Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Ekonomi

Hasto Kristiyanto Serukan Solidaritas Buruh dalam Menghadapi Tantangan Ekonomi Global dan Deindustrialisasi

badge-check


					Hasto Kristiyanto Serukan Solidaritas Buruh dalam Menghadapi Tantangan Ekonomi Global dan Deindustrialisasi Perbesar

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menekankan pentingnya persatuan dan semangat gotong royong di kalangan elemen buruh sebagai kunci utama dalam memperjuangkan kesejahteraan di tengah dinamika ekonomi global yang semakin kompleks. Pernyataan tersebut disampaikan dalam puncak peringatan Hari Buruh Internasional 2026 yang diselenggarakan oleh PDI Perjuangan dengan tajuk "Banteng Pro Pekerja: Buruh Berdaulat, Indonesia Berdikari" di GOR Otista, Jakarta Timur, Minggu (3/5/2026).

Di hadapan sekitar 1.500 perwakilan buruh yang memadati arena, Hasto menggarisbawahi bahwa perjuangan kelas pekerja bukan sekadar menuntut kenaikan upah, melainkan upaya kolektif untuk mengangkat derajat martabat bangsa. Ia menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia sejatinya belum lengkap jika buruh, petani, dan nelayan masih terjebak dalam rantai kemiskinan dan keterbatasan hak.

Konteks Historis: Semangat Marhaenisme dalam Ketenagakerjaan

Peringatan Hari Buruh tahun 2026 ini membawa nuansa refleksi mendalam terhadap ajaran Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno. Hasto mengingatkan kembali bahwa filosofi Marhaenisme yang digelorakan Bung Karno menempatkan rakyat kecil sebagai subjek utama pembangunan. Menurutnya, Pancasila bukan sekadar ideologi negara, melainkan narasi keberpihakan yang nyata terhadap kaum tertindas.

Sejarah mencatat bahwa pasca-kemerdekaan, gerakan buruh di Indonesia sempat menjadi salah satu kekuatan politik dan sosial yang sangat diperhitungkan. Namun, seiring berjalannya waktu, tantangan yang dihadapi buruh terus bertransformasi. Jika pada masa lalu perjuangan berfokus pada pembebasan dari kolonialisme, saat ini tantangan bergeser pada perlindungan hak di tengah arus globalisasi, otomatisasi, dan tantangan deindustrialisasi yang membayangi sektor manufaktur nasional.

Menilik Tantangan Ekonomi dan Ancaman Deindustrialisasi

Dalam orasinya, Hasto secara spesifik menyoroti gejala deindustrialisasi yang mulai terlihat nyata dampaknya terhadap ketenagakerjaan di Indonesia. Deindustrialisasi dini—yakni penurunan kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebelum negara mencapai tingkat kemakmuran yang cukup—menjadi ancaman serius bagi penyerapan tenaga kerja.

Data menunjukkan bahwa sektor industri pengolahan yang selama ini menjadi penyerap tenaga kerja formal terbesar mulai mengalami stagnasi. Kenaikan harga kebutuhan pokok yang tidak dibarengi dengan stabilitas daya beli pekerja menciptakan tekanan ganda. Kondisi ini diperburuk dengan semakin sulitnya akses bagi angkatan kerja baru untuk mendapatkan pekerjaan yang layak (decent work).

Hasto menekankan bahwa Indonesia harus belajar dari keberhasilan negara lain, seperti Korea Selatan. Sejarah pembangunan ekonomi Korea Selatan yang merdeka hampir bersamaan dengan Indonesia menunjukkan bahwa dengan kebijakan industrialisasi yang tepat dan perlindungan hak pekerja yang terukur, sebuah negara mampu mentransformasi diri dari negara agraris menjadi kekuatan industri global dalam hitungan dekade.

Urgensi Gotong Royong dalam Pergerakan Buruh

Kekuatan utama yang ditawarkan oleh PDI Perjuangan dalam menghadapi tantangan tersebut adalah konsep "Gotong Royong". Hasto membedah konsep ini menjadi tiga pilar:

Hasto ajak buruh perkuat persatuan hadapi tantangan ekonomi
  1. Gotong royong dalam ide: Penyatuan visi antara serikat buruh, pemerintah, dan pemangku kepentingan untuk menciptakan kebijakan pro-pekerja.
  2. Gotong royong dalam pergerakan: Sinergi aksi di lapangan untuk memastikan hak-hak dasar buruh terpenuhi.
  3. Gotong royong dalam persatuan: Mengesampingkan ego sektoral antar-serikat buruh untuk satu tujuan besar yakni kesejahteraan nasional.

Pernyataan ini sejalan dengan tuntutan banyak organisasi buruh nasional yang mendesak adanya revisi kebijakan ketenagakerjaan yang dianggap lebih memihak pada fleksibilitas pasar kerja daripada perlindungan jangka panjang bagi pekerja.

Analisis Implikasi Sosial dan Politik

Langkah PDI Perjuangan yang secara aktif merangkul buruh dalam perayaan Hari Buruh ini memiliki implikasi politis yang luas. Di tahun 2026, stabilitas hubungan industrial menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga kepercayaan investor dan menjaga kondusivitas ekonomi nasional.

Pengamat kebijakan publik menilai bahwa kehadiran tokoh-tokoh penting PDIP, seperti Mercy Chriesty Barends, Charles Honoris, Ribka Tjiptaning, dan Rano Karno dalam acara tersebut menunjukkan keseriusan partai dalam melakukan konsolidasi basis massa pekerja. Secara struktural, PDI Perjuangan berusaha memposisikan diri sebagai "Rumah Besar" bagi kaum buruh, yang merupakan salah satu basis pemilih terbesar di Indonesia.

Namun, di sisi lain, para aktivis buruh tetap menuntut bukti konkret. Mereka berharap narasi "Banteng Pro Pekerja" tidak berhenti pada orasi politik, melainkan diterjemahkan ke dalam kebijakan legislatif yang konkret, seperti penguatan peran pengawasan ketenagakerjaan, penegakan aturan mengenai Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), serta perlindungan bagi pekerja di sektor gig ekonomi yang kian menjamur.

Kronologi dan Rangkaian Acara Peringatan

Peringatan Hari Buruh di GOR Otista tersebut berlangsung dengan khidmat. Rangkaian acara dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, diikuti oleh pembacaan manifesto buruh yang menuntut jaminan perlindungan kerja. Setelah penyampaian orasi oleh Hasto Kristiyanto, acara dilanjutkan dengan penyerahan cenderamata secara simbolis kepada perwakilan buruh dari berbagai sektor, mulai dari sektor garmen, transportasi, hingga pekerja informal.

Acara ditutup dengan komitmen bersama untuk menjaga persatuan nasional dan memastikan bahwa aspirasi buruh tetap menjadi arus utama dalam pengambilan keputusan di parlemen.

Menatap Masa Depan: Indonesia Berdikari

Menutup arahannya, Hasto kembali menegaskan bahwa cita-cita "Indonesia Berdikari" (Berdiri di atas kaki sendiri) mustahil tercapai tanpa buruh yang berdaulat. Buruh yang berdaulat didefinisikan sebagai pekerja yang memiliki posisi tawar kuat, terlindungi secara hukum, serta memiliki akses yang adil terhadap kesejahteraan dan pendidikan keterampilan.

Tantangan ekonomi tahun 2026 diprediksi akan terus fluktuatif, dipengaruhi oleh kondisi geopolitik global dan disrupsi teknologi. Oleh karena itu, soliditas buruh dianggap sebagai benteng terakhir untuk menjaga agar bangsa ini tetap berada di jalur kemandirian ekonomi.

Peringatan Hari Buruh tahun ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa bahwa kesejahteraan buruh adalah cerminan dari kemajuan peradaban sebuah negara. Tanpa kesejahteraan pekerja, pertumbuhan ekonomi hanyalah angka di atas kertas yang tidak menyentuh akar permasalahan rakyat. PDI Perjuangan melalui agenda ini menegaskan bahwa mereka siap berdiri di baris terdepan untuk memastikan bahwa setiap keringat buruh dihargai dengan martabat yang layak demi masa depan Indonesia yang lebih adil dan sejahtera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kinerja Kredit UMKM Kembali Tumbuh Positif di Tengah Tantangan Ekonomi Tahun 2026

7 Mei 2026 - 00:45 WIB

Presiden Prabowo Subianto akan bahas isu pangan dan energi di KTT ASEAN Filipina 2026 sebagai langkah strategis penguatan ekonomi kawasan

7 Mei 2026 - 00:19 WIB

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Aktifkan Kembali Dana Stabilisasi Obligasi untuk Menjaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah

6 Mei 2026 - 18:45 WIB

DPR Siap Bahas Revisi UU Polri Setelah Rekomendasi Komisi Percepatan Reformasi Polri Diserahkan

6 Mei 2026 - 18:19 WIB

Pemkab Sleman Perkuat Optimalisasi Penerimaan BPHTB dan Kebijakan Pembebasan Pajak bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah

6 Mei 2026 - 12:45 WIB

Trending di Ekonomi