformasi agar ANTARA bukan sekadar news agency, tetapi menjadi bagian integral dari ekosistem informasi negara. Kami ingin memastikan bahwa setiap narasi yang keluar adalah narasi yang berkualitas, melalui proses cross-check yang ketat," tambahnya.
Tantangan Integritas dan Disiplin Kerja
Selain membahas literasi media, Benny juga memberikan pesan moral kepada para mahasiswa mengenai etos kerja. Ia mengingatkan agar generasi muda tidak terjebak pada konsep "kerja cerdas" (smart work) yang dipahami secara keliru sebagai cara pintas untuk mencapai hasil instan.
Menurutnya, tidak ada kerja cerdas tanpa fondasi kerja keras (hard work). Kerja keras adalah proses yang membentuk karakter, sementara passion menjaga semangat, dan disiplin adalah kunci untuk bertahan dalam krisis apa pun. Pesan ini relevan dengan dunia kerja masa kini yang penuh tekanan dan menuntut kemampuan adaptasi yang tinggi.
Perspektif Kampus: Membangun Konsumen Informasi yang Bertanggung Jawab
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unsoed, Norman Arie Prayogo, menyambut baik inisiatif kolaborasi ini. Dalam sambutannya, ia mengakui bahwa pihak universitas menghadapi tantangan besar dalam mendidik mahasiswa di tengah arus informasi digital yang tidak terbendung.

"Tantangan terbesar kita saat ini adalah bagaimana memastikan mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen informasi yang pasif, tetapi menjadi produsen konten yang bertanggung jawab. Mereka harus mampu mengenali bias, melawan hoaks, dan menggunakan media sebagai alat untuk menyebarkan perubahan positif bagi masyarakat," ungkap Norman.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unsoed, Edi Santoso, yang turut hadir dalam diskusi, menekankan bahwa kurikulum komunikasi saat ini harus lebih adaptif terhadap dinamika media baru. Diskusi yang melibatkan jurnalis senior Virgie Baker ini memberikan wawasan praktis mengenai praktik jurnalisme di lapangan, di mana tantangan etika sering kali berbenturan dengan tuntutan industri.
Implikasi dan Dampak Jangka Panjang
Kuliah umum ini bukan sekadar seremoni akademik. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BUMN yang dijalankan oleh ANTARA. Melalui program ini, ANTARA berkomitmen untuk terus menjembatani kesenjangan antara dunia industri media dengan dunia pendidikan.
Dampak jangka panjang dari penguatan literasi media ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem digital Indonesia yang lebih sehat. Jika mahasiswa mampu menjadi agen literasi di lingkungan sekitarnya—baik di keluarga maupun komunitas—maka ketahanan informasi (information resilience) nasional akan semakin kuat.
Data menunjukkan bahwa negara dengan tingkat literasi media yang tinggi cenderung memiliki tingkat partisipasi politik yang lebih rasional dan polarisasi sosial yang lebih rendah. Oleh karena itu, inisiatif yang dilakukan di Unsoed ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai kampus lain di seluruh Indonesia.
Kronologi dan Rangkaian Kegiatan
Rangkaian kegiatan ini berlangsung secara intensif sepanjang hari Jumat. Diawali dengan pemaparan materi dari Benny Siga Butarbutar mengenai peran strategis kantor berita, sesi dilanjutkan dengan diskusi panel yang menghadirkan narasumber ahli di bidang komunikasi dan media.
Sesi diskusi berlangsung cukup dinamis. Para mahasiswa menunjukkan antusiasme yang tinggi dengan banyaknya pertanyaan kritis terkait bagaimana membedakan informasi objektif dari opini yang menyamar sebagai fakta, serta bagaimana masa depan jurnalisme di tengah dominasi kecerdasan artifisial (AI).
Benny secara khusus memberikan apresiasi atas sikap kritis para mahasiswa FISIP Unsoed. Baginya, antusiasme tersebut adalah bukti bahwa generasi muda Indonesia masih memiliki kepedulian tinggi terhadap masa depan informasi di negeri ini.
Menuju Masa Depan Informasi yang Sehat
Sebagai penutup, Benny menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan ketahanan informasi yang kokoh. Di tengah banjir informasi digital yang dipenuhi dengan misinformasi dan malinformasi, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk membedakan mana informasi yang bernilai, akurat, dan objektif.
"Informasi yang dibentuk harus berkualitas. Objektivitas dan akurasi adalah harga mati yang tidak bisa ditawar, lebih penting daripada sekadar menjadi yang pertama dalam menyampaikan berita," tegasnya.
Kegiatan ini menjadi langkah konkret bagi Perum LKBN ANTARA untuk memperkuat perannya sebagai pilar informasi bangsa. Dengan terus merangkul perguruan tinggi, diharapkan tercipta sinergi antara dunia profesional media dengan akademisi untuk melahirkan generasi yang tidak hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi juga bijak dalam mencerna setiap bit informasi yang diterima.
Melalui upaya edukasi berkelanjutan ini, ANTARA berharap dapat terus berkontribusi dalam membangun peradaban bangsa yang lebih cerdas, kritis, dan berintegritas di era disrupsi digital yang semakin kompleks.









